lazada ID
Showing posts with label Sirah Sahabat. Show all posts

Thufail bin ‘Amr Ad-Dausy


Thufail bin ‘Amr Ad-Dausy adalah kepala kabilah Daus pada masa jahiliyah. Dia termasuk bangsawan Arab yang terpandang, dan seorang pemimpin yang memiliki kharisma serta kewibawaan yang tinggi dan diperhitungkan orang. Periuknya tidak pernah turun dari tungku. Pintu rumahnya tidak pernah tertutup bagi orang-orang yang bertamu. Dia senang memberi makan orang-orang yang kelaparan, melindungi orang yang sedang ketakutan dan membantu setiap penganggur.

Di samping itu, dia pujangga yang pintar dan cerdas, penyair yang tajam dan berperasaan halus. Selalu tanggap terhadap kenyataan-kenyataan yang manis dan yang pahit. Karya-karyanya mempesona bagaikan sihir.

Pada suatu ketika, Thufail meninggalkan negerinya, Tihamah, menuju Makkah. Waktu itu konfrontasi antara Rasulullah SAW dengan kafir Quraisy semakin nyata. Masing-masing pihak berusaha memperoleh pengikut atau simpatisan guna memperkuat golongannya. Untuk itu, sengaja Rasulullah SAW hanya mendoa kepada Tuhannya, disertai iman dan kebenaran yang dibawanya. Sedangkan kaum kafir Quraisy menegakkan impian mereka dengan kekuatan senjata, dan dengan segala macam cara untuk menghalangi orang banyak menjadi pengikut Nabi Muhammad.

Thufail terlibat dalam kemelut ini tanpa disengaja, karena kedatangannya ke Makkah itu bukan untuk melibatkan diri. Bahkan pertentangan antara Nabi Muhammad dengan kaum kafir Quraisy belum pernah terlintas dalam pikirannya sebelum itu.

Mengenai keterlibatannya dalam pertentangan itu, Thufail mempunyai kenang-kenangan yang tak dapat dilupakannya. Karena itu marilah kita simak ceritanya yang unik berikut ini:

Kedatanganku ke Makkah kali itu mereka sambut agak luar biasa, aku ditempatkan di sebuah rumah istimewa. Kemudian para pemimpin dan pembesar Quraisy berdatangan menemuiku.

Kata mereka, “Hai Thufail! Kami sangat gembira Anda datang ke negeri kami, walaupun negeri kami sedang dilanda kemelut. Orang yang menjadi Nabi itu (Nabi Muhammad) ternyata telah merusak agama kita, merusak kerukunan kita, dan memecah belah persatuan kita semua. Kami kuatir akan mempengaruhi Anda pula. Kemudian dengan kepemimpinan Anda, dipengaruhinya pula kaum Anda, seperti yang terjadi pada kami”

Karena itu janganlah Anda dekati orang itu, jangan berbicara dengannya dan jangan pula mendengarkan kata-katanya. Sebab kalau dia berbicara, kata-katanya bagaikan sihir. Perkataannya dapat memisahkan anak dengan bapak, merenggangkan saudara sesama saudara dan menceraikan istri dengan suami.”

Demi Allah! Mereka selalu mendampingiku, dan menceritakan hal yang aneh-aneh kepadaku, kata Thufail. Mereka menakut-nakutiku dan kaumku dengan keajaiban-keajaiban yang pernah dilakukan orang itu. Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mendekati orang itu, tidak akan berbicara dengannya, dan tidak akan mendengarkan apa-apa yang dikatakannya.

Pada suatu pagi aku pergi ke Masjid hendak thawaf di Ka’bah, dan mengambil berkat dari berhala-berhala yang kami puja. Hal seperti itu biasa kami lakukan ketika kami haji. Telingaku kusumbat dengan kapas, karena aku takut suara Muhammad akan terdengar olehku.

Tetapi ketika masuk ke masjid, kulihat Muhammad sedang shalat dalam Ka’bah. Tetapi shalatnya tidak seperti sholat kami, dan ibadahnya tidak seperti ibadah kami. Aku terpesona melihatnya. Sedikit demi sedikit aku bergerak menghampirinya tanpa sadar, sehingga akhirnya aku dekat sekali kepadanya. Agaknya Allah menakdirkan supaya aku mendengar apa yang dibacanya. Memang, ternyata kalimat-kalimat yang diucapkannya sangat indah dan bagus sekali.

Lalu aku berkata pada diriku, “Betapa celakanya engkau, hai Thufail! Engkau seorang pujangga dan penyair. Engkau mampu membedakan mana yang indah dan yang buruk. Apa salahnya kalau engkau dengarkan dia bertutur…? Mana yang baik boleh engkau ambil, mana yang buruk kau tinggalkan…!”

Aku bagaikan terpaku di tempat itu sampai Rasulullah pulang. Lalu kuikuti dia sampai ke rumahnya. Setelah dia masuk, aku pun masuk pula. Setelah kami duduk, aku bertanya kepadanya:

Ya Muhammad! Sesungguhnya kaum Anda berkata kepadaku tentang diri Anda begini dan begitu. Mereka menakut-nakutiku berhubungan dengan urusan agama Anda. Oleh karenanya aku menyumbat telingaku dengan kapas agar tidak mendengar perkataan Anda. Tetapi Allah menghendaki supaya aku mendengar sesuatu dari Anda. Ternyata apa yang Anda ucapkan semuanya benar dan bagus. Maka ajarkanlah kepadaku agama Anda itu!”

Rasulullah mengajarkan kepadaku perihal agama Islam. Dibacakannya surat al-Ikhlas dan al-Falaq. Demi Allah! Belum pernah aku mendengar kalimat-kalimat seindah itu. Dan, belum pernah aku mengenal agama yang lebih baik daripada Islam ini.

Setelah itu kuulurkan tanganku kepadanya, lalu kuucapkan dua kalimat syahadat.

Sejak itu aku masuk Islam.

Kemudian aku menetap di Makkah beberapa lama, mempelajari agama Islam dari beliau. Aku menghafal ayat-ayat Al-Qur’an yang dapat kuhafal. Ketika aku bermaksud hendak kembali kepada kaumku, kukatakan kepada beliau, “Ya Rasulullah! Aku ini pemimpin yang dipatuhi oleh kaumku. Aku bermaksud hendak kembali kepada mereka dan mengajak mereka masuk Islam. Tolonglah doakan kepada Allah SWT semoga Allah memberiku bukti-bukti nyata yang dapat memperkuat dakwahku kepada mereka, supaya mereka masuk Islam.”

Rasulullah SAW pun mendoakan.

Di tengah perjalanan pulang, ketika aku sampai di tempat yang dimuliakan kaumku, keluarlah suatu cahaya di antara kedua mataku seperti lampu.

Aku berdoa “Wahai Allah! Pindahkanlah cahaya ini ke tempat lain, karena kalau cahaya ini terletak di antara kedua mataku, aku khawatir kalau-kalau kaumku menyangka mataku telah kena tulah karena meninggalkan agama berhala.”

Maka dengan izin Allah cahaya itu dipindahkan ke ujung tongkatku, bagaikan sebuah kandil tergantung. Setelah aku berada di tengah-tengah mereka, yang pertama-tama mendatangiku adalah bapakku sendiri. Beliau sudah berusia lanjut.

Menjauhlah daripadaku! Aku bukan lagi putra ayah dan ayah bukan bapakku lagi!”

Mengapa begitu, hai anakku?” tanya bapak.

Aku telah masuk Islam. Aku adalah pengikut Nabi Muhammad SAW,” jawabku.

Wahai anakku! Bagaimana kalau aku masuk agamamu. Supaya agamamu menjadi agamaku pula?” tanya bapak.

Kalau begitu pergilah Bapak mandi lebih dahulu. Bersihkan badan dan pakaian Bapak. Sesudah itu kembalilah ke sini, supaya kuajarkan kepada Bapak apa yang telah kupelajari tentang Islam.”

Bapakku pergi mandi membersihkan badan dan pakaiannya. Sesudah itu kuajarkan kepadanya tentang Islam, lalu dia masuk Islam.

Kemudian datang pula istriku. Aku berkata kepadanya, “Menjauhlah dariku! Aku bukan suamimu lagi, dan engkau tidak pula istriku lagi.”

Mengapa begitu. Hai Thufail?” tanya istriku heran.

Islam telah memisahkan aku dan engkau. Aku telah masuk Islam dan menjadi pengikur Nabi Muhammad SAW.” Jawabku menjelaskan.

Bolehkah aku masuk agamamu?” tanya istriku.

Pergilah engkau mandi lebih dahulu ke telaga Dzi Syuara. Bersihkan badanmu di telaga itu!” kataku.

Apakah engkau tidak takut terkena tulah Dzi Syara’?” tanya istriku cemas.

Aku tidak peduli dengan berhala Dzi Syara’mu itu! Pergilah mandi ke sana! Tempat itu jauh dari penglihatan orang banyak. Aku menjamin, batu-batu yang tidak bisa apa-apa itu tidak akan berbuat sesuatu yang dapat mencelakaimu!” kataku meyakinkan.

Sesudah mandi dia datang kepadaku. Maka kuajarkan kepadanya tentang Islam, lalu dia masuk Islam.

Kemudian kuajak seluruh kabilah Daus masuk Islam. Tetapi tidak memenuhi ajakanku, kecuali Abu Hurairah. Dia memang paling cepat memenuhi panggilan Islam.

Aku datang memenuhi Rasulullah SAW di Makkah bersama-sama dengan Abu Hurairah.” Ucap Thufail melanjutkan ceritanya.

Rasulullah SAW bertanya, “Bagaimana perkembangan dakwahmu , hai Thufail?”

Hati kaumku masih tertutup dan sangat kafir. Sungguh seluruh kaumku, kabilah Daus, masih sesat dan durhaka,” jawabku.

Rasulullah SAW pergi mengambil wudlu’ kemudian beliau shalat. Sesudah shalat beliau menadahkan kedua tangannya ke langit, lalu berdoa. Pada saat-saat itu Abu Hurairah merasa khawatir dan takut kalau-kalau Rasulullah SAW mendoakan agar kabilah Daus celaka.

Tetapi kiranya Rasulullah mendoakan sebaliknya: Allaahummahdi Dusan…! Allaahummahdi Dusan…! Allaahummahdi Dusan…! (Wahai Allah! Tunjukkanlah kabilah Daus!)

Kemudian beliau menoleh kepada Thufail, lalu bersabda: “Pulanglah kepada kabilahmu! Bersikap lembutlah terhadap mereka! Dan ajaklah mereka masuk Islam dengan bijaksana!”

Sejak itu hingga Rasulullah hijrah, aku menetap di negeriku dan mengajak kaumku masuk Islam. Sementara itu telah terjadi perang Badar, perang Uhud, dan perang Khandaq. Setelah itu aku datang kepada Rasulullah SAW membawa depalan puluh keluarga muslim Dausy yang keislamannya tidak disangsikan lagi.

Rasulullah menyambut gembira kedatangan kami. Beliau memperlengkapi kami secukupnya dari harta rampasan perang Khaibar.

Kami memohon kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, tempatkanlah kami di sayap kanan pasukan Anda dalam setiap peperangan yang Anda pimpin. Dan kompi muslimin Dausy ini kami beri nama “Kompi Mabrur”

Kata Thufail, “Sesudah itu aku senantiasa mendampingi Rasulullah SAW. Dan turut berperang bersama beliau ke mana saja, hingga kota Makkah dibebaskan dari kekuasaan kaum kafir Quraisy.”

Setelah pembebasan kota Makkah, aku memohon kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah! Izinkanlah aku pergi ke Dzil Kaffan, untuk memusnahkan berhala-berhala yang ada di sana.”

Rasulullah memberi izin kepada Thufail. Dia berangkat ke tempat berhala tersebut dengan satu regu tentara dari pasukannya. Sewaktu sampai ke sana dan mereka bersiap hendak membakar berhala Dzil Kaffain, berkerumunlah kaum laki-laki, perempuan dan anak-anak sekitar mereka, menunggu –nunggu apa yang akan terjadi. Mereka menduga akan terjadi petir dan halilintar, bila regu Thufail menjamah berhala Dzil Kaffain itu.

Tetapi Thufail dengan mantap menuju berhala itu disaksikan para pemujanya sendiri. Beliau menyulutkan api tepat di jantung Dzil Kaffain, sambil bersajak; “hai Dzil Kaffain…! Kami bukanlah pemujamu, kelahiran kami lebih dahulu daripada keberadaanmu. Inilah aku, menyulutkan api di jantungmu!”

Setelah api melalap habis patung-patung Dzil Kaffain, sirna pulalah sisa-sisa kemusyrikan dalam Kabilah Daus. Seluruh kabilah Daus lalu masuk Islam, dan menjadi muslim-muslim sejati.

Thufail bin ‘Amr Ad-Dausy senantiasa mendampingi Rasulullah SAW sampai beliau wafat. Ketika Abu Bakar menjadi Khalifah, Thufail dan anak buahnya patuh kepada pemerintahan Khalifah Abu Bakar. Tatkala berkecamuk perang membasmi orang-orang murtad, Thufail paling dahulu pergi berperang bersama-sama tentara muslimin memerangi Musailamah Al-Kadzdzab. Begitu pula putra beliau, ‘Amr bin Thufail, yang selalu tak mau ketinggalan.

Ketika Thufail sedang dalam perjalanan menuju Yamamah (kawasan tempat Musailamah menyebarkan pahamnya yang murtad), dia bermimpi.

Aku bermimpi. Cobalah kalian ta’birkan mimpiku itu”. Kata Thufail kepada sahabat-sahabatnya.

Bagaimana mimpi Anda?” tanya kawan-kawannya.

Aku bermimpi kepalaku dicukur. Seekor burung keluar dari mulutku, kemudian seorang perempuan memasukkan ke dalam perutnya. Anakku ‘Amr menuntut dengan sungguh-sungguh sepaya dibolehkan ikut bersamaku. Tetapi dia tak dapat berbuat apa-apa karena antaraku dan dia ada dinding”

Sebuah mimpi nan indah!” komentar kawan-kawannya.

Kata Thufail, “Sekarang, baiklah aku ta’birkan sendiri. Kepalaku dicukur, artinya kepalku dipotong orang. Burung keluar dari mulutku, artinya nyawaku keluar dari jasadku. Seorang perempuan memasukkanku ke dalam perutnya, artinya tanah digali orang lalu aku dikuburkan. Aku berharap semoga aku tewas sebagai syahid. Adapun tuntutan ankku, dia juga berharap supaya mati syahid seperti aku. Tetapi permintaannya dikabulkan kemudian.”

Dalam pertempuran memerangi pasukan Musailamah Al-kadzdzab di Yamamah, sahabat yang mulia ini, yaitu Thufail Ibnu ‘Amr Ad-Dausy mendapat cedera sehingga dia terbanting dan tewas di medan tempur.

Putranya ‘Amr, meneruskan peperangan hingga tangan kanannya buntung. Setelah itu dia kembali ke Madinah meninggalkan tangannya sebelah dan jenazah bapaknya di medan tempur Yamamah.

Tatkala Khalifah Umar bin Khattab memerintah ‘Amr bin Thufail (putra Thufail) pernah datang ke majlis Khalifah. Ketika dia sedang berada dalam majlis, makananpun dihidangkan orang. Orang-orang yang duduk dalam majlis mengajak ‘Amr supaya turut makan bersama-sama. Tetapi ‘Amr menolak dan menjauh.

Mengapa…?”. Tanya Khalifah. “Barangkali engkau lebih senang makan belakangan. Mungkin engkau malu karena tanganmu itu.”

Betul, ya Amirul Mukminin” jawab ‘Amr.

Kata Khalifah. “Demi Allah! Aku tidak akan memakan makanan ini, sebelum ia sentuh dengan tanganmu yang buntung itu. Demi Allah! Tidak seorang jua pun yang sebagian tubuhnya telah berada di surga, melainkan hanya engkau.”

Mimpi Thufail menjadi kenyataan semuanya. Tatkala perang Yarmuk, ‘Amr bin Thufail turut berperang bersama-sama dengan tentara muslimin. ‘Amr tewas dalam peperangan itu sebagai syuhada, seperti yang diharapkan bapaknya.

Semoga Allah memberi rahmat kepada Thufail dan kepada putranya, ‘Amr, syahid di medan tempur Yamamah dan Yarmuk. [Sumber: Kepahlawanan Generasi Sahabat Rasulullah terjemah Shuwarum Min Hayatis Shahabah]


Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy


Dia telah membeli akhirat dengan dunia, mengutamakan keridhaan Allah dan Rasul atas segala-galanya”

(Muarrikhin)

Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy termasuk pemuda diantara ribuan orang yang pergi ke Tan’im, di luar kota Makkah. Mereka berbondong-bondong ke sana, dikerahkan para pemimpi Quraist untuk menyaksikan pelaksanaan hukuman mati terhadap Khubaib bin ‘Ady, yaitu seorang sahabat Nabi yang mereka hukum tanpa alasan.

Dengan semangat muda yang menyala-nyala, Sa’id maju menerobos orang banyak yang berdesak-desakan. Akhirnya dia sampai di depan, sejajar dengan tempat duduk orang-orang penting seperti Abu Sufyan bin Harb, Shafwan bin Umayyah dan lain-lain.

Kaum kafir Quraisy sengaja mempertontonkan tawanan mereka dibelenggu. Sementara para wanita, anak-anak dan pemuda menggiring Khubab ke lapangan maut. Mereka ingin membalas dendam terhadap Nabi Muhammad SAW, serta melampiaskan sakit hati atas kekalahan mereka dalam perang Badar.

Ketika tawanan yang mereka giring sampai ke tiang salib yang tealah disediakan, Sa’id mendongakkan kepala melihat kepada Khubaib bin ‘Ady. Sa’id mendengar suara Khubaib berkata dengan mantap, “Jika kalian bolehkan, saya ingin shalat dua raka’at sebelum kalian bunuh…”

Kemudian Sa;id melihat Khubaib menghadap ke kiblat (ka’bah). Dia shalat dua raka’at. Alangkah bagus dan sempurna shalatnya itu. Sesudah shalat Khubaib menghadap kepada para pemimpin Quraisy seraya berkata, “Demi Allah! Seandainya kalian tidak akan menuduhku melama-lamakan shalat untuk mengulur-ulur waktu karena takut mati, niscaya aku akan shalat lebih lama lagi.” Mendengar ucapan Khubaib tersebut, Sa’id melihat para pemimpin Quraisy naik darah, bagaikan hendak mencincang-cincang tubuh Khubaib hidup-hidup.

Kata mereka, “Sukakah engkau bila Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?”

Aku tidak ingin bersenang-senang dengan istri dan anakku, sementara Muhammad tertusuk duri,” jawab Khubaib mantap.

Bunuh dia…! Bunuh dia…!” teriak orang banyak. Sa’id melihat Khubaib telah dipakukan ke tiang salib. Dia mengarahkan pandangannya ke langit sambil berdo’a, “Ya Allah! Hitunglah jumlah mereka! Hancurkan mereka semua. Jangan sisakan seorang jua pun!”

Tidak lama kemudian Khubaib menghembuskan nafasnya yang terakhir di tiang salib. Sekujur tubuhnya penuh dengan luka-luka karena tebasan pedang dan tikaman tombak yang tak terbilang banyaknya.

Kaum kafir kembali ke Makkah biasa-biasa saja. Seolah-olah mereka telah melupakan peristiwa maut yang merenggut nyawa Khubaib dengan sadis. Tetapi Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy yang baru meningkat usia remaja tidak dapat melupakan Khubaib walau sedetik pun. Sehingga dia bermimpi melihat Khubaib menjelma di hadapannya. Dia seakan-akan melihat Khubaib shalat dua rakaat dengan khusyu’ dan tenang di bawah tiang salib. Seperti terdengar olehnya rintihan suara Khubaib mendoakan kaum kafir Quraisy. Karena itu, Sa’id ketakutan kalau-kalau Allah SWT segera mengabulkan doa Khubaib, sehingga petir dan halilintar menyambar kaum Quraisy.

Keberanian dan ketabahan Khubaib dalam menghadapi maut mengajarkan kepada Sa’id beberapa hal yang belum pernah diketahuinya selama ini.

Pertama, hidup yang sesungguhnya adalah hidup beraqidah, beriman; kemudian berjuang mempertahankan aqidah itu sampai mati.

Kedua, iman yang telah terhujam dalam di hati seseorang dapat menimbulkan hal-hal yang ajaib luar biasa.

Ketiga, orang yang paling dicintai Khubaib adalah sahabatnya, yaitu seorang Nabi yang dikukuhkan dari langit.

Sejak itu Allah SWT membukakan hati Sa’id bin ‘Amir untuk menganut agama Islam. Kemudian dia berpidato di hadapan khalayak ramai, menyatakan: alangkah bodohnya orang Quraisy menyembah berhala. Karena itu dia tidak mau terlibat dalam kebodohan itu. Lalu dibuangnya berhala-berhala yang dipujanya selama ini. Kemudian diumumkannya, mulai saat itu dia masuk Islam.

Tidak lama sesudah itu, Sa’id menyusul kaum muslimin hijrah ke Madinah. Di sana dia senantiasa mendampingi Nabi SAW. Dia ikut berperang bersama beliau, mula-mula dalam peperangan Khaibar; kemudian dia selalu turut dalam setiap peperangan berikutnya.

Setelah Nabi SAW berpulang ke rahmatullah, Sa’id tetap menjadi pembela setia Khalifah Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Dia menjadi teladan bagi orang mukmin yang membeli kehidupan akhirat dengan kehidupan dunia. Dia lebih mengutamakan keridhaan Allah dan pahala dari-Nya di atas segala keinginan hawa nafsu dan kehendak jasad.

Kedua khalifah Rasulullah, Abu Bakar dan Umar bin Khattab mengerti bahwa ucapan-ucapan Sa’id sangat berbobot, dan taqwanya sangat tinggi. Karena itu keduanya tidak keberatan mendengar dan melaksanakan nasihat-nasihat Sa’id.

Pada suatu hari di awal pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab, Sa’id datang kepadanya memberi nasihat.

Kata Sa’id, “ya Umar! Takutlah kepada Allah dalam memerintah manusia. Jangan takut kepada manusia dalam menjalankan agama Allah! Jangan berkata berbeda dengan perbuatan. Karena sebaik-baik perkataan adalah yang dibuktikan dengan perbuatan.

Hai Umar! Tujukanlah seluruh perhatian Anda kepada urusan kaum muslimin, baik yang jauh maupun yang dekat. Berikan kepada mereka apa yang Anda dan keluarga Anda sukai. Jauhkan dari mereka apa-apa yang Anda dan keluarga Anda tidak sukai. Arahkan semua karunia Allah kepada yang baik. Jangan hiraukan cacian orang-orang yang suka mencaci.”

Siapakah yang sanggup melaksanakan semua ini, hai Sa’id?” tanya khalifah Umar.

Tentu orang seperti Anda! Bukankah Anda telah dipercayai Allah memerintah umat Muhammad ini? Bukankah antara Anda dan Allah tidak ada lagi suatu penghalang?” jawab Sa’id meyakinkan.

Pada suatu ketika khalifah Umar memanggil Sa’id untuk diserahi suatu jabatan dalam pemerintahan.

Hai Sa’id! Engkau kami angkat sebagai Gubernur di Himsh!” kata khalifah Umar.

Wahai Umar! Saya memohon kepada Allah semoga Anda tidak mendorong saya condong kepada dunia,” kata Sa’id.

Celaka Engkau!” balas Umar marah. “Engkau pikulkan beban pemerintahan ini dipundakku, tetapi kemudian Engkau menghindar dan membiarkanku repot sendiri.”

Demi Allah! Saya tidak akan membiarkan Anda,” jawab Sa;id.

Kemudian khalifah Umat melantik Sa’id menjadi gubernur di Himsh.

Sesudah pelantikan, khalifah Umar bertanya kepada Sa’id, “Berapa gaji yang Engkau inginkan?”

Apa yang harus saya perbuat dengan gaji, ya Amirul Mukminin?” jawab Sa’id balik bertanya. “Bukankah penghasilan saya dari Baitul Mal sudah cukup?”

Tidak berapa lama setelah Sa’id memerintah di Himsh, sebuah delegasi datang menghadap Khalifah Umar di Madinah. Delegasi itu terdiri dari penduduk Himsh yang ditugasu Khalifah mengamat-amati jalannya pemerintahan di Himsh.

Dalam pertemua dengan delegasi tersebut, Khalifah Umar meminta daftar fakir miskin Himsh untuk diberikan santunan. Delegasi itu mengajukan daftar yang diminta Khalifah. Di dalam daftar tersebut terdapat nama si Fulan, dan nama Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy.

Ketika Khalifah meneliti daftar tersebut, beliau menemukan Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy. Lalu beliau bertanya, “Siapa Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy yang kalian cantumkan ini?”

Gubernur kami!” jawab mereka.

Betulkah Gubernur kalian miskin?” tanya Khalifah heran.

Sungguh ya Amirul Mukminin! Demi Allah! Seringkali di rumahnya tidak kelihatan tanda-tanda api menyala (tidak memasak),” jawab mereka meyakinkan.

Mendengar perkataan itu, Khalifah Umar menangis, sehingga air mata beliau menetes membasahi jenggotnya. Kemudian beliau mengambil sebuah pundi-pundi berisi uang seribu dinar.

Kembalilah kalian ke Himsh. Sampaikan salamku kepada Gubernur Sa’id bin ‘Amir, dan uang ini saya kirimkan untuk beliau, guna meringankan kesulitan-kesulitan rumah tangganya,” ucap Umar sedih.

Setibanya di Himsh, delegasi itu segera menghadap Gubernur Sa’id, menyampaikan salam dan uang kiriman Khalifah untuk beliau. Setelah Gubernur Sa’id melihat pundi-pundi berisi uang dinar, pundi-pundi itu dijauhkannya dari sisinya seraya berucap, “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”

Mendengar ucapan itu, seolah-olah suatu mara bahaya sedang menimpanya. Karena itu istrinya segera menghampiri seraya berkata, “Apa yang terjadi hai Sa’id? Meninggalkah Amirul Mukminin?”

Bahkan lebih besar dari itu!” jawab Sa’id sedih.

Apakah tentara muslimin kalah berperang?” tanya istrinya pula.

Jauh lebih besar dari itu!” jawab Sa’id tetap sedih.

Apa pulakah gerangan yang lebih dari itu?” tanya istrinya tak sabar.

Dunia telah datang untuk merusak akhiratku. Bencana telah menyusup ke rumah tangga kita,” jawab Sa’id mantap.

Bebaskan dirimu daripadanya!” kata istri Sa’id memberi semangat, tanpa mengetahui perihal adanya pundi-pundi uang yang dikirimkan Khalifah Umar bin Khattab untuk suaminya.

Maukah Engkau menolongku berbuat demikian?” tanya Sa’id.

Tentu…!” jawab istrinya bersemangat. Maka Sa’id mengambil pundi-pundi uang itu, lalu disuruhnya istrinya membagi-bagikan kepada fakir miskin.

Tidak berapa lama kemudian, Khalifah Umar berkunjung ke Syria, menginspeksi pemerintahan di sana. Dalam kunjungannya beliau menyempatkan diri singgah di Himsh. Kota Himsh pada masa itu rakyatnya sering melapor kepada pemerintah pusat dengan kelemahan-kelemahan gubernur mereka, persis seperti kelakuan masyarakat Kufah.

Tatkala Khalifah singgah di sana, rakyat mengelu-elukan beliau, mengucap selamat datang.

Khalifah bertanya kepada rakyat, “Bagaimana penilaian Saudara-saudara terhadap kebijakan Gubernur Saudara-saudara?”

Ada empat kelemahan yang hendak kami laporkan kepada Khalifah,” jawab rakyat.

Saya akan pertemukan kalian dengan Gubernur kalian,” jawab Khalifah Umar sambil berdoa, “Semoga sangka baik saya selama ini kepada Sa’id bin ‘Amir tidak salah.”

Maka tatkala semua pihak, yaitu Gubernur dan masyarakat telah lengkap berada di hadapan Khalifah, beliau bertanya kepada rakyat, “Bagaimana laporan Saudara-saudara tentang kebijakan Gubernur Saudara-saudara?”

Pertama, Gubernur selalu tiba di tempat tugas setelah matahari tinggi.”

Bagaimana tanggapan Anda mengenai laporan rakyat ini, hai Sa’id?” tanya Khalifah.

Gubernur Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy diam sejenak. Kemudian dia berkata, “Sesungguhnya saya keberatan menanggapinya. Tetapi apa boleh buat. Keluarga saya tidak mempunyai pembantu. Karena itu, tiap pagi saya terpaksa turun tangan membuat adonan roti lebih dahulu untuk mereka. Sesudah itu barulah saya berangkat ke tempat tugas untuk melayani masyarakat.”

Apalagi laporan Saudara-saudara?” tanya Khalifah kepada hadirin.

Kedua, Gubernur tidak bersedia melayani kami pada malam hari.”

Bagaimana pula tanggapan Anda mengenai itu, hai Sa’id?” tanya Khalifah.

Hal itu sesungguhnya lebih berat bagi saya menanggapinya, terutama di hadapan umum seperti ini,” kata Sa’id. “Saya telah membagi waktu saya, siang hari untuk melayani masyarakat, malam hari untuk bertaqarrub kepada Allah,” lanjut Sa’id.

Apa lagi,” tanya Khalifah kepada hadirin.

Ketiga, Gubernur tidak masuk kantor sehari dalam sebulan.”

Bagaimana pula tanggapan Anda, hai Sa’id?” tanya Khalifah.

Sebagaimana telah saya terangkan tadi, saya tidak mempunyai pembantu rumah tangga. Di samping itu saya hanya memiliki sepasang pakaian yang melekat di badanku ini. Saya mencucinya, saya terpaksa menunggu kering lebih dahulu. Sesudah itu barulah saya dapat keluar melayani masyarakat,” ucap Sa’id.

Nah, apalagi laporan selanjutnya?” tanya Khalifah.

Keempat, sewaktu-waktu Gubernur menutup diri untuk bicara. Pada saat-saat seperti itu biasanya beliau pergi meninggalkan majelis.”

Silakan menanggapi, hai Sa’id!” kata Khalifah Umar.

Ketika saya masih musyrik dulu, saya pernah menyaksikan almarhum Khubaib bin ‘Ady dihukum mati oleh kaum kafir Quraisy. Saya menyaksikan mereka menyayat-nyayat tubuh Khubaib berkeping-keping. Pada waktu itu mereka bertanya mengejek Khubaib “Sukakah engkau Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?”

Ejekan mereka itu dijawab oleh Khubaib, “Saya tidak ingin bersenang-senang dengan istri dan anak-anak saya, sementara Nabi Muhammad tertusuk duri…”

Demi Allah…!” kata Sa’id, “Jika saya teringat akan peristiwa itu, di waktu mana saya membiarkan Khubaib tanpa membelanya sedikitpun, maka saya merasa, bahwa dosa saya tidak akan diampuni Allah SWT.”

Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakanku,” kata Khalifah Umar mengakhiri dialog itu.

sekembalinya ke Madinah, Khalifah Umar mengirimi Gubernur Sa’id seribu dinar untuk memenuhi kebutuhannya.

Melihat jumlah uang sebanyak itu, istrinya berkata kepada Sa’id, “Segala puji bagi Allah yang telah mencukupi kita berkat pengabdianmu. Saya ingin uang ini kita pergunakan untuk membeli bahan pangan dan kelengkapan lain-lain. Dan saya ingin pula menggaji seorang pembantu rumah tangga.”

Adakah usul yang lebih baik dari itu?” tanya Sa’id kepada istrinya.

Apa pulakah yang lebih baik dari itu?” jawab istrinya balik bertanya.

Kita bagi-bagikan saja uang ini kepada rakyat yang membutuhkannya. Itulah yang lebih baik bagi kita” jawab Sa’id.

Mengapa?” tanya istrinya.

Dengan begitu berarti kita mendepositokan uang ini kepada Allah. Itulah cara yang lebih baik,” kata Sa’id.

Baiklah kalau begitu,” kata istrinya. “Semoga kita dibalasi Allah dengan balasan yang paling baik.”

Sebelum mereka meninggalkan majelis, uang itu dimasukkan Sa’id ke dalam beberapa pundi, lalu diperintahkannya kepada salah seorang keluarganya.

Pundi ini berikan kepada janda si Fulan. Pundi ini kepada anak yatim si Fulan. Ini kepada si Fulan yang miskin…” dan seterusnya.

Semoga Allah SWT meridhai Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy. Dia telah membeli akhirat dengan menghindari godaan kemewahan dunia, dan mengutamakan keridhaan Allah serta pahala yang berlipat ganda di akhirat, lebih dari segala-galanya. Amiin. [Sumber: Kepahlawanan Generasi Sahabat terjemah Shuwarum Min Hayatis Shahabah]

Copyright © 2012-2099 SEKILAS DAKWAH - Dami Tripel Template Level 2 by Ardi Bloggerstranger. All rights reserved.
Valid HTML5 by Ardi Bloggerstranger