lazada ID
Showing posts with label Keluarga. Show all posts

10 Alasan Mengapa Sebaiknya Anda Monogami Saja (1)

Poligami - ilustrasi
Poligami, di mana seorang laki-laki memiliki dua hingga empat istri, adalah hal yang diperbolehkan dalam Islam.

“Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana kamu mengawininya), maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja” (QS. An Nisa’ : 3)

Sayyid Qutb ketika menjelaskan ayat ini dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an menyebut poligami sebagai rukhshah; kemurahan.

“Diberikannya rukhshah ‘kemurahan’ untuk melakukan poligami disertai dengan sikap kehati-hatian seperti itu bila dikhawatirkan tidak dapat berlaku adil, dan dicukupkannya dengan monogami dalam kondisi seperti itu...”

Cahyadi Takariawan dalam buku Bahagiakan Diri dengan Satu Istri merinci lebih lengkap 10 kondisi -yang jika dikhawatirkan terjadi- sebaiknya seorang laki-laki monogami saja, dan tidak melakukan poligami.

1. Tidak sanggup berlaku adil
Orang yang bisa adil terhadap seluruh anggota keluarganya, ia memenuhi salah satu syarat poligami. Tetapi jika tidak bisa adil, Allah memerintahkannya untuk monogami saja.

”Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (kawinilah) seorang saja” (QS. An Nisa’ : 3)

”Barangsiapa yang memiliki dua istri, lalu ia lebih condong kepada salah satunya, maka ia akan datang pada hari Kiamat dengan salah satu bagian tubuhnya membungkuk.” (HR. Abu Daud)

Kecondongan yang dimaksud dalam hadits di atas adalah dalam hal nafkah lahiriyah, bukan kecondongan hati atau cinta. Tentang kecondongan hati, QS. An Nisa’ ayat 129 telah menerangkan bahwa adil dalam hal kecondongan hati hampir tak mungkin terjadi. Tetapi, perbedaan kadar cinta itu tidak boleh membuat suami yang melakukan poligami menjadi lebih condong kepada salah seorang istrinya daripada istri yang lain dalam hal nafkah.

Rasulullah mencontohkan, meskipun dalam hadits disebutkan beliau paling mencintai Aisyah daripada istri beliau yang lain yang masih ada, beliau memberikan pembagian nafkah secara adil. Bahkan, saat bepergian pun, beliau mengundi siapa diantara istrinya yang ikut. Pun saat menjadwal berada di rumah masing-masing istri, beliau melakukannya dengan adil. Kalaupun ada perbedaan waktu, itu sudah menjadi kesepakatan istri-istrinya, misalnya antara Aisyah dan Saudah.

Bagi bagi Anda yang khawatir tidak bisa berlaku adil, sebaiknya monogami saja.

2. Tidak sanggup menafkahi
Surat An Nisa’ ayat 34 menegaskan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan. Dalam hadits disebutkan pula bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya. Dan salah satu kewajibannya adalah memberikan nafkah.

”Dan kalian wajib memberi nafkah kepada mereka (para istri) dan memberi pakaian secara ma’ruf” (HR. Muslim)

Maka bagi laki-laki yang dengan satu istri saja tidak sanggup menafkahi dengan baik, sebaiknya ia tidak melakukan poligami.

3. Tidak sanggup membahagiakan
Kebahagiaan adalah hal yang dirindukan oleh siapa saja. Termasuk oleh orang yang menikah. Seorang perempuan mengharapkan bisa berbahagia dalam pernikahannya. Demikian pula seorang laki-laki.

Kebahagiaan ini unik. Ia tidak dapat diukur dengan materi. Sebab ada keluarga yang tidak kaya, tetapi hidup mereka bahagia. Sebaliknya, ada pula yang hidupnya bergelimang harta, tetapi mereka tidak bahagia.

Jika seorang suami, meskipun sanggup memberikan nafkah secara finansial kepada istri-istrinya, tetapi dengan dua istri atau lebih ia justru khawatir membuat mereka tidak bahagia, sebaiknya ia mengurungkan poligami yang menjadi niatnya.

4. Tidak sanggup mengelola kecemburuan
Wanita adalah makhluk pencemburu. Kecemburuan antar-istri dalam berumah tangga bahkan terjadi dalam kehidupan Nabi. Misalnya dalam kisah Nabi Ibrahim, antara Hajar dan Sarah. Bahkan, dalam kehidupan Rasulullah. Bagaimana sampai menjatuhkan nampang, dan sebagainya.

“Diantara kecemburuan itu ada yang disukai Allah dan ada yang dibenci Allah. Ada pun yang disukai Allah adalah kecemburuan yang berisi keraguan, sedangkan yang dibenci Allah adalah kecemburuan yang tidak ragu-ragu lagi” (HR. Abu Daud)

Lalu, sanggupkah kita mengelola kecemburuan istri-istri? Rasulullah pernah ditegur Allah karena hendak mengharamkan maghafir (getah manis seperti madu). Mengapa beliau berbuat demikian, sebab Aisyah cemburu beliau lama di rumah Zainab setelah disuguhi maghafir. Allah menegur dengan menurunkan surat At Tahrim bagian awal. Lalu, siapa yang akan menegur kita jika karena tidak sanggup mengelola kecemburuan istri lalu terjerumus dalam kesalahan?

5. Tidak sanggup mengatur waktu
Jika seorang laki-laki khawatir tidak sanggup mengatur waktu dengan bertambahnya istri, sebaiknya ia monogami saja. Menikah dengan lebih dari satu istri artinya menambah kewajiban. Menambah jumlah orang yang harus dipenuhi hak-haknya, bukan hanya masalah materi tetapi juga perhatian dan kasih sayang yang seluruhnya membutuhkan waktu. Termasuk kepada anak-anaknya dari seluruh istri.

Sedangkan kewajiban bagi seorang muslim tidak berkurang dengan bertambahnya istri. Ia tetap harus shalat lima waktu, lebih utama berjama’ah. Dan seterusnya. Belum lagi ibadah-ibadah sunnah. Qiyamullail, tilawah, dzikir dan sebagainya. Terlebih bagi suami yang jika menyadari bahwa setelah berhubungan suami istri ia sulit bangun dan ketinggalan shalat Subuh berjama’ah, ia perlu mempertimbangkan dengan serius, bahwa jika ia poligami, apakah tidak semakin ia meninggalkan qiyamul lail dan shalat Subuh berjama’ah.

Wallahu a’lam bish shawab. [bersambung]

3 Manfaat Jima’ Bagi Istri, Hasil Riset Terkini

Kamar suami istri - ilustrasi
Sungguh, Islam adalah agama yang sempurna dan sesuai dengan fitrah manusia. Islam mensyariatkan pernikahan, yang dengannya seorang suami dan seorang istri saling berbagi menunaikan kewajiban dan mendapatkan haknya. Salah satu diantara hal yang paling penting adalah hubungan suami istri (jima’).

Jima’ ternyata memiliki banyak manfaat, bukan hanya semata memenuhi kebutuhan biologis. Beberapa penelitian terbaru mengungkapkan tiga manfaat jima’ bagi istri.

1. Membuat istri lebih berbahagia

Survei yang dilakukan majalah Top Sant di Inggris mengungkapkan, 22 persen wanita yang ‘bercinta’ lebih dari dua kali sepekan mengaku sangat bahagia, dibandingkan hanya 15 persen yang ‘bercinta’ setiap dua sampai tiga bulan.

"Berhubungan suami istri bukan barang mewah, tapi ini sangat penting. Hubungan suami istri membantu mengurangi stres, meningkatkan daya tahan tubuh dan memberi rasa kebahagiaan," jelas pakar seks Tracey Cox, dikutip dari Dailymail, Jum’at (6/9).

2. Membuat istri lebih cerdas

Sebuah penelitian yang dipublikasikan telegraph.co.uk bulan lalu menunjukkan hasil bahwa orgasme yang dialami wanita tidak hanya memberikan kepuasan, tetapi juga dapat meningkatkan kecerdasan. Seorang ilmuwan bernama profesor Barry Komisaruk menemukan bahwa orgasme pada wanita dapat mengaktifkan beberapa daerah di otak. Selain itu, orgasme dapat mengurangi rasa sakit.

Peningkatan kecerdasan karena orgasme ini bahkan lebih baik dibandingkan bermain teka-teki atau permainan yang mengasah pikiran. Saat mengasah otak dengan game, hanya sebagian kecil bagian otak yang aktif. Sedangkan saat orgasme, semua bagian otak aktif.

3. Membuat istri lebih nyaman dan sayang suami

Riset lain yang juga dipublikasikan pada bulan Agustus mengungkapkan bahwa berhubungan suami istri membuat wanita merasa lebih dekat dengan suaminya.

Jima' yang Bagaimana
Lalu jima’ seperti apakah yang mendatangkan tiga manfaat tersebut? Poin dua agaknya cukup jelas menyebut syaratnya: orgasme. Sedangkan poin tiga, selain tidak mengabaikan itu juga menekankan kelembutan dan keharmonian. Keduanya, perlu didahului dengan pemanasan, atau ar rasuul, atau mubasyarah, yang dalam istilah populernya disebut foreplay.

Dalam hadits dijelaskan pentingnya ar rasuul atau foreplay ini:
“Janganlah salah seorang dari kalian menjima’ istrinya seperti binatang ternak mendatangi pasangannya. Tetapi hendaklah ada ar rasuul antara keduanya.” Ditanyakan kepada beliau, “Apakah ar rasuul itu wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Ciuman dan kalimat-kalimat obrolan (mesra)” (HR. Ad Dailami)

Jika start awalnya adalah ar rasuul, suami perlu memastikan istrinya sampai ke finish. Minimal satu kali finish. Dan finishnya adalah inzaal/orgasme.

Demikian pentingnya istri mendapatkan hal ini, sehingga dinasehatkan dalam hadits:

“Apabila salah seorang diantara kamu menjima’ istrinya, hendaklah ia menyempurnakan hajat istrinya. Jika ia mendahului istrinya, maka janganlah ia tergesa meninggalkannya.” (HR. Abu Ya’la)

Wallahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]


8 Karakter Suami Ideal

Suami ideal - ilustrasi
Anda ingin menjadi suami ideal? Ingin menjadi suami yang dicintai dan dibanggakan istri, sekaligus dirindukan bidadari? Inilah 8 karakter yang perlu Anda miliki. Jika belum ada pada diri, 8 karakter ini perlu ditarbiyah sejak dini.

1. Suami yang sejak awal telah menunjukkan kejujuran dan sikap terus terang. Kelemahan dan kekurangan yang dimiliki tidak disembunyikan sejak melamar.

2. Suami yang menggauli istrinya dengan baik; lembut; memuliakan dan menerima kelebihan serta kekurangan keluarga istrinya.

3. Suami yang mampu menghibur istri dan bersikap lembut terhadap istri. Ia berbicara dengan bahasa yang menarik, mau mengerti dan mendengar perkataan istrinya jika memang pendapatnya itu logis dan tak melanggar agama.

4. Suami yang tidak terlalu pencemburu, tidak mengumbar prasangka, tidak suka memata-matai dan tidak berlebihan.

5. Suami yang memberikan belanja yang cukup kepada istri, tidak boros dan juga tidak bakhil.

6. Suami yang selalu tampil di muka istrinya dengan rapi dan meyakinkan. Ia selalu menjaga penampilan dan kebersihannya, sehingga yang tercium darinya hanyalah bau harum semerbak.

7. Suami yang senantiasa menjaga rahasia rumah tangga. Hal ini mencegah orang-orang sekitarnya menggunjing keluarga mereka.

8. Suami yang senantiasa menjaga kejantanannya, baik secara fisik maupun psikis, sehingga memancarkan kewibawaan.

[Sumber: Al Masyaakil Az Zaujiyah wa Hululuha fi Dhau’il Kitabi wa As Sunnah wa Al Ma’arif Al Haditsah karya Syaikh Muhammad Utsman Al Khusyt seperti dikutip Cahyadi Takariawan dalam buku Pernik-pernik Rumah Tangga Islami]

Haruskah Suami Istri Menutupi Tubuh Saat Jima’?

Hingga saat ini, banyak Muslim yang beranggapan bahwa ketika suami istri berjima’, mereka harus menutupi tubuhnya alias tidak diperbolehkan telanjang. Umumnya, anggapan ini dilandasi oleh dua hadits berikut ini.

Pertama, hadits riwayat Ibnu Majah.
“Jika seseorang diantara kalian hendak mendatangi istrinya, maka hendaklah menutupi tubuhnya, dan janganlah bertelanjang bulat seperti telanjangnya dua khimar.”

Kedua, hadits riwayat Tirmidzi.
”Janganlah kalian bertelanjang, sebab sungguh bersama kalian ada makhluk yang tak pernah berpisah...”

Bagaimanakah duduk persoalan yang sebenarnya dan bagaimana kedudukan dua hadits tersebut? Salim A. Fillah di dalam bukunya Bahagianya Merayakan Cinta menjelaskan bahwa hadits pertama (yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah) adalah dhaif. Dalam sanadnya terdapat Al Ahwash bin Hakim dan Walid bin Al Qasim Al Hamdani, keduanya dhaif. Bahkan, An Nasa’i memberi catatan: “hadits ini mungkar.”

Sedangkan hadits kedua (riwayat Tirmidzi), sesungguhnya tidak bisa dijadikan alasan suami istri harus menutup tubuhnya dengan selimut atau semisalnya saat berjima’ dikarenakan malu dengan makhluk lain yang disebutkan dalam hadits tersebut. Padahal, di dalam hadits itu telah ada jawabannya. Yakni kelajutan hadits tersebut yang sering tidak diketengahkan secara lengkap.

“Janganlah kalian bertelanjang, sebab sungguh bersama kalian ada makhluk yang tak pernah berpisah kecuali di saat kalian membung hadats di jamban dan ketika seorang suami mendatangi istrinya” (HR. Tirmidzi).

Salim A. Fillah kemudian menutup penjelasannya dengan kalimat berikut: “Allah tidak menghendaki kesulitan bagi hamba-Nya, bahkan Ia menghendaki kemudahan bagi mereka. Ketika seorang hamba bersama istrinya telah menutup diri dari pandangan manusia di dalam satu bilik di rumahnya, maka Allah tidak lagi membebani mereka dengan hal yang menyulitkan dan memberatkan seperti memakai selimut. Karena bisa jadi selimut akan mengganggu jika hendak berekspresi dan berkreasi. Padahal yang demikian adalah hak yang Allah berikan pada mereka berdua untuk meraih kemuliaan di sisi-Nya.”

Wallahu a’lam bish shawab. [IK/sekilasdakwah]

Dalam Islam, Usia Berapakah Boleh Menikah?

Menikah di usia muda saat ini dianggap aneh. Bahkan, kadang menjadi sorotan. Padahal, menikah di usia muda atau pernikahan dini memiliki banyak maslahat bagi pemuda. Terlebih, pada era informasi dan globalisasi sekarang ini yang godaan menjaga kehormatan dan kesucian jauh lebih sulit daripada era-era sebelumnya.

Menikah di usia muda, seperti sabda Nabi, membuat pemuda lebih mudah menundukkan pandangan dan menjaga kehormatan. Beliau bersabda:

يَامَعْشَرَ الشَّبَابِ: مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ، فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ، فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ
“Wahai pemuda, barangsiapa di antara kalian telah mampu maka hendaknya menikah, karena ia lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang belum mampu, maka hendaknya ia berpuasa, sebab ia dapat mengekangnya.” (HR. Bukhari)

Dalam hadits di atas, Rasulullah menggunakan istilah syabab yang dalam bahasa Indonesia biasa diterjemahkan menjadi pemuda. Siapakah yang dimaksud syabab dalam hadits tersebut? Fauzil Adhim dalam buku Indahnya Pernikahan Dini menjelaskan, syabab adalah sesesorang yang telah mencapai masa aqil-baligh dan usianya belum mencapai tiga puluh tahun.

Masa aqil baligh ini umumnya telah dialami pada rentang usia sekitar 14-17 tahun. Salah satu tanda yang menjadi patokan aqil baligh adalah datangnya ihtilam (mimpi basah). Akan tetapi, pada masa sekarang, datangnya ihtilam sering tidak sejalan dengan telah cukup matangnya pikiran. Sehingga generasi yang lahir pada zaman ini banyak yang telah memiliki kematangan seksual tetapi belum memiliki kedewasaan berpikir.

Jika seorang laki-laki telah mencapai aqil-baligh dan memiliki ba’ah, mampu menunaikan kewajiban baik batin maupun lahir (materi), ia dianjurkan oleh Rasulullah untuk segera menikah. Jadi secara fisik ia telah mengalami kematangan seksual, dari segi akal ia telah mencapai kematangan berpikir (ditandai dengan sifat rasyid dasar yang mampu mengambil pertimbangan sehat dalam memutuskan sesuatu dan bertanggungjawab), dan dari segi maliyah ia bisa mencari nafkah, ia disunnahkan untuk segera menikah meskipun usianya masih 20-an tahun.

Bagaimana dengan pemudi (wanita)? Untuk para gadis, syaratnya bahkan lebih mudah. Sebab, ia tidak seperti laki-laki yang dibebani kewajiban mencari nafkah. Sehingga, asalkan ia sudah aqil baligh (ditandai dengan menstruasi) dan memiliki kematangan berpikir, ia boleh dan dianjurkan untuk menikah. Tentu saja –bagi keduanya, pemuda maupun pemudi- bekal agama yang sekaligus membuatnya dewasa dalam mengarungi bahtera rumah tangga perlu untuk dimiliki.

Karena itulah kita mendapati di dalam sirah nabawiyah dan sirah shahabiyah, para shahabat dan para shahabiyah telah menikah di usia mereka yang masih sangat muda. Fatimah Az Zahra menikah pada usia 19 tahun, sedangkan Ali bin Abu Thalib saat itu berusia 25 tahun. Rasulullah sendiri juga menikah di usia 25 tahun.

Jika Ali dan Fatimah menikah pada saat keduanya di usia muda, pernikahan dalam Islam tidak selalu seperti itu. Rasulullah yang menikah pada usia 25 tahun, saat itu istri beliau Khadijah telah berusia 40 tahun.

Yang terkenal menikah di usia paling muda adalah ummul mukminin Aisyah. Menurut sebagian riwayat, beliau dinikahi Nabi pada usia 7 tahun kemudian mulai berumah tangga pada usia 9 tahun. Tetapi ada data berbeda yang menyebutkan bahwa beliau dinikahi oleh Rasulullah pada usia 14 tahun. Wallahu a’lam bish shawab.

Seperti Rasulullah dan Aisyah yang usianya terpaut jauh, Utsman bin Affan juga pernah menikah dengan gadis belia. Saat rambut Utsman telah memutih, beliau menikah dengan Nailah yang masih berusia 18 tahun. Namun begitulah, Islam menghadirkan kebahagiaan dalam rumah tangga tanpa peduli usia. Menikah dengan sesama usia muda mengandung banyak berkah. Namun, menikah saat muda dengan pasangan yang jauh lebih dewasa juga terbukti tidak bermasalah. Dari niat, segalanya dimulai. Dan dari niat, Allah menilai. []

Nikmat Menikah: Malam Jum’at, Ya Baca Al Kahfi Bersama Ya Bercinta

Menikah adalah sunnah Nabi yang dapat menyempurnakan separuh agama. Menikah, juga mendatangkan ketenangan (sakinah) dan kebahagiaan (sa’adah). Sakinah bukan hanya karena cinta yang bersifat fisik (mawaddah), tetapi juga dikuatkan dengan cinta yang bersifat non fisik (rahmah). Kesemuanya merupakan nikmat tersendiri dari Allah, yang hanya bisa dirasakan oleh insan yang telah menikah.

Di malam Jum’at misalnya. Ada banyak kesempatan mendulang pahala bagi suami dan istri, yang tidak didapatkan oleh orang yang belum menikah.

Bagi semua muslim, membaca surat Al Kahfi di hari Jum’at adalah sunnah. "Barangsiapa membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at,” sabda Rasulullah yang diriwayatkan Al Hakim dan Al Baihaqi serta dishahihkan Al Albani, “maka akan dipancarkan cahaya untuknya di antara dua Jum'at."

Tetapi... bagi pasangan suami dan istri, membaca surat Al Kahfi bersama di malam Jum’at, saling menyimak, adalah kenikmatan tersendiri. Pahala sunnah membaca surat Al Kahfi didapat, ketenangan didapat, dan penguatan cinta juga didapat. Sebab –sekali lagi- cinta dalam Islam bukan hanya karena faktor fisik semata (mawaddah), cinta juga memiliki sisi non fisik (rahmah) yang tidak bergantung pada ketertarikan wajah dan tubuh. Beribadah bersama, menunaikan amal shalih bersama, menghidupkan rumah dengan sunnah, adalah penumbuh dan penguat cinta.

Jika membaca surat Al Kahfi dan bersalawat adalah amal sunnah yang bisa ditunaikan siapa saja, ada satu hal yang tidak bisa dikerjakan kecuali oleh mereka yang sudah menikah. Sebuah amal berpahala besar sekaligus membawa nikmat seketika. Para sahabat sempat terkejut ketika Rasulullah mensabdakan bahwa berhubungan badan dengan istri adalah sedekah. “Wahai Rasulullah, apakah kami mendatangi istri kami dengan syahwat itu mendapatkan pahala?” Rasulullah –sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim- pun menjawab: “Bukankah jika kalian bersetubuh pada yang haram, kalian mendapatkan dosa. Oleh karenanya jika kalian bersetubuh pada yang halal, tentu kalian akan mendapatkan pahala.”

Bahkan, sebagaian ulama berpendapat, “bercinta” di malam Jum’at mendapatkan keutamaan tambahan, selain pahala seperti yang disebutkan Rasulullah tersebut.

“Barangsiapa (yang menggauli istrinya) sehingga mewajibkan mandi pada hari Jum’at kemudian diapun mandi, lalu bangun pagi dan berangkat (ke masjid) pagi-pagi, dia berjalan dan tidak berkendara, kemudian duduk dekat imam dan mendengarkan khutbah dengan seksama tanpa sendau gurau, niscaya ia mendapat pahala amal dari setiap langkahnya selama setahun, balasan puasa dan shalat malam harinya.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad)

Hadits tersebut menggambarkan betapa besarnya balasan pahala bagi orang yang melakukannya. Yakni “bercinta”, mandi, bangun pagi, berangkat awal ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at, duduk dekat imam dan mendengarkan khutbah dengan seksama. Pahala dalam hadits ini diberikan kepada orang yang melakukan paket enam amal itu, tidak terpisah-pisah. Namun demikian, tergambarlah keutamaan “bercinta” di malam Jum’at.

Memang ada yang berpendapat bahwa sunnah dalam hadits tersebut adalah “bercinta” pada hari Jum’at (pagi), mengingat mandi Jum’at itu dimulai setelah terbit fajar di hari Jum’at. Namun yang lebih populer adalah “bercinta” di malam Jum’at, sedangkan mandinya bisa saja saat terbit fajar sebelum menunaikan Shalat Shubuh berjama’ah.

Abu Umar Basyir di dalam bukunya Sutra Ungu menambahkan, “Di negara yang menerapkan libur pada hari Jum’at, tentu tidak masalah jika seseorang ingin berhubungan seks pada hari itu. Lalu bagaimana di negara yang menetapkan hari Jum’at sama seperti hari-hari kerja lainnya? Bagaimanapun, hukum sunah tetap saja sunah. Jadi itu hanya soal kesempatan melakukannya saja. Jika mampu dilakukan, Insya Allah membawa berkah. Di situlah, manajemen waktu berhubungan seks menjadi perlu diatur. Karena itu bisa saja dilakukan menjelang subuh, atau sesudah shalat Subuh. Tiap pasutri tentu lebih tahu mana saat yang paling tepat.” Wallaahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]

Karena Allah, Aku Menikah Denganmu


Anas Ibnu Malik radhiyallaahu 'anhu berkata: Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memerintahkan kami berkeluarga dan sangat melarang kami membujang. Beliau bersabda: "Nikahilah perempuan yang subur dan penyayang, sebab dengan jumlahmu yang banyak aku akan berbangga di hadapan para Nabi pada hari kiamat." (HR. Ahmad. Shahih menurut Ibnu Hibban)

Dari hadits tersebut dikatakan bahwa seorang laki-laki diminta untuk menikah dengan wanita yang subur yang bisa mempunyai banyak keturunan. Namun meskipun begitu tujuan menikah tak serta merta untuk memiliki keturunan atau untuk memenuhi kebutuhan biologis semata. Adanya cinta yang dilandaskan karena Allah membuat dua insan yang sama-sama memiliki kelebihan kekurangan bersatu.

Saya mendapatkan cerita dari salah seorang wali murid yang biasa saya panggil Ummi. Bebeberapa minggu yang lalu, saat kami bertemu di asrama ummi menceritakan pada saya bahwa beliau telah menjodohkan seorang akhwat (sebut saja Melati) dengan seorang mas-mas (sebut saja mas Joko).

Melati adalah seorang guru ngaji anak ummi. Aktif, vocal, dan berprestasi. Sedangkan mas Joko adalah anak kost dari ibu ummi. Pendiam, kalem, dan tak seberprestasi Melati. Ketika keduanya ditanya sama ummi, apakah sudah siap untuk menikah. Mereka jawab ia. Kemudian ummi memperlihatkan foto masing-masing kepada mereka. Dan mereka sepakat untuk melanjutkan pada proses ta’aruf.

Selama proses ta’aruf keduanya saling terbuka. Dimulai dari mas Joko yang memperkenalkan jati dirinya lengkap. Satu paket antara kelebihan dan kekurangannya. Begitupula dengan Melati. Diapun menceritakan siapa jati dirinya. Satu paket antara kelebihan dan kekurangannya. Tak ada yang ditutupi antara keduanya. Saling terbuka. Hingga setelah ditanya sama ummi apakah mau lanjut ataukah sampai pada proses ini. Keduanya sepakat untuk lanjut. Semua mengucap tasbih, Melati, mas Joko, abi dan ummi yang ikut mendampingi proses ta’aruf mereka.

Setelah proses ta’aruf selesai Melati ditanya sama ummi “Eh kok kalian bisa langsung cocok begitu? Padahal orang itu biasa saja. Sementara kamu kan aktif dan berprestasi”

“Iya, Mi. Saya juga ga tahu kenapa. Saya hanya berdoa sama Allah agar diberi pendamping yang siap menerima saya apa adanya. Sedang dia mau menerima saya apa adanya” jawab Melati, sementara ummi mengucap tasbih.

“Tapi Mi, masak mau nikah saja, calon suami saya harus punya modal 40 juta untuk operasi organ kewanitaan saya?” lanjut Melati.

“Ya tak apa. Kalau memang Allah memberi rizki, insya Allah nanti kan bakal dioperasi. Toh dia juga gapapa to?” kata ummi disambut senyuman Melati.

Di lain waktu mas Joko yang ditanya sama ummi.

“Eh mas, kok kamu bisa langsung mantap sama dia?”

“Iya bude. Saya juga ga tahu. Saya minder bude, saya kan banyak kekurangannya”

“Lha nanti masalah itu gimana? Kan kalau kalian mau (‘afwan) jima’ kan dia harus dioperasi dulu” lanjut ummi.

“Tak apa bude. Gak harus sekarang kok. Saya niat nikah bukan untuk itu” jawab mas Joko.

Sungguh mengharukan. Bagaimana mas Joko bisa menerima Melati yang, punya kekurangan pada organ kewanitaannya. Sehingga untuk bisa melakukan (‘afwan) jima’ Melati harus dioperasi yang biayanya mencapai 40 juta. Sedangkan Melati dengan segala prestasinya mau menerima mas Joko yang biasa saja atau dalam artian tidak seberprestasi dirinya. Dari cerita ummi ini, saya mencoba mengambil beberapa pelajaran, yakni :

Yang pertama, keterbukaan selama proses ta’aruf yang pada akhirnya mempersatukan mereka. Saudaraku, adanya keterbukaan selama proses ta’aruf sangat penting. Karena dari sini kita dapat mengetahui secara detail kekurangan dan kelebihan masing-masing. Sehingga kita dapat memantapkan hati untuk lanjut ataukah berhenti sampai pada proses ta’aruf.

Kadangkala karena sudah ada kecondongan hati terhadap ikhwan atau akhwat yang diajak ta’aruf membuat kita menyembunyikan kekurangan kita. Yang pada akhirnya ketika jadi menikah akan menimbulkan kekecewaan pada salah satu pihak.

Seperti yang terjadi pada salah seorang teman. Selama proses ta’aruf ternyata dari ikhwannya masih ada yang ditutupi. Dan setelah menikah baru ketahuan kalau ikhwan tersebut punya ‘kelainan’ yang berujung pada keretakan rumah tangga mereka. Hal ini tentu lebih menyakitkan dibanding ketika kita memberi tahu sejak proses ta’aruf. Terserah jadi atau tidak. Supaya kita juga tidak merasa seperti membeli kucing dalam karung yang kita tidak tahu isi kucing tersebut benar-benar baik atau tidak. Hehe.

Yang kedua, kesiapan keduanya untuk menerima apa adanya calon pasangan dengan tidak menetepakan banyak kriteria. Melati hanya meminta kepada Allah calon yang siap menerima dia apa adanya. Bahasanya satu paket antara kelebihan dan kekurangannya. Sedangkan mas Joko yang merasa dirinya tak punya banyak kelebihan seperti Melati, siap menerima Melati dengan kekurangannya tersebut.

Yang ketiga adalah niat untuk menikah. Sebenarnya niat kita menikah itu apa? Apakah benar-benar karena Allah ataukah hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis semata?. Kalau hanya itu tujuannya, maka mas Joko jelas tidak akan menerimah Melati. Karena untuk mendapatkan kebutuhan biologis tersebut Melati harus dioperasi yang biayanya mencapai 40 juta.

Namun di sinilah kelebihan keduanya. Mereka benar-benar niat menikah karena Allah. Melati siap menerimah mas Joko apa adanya, meski tidak satu marhalah, tidak seberprestasi dirinya. Sedangkan mas Joko juga begitu, dia meniatkan semuanya karena Allah. Perkara kekurangan Melati tersebut, itu bisa diatasi. “Tidak bude, saya tidak menikah karena itu (kebutuhan biologis). Tapi saya benar-benar menikah karena Allah” katanya pada ummi. Ibaratnya kekurangan fisik itu bisa diperbaiki, sedangkan kekurangan (cacat hati dan akhlak) itu yang menjadi masalah besar.

Semoga kita dapat mengambil ibrah dari sedikit cerita ini. Waallahu a’lam bish-shawab. [Ukhtu Emil]

Sebelum Menikah...


“Beruntunglah jika saat ini anti belum menikah…” kata partner kerja saya tiba-tiba.
“Lha kok begitu…??” jawab saya penuh tanya.
”Iya tentu saja... sebab terlalu banyak wow dan haaah… yang bakal anti temui sesudah menikah… itu sebabnya anti lebih beruntung punya waktu lebih lama untuk belajar dan mempersiapkan diri “ demikian partner kerja saya itu menjelaskan, ”beda dengan saya dulu saat memutuskan menikah… tak banyak persiapan mental dan ruhiyah… terlebih lagi persiapan niat… akhirnya saat di awal perjalanan pernikahan saya sering mengalami shock terapy
”Begitulah… jika tidak benar- benar menata niat sejak awal… bukan tidak mungkin bahtera rumah tangga yang telah dibina akan karam dihempas derasnya gelombang masalah,” begitu serius ia menasehati saya.

Banyak hal yang mungkin muncul dan menjadi riak-riak gelombang atau bahkan menjadi tsunami yang bakal menguji jalannya bahtera rumah tangga. Diantaranya orientasi sebelum menikah, jika disorientasi sejak awal, bisa-bisa berbahaya. Misalnya jika bagi wanita orientasi awal menikah untuk melepas beban mencari nafkah. Menikah biar ada yang ngasih biaya, tidak usah susah-susah bekerja. Sebaliknya bagi pria, saat menikah tak perlu lagi mencuci, menyetrika, atau berharap jika mau makan apapun sudah tersedia diatas meja. Lha… jika yang terjadi sebaliknya dan tidak sesuai harapan. Gaji suami yang pas-pasan, cita rasa masakan istri yang tidak karuan, cucian dan setrikaan yang menumpuk bisa jadi ladang subur penyebab pertengkaran. Belum lagi, kekurangan-kekurangan yang perlu disyukuri dan kelebihan-kelebihan yang patut diwaspadai dari pasangan yang dinikahi. Lebih pendiam, kurang cerewet, mendengkur jika tidur, malas mandi, malas dandan, pelupa akut, kebiasaan teledor atau hobi belanja yang kurang sesuai dengan anggaran bisa jadi mengundang persoalan. Ditambah kemudian, kultur dan kebiasaan dari keluarga besar pasangan kita. Mertua yang terlalu baik hingga setiap ada persoalan suami-istri selalu mengambil peran untuk membantu menyelesaikan. Mereka seringkali terlalu khawatir dengan sang anak hingga setiap keperluan masih selalu saja diperhatikan. Hingga tak jarang eksistensi sang menantu jadi terabaikan. Demikian banyak hal, mulai yang sepele hingga yang serius yang bisa menjadi pemicu masalah. Yang bila kurang bijak dalam menyikapi dan menuntaskannya akan berbahaya.

Maka dari itu, sejak awal harus menata persepsi. Menikah tak hanya yang indah-indahnya saja yang merupakan nikmat. Berlelah-lelah mencari nafkah itu juga nikmat. Berusaha memberi senyum termanis di sela lelah mengurus rumah seharian adalah nikmat. Bersungguh-sungguh menerima dan memahami pasangan dengan sepenuh hati itu nikmat. Merebut hati mertua dengan simpati adalah nikmat. Menerima nasehat bijak yang mungkin menyakitkan dari mertua adalah nikmat. Sebagaimana dikatakan Salim A. Fillah, Sebab menikah adalah nikmat dan keindahan kecuali bagi yang menganggapnya sebagai beban. Sebab rumah tangga adalah kemuliaan, kecuali bagi yang memandangnya sebagai rutinitas tanpa makna. Sebab menikah adalah salah satu wasilah untuk mendapat syurga, kecuali bagi yang mejadikannya sebagai fase hidup yang dilewati begitu saja.

Adalah Niat. Itulah persiapan pra nikah yang terpenting yang bisa saya dapatkan dari perbincangan saya dengan rekan kerja saya tersebut. Sebagaimana yang pernah disinggung oleh ustadz Fauzil Adhim di sebuah forum kajian, jika ada seandainya ada 8 kali pertemuan kuliah pra nikah maka hendaknya ada 6 kali pertemuan yang hanya akan membahas 1 hal saja yaitu niat. Innamal a’maalu bin niyaati wa innamaa likullimrii-in maa nawaa. Sebab berbagai macam kitab hadist menempatkan hadist tersebut hampir selalu di awal pembahasan dan menegaskan bahwa apa yang kita peroleh berdasarkan atas apa yang kita niatkan. Dan sebagaimana pengalaman berharga dari rekan kerja saya tersebut. Niat awal ketika mulai memutuskan untuk menikah itulah yang akan menjadi pondasi pijakan kita dalam bersikap dan saat mengambil keputusan penting saat datang persoalan yang genting. Niat pula yang akan menentukan apakah ada barakah di sepanjang perjalanan pernikahan yang dilalui. [Kembang Pelangi]

4 Makanan “Spesial” untuk Suami


Saling membahagiakan antara suami istri adalah bagian dari ibadah. Jika seorang suami ingin “kekuatan” dan staminanya meningkat, ada empat jenis makanan yang direkomendasikan untuk banyak dikonsumsi.

1. Makanan yang mengandung Zinc
Zinc adalah zat yang merangsang tubuh untuk memproduksi hormon testoterone. Contoh makanan yang banyak mengandung zinc adalah daging, oysters (kerang-kerangan) dan seafood.

2. Makanan yang mengandung Arginine
Arginine adalah hormon pertumbuhan. Contoh makanan yang banyak mengandung arginie adalah coklat, kacang-kacangan, dan sunflower.

3. Makanan yang mengandung Selenium
Selenium adalah zat anti oksidan. Contoh makanan yang banyak mengandung selenium adalah tomat dan sayur brokoli.

4. Makanan yang mengandung Niacin
Niacin diperlukan untuk mengembalikan stamina seorang suami setelah menunaikan tugasnya. Contoh makanan yang banyak mengandung niacin adalah ikan, telur, kacang tanah dan alpukat.

“Keempat zat inilah yang bertugas menghasilkan hormon seks seperti progesterone, testoterone dan estrogen,” terang Abu Umar Basyir dalam buku Sutra Ungu.

Catatan: Terkait dengan efek samping semisal kadar kolesterol, silahkan konsultasikan kepada dokter atau ahli gizi Anda. []

3 Tips Agar Punya Anak


Anak merupakan anugerah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Hadirnya anak merupakan hal yang banyak dinanti oleh suami istri. Karena anak adalah generasi penerus, salah satu sumber kebahagiaan orangtua, dan saham akhirat. Bagaimana jika sudah lama menikah namun belum dikaruniai anak? Barangkali itu adalah ujian tersendiri yang dengannya Allah memberikan pahala besar bagi pasangan suami istri. Sebagai umat Islam, ikhtiar harus tetap dilakukan. Nah, berikut ini 3 Tips Agar Punya Anak yang bisa dicoba:

1. Tips Kesehatan
Perbaiki kesehatan secara umum dengan cara:
- Mengatur waktu tidur yang cukup dan bacalah doa sebelum tidur
- Mengkonsumsi makanan empat sehat lima sempurna, terutama kecambah, brokoli, daun kemangi, bawang merah, bawang putih, kacang tanah, kacang mede, wijen, susu, telur ikan, telur ayam, ikan laut dan kerang
- Memenuhi asupan air putih dengan cukup
- Berolah raga secara rutin
- Menghindari rokok karena nikotin dapat mempengaruhi kualitas sperma
- Jika perlu, minumlah obat yang memacu produksi sperma dan memperbaiki kualitasnya

2. Tips Biologis
Lakukan hubungan suami istri secara teratur, terutama pada masa subur, yaitu 14 hari menjelang menstruasi hingga sesaat sebelum menstruasi

3. Tips Spiritual
Berdoa, bersabar, dan bangunlah di sepertiga malam terakhir untuk melaksanakan shalat tahajud. Selain waktu itu sangat mustajab untuk berdoa, tahajud juga membuat fisik menjadi sehat.

Demikian 3 Tips Agar Punya Anak yang disarikan dari Buku Pintar Sehat Islami karya dr. Mohammad Ali Toha Assegaf. Yakinlah kekuasaan Allah yang telah mengaruniai Nabi Zakariya keturunan meskipun beliau sudah sangat tua dan istrinya mandul. Jika Allah berkehendak, Kun Fayakun. Tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah. [sekilasdakwah.blogspot.com]

Keluarga Ahli Surga

Saat tanya jawab di salah satu masjid BUMN di Bandung, seorang jamaah bertanya.
"Maaf pak ustadz, saya mau menanyakan ... apakah boleh saya mengharapkan menikah dengan wanita yang cantik?"

"Waduh ... tentu boleh saja. Tak ada larangan kok!", jawab sang ustadz.

"Iya pak ustadz. Soalnya saya ingin memperbaiki keturunan ... he he ", jawab jamaah.

"He he ... insya Allah niatnya suci pak. Saya doakan bapak berjodoh dengan yang cantik, shalihah, smart, dan membahagiakan", pak ustadz mendoakan penuh ikhlas.

"Aaamiiin ... tapi, bagaimana jika nanti dapat yang tidak sesuai harapkan?", tanyanya lagi cemas.

"Ini pak, saya sampaikan kisah dari buku Miat Qishsh Wa Qishshah:

'Suatu hari Imran bin Hithan menemui isterinya. Imran adalah orang yang buruk rupa, kecil dan pendek. Sementara isterinya adalah wanita yang amat cantik. Ketika memandang isterinya, Imran tdak berhenti memandanginya.

Istri Imran bertanya, “Wahai suamiku, ada apa dengan dirimu, mengapa engkau memandangiku terus menerus?“
Imran menjawab, “Alhamdulillah, engkau sungguh cantik.“
Isterinya berkata, “Berbahagialah, sebab kita layak masuk surga.“

Imran bertanya, “Dari mana engkau tahu bahwa kita akan masuk surga?“
Isterinya menjawab, “Engkau dianugerahi istri yang cantik, dan engkau bersyukur. Sedangkan, aku diuji dengan suami yang buruk (tetapi gagah perangainya), dan aku tetap bersabar. Bukankah orang yang sabar dan orang yang bersyukur akan masuk ke dalam surga? ”.

***
"Jadi gimana pak ustadz?", tanyanya lagi nampak bingungnya belum sirna.

"Ya tidak apa-apa ... sekarang sudah ketemu calonnya belum?", pak ustadz tetap kalem.

"Ya belum ... mau minta pak ustadz cariin ... he he ... yang cantik, shalihah, smart, dan membahagiakan", tanyanya tersipu malu.

"Waduh ... kalau yang begitu mah, makhluk langka atuh pak ... kalaupun ada, he he ... sorry-sorry to say ..."

Jamaah: "?&^?@##$!"

Penulis : Nandang Burhanuddin

Keutamaan “Bercinta” di Malam Jum’at


“Suami wajib menjimak istrinya sekurang-kurangnya satu kali dalam sebulan,” kata Ibnu Hazm, “kalau tidak, berarti ia durhaka terhadap Allah.”

Jika Ibnu Hazm berbicara tentang kewajiban “bercinta” bagi suami istri, Imam Al Ghazali menjelaskan mengenai kepatutannya.

“Sepatutnya suami menjimak istrinya pada setiap empat malam satu kali. Ini lebih baik…” kata ulama bergelar hujjatul Islam itu. Namun, Al Ghazali tidak memaknai batasan itu secara kaku. “Bahkan sangat bijaksana kalau lebih dari sekali dalam empat malam, boleh pula kurang dari itu, sesuai kebutuhan istri.”

Lalu jika perlu memilih hari dalam “bercinta”, adakah keutamaan malam Jum’at dibandingkan malam-malam lainnya? Dalam hal ini, hadits yang sah dijadikan rujukan adalah riwayat Tirmidzi nomor 496, An-Nasai 3/95-96, Ibnu Majah nomor 1078, dan Ahmad 4/9. Hadits-hadits itu senada, yang terjemahnya sebagai berikut:

“Barangsiapa (yang menggauli istrinya) sehingga mewajibkan mandi pada hari Jum’at kemudian diapun mandi, lalu bangun pagi dan berangkat (ke masjid) pagi-pagi, dia berjalan dan tidak berkendara, kemudian duduk dekat imam dan mendengarkan khutbah dengan seksama tanpa sendau gurau, niscaya ia mendapat pahala amal dari setiap langkahnya selama setahun, balasan puasa dan shalat malam harinya.” (HR. Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Ahmad)

Subhanallah, dari hadits tersebut tergambar betapa besarnya balasan pahala bagi orang yang melakukannya. Yakni “bercinta”, mandi, bangun pagi, berangkat awal ke masjid untuk menunaikan shalat Jum’at, duduk dekat imam dan mendengarkan khutbah dengan seksama. Pahala dalam hadits ini diberikan kepada orang yang melakukan paket enam amal itu, tidak terpisah-pisah. Namun demikian, tergambarlah keutamaan “bercinta” di malam Jum’at.

Memang ada yang berpendapat bahwa sunnah dalam hadits tersebut adalah “bercinta” pada hari Jum’at (pagi), mengingat mandi Jum’at itu dimulai setelah terbit fajar di hari Jum’at. Namun yang lebih populer adalah “bercinta” di malam Jum’at, sedangkan mandinya bisa saja saat terbit fajar sebelum menunaikan Shalat Shubuh berjama’ah.

Abu Umar Basyir di dalam bukunya Sutra Ungu menambahkan, “Di negara yang menerapkan libur pada hari Jum’at, tentu tidak masalah jika seseorang ingin berhubungan seks pada hari itu. Lalu bagaimana di negara yang menetapkan hari Jum’at sama seperti hari-hari kerja lainnya? Bagaimanapun, hukum sunah tetap saja sunah. Jadi itu hanya soal kesempatan melakukannya saja. Jika mampu dilakukan, Insya Allah membawa berkah. Di situlah, manajemen waktu berhubungan seks menjadi perlu diatur. Karena itu bisa saja dilakukan menjelang subuh, atau sesudah shalat Subuh. Tiap pasutri tentu lebih tahu mana saat yang paling tepat.” Wallaahu a’lam bish shawab.

[Maraji': Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq, Kitab Fadhail A’mal karya Ali bin Muhammad al Maghribi dan Sutra Ungu karya Abu Umar Baasyir]

3 Manfaat Pelukan Bagi Suami Istri

Pelukan, meskipun hanya dilakukan sebentar, ternyata mendatangkan banyak manfaat bagi suami istri. Berikut ini adalah tiga diantara sekian banyak manfaat pelukan bagi suami istri beserta penjelasan ilmiahnya:

1. Menenangkan
Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pulang dari gua Hira seusai menerima wahyu pertama, beliau menggigil seperti demam. “Zammilunii... zammiluni...” kata beliau meminta Khadijah menyelimutinya. Pada saat itu Rasulullah mengkhawatirkan dirinya, namun dengan dukungan sang istri, kekhawatiran itupun sirna.

“Saat tubuh merasakan sentuhan, nueotransmitter di otak akan mengirimkan hormon Endormorfin ke dalam aliran darah dengan jumlah cukup besar. Hormon tersebut mampu menurunkan ketegangan saraf dan tekanan darah” tulis Cahyadi Takariawan dalam Wonderful Family.

Demikianlah, Anda juga bisa mempraktekkannya. Jika suami Anda kalut, galau, atau menghadapi masalah, peluklah ia. Sebagai istri, Anda adalah orang yang paling berhak menenangkannya. Buktikan bahwa diri Anda adalah perhiasan terbaik di muka bumi.

“Dunia adalah perhiasan dan sebaik-baik perhiasan adaah wanita shalihah” (HR. Muslim).

Demikian pula jika istri Anda menghadapi masalah atau mengkhawatirkan buah hatinya, yang sedang sakit misalnya. Pelukan Anda akan membantu menenangkan dirinya.

2. Memberikan dukungan
Sebuah penelitian yang dilakukan University of California membuktikan, suami istri yang saling berpegangan tangan dan bersentuhan dapat mengurangi rasa sakit. Penelitian lain menunjukkan, berpelukan dapat meningkatkan sistem kekebalan tubuh dan memberikan semangat.

Pepatah Arab mengatakan, “Di balik pahlawan besar selalu ada perempuan agung.” Maka jika Anda menginginkan suami berprestasi dan menjadi pahlawan, dukungan Anda adalah salah satu kuncinya. Dukungan tidak selalu harus berupa kata-kata. Terlebih bagi banyak pria, mereka kurang bisa menjadi pendengar yang baik. Maka sedikit kata yang kau bisikkan disertai pelukan akan menjadi salah satu dukungan dan motivasi besar baginya.

“Perempuan bagi banyak pahlawan,” kata Anis Matta dalam Mencari Pahlawan Indonesia, “adalah penyangga spiritual, sandaran emosional; dari sana mereka mendapatkan ketenangan dan gairah, kenyamanan dan keberanian, keamanan dan kekuatan. Laki-laki menumpahkan energinya di luar rumah dan mengumpulkannya kembali di dalam rumah.”

3. Mendekatkan hubungan
Terkadang, sulit bagi suami istri yang sedang marahan atau berselisih untuk memulai meminta maaf dengan kata-kata. Nah, jika Anda saat ini sedang ada “masalah”dengan istri atau suami Anda, dekatilah ia. Kemudian peluklah ia. Jika bibir belum mampu bicara banyak, cukup kalimat singkat “Maafkan aku sayang.”

Pelukan seperti ini tentu saja tidak hanya dibutuhkan pada saat terjadi konflik. Pelukan yang rutin dilakukan oleh suami istri akan semakin mendekatkan hubungan keduanya. Wallaahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]

3 Resep Keluarga Sakinah untuk yang Baru Menikah

Bagaimana agar pasangan suami istri yang sebelumnya tidak saling kenal kecuali sekedar ta'aruf singkat, bisa mudah menyatu dan kemudian terbentuk keluarga sakinah mawaddah wa rahmah serta menjadi keluarga dakwah? Berikut ini tiga resep keluarga almarhumah Yoyoh Yusroh yang terbukti mudah menyatu, harmonis dengan 13 anak-anaknya, serta menjadi keluarga dakwah.

Seperti ditulis Zirlyfera Jamil dkk dalam buku "Langkah Cinta untuk Keluarga", tiga resep keluarga Yoyoh Yusroh:
Pertama, memiliki komitmen bersama untuk tujuan bersama.
Jika pasangan suami istri memiliki komitmen yang sama, mak keluarga tersebut akan mudah menyatu. Meskipun tidak begitu saling kenal, tujuan yang sama akan mendekatkan. Meskipun sifat dan latar belakang berbeda, tujuan yang sama akan menghimpun warna-warna menjadi pelangi. Tentu, tujuan yang bisa demikian adalah tujuan yang robbani. Seperti keluarga Yoyoh Yusroh yang ingin sejak awal berkomitmen membawa seluruh anggota keluarga meraih surga.

Kedua, masing-masing pasangan suami istri memiliki kesiapan untuk saling mendukung dan menerima. Menyadari bahwa setiap mereka adalah manusia yang tidak sempurna. Menyadari bahwa suami dan istri adalah pribadi yang terus berproses dan bertumbuh. Kesadaran ini akan membuat suami mudah memaafkan istrinya, apalagi jika itu adalah kesalahan kecil atau kesalahan pertaama. Istri juga berlapang dada jika ada hal yang tak disukainya. Dan demikianlah cinta. Cinta karena Allah. Sungguh indah sabda Rasulullah, "Bukanlah cinta karena Allah, jika karena kesalahan pertama membuat mereka berpisah."

Ketiga, berbagi syukur dan sabar silih berganti.
Adakalanya istri bersabar dan suami bersyukur, adakalanya juga istri yang bersyukur dan suami yang bersabar. Sebab, setiap orang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Kita sebelumnya tidak tahu persis istri dan suami kita itu kelebihannya apa dan kekurangannya apa. Dalam ta'aruf memang diungkapkan kelebihan dan kekurangan tersebut, namun sering kali bahasa verbal tidak bisa kita pahami lebih baik daripada setelah berinteraksi dengannya, bersama dalam rumah tangga. Percayalah, jika kita mencari istri atau suami yang sempurna dalam segala hal, kita takkan pernah menemukannya. [IK/Rpb/bsb]

Menikah, Membuka Kran Rezeki


“Menikah itu menyatukan beberapa kran rezeki, maka jangan takut melangkah”

Apa yang salah dengan keputusanku? Aku merasa sudah cukup bekal untuk menapaki kehidupan baru yang jauh lebih bertenaga. Bukan sekedar menikmati suasana damai di pantai, tapi derasnya gulungan ombak samudra, badai, juga mesti aku rasakan, untuk membuatku setegar karang yang terbenam di dasar pulau.

Dua puluh lima tahun menjadi usia paling pas untuk menikah. Jika sudah ada niat, maka langkah apalagi yang harus menghalangi? Bekal berlayar sudah aku persiapkan jauh-jauh hari sebelumnya. Sudah tiga kali seminar pranikah aku ikuti. Tekadku, aku tak mau ikut seminar bertema sama untuk ketiga kalinya, kecuali aku tampil sebagai pembicara, dan bukan sebagai peserta lagi.

Kurang apalagi? usia sudah sangat cukup, maisyah sudah ada, mau kapan lagi akan punya ‘Aisyah’? Sudah sedemikian banyak amanah aku dapatkan, apalah lagi yang menghalangiku untuk memiliki ‘Aminah?’ Namun keinginan itu tak semulus apa yang aku impikan. Ada sedikit kerikil di tengah jalan yang perlu aku bersihkan baik-baik. Keputusan untuk menikah dianggap terlalu dini dan mendapat tanggapan dingin dan terkesan meremehkan dari banyak pihak termasuk sebagian besar keluargaku. Mereka menganggap aku belum mapan, hanya melihat karena pekerjaanku sebagai guru, swasta lagi.

“Mapankan dulu karir, baru menikah,”
“Kamu sudah yakin, mau menikah?”
“Menikah itu memelihara anak orang lho, nggak sembarangan,”
“Apa nggak kasihan sama ibu kamu yang pontang-panting cari duit buat bayar hutang dan juga sekolah adik-adikmu?”
Begitu komentar sebagian besar yang sampai di telingaku. Selain karena masih banyak tanggungan, aku masih dianggap sebagai anak yang diandalkan untuk menyetabilkan roda perekonomian keluarga. Beberapa diantaranya membantu menopang kebutuhan keluarga di rumah, mulai dari memasok uang saku adik-adik, bayar listrik, kebutuhan rumah lainnya, dan yang paling terasa adalah membiayai adikku ketika pertama masuk kuliah.
Sehingga kalau menikah, menurut kesimpulan mereka, otomatis akan menambah beban tanggungan biaya yang harus aku keluarkan. Apalagi usaha bapakku semakin kesini, semakin lesu. Penghasilannya tak semaju dulu. Mungkin karena tergerus saingan usaha sejenis yang sudah sedemikian menjamur, ditambah lagi usaha bapakku kurang terobosan. Sehingga sebagai anak pertama, aku turut merasakan pula menjadi kepala keluarga kedua setelah bapakku. Permintaanku hanyalah satu, “Allah, mudahkan aku memperoleh rezeki-Mu, mudahkanlah jodohku. Hadirkan keduanya dengan cara yang tak terduga.”

***
“Mau nggak aku kenalin. Ada seorang akhwat, salehah, cantik, dan siap nikah. Khitbah segera jika tak ingin ada orang lain mengkhitbahnya.” Hanya dalam hitungan hari setelah mengajukan permintaan itu, datang sebuah SMS itu.

Yang mengejutkan, pengirim SMS tersebut, perangainya kurang meyakinkan untuk menjadi mak comblang, lantaran masih kekanak-kanakkan. Aku sempat cuek dan tidak mau ambil pusing. Tapi sms-sms berikutnya terus berdatangan, yang isinya semakin hari semakin provokatif. Dia menyarankan agar aku segera berbuat sesuatu. Entah mengapa dada aku bergetar seperti membentuk getaran yang menyelusup relung jiwa tanpa permisi. Ia berhasil membuatku penasaran!

Di sebuah acara Seminar Pra Nikah, sang provokator itu memfasilitasi kami untuk bertemu. Ini berarti seminar pranikah yang ketiga kalinya. Prediksiku meleset lagi. Huh, aku sendiri heran, momen ini bisa pas mengupas masalah nikah. Ini berarti, untuk ketiga kalinya aku mengikuti seminar bertema sama. Keinginanku untuk stop mengikuti acara semacam ini belum terturutkan. Aku harap itu adalah seminar pranikah terakhir yang aku ikuti.

Kawan, jangan bayangkan pertemuan itu seperti dalam sinetron-sinetron. Bisa saling tatap dalam jarak yang amat dekat, diwarnai perasaan salah tingkah, lalu saling mengulurkan tangan, bersalaman, genggaman erat tangan tak lepas-lepas, dan baru mulai bicara saat disenggol lengannya oleh temannya, karena asyik terlena menggenggam dan menatap wajahnya. Aku tidak senaif itu.

Sesuai rencana, aku berkesempatan melihatnya di akhir acara. Yang aku alami tatkala itu adalah aku sempat menatap sekilas dari jarak sekitar 50 meter. Pertemuan itu pun hanya sekelebatan saja. Hanya dalam hitungan detik, karena saat itu hendak shalat dzuhur dan dia tampak buru-buru mau pulang. Entah, setelah pertemuan kilat itu, hati mendadak seperti magnet yang mengarah padanya: dialah muslimah yang akan menjadi istriku! Keyakinan itu begitu saja tumbuh. Entah datang dari mana, padahal melihat wajahnya saja hanya samar-samar. Lantaran sudah sedemikian yakin, pada kesempatan lain, aku mengusulkan untuk saling bertukar biodata, untuk kemudian berlanjut pada tahapan taaruf, khitbah, lalu nikah.

“Ternyata kau masih muda..” begitu komentarnya saat prosesi taaruf. Fakta baru yang mengejutkan, usianya terpaut 3 tahun di atasku. Aku 25 tahun, sementara ia 28. Dalam hati sempat bertanya-tanya, apakah perbedaan usia akan dipermasalahkan? Mudah-mudahan tidak. Rasulullah Saw saja menikah dengan Khadijah r.a yang usianya terpaut 15 tahun. Berarti perbedaan usiaku dengannya belum apa-apa. “Tapi kau kelihatan dewasa,” lanjutnya lagi.

“Apa keberatan jika menikah dengan yang lebih muda usianya?” tanyaku menyelidik berlagak seperti detektif.

“Bagiku tidak masalah, asal berpikiran dewasa dan siap memimpin keluarga. Dan yang paling penting siap membimbingku meraih surga,” jawabnya mantap. Jika jawabannya sudah begitu, maka nikmat Allah yang manakah yang akan kau dustakan?

Saat kami saling bersepakat untuk menikah, diam-diam terdengar kabar, ada seseorang yang menyesalkan melihat prosesi taaruf kami yang berlangsung sedemikian cepat. Menyesal lantaran ia keduluan temannya ‘yang kurang meyakinkan itu’ untuk menjadi mak comblang, menjodohkan kami. Diam-diam ternyata beberapa temanku merencanakan sesuatu yang sedemikian indah! Alhamdulilah berhasil. 

***
Begitu mendengar dia meminta mahar buku tafsir fi dzilalil qur’an karya Sayyid Qutub sebagai mahar, langsung aku memesannya. Padahal saat itu aku sama sekali tak punya uang. Modalku hanya niat. Tanpa aku duga, begitu pesanan sampai, pada hari itu juga aku mendapat buku rekening lewat sekolah yang nominalnya satu setengah juta, dan langsung bisa dicairkan keesokannya. Aku pun langsung mengalokasikannya untuk membayar buku tafsir pesanan itu.

Belakangan menjelang pernikahan, calon istriku menyarankan lagi sebaiknya mahar ada yang berupa harta, entah berupa uang atau perhiasan. Mengingat itu penting, aku menyanggupi meski saat itu aku tak punya uang sama sekali. Di dompet hanya tinggal beberapa lembar ribuan. Ingin memberikan mahar perhiasan, tapi perhiasan itu belum di tangan, karena belum bisa aku pastikan. Maka aku memutuskan untuk memberikan tambahan mahar berupa uang sebesar satu juta rupiah. Gajiku saja jumlahnya segitu kurang sedikit. Pos itu rencananya akan aku ambil pada gajiku di bulan depan, bulan saat pernikahanku berlangsung. Mungkin aku akan minta gajian lebih dulu dari tanggal yang sudah ditentukan. Selebihnya berdoa sekuat tenaga untuk mendapatkan celah rezeki yang datangnya tak terduga.

***
“Sudah lengkap semua yang mau dibawa saat seserahan?” tanya nenekku.
“Kalau perabotan, Insyaallah sudah semua.”
“Bagaimana dengan perhiasan?”
Aku tercekat mendapat pertanyaan itu. Saldo tabunganku sudah menipis. Sebagian besar habis untuk membeli perlengkapan seserahan yang dianggap prioritas, juga untuk biaya yang sifatnya administratif. Barang-barang yang mau dibawa saat seserahan pun tidak sekaligus dibeli, melainkan menyicil setiap bulannya. Dari penghasilan yang aku peroleh, aku menyicil membeli perabotan. Bulan pertama membeli termos, rantang. Bulan kedua membeli rice cooker, bulan ketiga piring, gelas, sendok dan garpu, bulan keempat baju-baju, bulan kelima kompor, dan sebagainya. Hasil menyisihkan tiap bulan, nyaris tak ada alokasi untuk membeli emas, karena minimnya dana.

Tentang emas itu, kepikiran jelas saja. Kata nenekku, paling tidak lima gram dibawa pada saat seserahan. Malu kalau tak bawa, katanya.

Allah… dari mana aku harus dapatkan emas itu? Apakah itu harus? Aku belum ada uang untuk beli perhiasan. Sementara tabunganku di rekening… oh, seratus ribu pun tak sampai.

Saat melamarnya aku hanya bisa membeli sebutir cincin. Kesempatan yang sama saat membeli tafsir sebagai mahar, terulang lagi. Yakni mendapat mendapat uang satu setengah juta tanpa harus lelah mencari, yang setelah aku ketahui ternyata itu adalah tunjangan fungsional yang cairnya selama setengah semester sekali. Alhamdulilah….

Aku sebenarnya tak mempermasalahkan, jika tak bawa seserahan tanpa emas. Aku sudah sampaikan ini pada calon istriku, sudah aku sampaikan juga bagaimana kondisi keluargaku yang berasal dari keluarga sederhana. Ayahku hanya seorang pedagang di perantauan. Ibuku penjual nasi bungkus sarapan di pagi hari, dan keliling jualan gorengan di sore hari. Sementara aku, seorang guru, swasta pula. Penghasilanku tak seperti kebanyakan para pemuda seusia aku yang kebanyakan merantau berdagang martabak, dan bisa memberikan emas bergram-gram dengan barang seserahan super lengkap saat menikah.

Ah, aku tak perlu pesimis menghadapi hal ini. Jika Allah sudah berkehendak, tak ada yang tak mungkin bagi Allah. Waktu pelaksanaan tinggal beberapa hari lagi. Masih ada kesempatan meminta. Allah… berikanlah kemudahan kepadaku untuk mendapatkan rezeki yang tak terduga. Bukalah celah rezeki yang melimpah itu untukku. Jadikan aku sebagai salah satu orang yang mendapatkan rezeki tak terduga menjelang pernikahanku…

***
Begitu waktu gajian, aku terkejut karena aku menerimanya utuh, tanpa ada potongan untuk angsuran netbook sebesar dua ratus duapuluh ribu. Saat aku konfirmasi, ternyata sudah lunas bulan kemarin. Dengan hati yang berbunga-bunga, aku melanjutkan perjalanan ke bank untuk membayar angsuran. Sesampai di sana, aku juga heran sendiri, petugas kasirnya bilang kepada aku,
“Selamat, siang Pak. Ada yang bisa dibantu?”
“Iya, Mbak. Aku mau bayar angsuran pinjaman bulan ini.”
“Mohon ditunggu sebentar, pak.”
“Baik.”
“Mohon maaf bapak. Angsuran pinjaman bapak, sudah lunas bulan kemarin,”
Aku melongo dengan kekhilafan aku yang sedemikian akut. Satu hal yang baru aku sadari menjelang pernikahan, ternyata aku sudah melunasi angsuran pinjaman yang setiap bulannya hampir menguras separuh dari tabunganku selama satu setengah tahun. Aku sendiri lupa, ternyata, kemarin adalah bulan terakhir melunasi pinjaman bank yang selama setahun berjalan. Lunas pula angsuran netbook yang ternyata tanpa terasa sudah ke angsuran terakhir juga di bulan yang sama. Tapi setelah dipikir-pikir, keren juga kalau punya penyakit lupa model kayak gini. Terima kasih, Allah…

***
Aku sangat yakin Allah akan mem-back up semua keperluan pernikahanku dari proses awal sampai akhir. Inilah doaku. Semoga ayah, ibu, kakek nenek dan juga semua saudara-saudara aku turut memanjatkan doa yang sama, pada kesempatan yang sama sehingga Allah meluluskan permintaanku.

Menjelang hari bersejarah itu, kenikmatan besar hampir setiap hari aku peroleh. Aku seolah dimudahkan bangun pagi sebelum subuh. Kesempatan itu aku manfaatkan untuk tahajud. Aku percaya, Allah tak perhitungan memberikan rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya.

Subhanallah… sejak memanjatkan doa agar diberikan rezeki tak terduga, setiap harinya aliran rezeki mengalir begitu derasnya. Ada yang memberiku uang 450 ribu secara tiba-tiba. Hari berikutnya aku mendapat proyek mengedit 3 cerpen yang tak lebih dari dua halaman untuk masing-masing satu judulnya, lumayan dapat 50 ribu. Sebagian uang itu aku infakkan pada hari itu juga. Dan langsung mendapat ganti pada hari itu juga 14 kali lipat keesokannya.

Hari berikut dapat honor menulis rilis di koran 70 ribu. Pada saat yang hampir bersamaan, bibiku yang kini berada di Manado, mentransfer uang dua juta rupiah, untuk membantu biaya pernikahanku karena tak bisa pulang. Keesokannya giliran bibiku yang di Cianjur mentransfer satu juta ke rekening. Dan ini diluar perkiraanku, diam-diam kakekku membelikan emas untuk calon istriku.

***
Perasaan haru sesaat sebelum akad nikah, adalah perasaan yang berkecamuk saat aku sudah dijemput untuk melangsungkan ijab kabul. Ada perasaan tak tega, saat harus pisah dari orang tua. Aku begitu tak tega melihat air mata ibu yang menetes perlahan.
“Jadilah suami yang baik,” pesannya sambil memelukku erat. Tahukah kau, perasaan kehilangan yang begitu sangat pada saat itu? Saat aku sudah menikah nanti, aku akan kehilangan satu kesempatan indah setiap pagi, karena tak bisa lagi mengantar ibu ke pasar, berbarengan saat aku berangkat mengajar.

“Nggak usah khawatir, Mama bisa berangkat sendiri ke pasar,” ujarnya sambil menghapus air mata yang menetes di pipiku. Ibuku seakan sudah bisa membaca apa yang ada dalam pikiranku.

“Sudah, sudah.. nanti kalau nangis terus, gagahnya hilang.” Ibu menguatkanku. Meyakinkanku. Aku mengusap basah yang menetes dipipiku sambil tersenyum.
Sekarang aku sudah tenang. Tak hanya mendapat istri salehah, cantik, dan menyejukkan pandangan, tapi yang patut disyukuri adalah kekhawatiran orang-orang yang menganggapku nekad hilang seiring dimudahkannya jalan menuju proses pernikahan. Semua keluarga, dan tetangga ikut membantu menyukseskan pernikahanku. Semua beban yang awalnya seperti batu menindih pundak tiba-tiba terasa seringan kapas. []


Penulis : Ali Irfan
Penulis B'right Teacher
Guru Sekolah Islam Terpadu MI Luqman Al Hakim Slawi Kabupaten Tegal

Kenali Karakter Suami


"Selama dua puluh tahun berumah tangga," kata seorang suami kepada temannya, "aku belum pernah mendapati pada istriku sesuatu yang membuatku marah."

"Bagaimana hal itu bisa terjadi?" tanya si teman, keheranan.

"Sejak malam pertama aku bertemu istriku, aku mendatanginya dan aku ulurkan tanganku kepadanya. Ia berkata: 'Sabar dulu wahai Abu Umayyah, tunggu sejenak.'
Kemudian ia berkata: 'Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam semoga terlimpah atas Rasulullah… sesungguhnya aku adalah wanita yang asing bagi dirimu, aku tidak tahu karaktermu. Jelaskanlah kepadaku apa saja yang engkau sukai sehingga aku bisa melakukannya dan apa saja yang engkau benci sehingga aku dapat meninggalkannya. Aku katakan ini dan aku memohon ampun kepada Allah untuk diriku dan dirimu.'”

"Demi Allah," lanjut lelaki itu bercerita, disimak serius oleh temannya, "ia memaksa diriku untuk berbicara pada saat itu maka aku pun berkata: 'Segala puji hanya bagi Allah, aku bershalawat dan mengucapkan salam atas nabiNya dan atas keluarga beliau, wa ba’du. Sesungguhnya engkau telah mengucapkan sebuah perkataan jika engkau teguh memegangnya maka itu akan menjadi keberuntunganmu. Dan bila engkau tinggalkan akan menjadi hujjah yang menghujat dirimu. Sesungguhnya aku suka ini dan ini… dan aku membenci ini dan ini… apabila engkau melihat kebaikan, maka sebarkanlah dan apabila engkau melihat keburukan, maka tutuplah.'

Istriku bertanya: 'Apakah engkau menyukai kunjungan sanak familiku?'
Aku menjawab: 'Aku tidak suka dibuat bosan oleh mertua dan iparku (yakni ia tidak suka mereka sering mengunjunginya)'

'Siapakah tetangga yang engkau suka masuk ke dalam rumahmu sehingga aku memberinya izin dan siapakah yang tidak engkau sukai?'
Aku menjawab: 'Bani Fulan A adalah orang-orang shalih sedangkan bani Fulan B adalah orang-orang yang buruk.'

Maka aku pun melewati malam yang paling nikmat bersamanya. Satu tahun aku hidup bersamanya tidak pernah aku melihat apa-apa yang tidak aku sukai. Sehingga permulaan pada tahun kedua ketika aku pulang dari kerjaku, ternyata aku dapati ibu mertuaku di rumahku.

Ibu mertuaku bertanya kepadaku: 'Bagaimana pandanganmu tentang istrimu?'
Aku menjawab: “Sebaik-baik istri”

Ia berkata: 'Wahai Abu Umayyah, demi Allah, tidaklah seorang lelaki mendapatkan yang lebih buruk dalam rumahnya daripada wanita yang manja. Bimbing dan didiklah ia menurut kehendakmu.'

“Ia hidup bersamaku selama dua puluh tahun dan aku tidak pernah menghardiknya karena masalah apapun kecuali sekali, dan itupun karena aku yang menzaliminya,” kata lelaki itu memungkasi ceritanya.

Sauadaraku… Betapa bahagia hidup seperti itu. Dan saya tidak tahu, ke mana rasa takjub harus diarahkan; takjub kepada si istri dengan kebijaksanaannya? Atau kepada si mertua dengan tarbiyahnya? Atau kepada si suami dengan hikmahnya?
Wallahu a’lam. []


Penulis : Oktarizal Rais
Alumni Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam Solo
Mahasiswa Ma’had ‘Aly An-Nu’aimy Jakarta

Ada Apa dengan Cinta?


Dalam kitab Imtizajul Arwah diceritakan ada seorang ulama yang ditanya tentang cinta. Maka ia menjawab, "Tumbuhnya cinta itu sering bukan karena inisiatif pelakunya, bukan karena keinginannya dan tidak selalu merupakan kenikmatan bagi sebagian manusia. Mekarnya cinta itu laksana datangnya penyakit akut. Ia sering datang tiba-tiba. Tidak ada perbedaan diantara keduanya." Memang cinta membuat jiwa membara, wajah berseri, dan mata berbinar.

Cinta seperti itulah yang dialami oleh para wanita bangsawati terhadap Yusuf as. Saat terpesona dengan ketampanan wajah Yusuf, tanpa sadar mereka sendiri. Cinta semacam itu pula yang dialami seorang wanita yang langsung mengalami haid begitu melihat wajah tampan Mush'ab bin Umair. Cinta sejenis itu juga yang memenuhi ruang-ruang jiwa Khaulah binti Hakim yang memasrahkan dirinya kepada Nabi Muhammad SAW hingga membuat Aisyah berkata, "Tidak malukah seorang wanita yang memasrahkan dirinya kepada seorang laki-laki?"

Jiwa yang mencinta tentu tahu bagaimana jalan untuk berdampingan dengan jiwa yang dicinta. Ia akan terus memendarkan daya tarik. Ia akan terus menebar pesona hingga antara jiwa yang mencinta dengan jiwa yang dicinta akan seperti api dengan tungku atau laksana laksana lebah dan bunga. Jiwa yang mencinta tidak akan pernah bisa diam. Sebab hakikat cinta adalah gerakan jiwa yang mencinta terhadap jiwa yang dicinta. Jiwa yang mencinta tidak pernah letih untuk menghembuskan nafas cinta kepada jiwa yang dicinta.

Gerakan cinta seperti di atas pernah mengalir deras dalam diri Abdullah bin Abu Bakar ra saat menceraikan istrinya dengan sekali talak. Sang ayah, Abu Bakar ash Shidiq, meminta dirinya menceraikan belahan jiwanya karena dianggap sebagai penyebab dirinya lalai shalat berjamaah di masjid. Relung-relung hatinya dipenuhi rasa rindu yang menderu. Wajah lembut Atikah binti Zaid terus membayang. Ia tak kuasa menepikan senyum manis pelabuhan cintanya itu. Ia tak mampu membendung laju aliran cinta yang memenuhi rongga-rongga jiwanya.

Karena tak kuat membendung aliran cintanya, akhirnya Abdullah bin Abu Bakar pun sengaja duduk di jalan yang selalu dilewati sang ayah saat pergi shalat ke masjid. Begitu melihat kedatangan lelaki yang paling dicintai Rasulullah itu, ia pun bersenandung pilu: "Aku tak mengerti mengapa diriku tega menceraikannya. Aku juga tak pula mengerti tentang dirinya yang telah rela dicerai tanpa dosa. Dia mempunyai akhlak yang baik dan kelembutan akhlak yang lurus di dunia dan di hari kemudian." Air mata rindu pun mengalir membasahi wajah gagahnya. Hati sang ayah pun luluh. Lelaki pertama yang beriman kepada Rasulullah itu pun kemudian memperkenankan putra tercintanya untuk rujuk kembali dengan tambatan hatinya.

Cinta memang tak bisa dibendung, sebab ia adalah anugerah. Cinta memang tak bisa dihadang, sebab ia adalah karunia. Namun cinta harus dialirkan selaras aliran cinta Sang Maha Pemilik Cinta. Cinta harus digerakkan searah dengan gerakan cinta Sang Maha Pencinta. Sehingga gerakan cinta jiwa kita kepada jiwa kekasih kan terus senyawa dengan gerakan cinta semesta. Cinta seperti itu akan kekal. Cinta seperti itu tak akan terbatasi oleh sekat-sekat ruang dan waktu. Cinta sejati tak pernah menyusut walau sang pelabuhan cinta tak lagi ada di sisinya.

Cinta itu pasti akan menyebabkan gerakan jiwa. Jiwa itu diciptakan dalam keadaan bergerak. Gerakan cinta jiwa itu bersifat alami. Siapapun yang mencintai seseorang, tentu akan merasakan kenikmatan dan ketenangan. Jika jiwa itu tidak diisi cinta sama sekali, maka ia akan lamban, malas dan sulit bergerak. Gerak cinta jiwa yang tiada henti kepada jiwa yang dicinta akan begitu indah dipandang, dilihat dan dirasakan. Gerak cinta seperti itu bergerak menembus batas ruang dan waktu. Seperti gerak cinta jiwa Rasulullah SAW kepada jiwa Khadijah ra. Saat Khadijah sudah tiada, gerak cinta jiwa Rasulullah tidak pernah berhenti menyapa. Semoga seperti pula kualitas gerak cinta jiwa kita kepada jiwa sandaran hati kira masing-masing. Amin. []


Penulis : H. Hamy Wahjunianto, drh, MM.
Ketua DPW Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
Jawa Timur

Cinta Dakwah, Cintai Keluarga


Suatu malam sehabis mengambil air wudhu untuk menunaikan Qiyamullail. Aku sempatkan menonton televisi melihat skor pertandingan perempat final yang mempertemukan Portugal dan Republik Chezka. Ternyata pertandingannya telah usai dan dimenangkan Portugal. Layar televisi menampilkan iklan-iklan komersil hingga pandangan mataku tertuju pada sebuah iklan sinetron berjudul “Air Mata Ibu”. Ada yang menarik dari iklan ini sehingga membuatku bertahan sejenak untuk menontonnya. Seorang ibu yang berprofesi sebagai Ustadzah sedang menyampaikan ceramah pada ibu-ibu pengajian. Dalam ceramahnya ustadzah ini menekankan kepada jemaahnya tentang bahaya minum-minuman keras. “ Sesungguhnya minuman keras itu haram hukumnya," katanya berapi-api. Para peserta tampak serius mendengarkan ceramah itu dan mengangguk-angguk tanda setuju.

Di adegan lain anak sang Ustadzah sedang berpesta di sebuah bar. Alunan musik disco menghentak seisi ruangan. Para pengunjungnya termasuk anak sang Ustadzah larut dalam dzikir kemaksiatan itu. Minuman keras menjadi menu sakral dalam perjamuan syetan itu. Semua pengunjung menenggak minuman keras termasuk anaknya sang Ustadzah. Singkat cerita anak Ustadzah pulang mengendarai mobilnya dalam kondisi mabuk berat. Dalam kondisi seperti itu dia tidak bisa menjaga keseimbangan kendaraannya dan akhirnya terjadilah tabrakan yang mengantarkan anak ustadzah ke rumah sakit. Saat terjadinya tabrakan itu, dalam waktu bersamaan Ustadzah tersentak kaget dan tasbih yang dipegangnya terlepas. Seakan ada ketukan dahsyat dihatinya yang mengingatkannya pada anaknya. Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang menakutkan terjadi pada putri semata wayangnya. Pada akhirnya iklan itu menceritakan suasana haru sang ustadzah melihat kondisi putrinya di rumah sakit. Semakin mendalam luka sang Ustadzah saat mengetahui penyebab terjadinya tabrakan itu adalah minuman keras yang memabukkan sang anak. Hal yang sangat ditekankannya untuk dihindari oleh para jemaah binaannya beberapa saat sebelumnya. Bahkan dia mengajak para peserta pengajian untuk mengingatkan anggota keluarganya agar menghindari minuman keras.

Sebuah iklan yang menghentak kesadaran kita akan pentingnya berdakwah dengan bermodalkan keteladanan. Mengingatkan kepada jiwa-jiwa kita tentang urgennya mendakwahi keluarga secara maksimal sebelum kita mendakwahi orang lain.
Mari kita simak kisah menggugah antara seorang anak kecil bersama Ibnu Mubarak berikut!

Di suatu malam, seorang anak tampak memperhatikan orang-orang mengumpulkan kayu bakar. Sebagian kayu bakar itu ditumpuk dan dinyalakan dengan api. Pandangan sang anak menyorot tajam pada pemandangan kayu bakar yang sedikit demi sedikit terbakar oleh jilatan api. Tak lama kemudian diapun menangis setelah melihat bagaimana kayu-kayu bakar yang lain ditaruh satu persatu diantara kobaran api yang semakin lama semakin membesar. Mengapa engkau menangis nak?” tanya Ibnu Mubarak. Sang anak menjawab, “Aku teringat suasana api neraka, saat orang-orang berdosa menjadi bahan bakarnya”.

Kisah di atas semestinya bisa mengusap lembut hati kita tentang ketakutan akan hebatnya siksaan neraka. Bahan bakar neraka itu adalah manusia durhaka dan batu. Kita tidak ingin keluarga kita menjadi bahan bakar api neraka lantaran aktivitas dosa yang dilakukannya.

Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan. (Q.S. At Tahrim : 6)

Keluarga adalah orang terdekat dalam kehidupan kita. Mari sentuh mereka dengan nilai-nilai kebaikan. Jangan pernah lupakan mereka dalam doa-doa khusyukmu. Semoga Allah mengkaruniakan kepada mereka cahaya keimanan. Semoga kebersamaan kita bukan hanya di dunia ini saja, tapi juga di JannahNya kelak. Semoga kita bisa memelihara diri kita dan keluarga kita dari panasnya siksa neraka.[]


Penulis : Sardini Ramadhan
Pendiri KPK (Komunitas Pena Khatulistiwa), Publik Manager SBS (Sang Bintang School)
Blog: akhiarden-sardini.blogspot.com

Belajar dari Prestasi Keluarga Ibrahim ‘alaihissalaam


Ibrahim ‘alaihissalaam. Siapa yang tidak kenal dia? Seorang nabi yang diperintah Allah dalam mimpinya untuk menyembelih putranya Ismail yang kemudian diganti dengan domba dan kisahnya dijadikan hikmah sepanjang zaman, mendasari momentum Idul Adha yang dirayakan seluruh ummat muslim di belahan dunia manapun. Namun, apa hanya sekedar itu kita mengenal sosok Ibrahim?

Ibrahim, hamba mulia yang namanya disebut hingga 69 kali di dalam kitab Al Qur’an. Ibrahim, sosok pelopor perubahan, Bapak Perubahan, yang memberikan contoh nyata bagaimana makna berhijrah dari kejahiliyahan di masa lampau menuju mardhotillah, dan ia benar-benar berfikir siang dan malam merenungi Tuhannya hingga ia dipilih Allah sebagai bagian dari penerus generasi para Nabi yang keturunannya juga banyak menjadi Nabi. Sebutlah Ismail as, Ishaq as, Ya’qub as, Musa as, Harun as, Daud as, Sulaiman as, Zakaria as, Yunus as, Isa as, dan Muhammad Saw. Subhanallah, betapa banyak generasi keluarga Ibrahim yang memiliki kontribusi dahsyat dalam tegaknya dinul Islam. Ibrahim, dijuluki uswatun hasanah sebanyak dua kali di dalam Al Qur’an, yakni di surah Mumtahanah ayat 4 dan 6 yang berbunyi “Qad kaanat lakum uswatun hasanatun fii ibrahiima walladziina ma’ahu” yang artinya “Sungguh telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengannya”. Sebutan ini melebihi jumlah sebutan uswatun hasanah pada Rasulullah yang terdapat di surah Al Ahzab ayat 21. Allah Swt pun memberikan tempat istimewa bagi Ibrahim, yakni sebuah surah dengan nama Ibrahim, selain itu disebutkan juga kata “millata Ibrahiim” yang berarti agama Ibrahim di dalam Al Qur’an sebanyak 9 kali. Masih tentang Ibrahim, dipandang tidak sempurna sebuah shalawat yang dihaturkan kepada Rasulullah jika tanpa menyebut nama Ibrahim. Bahkan, ummat Islam yang pada hari ini menunaikan ibadah haji dan umroh di tanah suci juga menapak tilasi perjuangan Ibrahim as.

Allah Swt dalam firmannya di surah An Nahl ayat 120-122 menjelaskan bahwa ada empat karakter Ibrahim yang begitu mulia sehingga menjadikannya istimewa di hadapan Allah. Disebutkan, “Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam (yang dapat dijadikan teladan), patuh kepada Allah dan hanif. Dan dia bukanlah termasuk orang musyrik (yang mempersekutukan Allah), dia mensyukuri nikmat-nikmatNya. Allah telah memilihnya dan menunjukinya ke jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia, dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang yang shaleh.”

Mari coba kita bedah ayat-ayat ini. Karakter Ibrahim yang pertama, “أُمَّةً كَانَ إِبْرَاهِيمَ إِنَّ”, disini dipilih diksi al ummah karena Ibrahim itu meskipun ia hanya seorang tapi ia seperti sekumpulan banyak orang dalam sebuah pribadi. Selain itu, disebut al ummah karena ia mengajarkan kebaikan-kebaikan sehingga sampai hari ini pun ia banyak diikuti oleh orang-orang di seluruh dunia. Kebaikan-kebaikan Ibrahim itu adalah kumpulan investasi. Ia menjadikan istrinya, anaknya dan seluruh yang ia punyai sebagai sarana mengajarkan kebaikan yang banyak. Kita faham bahwa dengan mengajarkan kebaikan kepada orang lain maka kita akan mendapatkan pahala yang sama yang akan menjadi investasi dunia akhirat. Salah satu investasi dari prestasi keluarga Ibrahim terdahsyat adalah sumur zam-zam, sumur yang tidak kering mata airnya, yang digunakan oleh seluruh jamaah haji dari jaman dahulu hingga kini lebih dari beberapa ribu tahun. Bahkan kini, tak perlu menjadi jamaah haji pun kita dapat menikmati nikmatnya air zam-zam dari tanah air di toko-toko Arab atau penyedia perlengkapan haji. Prestasi Keluarga Ibrahim yang lain adalah pondasi Ka’bah. Sungguh beruntung Negara Arab Saudi yang memiliki Baitullah, karena ia juga tak pernah dijajah dan menjadi kaya-raya di negeri gurun yang tandus dan susah untuk digunakan sebagai lahan pertanian, bahkan permukiman. Prestasi ketiga keluarga Ibrahim adalah tentang Qurban, yang sebentar lagi juga akan kita nikmati. Dengan adanya prestasi itu, manusia-manusia berikutnya menjadi ahli-ahli peternakan, mempelajari tentang ternak, dan itu sungguh memberikan kebermanfaatan luar biasa bagi manusia. Pertanyaannya, sejauh mana kemudian prestasi yang kita miliki hari ini kemudian mampu menjadi investasi yang menularkan kebermanfataan dalam balut keberkahan kepada orang lain, tidak muluk-muluk seluruh ummat, tapi mulai dari lingkup terkecil di sekitar kita?

Karakter kedua Nabi Ibrahim adalah “لِلَّهِ قَانِتًا” yang artinya selalu melaksanakan perintah Allah. Dalam keadaan rasional ataupun tidak, mungkin ataupun tidak, ketaatan Ibrahim tidak goyah sedikitpun. Sedikit kisah tentang perjalanan Ibrahim dan keluarganya. Ibrahim lahir di ‘Ur, Babylonia, Irak. Kemudian ia hijrah ke Palestina, bersama istri pertama menanti 90-100 tahun berharap memiliki anak. Hingga istrinya justru memberikan ijin kepadanya untuk menikahi Siti Hajar. Setelah menikah, ia hijrah dengan Hajar menuju Mekkah, dan memiliki putra, yakni Ismail. Ketika di tengah padang pasir, Ibrahim pergi dan Hajar bertanya padanya, “Hai Ibrahim, mau kemana engkau?” Ibrahim tidak menjawab. Hajar bertanya berulang kali. Ia menanyakan, “Kau tinggalkan kami di sini?” Ibrahim pun masih terus pergi tidak menjawab. Hingga Ibunda Hajar bertanya lagi, “Apa Allah yang menyuruhmu?” Nabi Ibrahim menjawab, “Na’am”. Lalu, bunda Hajar mengatakan, “Baiklah, kalau begitu. InsyaAllah, Allah tidak akan menyia-nyiakan kami.” Subhanallah, bayangkan jika itu terjadi pada kita. Mungkinkah hanya berbekal ath-tha’ah kepada Allah kita kemudian mengembalikan semua kepadaNya? Kemudian, di cuplikan kisah berikutnya, Ibrahim pergi ke istri pertama. Setelah Ismail sudah agak besar, dengan kerinduan yang kuat kepada Ismail, ia kembali pada istri yang kedua. Akan tetapi, pada saat itu muncul perintah Allah yang luar biasa tentang mimpi menyembelih Ismail. Antum bisa membayangkan, ketika kerinduan antum memuncak pada orang-orang yang antum sayangi, bagaimana jika kemudian Allah memberikan perintah seperti kepada nabi Ibrahim? Sanggupkah kita sami’na wa atha’na?

Karakter Ibrahim yang ketiga adalah “الْمُشْرِكِينَ مِنَ يَكُ وَلَمْ حَنِيفًا”, bahwa Ibrahim adalah orang yang lurus dan bukan tergolong orang musyrik. Antum ingat kisah shafa dan marwa? Ketika ibunda Hajar berlari-lari kecil diantara keduanya, doa apa yang selalu dipanjatkan, dan hanya itu satu-satunya doa yang dipakai sa’I hingga hari ini? “Laa ilaaha illallahu wahdahu laa syariikalahu lahul mulku wahuwa ‘ala kulli syai in qadiir”. Pelajaran tauhid pertama. Itulah sebabnya nabi Ibrahim juga disebut sebagai Bapak tauhid. Dan doa ini merupakan doa yang afdhal dari masa Rasulullah dan sebelum Rasulullah untuk merasakan keimanan yang nyata.

Karakter Ibrahim yang keempat adalah “syaakiran lian’umihi” yakni seseorang yang bersyukur atas nikmatNya. Subhanallah… bagaimana dengan kita? Sudahkah kita jadi hamba yang bersyukur? Bahkan Rasulullah pun ketika ditanya saat sholat hingga kakinya bengkak, “Ya Rasul, bukankah engkau itu ma’sum, lalu mengapa terus beribadah tiada henti kepada Allah?” dengan santai Rasul menjawab, “Bukankah seharusnya aku menjadi hamba yang bersyukur?”. Dengan keempat karakter itu, Ibrahim dipilih sebagai wali Allah. “Allah telah memilihnya dan menunjukinya ke jalan yang lurus. Dan Kami berikan kepadanya kebaikan di dunia, dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang yang shaleh”. Salah satu doa nabi Ibrahim yang diabadikan di dalam Al Qur’an di surah al Baqarah:129, yakni “Ya Tuhan kami, utuslah di tengah mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayatMu dan mengajarkan kitab dan hikmah kepada mereka dan menyucikan mereka. Sungguh, Engkau Yang Maha perkasa, Maha Bijaksana.” Kemudian doa itu dijawab oleh Allah di surah Ali Imron:164, yang artinya “Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang beriman ketika (Allah) mengutus seorang rasul (Muhammad) di tengah-tengah mereka dari kalangan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayatNya, menyucikan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab (Al Quran) dan Hikmah (Sunnah), meskipun sebelumnya, mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata. ” Subhanallah, janji Allah itu pasti, 2000 tahun kemudian, lahirlah Rasulullah dari keturunan Ismail as sesuai dengan request Nabi Ibrahim, doa Nabi Ibrahim kepada Allah Ta’ala.

Bagaimana saudaraku, sudah siap mengukir prestasi seperti Nabi Ibrahim dan keluarganya? Sudah siap berinvestasi jangka panjang hingga yaumil akhir? Wahai ikhwah, bersatulah, ukir prestasimu, berikan kebermanfaatanmu, untuk Islam, bangsa, dan keluarga kita tercinta! Allahu akbar![]


Penulis : Ita Roihanah, ST
Freelance Architect and Researcher
Sekretaris Departemen Kebijakan Publik KAMMI Malang Raya
Copyright © 2012-2099 SEKILAS DAKWAH - Dami Tripel Template Level 2 by Ardi Bloggerstranger. All rights reserved.
Valid HTML5 by Ardi Bloggerstranger