lazada ID
Showing posts with label Khutbah Jum'at. Show all posts

Khutbah Jumat 2013: Menolak Kemungkaran dan Kemaksiatan

Tolak Miss World
Khutbah Jum’at: Menolak Kemungkaran dan Kemaksiatan - Ormas-ormas Islam bersatu menolak penyelenggaraan Miss World 2013. Namun, tidak semua muslim telah mengetahui penjelasan mengapa harus menolak ajang yang identik dengan pameran kemaksiatan itu. Oleh karenanya, khutbah Jum'at edisi 30 Syawal 1434 H yang bertepatan dengan 6 September 2013 ini, diangkat tema "Menolak Kemungkaran dan Kemaksiatan".

***

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah,
Marilah kita bersyukur kepada Allah seraya berupaya meningkatkan taqwa kita. Taqwa yang juga merupakan bukti syukur kita kepada Allah. Taqwa yang mewujud dalam ketaatan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Taqwa yang seiring sejalan dengan amar ma'ruf nahi munkar. Taqwa yang mendorong kita mendakwahkan kebaikan, sekaligus menolak kemungkaran dan kemaksiatan.

Hari-hari ini, menyikapi akan diselenggarakannya kontes kecantikan, yang tidak lain adalah parade kemaksiatan, ormas-ormas Islam telah bersatu untuk menolaknya, dengan menjalankan amar ma'ruf nahi munkar. Mengapa umat Islam harus menolak parade kemaksiatan ini, salah satunya adalah karena Allah melarang kita membiarkan kemaksiatan terjadi, apalagi secara terang-terangan di lingkungan kita.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَاتَّقُوا فِتْنَةً لَا تُصِيبَنَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَاصَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ
Dan peliharalah diri kalian dari siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja diantara kalian. Dan ketahuilah bahwa Allah amat keras siksaan-Nya (QS. Al Anfal : 25)

Ketika menafsirkan ayat ini, Ibnu Katsir menukil penjelasan Ibnu Abbas dan memujinya sebagai tafsir yang sangat baik. Yakni, bahwa Allah memerintahkan kepada orang-orang mukmin, janganlah mereka menyetujui perkara yang mungkar yang terjadi di hadapan mereka. Jika mereka menyetujuinya, maka akibatnya Allah akan menimpakan siksaan secara umum kepada mereka.

Kemungkaran ini banyak ragamnya. Berbagai pelanggaran terhadap syariat Allah adalah kemungkaran. Beragam jenis kemaksiatan juga merupakan kemungkaran. Perjudian adalah kemungkaran. Perzinaan adalah kemungkaran. Mengumbar aurat adalah kemungkaran.

Maka takutlah kita, jika Allah bertanya kepada kita mengapa kita menyetujui kemaksiatan meraja lela dan kemungkaran terjadi. Dan selain hukuman di akhirat, Allah juga mengancam adanya "fitnah" yang akan menimpa di dunia. Fitnah dalam ayat ini oleh Ibnu Katsir dijelaskan bahwa maksudnya adalah bencana.

Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad:

إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ لاَ يُعَذِّبُ الْعَامَّةَ بِعَمَلِ الْخَاصَّةِ حَتَّى يَرَوُا الْمُنْكَرَ بَيْنَ ظَهْرَانَيْهِمْ وَهُمْ قَادِرُونَ عَلَى أَنْ يُنْكِرُوهُ فَلاَ يُنْكِرُوهُ فَإِذَا فَعَلُوا ذَلِكَ عَذَّبَ اللَّهُ الْخَاصَّةَ وَالْعَامَّةَ
"Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla tidak akan menyiksa kalangan umum karena perbuatan yang dilakukan oleh kalangan khusus, sebelum kalangan umum melihat di hadapan mereka perbuatan mungkar, sedangkan mereka mampu mencegahnya, lalu mereka tidak mencegahnya. Apabila mereka melakukan hal tersebut (yakni diam saja melihat perkara mungkar di hadapannya), maka barulah Allah akan mengazab kalangan khusus (yang terlibat) dan kalangan umum (yang menyaksikannya)" (HR. Ahmad)

Jama'ah Jum'at rahimakumullah,
Maka kewajiban kita adalah melarang kemungkaran itu terjadi. Tidak berdiam diri melihat kemungkaran yang sebenarnya bisa kita cegah bersama. Dalam hadits yang lain diingatkan bahwa bukan hanya kita mendapatkan bencana, tetapi juga bencana di atas bencana. Yakni, doa kita tidak dikabulkan.


وَالَّذِى نَفْسِى بِيَدِهِ لَتَأْمُرُنَّ بِالْمَعْرُوفِ وَلَتَنْهَوُنَّ عَنِ الْمُنْكَرِ أَوْ لَيُوشِكَنَّ اللَّهُ أَنْ يَبْعَثَ عَلَيْكُمْ عِقَاباً مِنْ عِنْدِهِ ثُمَّ لَتَدْعُنَّهُ فَلاَ يَسْتَجِيبُ لَكُمْ
"Demi Tuhan Yang jiwaku berada di dalam genggamanNya, kalian benar-benar harus memerintahkan kepada kebajikan dan melarang perbuatan mungkar, atau Allah benar-benar dalam waktu yang dekat akan mengirimkan kepada kalian suatu siksaan dari sisiNya, kemudian kalian benar-benar berdoa kepadaNya tetapi Dia tidak memperkenankannya bagi kalian" (HR. Ahmad)

Permisalan yang sangat baik tentang membiarkan kemungkaran dan kemaksiatan itu dijelaskan Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam dengan sabdanya:

مَثَلُ الْقَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالْمُدْهِنِ فِيهَا كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ فِى الْبَحْرِ فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلاَهَا وَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا فَكَانَ الَّذِينَ فِى أَسْفَلِهَا يَصْعَدُونَ فَيَسْتَقُونَ الْمَاءَ فَيَصُبُّونَ عَلَى الَّذِينَ فِى أَعْلاَهَا فَقَالَ الَّذِينَ فِى أَعْلاَهَا لاَ نَدَعُكُمْ تَصْعَدُونَ فَتُؤْذُونَنَا فَقَالَ الَّذِينَ فِى أَسْفَلِهَا فَإِنَّا نَنْقُبُهَا مِنْ أَسْفَلِهَا فَنَسْتَقِى فَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ فَمَنَعُوهُمْ نَجَوْا جَمِيعًا وَإِنْ تَرَكُوهُمْ غَرِقُوا جَمِيعًا
"Perumpamaan orang-orang yang menegakkan hukum-hukum Allah dan orang yang melanggarnya serta orang yang berdiplomasi terhadapnya sama dengan suatu kaum yang menaiki sebuah kapal laut. Sebagian dari mereka ada yang berada di bawah, dan sebagian yang lain berada di geladak atas. Orang yang berada di bawah jika mengambil air minum harus ke atas, sehingga mengganggu mereka. Akhirnya orang yang berada di bawah itu berkata "Seandainya saja kita membuat lubang untuk mengambil air dan tidak mengganggu orang-orang yang berada di atas kita." Jika orang-orang yang berada di atas membiarkan mereka melakukannya, niscaya mereka semuanya binasa (karena kapal akan tenggelam). Dan jika orang-orang yang berada di atas mau saling bantu-membantu (mencegah membocori kapal) dengan orang yang di bawah, niscaya mereka semuanya akan selamat." (HR. Tirmidzi)

Dan secara khusus, menolak kemungkaran dan kemaksiatan ini lebih ditekankan lagi kepada umat Islam yang mayoritas, yang sebenarnya kuat dan memiliki pengaruh untuk menolaknya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَا مِنْ قَوْمٍ يُعْمَلُ فِيهِمْ بِالْمَعَاصِى هُمْ أَعَزُّ مِنْهُمْ وَأَمْنَعُ لاَ يُغَيِّرُونَ إِلاَّ عَمَّهُمُ اللَّهُ بِعِقَابٍ
"Tidak sekali-kali suatu kaum yang dilakukan perbuatan maksiat di kalangan mereka, sedangkan kaum itu lebih kuat dan berpengaruh (lebih mayoritas) daripada orang-orang yang berbuat maaksiat, lalu mereka tidak mencegahnya melainkan Allah akan menimpakan siksaan kepada mereka secara menyeluruh." (HR. Ibnu Majah)


وقل رب اغفر وارحم و انت خير الراحمين

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jama'ah jum'at yang dirahmati Allah,


اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.

عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

[Khutbah Jum'at edisi 30 Syawal 1434 H bertepatan dengan 6 September 2014 M; Bersama Dakwah]

Kumpulan Khutbah Jum’at Terbaru


Untuk memudahkan pembaca sekilasdakwah, khususnya para khatib, berikut ini disediakan link download terbaru untuk Khutbah Jum’at yang sempat tidak bisa diakses beberapa pekan yang lalu. Sengaja diberi judul “Kumpulan Khutbah Jum’at Terbaru” karena yang ditampilkan di sini hanya dari edisi Khutbah Jum’at 2013.





Demikian Kumpulan Khutbah Jum’at Terbaru yang bisa langsung didownload dengan mengklik cover khutbah Jum'at yang dipilih. Insya Allah jika ada tema terbaru yang dirilis akan ditambahkan pada halaman ini. Jika terdapat kekeliruan dalam khutbah tersebut atau ada link yang error, mohon disampaikan melalui kotak komentar di bawah ini. []

Menyambut Ramadhan Sejak Bulan Rajab


Khutbah Jum’at: Menyambut Ramadhan Sejak Bulan Rajab - Kini kita mulai memasuki pertengahan bulan Rajab 1434 H, tepatnya tanggal 14. Artinya, kurang dari 1,5 bulan lagi kita akan berjumpa dengan tamu istimewa; Ramadhan. Mengaca pada doa yang populer dipanjatkan sejak bulan Rajab, sejak waktu itulah sebenarnya umat Islam generasi pertama menyiapkan dirinya menyambut Ramadhan. Karenanya, untuk khutbah Jum'at edisi 14 Rajab 1434 H yang bertepatan dengan 24 Mei 2013 ini, Bersama Dakwah memilih tema "Menyambut Ramadhan Sejak Bulan Rajab".

***

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Hari demi hari kita lalui, hingga kita bertemu dengan Jum'at kembali. Sebuah hari yang agung, sayyidul ayyam, yang penuh dengan barakah dari Allah SWT. Maka keimanan yang dianugerahkannya kepada kita, ditambah dengan kesehatan yang kita miliki merupakan nikmat yang luar biasa besarnya.

Terhadap segala nikmat yang dianugerahkan Allah Azza Wa Jalla, berlaku sebuah kaidah pelipatgandaan. Syaratnya: mensyukuri nikmat-nikmat itu.

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih. (QS. Ibrahim : 7)

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Hari ini kita tengah berada di pertengahan bulan Rajab 1434 H. Ini artinya, tidak lama lagi kita akan berjumpa dengan tamu agung, tamu istimewa; Ramadhan yang mulia.

Ada dua buah do'a yang hampir sama. Yang satu sampai kepada kita melalui Imam Ahmad dan yang satu melalui Al Baihaqi dan Thabrani.

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبٍ وَشَعْبَانَ وَبَارِكْ لَنَا فِى رَمَضَانَ

Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, serta berkahilah kami dalam bulan Ramadhan (HR. Ahmad).

اَللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِى رَجَبَ وَ شَعْبَانَ وَ بَلِغْنَا رَمَضَانَ

Ya Allah berkahilah kami di bulan Rajab dan Sya'ban, serta pertemukanlah kami dengan bulan Ramadhan (HR. Al-Baihaqi dan Thabrani).

Hadits yang kedua ini, yang diriwayatkan oleh Al-Baihaqi, umumnya adalah hadits yang lebih populer dan lebih kita hafal daripada yang pertama. Namun, hadits ini dinilai dha'if oleh Al-Albani.

Meskipun, hadits kedua itu adalah hadits dha'if, dan kita tidak berani memastikan bahwa itu adalah doa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam yang diajarkannya kepada para sahabat beliau, setidaknya kita kemudian mengetahui bahwa itu adalah doa orang-orang shalih. Doa yang menyadarkan kita betapa orang-orang shalih terdahulu biasa menyambut Ramadhan jauh-jauh hari sebelumnya; bahkan ketika masih berada di bulan Rajab. Maka, semangat menyambut Ramadhan itulah yang juga harus ada dalam jiwa kita, bahwa di pertengahan Rajab 1434 H ini, kita telah menyediakan ruang suka cita dalam dada kita untuk bertemu dengan Ramadhan. Dan dengan persiapan sejak bulan Rajab itulah maka kemudian Ramadhan benar-benar menjadi bulan yang istimewa karena bisa dimanfaatkan dengan optimal.

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Lalu bagaimana bentuk penyambutan kita kepada Ramadhan, khususnya Ramadhan 1434 H yang akan datang? Tentu, kita tidak boleh menyambut Ramadhan dengan ritual-ritual khusus yang tidak ada contohnya dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, karena itu justru akan menjerumuskan kita ke dalam bid'ah. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا ، فَهْوَ رَدٌّ

Barangsiapa mengerjakan amalan (ibadah) yang tidak ada perintahnya dariku, maka ia tertolak. (HR. Bukhari)

Jika di satu sisi sebagian masyarakat kita –yang jumlahnya semakin berkurang, alhamdulillah- menyambut Ramadhan dengan ritual yang tidak pernah diperintahkan Rasulullah, sebagian lain –yang jumlahnya jauh lebih besar- acuh tak acuh dengan Ramadhan, bersikap biasa seolah-olah tak ada yang istimewa, atau bahkan kurang suka Ramadhan karena beratnya puasa. Kita berlindung kepada Allah dari keduanya.

Bagi muslim yang ideal, menyambut Ramadhan adalah sebuah kenikmatan tersendiri, namun ia menyambutnya dengan proporsional. Dalam suka cita, ia mempersiapkan diri sebaik-baiknya sehingga bisa beramal di bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya.

Ada empat persiapan yang kita perlukan dalam menyambut bulan Ramadhan, khususnya Ramadhan 1434 H ini:

Pertama, persiapan ruhiyah
Persiapan ruhiyah yang kita perlukan adalah dengan cara membersihkan hati dari penyakit aqidah sehingga melahirkan niat yang ikhlas.

Allah SWT menegaskan pentingnya membersihkan hati (tazkiyatun nafs) dalam firman-Nya:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا

Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya (QS. Asy-Syams : 9)

Maka dalam waktu satu setengah bulan ke depan kita perlu melakukan evaluasi diri, muhasabah, apakah penyakit-penyakit aqidah masih bersarang dalam diri kita.

Sungguh sangat rugi, jika kita susah payah beramal, namun masih ada kesyirikan yang bersemayam dalam diri kita. Tak peduli sebesar apapun amal kita, jika kita syirik, menyekutukan Allah, maka amal-amal kita tidak akan diterima.

لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Jika kamu mempersekutukan (Allah), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS. Al Zumar: 65)

Setelah melakukan muhasabah, selanjutnya kita bermujahadah untuk menghilangkan penyakit-penyakit itu. Alangkah indahnya saat Ramadhan tiba dan kita benar-benar dalam kondisi ikhlas menapaki hari-hari istimewa yang dibawa oleh tamu mulia itu.

Saat-saat keikhlasan bersenyawa dalam diri kita sepanjang Ramadhan merupakan saat-saat terbaik yang akan menjamin kita memperoleh ampunan Allah SWT.

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap perhitungan (pahala) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaq 'Alaih)

Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah, persiapan kedua dalam menyambut Ramadhan adalah persiapan fikriyah.

Agar Ramadhan kita benar-benar efektif, kita perlu membekali diri dengan persiapan fikriyah. Sebelum Ramadhan tiba sebaiknya kita telah membekali diri dengan ilmu agama terutama yang terkait secara langsung dengan amaliyah di bulan Ramadhan. Tentang kewajiban puasa, keutamaan puasa, hikmah puasa, syarat dan rukun puasa, hal-hal yang membatalkan puasa, serta sunnah-sunnah puasa. Juga tarawih, i'tikaf, zakat, dan sebagainya.

Untuk itu kita bisa mengkaji Fiqih Sunnah-nya Sayyid Sabiq, Fiqih Puasa-nya Dr. Yusuf Qardahawi, dan lain-lain.

Inilah rahasia mengapa Imam Bukhari membuat bab khusus dalam Shahih-nya dengan judul Al-Ilmu Qabla Al-Qaul wa Al-Amal (Ilmu sebelum Ucapan dan Amal). Tanpa ilmu bagaimana kita bisa beramal selama bulan Ramadhan dengan benar?

Pemahaman ilmu syar'i ini juga merupakan tanda kebaikan yang dikehendaki Allah terhadap seseorang. Karenanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda :

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

Barangsiapa yang dikehendaki Allah akan kebaikan maka ia difahamkan tentang (ilmu) agama (Muttafaq 'Alaih)

Persiapan ketiga dalam menyambut Ramadhan adalah persiapan jasadiyah.

Ramadhan membutuhkan persiapan jasadiyah yang baik. Tanpa persiapan memadai kita bisa terkaget-kaget bahkan ibadah kita tidak bisa berjalan normal. Ini karena Ramadhan menciptakan siklus keseharian yang berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Kita diharapkan tetap produktif dengan pekerjaan kita masing-masing meskipun dalam kondisi berpuasa. Kita juga akan melakukan ibadah dalam porsi yang lebih lama dari sebelumnya. Shalat tarawih, misalnya.

Karenanya kita perlu mempersiapkan jasadiyah kita dengan berolah raga secara teratur, menjaga kesehatan badan, dan kebersihan lingkungan. Di sini, logika akal bertemu dengan keutamaan syar'i dalam hadits nabi:

الْمُؤْمِنُ الْقَوِىُّ خَيْرٌ وَأَحَبُّ إِلَى اللَّهِ مِنَ الْمُؤْمِنِ الضَّعِيفِ

Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah (HR. Muslim)

Persiapan keempat dalam menyambut Ramadhan adalah persiapan maliyah, persiapan harta.

Persiapan maliyah yang diperlukan dalam menyambut bulan Ramdhan bukanlah untuk membeli baju baru, menyediakan kue-kue lezat untuk Idul Fitri, dan lain-lain. Kita justru memerlukan sejumlah dana untuk memperbanyak infaq, memberi ifthar (buka puasa) orang lain dan membantu orang yang membutuhkan. Tentu saja bagi yang memiliki harta yang mencapai nishab dan haul wajib mempersiapkan zakatnya. Bahkan, jika kita mampu berumrah di bulan Ramadhan merupakan ibadah yang bernilai luar biasa; seperti nilai haji bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

وقل رب اغفر وارحم و انت خير الراحمين

KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا

Jama'ah jum'at yang dirahmati Allah,
Salah satu tuntunan Allah SWT adalah mensegarakan amal kebaikan dan upaya mendapatkan ampunan. Sebagaimana firman-Nya:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

Dan bersegeralah menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga-Nya yang luasnya seluas langit dan bumi; disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa. (QS. Ali Imran : 133)

Maka demikian pula kita mensegerakan diri dalam menyambut Ramadhan dengan persiapan ruhiyah, fikriyah, jasadiyah dan maaliyah kita.

Semoga dengan upaya kita mempersiapkan diri dalam menyambut Ramadhan 1434 H ini, Allah SWT berkenan mempertemukan kita dengan Ramadhan, lalu memberikan taufiq kepada kita untuk mendapatkan keberkahan Ramadhan itu. Selama sebulan penuh kita beramal di bulan suci lagi mulia itu, disertai dengan rahmat dan ampunan Allah SWT, hingga menjadikan kita diridhai-Nya lalu dianugerahi surga.

اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.

عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

[Khutbah Jum'at edisi 14 Rajab 1434 H bertepatan dengan 24 Mei 2014 M; Bersama Dakwah]

Bahaya Dukun dan Perdukunan


Khutbah Jumat: Bahaya Dukun dan Perdukunan - Beberapa pekan terakhir ini berita kasus Eyang Subur menghiasi berbagai media, di mana sejumlah mantan murid 'menggugat' dirinya. Majelis Ulama Indonesia (MUI) menghimbau masyarakat menjadikan momen ini untuk melepaskan diri dari paktik perdukunan. Senada dengan seruan MUI tersebut, Khutbah Jum'at edisi 8 Jumadil Akhir 1434 H yang bertepatan dengan 19 April 2013 ini mengambil tema "Bahaya Dukun dan Perdukunan".

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدًى
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Jamaah Jum'at yang dirahmati Allah,
Hari-hari ini media dihiasi dengan berita-berita sejumlah artis yang menggugat mantan 'guru spiritual'nya. Sebutan guru spiritual itu sepintas tampak bagus dan mentereng, padahal sesungguhnya yang dimaksudkan dengan istilah itu pada kasus ini dan sejenisnya adalah dukun, paranormal atau peramal. Karenanya tidak berlebihan jika Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengajak masyarakat untuk menjadikan kasus yang menghebohkan ini menjadi momentum untuk melepaskan diri dari perdukunan.

Jamaah Jum'at rahimakumullah,
Rasululah shallallahu 'alaihi wasallam telah mengingatkan bahaya perdukunan dan peramalan ini. Bahkan, sekedar mendatangi mereka dengan menanyakan sesuatu, bukan untuk mendakwahi mereka, bisa membuat shalat kita selama 40 hari sia-sia alias tidak diterima.

Rasululah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ أَتَى عَرَّافًا فَسَأَلَهُ عَنْ شَىْءٍ لَمْ تُقْبَلْ لَهُ صَلاَةٌ أَرْبَعِينَ لَيْلَةً
Barangsiapa mendatangi peramal lalu menanyakan kepadanya tentang suatu perkara, maka tidak diterima shalatnya selama empat puluh hari (HR. Muslim)

Jika mendatangi dukun atau peramal lalu mempercayai apa yang mereka ucapkan, apa yang mereka ramal, maka bahayanya lebih besar lagi. Hal itu bisa membuat kita terjatuh pada kekufuran.

مَنْ أَتَى كَاهِناً أَوْ عَرَّافاً فَصَدَّقَهُ بِمَا يَقُولُ فَقَدْ كَفَرَ بِمَا أُنْزِلَ عَلَى مُحَمَّدٍ
Barangsiapa mendatangi dukun atau peramal dan mempercayai apa yang diucapkannya, maka sesungguhnya ia telah kafir dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad (HR. Ahmad. Hadits senada diriwayatkan juga oleh Abu Dawud)

Bagaimana penjelasannya seseorang yang mendatangi dukun atau peramal dan mempercayai ucapannya bisa jatuh menjadi kafir? Sebab orang datang kepada mereka umumnya dengan tujuan mencari perlindungan, keselamatan, menanyakan masa depan dan hal-hal ghaib lainnya, yang kesemuanya itu seharusnya hanya ditujukan kepada Allah. Hanya Allah yang Maha Melindungi. Hanya Allah pemilik keselamatan. Hanya Allah yang menentukan dan menjami rezeki seseorang. Hanya Allah yang Mengetahui masa depan dan apa yang terjadi.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ حَسْبُكَ اللَّهُ وَمَنِ اتَّبَعَكَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ
Hai Nabi, cukulah Allah (menjadi Pelindung) bagimu dan bagi orang-orang mukmin yang mengikutimu (QS. Al Anfal : 64)

Apa yang dilakukan oleh manusia di zaman modern ini dengan mendatangi dukun dan meminta pertolongan gaib kepadanya, tidak ubahnya seperti orang-orang kafir di zaman jahiliyah yang menggantungkan dirinya kepada berhala, atau meminta bantuan kepada para dukun yang kemudian dukun-dukun itu berhubungan dengan jin dan berhala. Padahal mereka mengakui bahwa pencipta alam semesta ini adalah Allah. Lalu mengapa mereka tidak memurnikan ibadah kepada Allah dan hanya meminta kepada Allah?

وَلَئِنْ سَأَلْتَهُمْ مَنْ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ لَيَقُولُنَّ اللَّهُ قُلْ أَفَرَأَيْتُمْ مَا تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ إِنْ أَرَادَنِيَ اللَّهُ بِضُرٍّ هَلْ هُنَّ كَاشِفَاتُ ضُرِّهِ أَوْ أَرَادَنِي بِرَحْمَةٍ هَلْ هُنَّ مُمْسِكَاتُ رَحْمَتِهِ قُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ عَلَيْهِ يَتَوَكَّلُ الْمُتَوَكِّلُونَ
Dan sungguh jika kamu bertanya kepada mereka: "siapakah yang menciptakan langit dan bumi?", niscaya mereka menjawab: "Allah". Katakanlah: "Maka terangkanlah kepadaku tentang apa yang kamu seru selain Allah, jika Allah hendak mendatangkan kemudharatan kepadaku, apakah berhala-berhalamu itu dapat menghilangkan kemudharatan itu, atau jika Allah hendak memberi rahmat kepadaku, apakah mereka dapat menahan rahmat-Nya?" Katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku." Kepada-Nyalah bertawakallah orang-orang yang berserah diri. (QS. Az Zumar : 38)

Jamaah Jum'at yang dirahmati Allah,
Fenomena perdukunan di era modern ini semakin kompleks dan kadang-kadang dibungkus dengan berbagai kemasan dan istilah yang menipu. Istilah dukun banyak diganti dengan "orangtua", "sesepuh", "orang pintar", bahkan "guru spiritual." Jika dulu dukun identik dengan dupa dan kemenyan, orangnya berambut panjang, bau tak sedap karena jarang mandi, pakaian serba hitam jarang dicuci, saat ini dukun bisa tampil dengan pakaian rapi, parlente, dan bergaya kece. Namun hakikatnya sama. Mereka mengaku memiliki kekuatan gaib atau ilmu gaib yang diklaim mampu menyelesaikan permasalahan orang yang meminta tolong kepadanya. Umumnya akan disertai dengan ritual atau persyaratan yang tidak ilmiah dan tidak memiliki dalil, meskipun sang dukun berupaya memberi label praktiknya dengan identitas Islami.

Sedangkan alat-alat yang digunakan sebagai sarana, jika dulu ada jimat, saat ini kerap disamarkan dalam bentuk gelang, cincin, kalung dan berbagai perhiasan yang indah. Namun hakikatnya juga sama. Benda-benda itu diklaim sebagai penangkal sesuatu, atau mendatangkan kekuatan tertentu. Sehingga sang pemakai akan tergantung kepadanya, takut jika berpisah atau kehilangan benda itu.

Dulu di zaman Rasulullah juga ada praktik serupa. Imran bin Hushain radhiyallahu 'anhu meriwayatkan kesaksiannya tentang bagaimana sikap Rasulullah terhadap jimat-jimat semacam itu.

أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- أَبْصَرَ عَلَى عَضُدِ رَجُلٍ حَلْقَةً أُرَاهُ قَالَ مِنْ صُفْرٍ فَقَالَ وَيْحَكَ مَا هَذِهِ . قَالَ مِنَ الْوَاهِنَةِ قَالَ أَمَا إِنَّهَا لاَ تَزِيدُكَ إِلاَّ وَهْناً انْبِذْهَا عَنْكَ فَإِنَّكَ لَوْ مِتَّ وَهِىَ عَلَيْكَ مَا أَفْلَحْتَ أَبَداً
Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam melihat seorang laki-laki memakai gelang kuningan di tangannya, maka beliau bertanya, "Apakah ini?" Orang itu menjawab, "penangkal sakit." Nabi pun bersabda, "Lepaskanlah itu, karena ia hanya akan menambah kelemahan pada dirimu; sebab jika kamu mati dan gelang itu masih ada pada tubuhmu, maka engkau tidak akan beruntung selama-lamanya" (HR. Ahmad)

Dalam hadits yang juga dimasukkan Imam Ahmad dalam Musnad, Rasulullah shallallahu 'alaihi wassallam bersabda:

مَنْ تَعَلَّقَ تَمِيمَةً فَلاَ أَتَمَّ اللَّهُ لَهُ وَمَنْ تَعَلَّقَ وَدَعَةً فَلاَ وَدَعَ اللَّهُ لَهُ
Barangsiapa menggantungkan tamimah, semoga Allah tidak mengabulkan keinginannya. Dan barangsiapa menggantungkan wada'ah, semoga Allah tidak memberi ketenangan padanya. (HR. Ahmad)

Tamimah adalah sesuatu yang digantungkan di leher anak-anak sebagai penangkal penyakit dan pengaruh jahat orang yang dengki dan sebagainya. Sedangkan wada'ah adalah sesuatu yang diambil dari laut semisal kerang yang digunakan sebagai jimat.

Dari hadits Nabi tersebut kita mendapatkan penjelasan mengapa banyak orang yang memiliki dan menggunakan jimat justru ia dilanda galau dan menderita hidupnya, tidak lain karena jimat-jimat dari dukun itu hanya menambah kesesatan. Ia tidak memiliki kekuatan karena kekuatan hanya milik Allah, malah ia membuat hati takut dan mendatangkan laknat Allah.

Jama'ah Jum'at rahimakumullah,
Praktik perdukunan semacam itu, juga memakai jimat-jimat seperti itu, membuat hati bergantung kepada dukun dan jimat. Tidak lagi mau beribadah kepada Allah dan berdoa kepadaNya, namun mengandalkan dukun dan jimat sebagai penyelesai masalah dan jalan pintas menuju kesuksesan. Meskipun mengaku sebagai Muslim, pada hakikatnya kemusyrikan telah merasuk pada jiwanya, persis seperti firman Allah Subhanahu wa Ta'ala:

وَمَا يُؤْمِنُ أَكْثَرُهُمْ بِاللَّهِ إِلَّا وَهُمْ مُشْرِكُونَ
Dan sebagian besar dari mereka tidak beriman kepada Allah, melainkan dalam keadaan menyekutukan Allah (QS. Yusuf : 106)

Betapa bahayanya syirik ini ditegaskan Allah dua kali dalam surat yang sama. Bahwa Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, sementara dosa-dosa yang lain masih mendapatkan peluang ampunan.

Allah Azza wa Jalla berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدِ افْتَرَى إِثْمًا عَظِيمًا
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa mepersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar (QS. An Nisa : 48)

إِنَّ اللَّهَ لَا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلَالًا بَعِيدًا
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni dosa selain dari (syirik) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa mepersekutukan Allah, maka sungguh ia telah tersesat sejauh-jauhnya (QS. An Nisa' : 116)


وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ
KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدًى
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Jama'ah Jum'at rahimakumullah,
Tidak ada dosa yang lebih besar daripada syirik. Maka perdukunan harus kita jauhi sejak saat ini karena ia sangat erat dengan ksyirikan itu. Jika dalam surat An Nisa' dua kali Allah menegaskan dosa syirik tidak diampuni, yang artinya seseorang yang meninggal dalam kondisi syirik tidak akan mendapatkan ampunan, maka konsekuensi logis berikutnya adalah ia pasti dimasukkan Allah ke dalam neraka.

Allah memfirmankan hal itu di dalam surat Al Maidah ayat 72:

مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ
Sesungguhnya orang yang mempersekutukan Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga dan tempatnya ialah neraka. Tiada penolong bagi orang-orang yang zalim (QS. Al Ma'idah : 72)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا


اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.

عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
[Khutbah Jum'at edisi 8 Jumadil Akhir 1434 H bertepatan dengan 19 April 2013 M; Bersama Dakwah]

Untuk mendownload Khutbah Jum'at ini dan lainnya, silahkan klik
KUMPULAN KHUTBAH JUMAT 2013

Belajar Ikhlas dari Perang Muktah


Khutbah Jumat: Belajar Ikhlas dari Perang Muktah - Kini kita berada di Jum'at terakhir bulan Jumadul Ula 1434 H. Pada bulan yang sama di tahun 8 H terjadi perang Muktah. Banyak ibrah dalam perang itu mulai dari kepahlawanan, keistiqamahan berjuang, keberanian, kecerdasan strategi perang dan sebagainya. Diantara ibrah yang tak kalah penting adalah keikhlasan yang utamanya dicontohkan oleh seorang sahabat bernama Tsabit bin Arqam. Ia melakukan pekerjaan besar, tetapi namanya tidak banyak dikenal dan ia juga tidak ingin terkenal. Karenanya Khutbah Jum'at edisi 24 Jumadil Awal 1434 H yang bertepatan dengan 5 April 2013 ini mengambil tema "Belajar Ikhlas dari Perang Muktah".

KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدًى
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah,
Hari ini kita berada di Jum’at terakhir bulan Jumadil Ula 1434 H. Pada bulan yang sama, 1426 tahun yang lalu, sebuah perang besar dilakukan umat Islam. Mengapa besar? Karena saat itu Rasulullah mengutus 3.000 pasukan. Jumlah pasukan terbesar yang sampai saat itu hanya tertandingi dengan jumlah pasukan Islam pada Perang Khandaq.

Perang yang kemudian dikenal sebagai Perang Muktah itu bermula ketika Rasulullah mengutus Al Harits bin Umair untuk mengantarkan surat kepada pemimpin Bushra. Namun di perjalanan, Al Harits dihadang Syurahbil bin Amr Al Ghassany, pemimpin Al Balqa’ yang berada di bawah Qaishar Romawi. Syurahbil mengikat Al Harits dan membawanya ke hadapan Qaishar, lalu memenggal lehernya.

Membunuh utusan merupakan kejahatan yang sangat keji sekaligus mengumumkan perang kepaa negara pengutus. Karena itulah Rasulullah sangat murka dan menghimpun 3.000 pasukan. Sebelum memberangkatkan pasukan beliau menunjuk Zaid bin Haritsah sebagai pemimpin pasukan seraya berpesan: “Jika Zaid gugur, penggantinya adalah Ja’far. Jika Ja’far gugur, penggantinya adalah Abdullah bin Rawahah.”

Pesan ini aneh. Belum pernah Rasulullah berpesan seperti ini dalam perang-perang sebelumnya. Kelak, para sahabat dan sejarah mencatat bahwa itu adalah prediksi nubuwah yang benar-benar terjadi. Bahwa mereka yang disebut benar-benar gugur dalam Perang Muktah tersebut.

Jamaah Jum’at rahimakumullah,
Singkat cerita, kemudian kedua pasukan bertemu setelah dua hari saling mengawasi. Mengapa tidak langsung berperang? Sebab mereka sama-sama ragu. Pasukan Islam belum pernah berhadapan dengan pasukan sebanyak itu, sedangkan Pasukan Romawi juga ragu sebab pasukan Islam yang kecil itu tidak memiliki sejarah kalah.

3.000 pasukan Islam melawan 200.000 pasukan Romawi. Jumlah yang sangat tidak seimbang. Tetapi Zaid bin Haritsah memimpin perang dengan gagah berani. Ia bertempur hebat sambil memegang bendera Islam. Di zaman itu, bendera pasukan dipegang oleh pemimpinnya. Hingga, sebuah tombak musuh mengenainya. Zaid pun jatuh ke tanah. Ia syahid.

Seperti pesan Rasulullah, Ja’far bin Abu Thalib mengambil bendera itu. Melanjutkan kepemimpinan perang. Ia pun bertempur dengan luar biasa. Membunuh satu per satu pasukan Romawi. Ketika peperangan makin seru, kudanya terkena senjata dan ia terlempar. Ja’far melanjutkan pertemuran hingga pasukan Romawi menebas tangan kanannya. Kehilangan tangan kanan, Ja’far mengamankan bendera dengan tangan kirinya. Namun kemudian tangan kirinya juga tertebas pedang musuh. Ja’far lalu mendekap bendera di dada dengan sisa-sisa lengannya agar tetap berkibar. Lalu pasukan Romawi menebaskan pedang hingga tubuhnya terbelah menjadi dua. Ketika nantinya jasad Ja’far ditemukan, Ibnu Umar mendapati tak kurang dari 50 luka sabetan dan hunjaman di tubuh Ja’far yang terbelah menjadi dua itu. Dan karenanya Ja’far dijuluki Dzul-Janahain (orang yang memiliki dua sayap).

Setelah Ja’far syahid seperti prediksi Rasulullah, bendera diambil alih Abdullah bin Rawahah. Ia juga memimpin pasukan dan bertempur dengan gagah berani. Hingga kemudian ia pun gugur. Pada saat itu di Madinah, Rasulullah mengabarkan gugurnya ketiga panglima Islam tersebut. “Zaid mengambil bendera lalu dia gugur. Kemudian Ja’far mengambilnya lalu dia juga gugur. Kemudian Ibnu Rawahah mengambilnya, dan ia pun juga gugur.” Rasulullah menangis, para sahabat juga ikut menangis.

Kembali ke Muktah. Rasulullah memang menunjuk urutan panglima mulai dari Zaid, Ja’far lalu Ibnu Rawahah. Tetapi setelah itu tidak ada petunjuk. Padahal bendera jatuh dan harus diselamatkan, perang harus dilanjutkan, harus ada pemimpin baru. Pada saat itulah seorang sahabat dari Bani Ajlan, Tsabit bin Arqam maju dan menyelamatkan bendera. Setelah bendera di tangannya ia berteriak, “Wahai semua muslim, angkatlah pemimpin baru!”
“Engkau saja,” jawab mereka.
“Aku tidak akan sanggup” kata Tsabit yang kemudian mencari seseorang dan memintanya memimpin. “Kau yang harus memimpin wahai Abu Sulaiman” semula ia menolak, tetapi setelah musyawarah singkat menunjuknya. Abu Sulaiman pun memimpin dengan gagah berani. Dialah yang disebut Rasulullah Syaifullah (pedang Allah), Khalid bin Walid.

Jamaah Jum’at rahimakumullah,
Ada sebuah nama yang disebutkan dalam sejarah Perang Muktah tersebut. Tsabit bin Arqam. Nama itu mungkin asing bagi kita, karena ia memang tidak terkenal dan tidak ingin terkenal. Dalam sepanjang sirah nabawiyah, namanya hanya disebut satu kali itu, dalam Perang Muktah. Sebelum dan sesudahnya tidak disebut lagi. Tetapi, jasanya sangat besar. Ia ikut berperang, berjihad. Bahkan pada perang kali ini ia menyelamatkan bendera, melanjutkan jalannya peperangan, mengamankan masa transisi hingga terpilihnya pemimpin baru.

Jamaah Jum’at rahimakumullah,
Kita membutuhkan orang-orang seperti Tsabit bin Arqam ini. Jasanya besar, meskipun ia tidak terkenal. Kita juga perlu belajar dari Tsabit bin Arqam, yang terus beramal, terus berkarya, berkontribusi, menyumbang jasa besar, tanpa mempedulikan apakah kita akan dikenal atau tidak. Keihlasan seperti inilah yang sulit dan barangkali cukup langka di zaman kita, hari–hari ini. Tetapi hanya dengan ikhlas-lah, amal-amal kita akan bernilai di sisi Allah Subhanahu wa Ta'ala. Tanpa keikhlasan, sirnalah segala amal, sia-sia dalam pandangan-Nya.

Ikhlas inilah yang menjadi kaidah agama Allah secara mutlak, baik Islam di masa kini maupun agama samawi di masa sebelumnya. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ
"Padahal mereka tidak diperintah kecuali supaya beribadah kepada Allâh dengan memurnikan keta’atan kepada-Nya dalam menjalankan agama dengan lurus..." (QS. Al Bayyinah : 5)

Allah Azza wa Jalla juga mengajarkan kepada kita untuk meneguhkan keikhlasan dalam setiap amal, bahkan dalam setiap langkah kehidupan kita.

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
"Katakanlah, 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Rabb semesta alam..." (QS. Al An'am : 162)

Maka segala amal, baik ibadah mahdhah maupun ghairu mahdhah, semuanya harus berangkat dari ikhlas, semata-mata untuk Allah. Jika ikhlas ini sudah mendarah daging, sudah menjadi landasan amal, sudah menjadi ruh ibadah, maka pada setiap aktifitas tidak terlalu penting bagi kita, apakah itu akan dipuji orang atau tidak. Tidak penting bagi orang yang ikhlas, apakah amalnya akan diingat orang atau tidak. Tidak penting bagi orang yang ikhlas, apakah kontribusi sosialnya akan diliput media atau tidak. Tidak penting bagi orang yang ikhlas, apakah karyanya akan ditulis sejarah atau tidak.

Orang yang ikhlas itu berpikir produktifitas, bukan popularitas. Orang yang ikhlas itu fokus pada peran dan pekerjaan, bukan status dan jabatan. Orang yang ikhlas itu berorientasi pada persoalan apakah amalnya diterima Allah Ta'ala, bukan pada apakah manusia melihatnya. Dan sekali lagi, tanpa keikhlasan, sirnalah segala nilai amal, betatapun besarnya.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ ، وَإِنَّمَا لاِمْرِئٍ مَا نَوَى ، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا ، فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ
“Semua amal perbuatan tergantung niatnya dan setiap orang akan mendapatkan sesuai yang ia niatkan. Maka barangsiapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya menuju Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa hijrahnya karena dunia yang dicari atau wanita yang ingin dinikahi, maka hijrahnya menuju apa yang ia tuju" (HR. Bukhari - Muslim)

Lihatlah. Amal yang sangat besar seperti hijrah saja tidak akan diterima Allah jika tidak ikhlas. Apatah lagi amal-amal lainnya. Padahal hijrah itu meninggalkan harta. Meninggalkan rumah dan aset-aset lainnya. Meninggalkan tanah kelahiran yang sangat berat bagi banyak orang, hingga Bilal pun demam akibat kerinduannya pada Makkah, lalu sembuh setelah Rasulullah mendoakannya. Bahkan hijrah tidak jarang juga meninggalkan keluarga dan saudara. Amal apalagi yang lebih besar dari itu? Tetapi ia akan sia-sia jika tidak diniatkan karena Allah Azza wa Jalla.

Jama'ah Jum'at rahimakumullah,
Mungkin kita akan menyebut jihad sebagai amal yang lebih besar dari hijrah. Jihad juga sama, tanpa keikhlasan ia menjadi sia-sia. Mati dalam jihad tetapi niatnya tidak ikhlas juga tidak bisa berujung ridha Allah dan surga-Nya. Karenanya dalam sebuah hadits disebutkan bahwa tiga orang yang pertama-tama masuk neraka adalah orang berilmu, orang kaya yang dermawan dan orang yang mati dalam jihad, tetapi ketiganya tidak ikhlas dalam niatnya.

Suatu saat Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam ditanya, siapakah yang dinilai Allah fi sabilillah, apakah orang yang berperang karena ia berani, karena fanatisme kebangsaan atau karena ingin dipuji orang. Maka Rasulullah bersabda:

مَنْ قَاتَلَ لِتَكُونَ كَلِمَةُ اللَّهِ هِىَ الْعُلْيَا فَهُوَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ
"Barangsiapa berperang agar kalimat Allah menjadi tinggi, maka dia fi sabilillah" (HR. Bukhari)

Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah,
Di era modern saat ini, sangat sulit untuk meluruskan niat menjadi ikhlas. Banyak godaan datang, termasuk godaan ingin disanjung dan popularitas. Tetapi tidak ada pilihan lain agar amal kita diterima Allah, kecuali dengan ikhlas. Sebagaimana Tsabit bin Arqam mengajarkan kepada kita, melakukan pekerjaan besar dengan ikhlas tanpa mempedulikan popularitas. Tetap beramal walaupun kita tak pernah dikenal.

وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِينَ
KHUTBAH KEDUA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدًى
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
Jama'ah Jum'at rahimakumullah,
Selain popularitas, ingin dikenal, ingin dipuji dan ingin dikenang, godaan keikhlasan lainnya adalah meniatkan amal akhirat untuk tujuan dunia. Untuk mendapatkan harta, kekayaan, jabatan atau kekuasaan. Di dalam sirah nabawiyah pernah dicontohkan ada seorang yang ikut berjihad, ia mati dalam kondisi mencuri satu benda bagian dari ghanimah. Nilainya tidak seberapa, tetapi ketidakikhlasan dalam berjihad itu membuatnya tidak mendapatkan pahala sebagai syuhada.

Maka bayangkanlah, jika nanti pada yaumul hisab (hari perhitungan), kita menyangka catatan kebaikan kita banyak, bertumpuk-tumpuk, menggunung. Sebab di dunia memang kita banyak beramal. Tetapi alangkah kecewanya kita jika semua amal kita tidak dinilai sama sekali karena tidak ada ikhlas di dalam hati. Alangkah sedihnya kita, jika di waktu itu kita hanya menemui catatan kejelekan, tanpa pahala dan kebaikan.

Jama'ah Jum'at rahimakumullah,
Kita tak bisa selamat kecuali hati kita ikhlas. Di akhirat itu tidak bermanfaat harta yang dulunya kita kejar dengan menggadai keikhlasan dalam beramal. Bahkan tidak bermanfaat anak-anak yang kita banggakan. Kecuali hati kita bersih, dipenuhi keikhlasan.

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ * إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
"(yaitu) hari yang tiada bermanfaat harta dan anak-anak. Kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang bersih" (QS. Asy Syu'ara : 88-89)

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا


اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.

عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
[Khutbah Jum'at edisi 24 Jumadil Awal 1434 H bertepatan dengan 5 April 2013 M; Bersama Dakwah]

Untuk mendownload Khutbah Jum'at ini dan lainnya, silahkan klik
KUMPULAN KHUTBAH JUMAT 2013

Tazkiyatun Nafs


Khutbah Jum’at: Tazkiyatun Nafs - Kini kita berada di Jum'at kedua bulan Jumadil Awal 1434 H. Tepatnya tanggal 10 Jumadil Awal 1434 H, bertepatan 22 Maret 2013.

Dewasa ini, tantangan hidup dan arus informasi semakin deras. Efeknya bisa membuat hati terbawa semakin keras. Sulit ikhlas, sulit menemukan kedamaian; tanda hati tak bersih lagi. Padahal hati yang bersih membawa ketenangan dan kedamaian di dunia, sekaligus membawa kebahagiaan hakiki di akhirat nanti. Agar kita kembali perhatian terhadap pembersihan hati dan penyucian jiwa, Khutbah Jum'at edisi 10 Jumadil Awal 1434 H yang bertepatan dengan 22 Maret 2013 ini mengambil tema "Tazkiyatun Nafs".

***
KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدًى
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah,
Marilah kita senantiasa berusaha meningkatkan ketaaqwaan kita kepada Allah Azza wa Jalla. Diawali dengan hadirnya rasa syukur atas beragam karunia yang kita rasa. Terutama nikmat iman yang tetap bersemayam dalam jiwa kita. Yang karenanya kita dipanggil Allah dengan panggilan spesial: yaa ayyuhal ladziina aamanuu. Dan kepada alladziina aamanuu itulah pesan taqwa diarahkan. Sebab tanpa iman tidak mungkin ada taqwa. Sebagai orang beriman, kita kemudian terpanggil dengan perintah Allah untuk menunaikan shalat Jum'at. Sebagai orang beriman kita kemudian mendengar dengan tenang untuk kemudian mengamalkan pesan-pesan taqwa dalam khutbah jum'at.

Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah,
Tantangan hidup yang semakin keras dewasa ini sering kali membuat kita lalai. Kita berpikir jangka pendek, menuruti apa yang didiktekan oleh media yang mengarahkan gaya hidup kita. Sehingga waktu kita pun hampir seluruhnya tersita untuk mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya, mengejar dunia sedapat-dapatnya. Islam tidak pernah melarang umatnya menjadi kaya, bahkan dianjurkan kaya agar bisa membantu sesama dan menolong agama, dengan zakat dan beragam amal maliyah lainnya. Namun, sering kali kesibukan kita mengejar dunia menjadikan hati dan jiwa kita penat, bahkan terkadang keras. Sulit ikhlas, sulit khusyu' dalam beribadah dan sulit husnudhan kepada Allah dan sesama umat. Jika demikian, alamat hati kita tidak sehat. Padahal, harta sebanyak apapun tidak bisa menyelamatkan manusia kelak ketika berjumpa dengan Tuhannya, tanpa disertai dengan hati yang sehat, hati yang selamat, yang dalam istilah Al-Qur'an disebut "qalbun salim."

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَالٌ وَلَا بَنُونَ . إِلَّا مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ
(yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih, (QS. Asy-Syu'ara : 88-89)

Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah,
Ayat di atas sekaligus menjelaskan pentingnya menjaga kebersihan hati, kesucian jiwa. Agar kita memiliki qalbun salim. Qalbun salim yang dijaga dengan tazkiyatun nafs bukan hanya bermanfaaat di akhirat, melainkan juga di dunia. Qalbun salim membuat jiwa tenang dan damai, serta membawa kebahagiaan karena hidup di atas kebenaran iman dan petunjuk Islam. Lalu bagaimana kita agar sukses menjaga qalbun salim dengan tazkiyatun nafs?

Pertama, Mengilmui
Tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa yang benar haruslah berlandaskan ilmu agama yang benar. Sebagaimana hati yang bersih itu berangkat dari aqidah yang benar, maka ilmu dan pemahaman tentang aqidah kita juga harus benar. Hati yang bersih, pondasinya adalah ikhlas; yaitu meniatkan segala amal ibadah hanya untuk Allah. Dan itu pula yang kita dapati mengapa surat yang keseluruhan ayatnya berbicara tentang tauhid dinamakan surat Al Ikhlas.

Kebaikan seseorang, termasuk pula kebersihan hati, bermuara dari ilmu agama yang dipahami lalu diamalkan. Meskipun, konotasi ilmu di sini tidak selalu mengarah kepada apa yang didapatkan dari pendidikan formal.

Raasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِى الدِّينِ

Siapa yang dikehendaki baik oleh Allah, niscaya ia dipahamkan dalam urusan agama (HR. Bukhari dan Muslim)

Kedua, Memperbesar Taat Menjauhi Maksiat
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah,
Kiat kedua dalam tazkiyatun nafs adalah meningkatkaan ketaatan kepada Allah. Yakni dengan menjalankan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Semakin kita taat kepada Allah, hati kita kian bersih, jiwa kita kian suci. Tetapi sebaliknya, jika kita menentang perintah Allah, melanggar larangan-Nya, sombong kepada-Nya, maka hati kita menjadi gelap, ternoda, keras, sakit dan makin dekat dengan kematiannya.

Langkah tazkiyatun nafs yang kedua ini sebenarnya amat dekat kaitannya dengan langkah pertama. Sebab ilmu yang hanya diketahui tanpa diamalkan, tidak berpengaruh dalam pembersihan jiwa. Bahkan seperti apa yang dialami oleh Bani Israil, mereka tahu banyak hal tentang apa yang dikehendaki Allah, tetapi mereka mengabaikan itu dan menjadikannya bahan perdebatan semata, maka hati mereka pun keras membatu.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah berkata:

كل علم وعمل لا يزيد الايمان واليقين قوة فمدخول وكل ايمان لا يبعث على العمل فمدخول

"Setiap ilmu dan amal yang tidak menambah kekuatan dalam keimanan dan keyakinan, maka ia telah tercemar. Dan setiap keyakinan yang tidak mendorong untuk beramal, ia juga telah tercemar."

Agar kita giat memperbesar taat dan menjauhi maksiat, kita harus menanamkan muraqabatullah, merasa diawasi oleh Allah. Di manapun kita berada, baik di kala ramai maupun di saat sendiri. Baik terang-terangan maupun rahasia. Baik bersama banyak orang maupun dalam kesunyian, sesungguhnya Allah mengawasi kita. Maka kita pun malu jika hendak bermaksiat, sekaligus malu jika tidak menjalankan ketaaatan kepada-Nya.


وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنْتُمْ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Dan Dia bersama kamu dimanapun kamu berada. Dan Allah Maha Melihat segala apa yang kemu kerjakan(QS. Al Hadid : 4)

Ketiga, Muhaasabah
Jamaah Jum'at rahimakumullah,
Selanjutnya, untuk menjaga hati kita dengan tazkiyatun nafs, kita perlu membiasakan muhasabah, mengevaluasi diri kita. Secara rutin kita bisa mengambil momen tertentu sehingga bisa melakukan muhasabah secara periodik. Ada sahabat yang membiasakan diri sebelum tidur melakukan muhasabah, dan subhanallah, ia menjadi ahli surga karenanya.

Hal seperti itu bisa kita contoh. Dalam waktu khusus yang telah kita sediakan, secara rutin kita mengevaluasi hati kita sendiri. Apakah masih ada takabur dalam rentang waktu itu. Apakah masih ada ujub dalam rentang waktu itu. Apakah masih ada hasad terhadap sesama. Apakah masih ada ghill terhadap saudara. Dan sebagainya. Jika kita mendapati penyakit-penyakit hati tersebut, kita segera bertaubat dan beristighfar kepada Allah, seraya berkomitmen untuk memperbaiki diri.

Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ
Hai orag-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang diperbuatnya untuk hari esok. Bertaqwalah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan (QS. Al Hasyr : 18)

Keempat, berdoa
Ini hal yang tidak boleh kita lupakan. Berdoalah. Sebab Allah-lah Dzat yang membolak-balikkan hati. Maka memohonlah kepada-Nya agar hati ditetakan dalam keimanan, agar hati senantiasa dijaga sehingga menjadi bersih dan bening dengan penjagaanNya.

وَلَوْلَا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ
Sekiranya tidaklah karena Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya. Tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (QS. An Nur : 21)

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam mengajarkan kepada kita sebuah doa dalam rangka tazkiyatun nafs:

اللَّهُمَّ آتِ نَفْسِى تَقْوَاهَا وَزَكِّهَا أَنْتَ خَيْرُ مَنْ زَكَّاهَا
Ya Allah, berikanlah kepada jiwaku ketaqwaan dan sucikanlah ia, Engkaulah sebaik-baik Dzat yang menyucikan jiwa (HR. Muslim)


وقل رب اغفر وارحم و انت خير الراحمين

KHUTBAH KEDUA


الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا


اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.

عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
[Khutbah Jum'at edisi 10 Jumadil Awal 1434 H bertepatan dengan 22 Maret 2013 M; Bersama Dakwah]

Untuk mendownload Khutbah Jum'at ini dan lainnya, silahkan klik
KUMPULAN KHUTBAH JUMAT 2013

Keutamaan Hari Jum'at


Khutbah Jum’at: Keutamaan Hari Jum'at - Kini kita berada di Jum'at terakhir bulan Rabi'ul Akhir 1434 H. Tepatnya tanggal 25 Rabi'ul Akhir 1434 H. Karena rutin setiap tujuh hari kita bertemu dengan hari Jum'at, sering kita merasa biasa-biasa saja menyambut hari yang istimewa itu. Shalat Jum'at, kadang juga disikapi kurang tepat dengan datang terlambat atau ala kadarnya. Padahal hari Jum'at memiliki banyak keutamaan, termasuk juga bagaimana menunaikan ibadah Shalt Jum'at. Karenanya, dalam rangka saling mengingatkan kembali mengenai keutamaan hari Jum'at, khutbah Jum'at edisi 25 Rabi'u Akhir 1434 H yang bertepatan dengan 8 FebruMaret 2013 ini mengambil tema "Keutamaan Hari Jum'at".

***
KHUTBAH PERTAMA

إنَّ الحَمْدَ لله، نَحْمَدُه، ونستعينُه، ونستغفرُهُ، ونعوذُ به مِن شُرُورِ أنفُسِنَا، وَمِنْ سيئاتِ أعْمَالِنا، مَنْ يَهْدِه الله فَلا مُضِلَّ لَهُ، ومن يُضْلِلْ، فَلا هَادِي لَهُ.
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدًى
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah,
Sungguh merupakan nikmat yang luar biasa bahwa Allah menganugerahi kita iman, dan dengan iman itu kita menghadiri khutbah serta menunaikan shalat Jum'at. Namun, mungkin ada di antara kita yang menganggapnya biasa-biasa saja, bahkan merasa berat dengan panggilan shalat Jum'at. Lebih asyik mengejar dunia dan menumpuk harta.

Padahal Allah Subhanahu wa Ta'ala memanggil orang yang beriman agar meninggalkan aktifitas apapun di kala waktu shalat Jum'at tiba.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
Hai orang-orang yang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian lebih baik bagimu jika kamu mengetahui (QS. Al Jumu'ah : 9)

Ketika menjelaskan ayat ini, Sayyid Quthb di dalam tafsir Fi Zhilalil Qur'an mengatakan, "Ayat ini menganjurkan mereka untuk meninggalkan segala aktifitas kehidupan agar berkonsentrasi untuk berzikir di waktu itu."

"Hal itu mengisyaratkan bahwa sesungguhnya melepaskan diri dari urusan-urusan perdagangan dan kehidupan untuk menyambut seruan dan menikmati shalat Jum'at itu di dalamnya terdapat pengajaran dan pendidikan yang permanen dan terus menerus bagi jiwa-jiwa orang-orang beriman. Oleh karena itu harus ada periode-periode tertentu di mana hati harus berlepas diri dari segala kesibukan dan aktifitas-aktifitas kehidupan dan segala daya tarik bumi, agar jiwa itu benar-benar kosong, berkonsentrasi kepada Tuhannya, dan berzikir kepada-Nya. Juga menikmati dan merasakan cita rasa khusus karena memurnikan diri dan berhubungan dengan al Mala'ul A'la serta memenuhi hati dan dadanya dengan udara bersih dan harum lalu merasakan ketenteraman dengannya."

Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah,
Selain adanya shalat Jum'at yang merupakan ibadah pekanan bagi kaum muslimin untuk juga bersama meningkatkan taqwa melalui khutbah sang khatib, hari Jum'at juga memiliki berbagai keutamaan sebagaimana diterangkan Rasulullah dalam haditsya.

Pertama, bahwa hari Jum'at adalah hari yang paling baik diantara hari-hari lainnya. Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا
“Hari yang terbaik di mana matahari terbit atasnya adalah hari Jum’at. Pada hari itulah Nabi Adam diciptakan. Pada hari itulah ia dimasukkan ke dalam surga. Dan pada hari itu pula ia dikeluarkan dari surga.” (HR. Muslim)

Hari Jum'at juga membawa peluang diampuninya dosa-dosa kita. Yakni dosa-dosa kecil yang terbentang antara Jum'at lalu dengan Jumat saat ini.


الصَّلَوَاتُ الْخَمْسُ وَالْجُمُعَةُ إِلَى الْجُمُعَةِ وَرَمَضَانُ إِلَى رَمَضَانَ مُكَفِّرَاتٌ مَا بَيْنَهُنَّ إِذَا اجْتَنَبَ الْكَبَائِرَ
“Shalat lima waktu, Jum’at ke Jum’at, dan Ramadhan ke Ramadhan adalah kaffarah (penebus) dosa-dosa yang dilakukan antara waktu-waktu itu, dengan syarat dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim)

Bahkan di dalam hadits yang lain disebutkan, ditambah tiga hari lainnya. Sehingga jumlahnya menjadi 10 hari. Dengan syarat ia tidak bermain-main ketika khutbah Jum'at disampaikan.


خَيْرُ يَوْمٍ طَلَعَتْ عَلَيْهِ الشَّمْسُ يَوْمُ الْجُمُعَةِ فِيهِ خُلِقَ آدَمُ وَفِيهِ أُدْخِلَ الْجَنَّةَ وَفِيهِ أُخْرِجَ مِنْهَا
“Barangsiapa berwudhu dengan sempurna, kemudian ia ikut shalat Jum’at, mendengarkan (khutbah) dan diam, maka dosa yang dia lakukan antara hari itu sampai Jum’at yang lalu ditambah tiga hari berikutnya diampuni oleh Allah. Dan barangsiapa menyentuh kerikil(main-main pada waktu khatib berkhutbah), maka sangatlah sia-sia.” (HR. Muslim)

Jamaah Jum'at yang dirahmati Allah,
Keutamaan lain terkait hari Jum'at adalah adanya mandi sunnah, mandi Jum'at. Mandinya sama seperti mandi jinabat namun ia mendapatkan pahala kesunnahan. Di samping, aktifitas itu juga menjadi salah satu pembuka diampuninya dosa sejak Jum'at sebelumnya.


لاَ يَغْتَسِلُ رَجُلٌ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، وَيَتَطَهَّرُ مَا اسْتَطَاعَ مِنْ طُهْرٍ ، وَيَدَّهِنُ مِنْ دُهْنِهِ ، أَوْ يَمَسُّ مِنْ طِيبِ بَيْتِهِ ثُمَّ يَخْرُجُ ، فَلاَ يُفَرِّقُ بَيْنَ اثْنَيْنِ ، ثُمَّ يُصَلِّى مَا كُتِبَ لَهُ ، ثُمَّ يُنْصِتُ إِذَا تَكَلَّمَ الإِمَامُ ، إِلاَّ غُفِرَ لَهُ مَا بَيْنَهُ وَبَيْنَ الْجُمُعَةِ الأُخْرَى
“Tidaklah seorang laki-laki mandi pada hari Jum’at dan bersuci semampu ia bersuci, memakai minyak atau wewangian, kemudian ia pergi ke masjid, tidak mengganggu dua orang yang sedang duduk untuk dilewati, lalu ia melakukan shalat sesuai yang ditentukan baginya, kemudian ia diam ketika imam (khatib) sedang berkhutbah, niscaya dosanya yang ada diantara Jum’at itu dan Jum’at yang lalu diampuni.” (HR. Bukhari)

Bagi kita yang secara umum bekerja di zaman ini, terkadang mandi Jum'at tidak sempat. Karena keterbatasan dan tuntutan pekerjaan yang seringkali sulit dikompromikan. Namun, Allah Subhanahu wa Ta'ala sungguh Maha Pemurah. Dia memberikan kemudahan bahwa jika seorang muslim tidak bisa mandi Jum'at, berwudhu pun sah-sah saja.

مَنْ تَوَضَّأَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَبِهَا وَنِعْمَتْ وَمَنِ اغْتَسَلَ فَالْغُسْلُ أَفْضَلُ
“Barangsiapa yang wudhu pada hari Jum’at, maka beruntunglah dia dengan keringanan itu, dan barangsiapa yang mandi, maka itu lebih baik baginya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi)

Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah,
Sunnah lainnya yang banyak ditinggalkan adalah menyegerakan waktu datang ke masjid pada hari Jum'at. Nyatanya, banyak orang yang beralasan pekerjaan dan sebagainya, mereka tertinggal khutbah Jum'at, bahkan terkadang baru sampai ke masjid ketika shalat Jum'at sudah dimulai.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

مَنِ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ ، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً ، وَمَنْ رَاحَ فِى السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً ، فَإِذَا خَرَجَ الإِمَامُ حَضَرَتِ الْمَلاَئِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ
“Barangsiapa mandi pada hari Jum’at seperti mandi janabah, kemudian dia berangkat di awal waktu, maka seolah-olah ia berkurban unta. Barangsiapa berangkat di saat kedua, maka seolah-olah berkurban seekor sapi. Barangsiapa berangkat di saat ketiga, maka seolah-olah berkurban seekor kambing bertanduk. Barangsiapa berangkat di saat keempat, maka seolah-olah berkurban seekor ayam. Dan barangsiapa berangkat di saat kelima, maka seolah-olah berkurban sebutir telur. Apabila imam datang (untuk berkhutbah), maka para Malaikat pun hadir mendengarkan zikir.” (Muttafaq ‘alaih)

Keutamaan hari Jum'at berikutnya adalah adanya waktu yang sangat istijabah pada hari itu. Yakni ketika imam duduk diantara dua khutbah hingga shalat selesai. Ironisnya, banyak jamaah yang justru tertidur pada momen mustajabah seperti itu.

عَنْ أَبِى بُرْدَةَ بْنِ أَبِى مُوسَى الأَشْعَرِىِّ قَالَ قَالَ لِى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عُمَرَ أَسَمِعْتَ أَبَاكَ يُحَدِّثُ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- فِى شَأْنِ سَاعَةِ الْجُمُعَةِ قَالَ قُلْتُ نَعَمْ سَمِعْتُهُ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَقُولُ « هِىَ مَا بَيْنَ أَنْ يَجْلِسَ الإِمَامُ إِلَى أَنْ تُقْضَى الصَّلاَةُ
Abu Burdah bin Abu Musa Al Asy’ari radhiyallahu ‘anhu berkata: Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhu bertanya, “Apakah kamu pernah mendengar ayahmu menceritakan sabda Rasulullah tentang watu yang mustajab yang ada di hari Jum’at?” Abu Burdah menjawab, “Ya, aku pernah mendengar ayah berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Waktu mustajab itu berada antara duduknya imam (setelah khutbah pertama) sampai selesai shalat.” (HR. Muslim)

Keutamaan hari Jum'at yang lain, adalah anjuran Rasulullah untuk memperbanyak shalawat kepada beliau. Sebagaimana sabdanya:

إِنَّ مِنْ أَفْضَلِ أَيَّامِكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ فَأَكْثِرُوا عَلَىَّ مِنَ الصَّلاَةِ فِيهِ فَإِنَّ صَلاَتَكُمْ مَعْرُوضَةٌ عَلَىَّ
“Sesungguhnya hari yang paling utama adalah hari Jum’at, maka perbanyaklah membaca shalawat untukku pada hari itu, karena shalawatmu pasti disampaikan kepadaku.” (HR. Abu Dawud)


وقل رب اغفر وارحم و انت خير الراحمين

KHUTBAH KEDUA


الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا


اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.

اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.

اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.

عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ
[Khutbah Jum'at edisi 25 Rabiul Akhir 1434 H bertepatan dengan 8 Maret 2013 M; Bersama Dakwah]

Untuk mendownload Khutbah Jum'at ini dan lainnya, silahkan klik
KUMPULAN KHUTBAH JUMAT 2013
Copyright © 2012-2099 SEKILAS DAKWAH - Dami Tripel Template Level 2 by Ardi Bloggerstranger. All rights reserved.
Valid HTML5 by Ardi Bloggerstranger