lazada ID
Showing posts with label Kisah Nabi. Show all posts

Jangan Tertipu Materialisme – Kisah Nabi Hud


Kaum ‘Aad, kepada mereka Allah mengutus Hud ‘alaihi as salaam. Kaum ‘Aad adalah bangsa arab yang tinggal di kawasan selatan Arab, tepatnya lembah Mughits kawasan gunung Ahqaf (bukit pasir) antara Yaman dan Oman. Mereka hidup kira-kira 3-6 abad sejak zaman Nuh. Bangsa ini mendapat kenikmatan hidup yang luar biasa. Fisik yang gagah perkasa, usia harapan hidup yang panjang, harta berlimpah, anak-anak yang kuat dan sehat, kebun-kebun yang selalu menghasilkan.

Jarak yang tidak terlalu jauh dari zaman Nuh menyebabkan mereka masih mengenal kata Allah, sebagaimana mereka memiliki tradisi mengagungkan Mekkah dan mengetahui batas-batas tanah haram.

Logika berpikir yang mereka miliki sungguh sulit dimengerti, ketika mereka mengetahui Allah sebagai pencipta, Allah yang menurunkan hujan, tapi benar-benar enggan menyembah Allah. Agama yang mereka rela untuk mereka anut adalah penyembahan patung sebagai simbol penghormatan kepada Allah. Sistem ritual yang berlaku adalah pengagungan tiga dewa, yaitu dewa Dhurran, Dhamur dan alHaba.

Sistem masyarakat ‘aad adalah masyarakat egaliter, setiap anggota masyarakat memiliki suara. Keputusan yang berlaku menjadi aturan masyarakat adalah apa-apa yang disepakati bersama dan kemudian menjadi tradisi. Penghormatan pada kemanusiaan hanya berlaku pada sesama kaum ‘Aad, akan tetapi dalam hubungan dengan bangsa lain, terutama mereka yang lemah, mereka bersikap diktator dan superior. Memberlakukan pada bangsa lain bahwa merekalah yang selalu benar, dan mereka anggap terbukti dengan segala macam kekuatan dan kemakmuran yang mereka miliki. Kaum ‘Aad melakukan hegemoni persepsi, budaya, dan sosial.

Sebagai suatu peradaban, kita mendapatkan kabar bahwa bidang industri, pertanian dan bangunan sangat maju dizaman ini. Gedung-gedung tinggi pencakar langit dengan tiang-tiang tinggi. Pencapaian riset industri hingga pada taraf dihasilkannya produk yang dapat membuat hidup kekal.

“Apakah kalian akan membangun disetiap sudut kota bangunan untuk rekreasi dan berleha-leha, Dan memperkokoh riset-riset industri agar kalian dapat hidup kekal, Dan jika melakukan hegemoni dilakukan dengan kekerasan dan diktatorisme” (QS. Asy syu’ara :128-130)

Kehidupan benar-benar telah sangat jauh dari nilai-nilai ritual dan falsafah hidup yang benar. Materialisme menjadi arus utama tak terelakkan. Kata-kata Allah hanyalah nama Tuhan yang jauh dari pikiran dan penyebutan, ia adalah sesuatu yang lampau, pencipta semesta yang tidak melakukan apa-apa setelah selesai menciptakan semesta. Sistem hidup adalah milik manusia, manusia yang hidup, manusia yang menentukan.
Ketika kehidupan masyarakat ‘Aad dalam kondisi demikian, Allah mengutus Hud kepada mereka. Ketika ajakan Hud pada mereka dimulai, ajakan untuk mempercayai suatu sistem kenabian mulai dikumandangkan, mereka menolak dengan hebatnya.

Al Qur’an menggambarkan di dalam surat al ‘Araf ayat 65-69 :
“Dan kepada ‘Aad kami utus saudara mereka yang bernama Hud. Ia berkata : wahai kaumku sembahlah Allah, tiada Tuhan bagimu selainNya, tidakkah kalian memiliki rasa takut padaNya. Berkata para pemimpin kaum, yaitu mereka yang tidak mempercayai sistem kenabian : Kami sesungguhnya melihat bahwa kamu telah bicara ngawur dan ngelantur, Dan kami mengira kamu telah berdusta dengan berkata bahwa kamu adalah utusan Tuhan. Hud menjawab kaumnya : sungguh aku tidak bicara ngawur, aku adalah utusan Pemilik semesta Alam. Aku menyampaikan pada kalian pesan-pesan dari Tuhanku, dan aku adalah penasihat yang jujur bagi kalian. Mengapa kalian keheranan dan takjub dengan kedatangan peringatan dari Tuhan kalian melalui perantaraan seorang lelaki dari kalangan kalian. Ia datang menyampaikan ancaman. Ingatlah ketika Allah menjadikan kalian pemimpin bumi sesudah kaum Nuh dengan menambahkan pada kalian kekuatan fisik. Ingatlah nikmat Allah supaya kalian beruntung” (Al ‘Araaf : 65-69)

Kaum ‘Aad mendustakan kenabian. Semua kemapanan yang ada, sistem sosial yang baik, peradaban yang digjaya membuat kaum ‘Aad merasa menjadi kaum terhebat yang tidak satupun kekuatan menyamainya

“Adapun ‘Aad mereka berada dalam kesombongan di muka bumi dan itu bukan jalan yang benar. Mereka berkata : “Adakah bangsa yang lebih hebat dari kami?” Akapah mereka tidak memperhatikan bahwasanya Allah yang menciptakan mereka lebih hebat kekuatannya daripada mereka. Akan tetapi mereka ingkar kepada tanda-tanda kekuasaan Kami” (Fushshilaat:15)

Hud tidak berputus asa ia tetap menyampaikan bahwa ia adalah utusan Tuhan yang mengingatkan agar menyembah Allah dan berhenti melakukan hegemoni.

Kemudian, Kami membentuk sesudah mereka (ummat Nuh) suatu Ummat yang lain, lalu Kami utus kepada mereka (ummat baru tersebut), seorang Rasul dari kalangan mereka sendiri. Ia berkata: "Sembahlah Allah oleh kalian, sekali-kali tidak ada Tuhan selainNya. Maka mengapa kamu tidak takut (kepada-Nya). “dan berkata para pemimpin kaum yang tidak mempercayai Hud utusan Tuhan dimana mereka juga mengingkari perjumpaan dengan hari akhirat, padahal kami telah membuat mereka hidup dalam kemewahan di dunia : "Orang ini, Hud, tidak lain hanyalah manusia seperti kalian, Dia Makan dari apa yang kalian makan, dan meminum dari apa yang kalian minum. dan Sesungguhnya jika kamu pengikut satu orang manusia seperti kamu, niscaya bila demikian yang terjadi, kamu benar-benar menjadi orang yang merugi. Apakah ia menjanjikan kepada kamu sekalian, bahwa bila kamu telah mati dan telah menjadi tanah dan tulang belulang, kamu Sesungguhnya akan dikeluarkan dari kuburmu? Sungguh jauh dari kebenaran apa yang diancamkan kepada kamu itu, kehidupan itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi, ia tidak lain hanyalah seorang berbohong atas nama Allah, dan Kami sekali-kali tidak akan beriman kepadaNya". Hud berdoa: "Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka tidak percaya padaku." Allah berfirman: "Dalam sedikit waktu lagi pasti mereka akan menjadi orang-orang yang menyesal." (QS. Al Mukminun :31-40)

Usaha Hud, mengajak kaum ‘Aad menyembah Allah adalah usaha hebat yang benar-benar tidak kenal lelah, kali ini Hud menyampaikan agar kaumnya menyembah Allah, dan segera bertaubat, karena jika kaumnya tidak menyembah Allah, maka akan datang adzab pada mereka.

(Hud berkata) : Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. dan bertakwalah kepada Allah yang telah menganugerahkan kepadamu apa yang kamu ketahui. Dia telah menganugerahkan kepadamu binatang-binatang ternak, dan anak-anak, dan kebun-kebun dan mata air. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar". (QS. As Syu’ara : 131 – 135)

Hud pantang menyerah, acara-acara untuk memperingatkan kaumnya tetap ia gelar, Surat al Ahqaf menggambarkan usaha keras Hud ini

“dan ingatlah (Hud) saudara kaum 'Aad Yaitu ketika Dia memberi peringatan kepada kaumnya dikawasan Al Ahqaaf dimana telah datang banyak peringatan nabi-nabi seperti dari Hud, di masa sebelum dan sesudahnya. Para pemberi peringatan berkata: "Janganlah kamu menyembah selain Allah, Sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab hari yang besar". Mereka (kaum kafir) menjawab: "Apakah kamu datang kepada Kami untuk memalingkan Kami dari (menyembah) tuhan-tuhan kami? Maka datangkanlah kepada Kami azab yang telah kamu ancamkan kepada Kami jika kamu Termasuk orang-orang yang benar". Hud berkata: "Sesungguhnya pengetahuan (tentang itu) hanya pada sisi Allah dan aku (hanya) menyampaikan kepadamu apa yang aku diutus dengan membawanya tetapi aku Lihat kamu adalah kaum yang bodoh". (QS. Al Ahqaaf : 21-23)

Sesudah itu datanglah kekeringan dahsyat melanda mereka, hujan tidak turun selama tiga tahun berturut-turut. Kelaparan, kehausan, kemiskinan membuat masyarakat berkebudayaan tinggi seperti ‘Aad mengalami degradasi. Ini dikarenakan parameter kebahagiaan yang mereka miliki adalah materi.

Hud, tetap berperan aktif menyadarkan masyarakat. Mengajak kaumnya untuk bertaubat :
“Hud berkata: "Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling yaitu berbuat dosa." (QS. Hud :52)

Kaum ‘Add membalas ajakan Hud tetap dengan kekafiran, ketidakpercayaan dengan apa yang disampaikan Hud

“kaum 'Ad berkata: "Hai Huud, kamu tidak mendatangkan kepada Kami suatu bukti keterkaitan antara musibah ini dengan ketiadaan kami menyembah Allah, dan Kami sekali-kali tidak akan meninggalkan sembahan-sembahan Kami karena perkataanmu, dan Kami sekali-kali tidak akan mempercayai kamu. Kami tidak mengatakan selain bahwasanya Tuhan-tuhan Kami telah menimpakan penyakit gila atas dirimu. " Huud menjawab: "Sesungguhnya aku bersaksi kepada Allah dan saksikanlah olehmu sekalian bahwa Sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan, yaitu Tuhan-tuhan selain-Nya, sebab itu jalankanlah tipu dayamu semuanya terhadapku dan janganlah kamu memberi tangguh kepadaku. Sesungguhnya aku bertawakkal kepada Allah Tuhanku dan Tuhanmu. tidak ada suatu binatang melatapun melainkan Dia-lah yang memegang ubun-ubunnya. Sesungguhnya Tuhanku di atas jalan yang lurus. jika kamu berpaling, Maka Sesungguhnya aku telah menyampaikan kepadamu apa (amanat) yang aku diutus (untuk menyampaikan)nya kepadamu. dan Tuhanku akan mengganti (kamu) dengan kaum yang lain (dari) kamu; dan kamu tidak dapat membuat mudharat kepada-Nya sedikitpun. Sesungguhnya Tuhanku adalah Maha pemelihara segala sesuatu." (QS. Hud : 53-57)

Bencana kekeringan terus melanda, kelaparan terjadi di mana-mana. Para ilmuwan dan pemimpin negeri tetap pada pendiriaannya bahwa ketiadaan hujan adalah disebabkan suatu perubahan iklim semata. Ilmu tentang langit dan bintang, bagi zaman itu, mencapai puncaknya pada masyarakat ‘Aad.

Setelah perundingan panjang, maka diputuskanlah teknologi modifikasi cuaca untuk menurunkan hujan. Ilmu bumi yang dimiliki kaum ‘’Aad menghantarkan pada kesimpulan bahwa awan-awan berasal dari Mekkah lalu tersebar ke seluruh penjuru bumi. Diutuslah 70 orang ahli dan berfisik kuat untuk melakukan istisqa. Dan nabi Hud tidak terpilih menjadi anggota rombongan ini.

Jika Ummat Islam diperintah Allah untuk shalat istisqa, maka kaum ‘aad melakukan jenis istisqa yang bukan shalat, yang mereka maksud istisqa adalah teknik modifikasi cuaca.

70 orang utusan ini, memulai perjalanan mereka ke Mekkah. Tiba di pinggiran Mekkah mereka tinggal di kerabat ‘aad yang tinggal di sana, tercatat orang tersebut bernama Mu’awiyah bin Bakr. Mu’awiyah merasa sangat terhormat, ia memuliakan tamu dengan membuat pesta-pesta. Hidangan terlezat serta hiburan penyanyi dan penari tidak pernah terlewat. Suasana yang membuat para utusan lupa. Genap satu bulan mereka tidak melakukan apapun untuk urusan modifikasi cuaca ini. Muawiyah sang tuan rumah, khawatir dengan apa yang terjadi. Ia sungkan menyatakan dengan langsung pengingat akan tujuan utusan datang ke mekkah. Mu’awiyah takut dianggap pelit tidak mau menjamu.

Mu’awiyah mencari tahu dengan detil tentang apa yang terjadi, tentang kemarau yang menimpa ‘Aad. Ia pun menyimpulkan bahwa apa yang terjadi adalah akibat ketidakberimanan ‘Aad kepada seorang nabi yang Allah utus pada mereka. Kemudian Muawiyah mendapat ide terbaik, ia menyuruh para penyanyi menyanyikan syi’ir karyanya, tanpa memberi tahu siapa yang menulis. Dalam syiir tersebut terkandung pengingat akan maksud dan tujuan kaum ‘aad datang ke Mekkah.

Rombongan tersadar, dan kemudian menyiapkan segala sesuatu untuk memasuki tanah Haram. Diantara rombongan terdapat seseorang bernama Martsad bin Sa’d. Ia telah beriman sejak lama kepada Hud, namun menyembunyikannya. Martsad berkata sesungguhnya modifikasi cuaca, bukanlah hal yang dapat menurunkan hujan. Apa yang dapat membuat hujan turun kembali adalah keta’atan kepada nabi yang telah Allah utus.
Keberanian Martsad yang dijawab dengan kekerasan, pemimpin rombongan bernama Jalhamah menyuruh Muawiyah menahan Martsad. Rombongan kemudian pergi ke tanah haram Mekkah tanpa Martsad.

Sesampainya di Mekkah, acara modifikasi cuaca dimulai dengan upacara ritual, do’a-do’a kepada Allah dipanjatkan. Ketika kumpulan-kumpulan awal muncul, mereka melakukan lokalisasi awan, dan pengenalan jenis-jenis awan. Beberapa saat proses dilakukan hingga terkumpul banyak jenis awan di atas langit mekkah. Para rombongan bergembira, mereka meminta ilmuwan modifikasi cuaca yang paling tahu tentang awan memilih awan untuk diarahkan ke kawasan Mughits di Yaman.
Sang ilmuwan memilih awan hitam, sementara awan-awan lain mereka arahkan menuju perkampungan lain. Sesudah awan terpilih rombongan bergegas menuju Mughits bersama awan pilihan mereka. Entah teknologi mengarahkan awan seperti apa yang mereka punya, canggih sekali rasanya.

Ketika awan mulai tiba di langit mughits, seorang wanita bernama Fahdad merasakan kejanggalan. Ia adalah seorang ilmuwan wanita yang mempelajari sifat-sifat awan. Ia mencocokan semua ilmu yang dipelajarinya tentang awan dengan apa yang ada dilangit Mughits. Apa yang ia lihat adalah suatu jenis awan yang sama sekali belum dipelajarinya. Apa yang kini berada di langit Mughits bukanlah awan hitam pembawa hujan. Ia semakin dalam mengamati. Ia menemukan awan-awan yang semakin menumpuk diatas langit desanya berisi kilatan-kilatan api.

Fahdad mengalami kepanikan yang luar biasa. Ia berupaya meyakinkan kepala para ilmuwan, bahwa apa yang ada dilangit Mughits bukan awan hujan, tapi itu adalah awan petaka. Ia meminta dengan segera dilakukan teknik pemecah awan.

Para ilmuwan sulit mempercayai analisa-analisa Fahdad, mereka tetap bersikeras, bahwa awan itu adalah pilihan terbaik, awan yang akan memberi berkah bagi ‘Aad setelah sengsara tiga tahun lamanya.

Adapun nabi Hud, Allah mewahyukan padanya bahwa awan yang ada adalah awan bencana. Nabi Hud dan sedikit pengikutnya diselamatkan oleh Allah.
“Maka tatkala mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata : "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kami".
Bukan! bahkan Itulah azab yang kamu minta supaya datang dengan segera (yaitu) angin yang mengandung derita yang pedih, yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah Tuhannya, Maka jadilah mereka tak terlihat lagi, kecuali tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada kaum yang berdosa.
(QS. Al Ahqaf: 23-25)

Kaum ‘Aad ditimpa hujan dan badai dingin, selama 7 malam delapan hari. Suatu musibah yang ternyata secara jalan adalah ulah mereka sendiri. Merasa paling tahu ilmu awan, menggiring dengan suka cita musibah bagi diri mereka sendiri.

Kisah yang memberi kabar pada kita, bahwa diatas pengetahuan ada ilmu yang lebih tinggi lagi. Ketika manusia mencapai suatu tahapan ilmu tertentu, semua capaian itu hanyalah setetes air sedangkan ilmu Allah adalah samudera yang tak pernah kering. Jangan takabbur, jangan sombong berjalan di muka bumi.

Sembahlah Allah sebagaimana yang Rasulullah Muhammad ajarkan, lalu mintalah pada Allah ilmu untuk memakmurkan dan mengelola bumi, karena bumi adalah ciptaanNya. Mari berjuang mempelajari ilmu-ilmu Allah.

Sumber :
1. Al Bidayah wa an Nihayah
2. Tarikh Thabary
3. Al kamil fi at Tarikh
4. Al muntadzim


Penulis : Tutik Hasanah
Pendidik di Ma’had al Imarat Bandung
Mengemban amanah di PTB dan aktif menulis

Kisah Nabi Adam: Dari Bumi, Diangkat ke Langit, Kembali ke Bumi


Adam tercipta dari tanah bumi, dengan berbagai karakteristik tanah yang terdapat di dalam bumi. Dari sekian banyak malaikat yang diperintahkan Allah untuk mengambil tanah bumi sebelum penciptaan Adam, malaikat pencabut nyawa lah yang berhasil membawa tanah bumi ke langit.

Allah telah dengan tegas menyebutkan tujuan penciptaan Adam, yaitu untuk menegakkan sistem ritual menyembah Allah SWT. Kemudian menetapkan fungsi keberadaan yaitu sebagai pengelola bumi (Khalifah), dan Allah menetapkan bahwa kehidupan di bumi adalah ujian bagi manusia siapa yang paling baik bekerja dan berkontribusi. Tiga hal ini tidak hanya melekat pada Adam, tetapi juga melekat dengan erat pada seluruh anak manusia keturunan Adam.

Penciptaan Adam yang terjadi dilangit, di dalam suatu ruang keindahan dan keabadian mengukir kesan mendalam pada manusia akan cita rasa seni dan keindahan, yaitu menghendaki keabadian.

Keabadian adalah hal yang pasti, bahwa semua manusia yang diciptakan Allah adalah abadi. Keabadian manusia adalah fase akhir dari kehidupan kembali-kehidupan kembali yang dialami manusia setelah kematiaannya.

Manusia tercipta dalam keadaan mati, dua unsur yang saling terpisah, unsur materi tanah bumi, dan unsur spirit langit ruh. Tatkala kedua unsur itu bersatu maka terlahirlah kehidupan. Demikianlah yang disebut kematian yaitu terpisahnya unsur materi fisik dan unsur ruh spiritual.

Manusia mengalami dua kali kematian dan dua kali kehidupan, kematian saat fisik dan ruh masih terpisah dan kemudian dipersatukan hidup didalam rahim. Kematian kedua saat fisik dalam kubur yaitu alam barzakh dan ruh berada di tempat lain. Beberapa riwayat menyebutkan ruh orang beriman di langit ke empat, dan ruh mereka yang tidak mempercayai Allah dan berbuat jahat berada di lautan.

Setiap unsur materi fisik tertentu adalah pasangan unsur ruh tertentu yang tidak mungkin bertukaran, yang berart konsep reinkarnasi bertentangan dengan ini.

Unsur materi fisik memiliki sifat-sifat nya tersendiri dan unsur ruh spiritual memiliki sifat-sifatnya tersendiri. Dan dalam kehidupan keduanya berpadu dalam dinamika pribadi manusia mengarungi kehidupan bumi, yang merupakan fase kehidupan ujian, menentukan tempat keabadian, apakah abadi dalam keindahan, atau kah abadi dalam penderitaan.

Adam, di langit, dalam ruang keabadian diberikan beberapa pengalaman :
- Bahwa Berilmu pengetahuan adalah ciri utama umat manusia, ciri akan keutamaan dan kelebihan atas ciptaan-ciptaan Allah lainnya.
- Bahwa Bersikap sombong terhadap unsur-unsur materi yang terdapat pada diri, seperti apa yang dilakukan Iblis adalah hal yang dibenci Allah, dan bahwa sikap sombong ini termasuk penghalang utama dalam keta’atan dan keimanan

- bahwa terlalu cepat menginginkan keabadian memberikan peluang kepada musuh yaitu Iblis melancarkan serangannya yang dapat menghantarkan pada kehidupan keabadian dalam penderitaan.

Dengan bekal-bekal pengetahuan ini, Adam diturunkan ke bumi mengemban tiga kata kunci : Menyembah Allah, mengelola bumi dan bahwa kehidupan di bumi adalah ujian.

Adam diturunkan ke bumi dan mendarat di pegunungan Hindia, pegunungan tertinggi di dunia, adapun Hawa diturunkan di Jeddah dekat Mekkah, dan keduanya bertemu di padang arafah.

Tim Wallace Murphy dalam what islam did for us menyebutkan bahwa penelitian-penelitian menunjukkan bahwa kebudayaan Mesir kuno yang sangat tinggi tidaklah menunjukkan perkembangan sesuatu dari yang primitif menuju yang lebih maju, tetapi ia adalah legacy atau warisan.

Jika memperhatikan apa yang terjadi sesudah Adam diturunkan ke bumi, apa-apa yang turut hadir bersama Adam di bumi menunjukkan perpaduan ada hal-hal yang bersifat langsung demikian yaitu Allah hadirkan bagi Adam, dan ada hal-hal yang harus dipelajari oleh Adam.

Zaman Besi

Sejarawan dunia asal Denmark Christian Jürgensen Thomsen (December 29, 1788 – May 21, 1865), mengklasifikasi zaman sejarah menjadi tiga, yaitu : zaman perunggu (bronze age 3000 SM – 1200 SM), zaman besi (iron age; 1200 SM – 300 SM) dan zaman pertengahan (medieval age).

Adapun Ibnu Abbas menyebutkan bahwa Adam yang kisaran masa hidupnya adalah 6000 tahun sebelum masehi telah memiliki pengetahuan tentang besi dan menggunakannya, dan termasuk alat yang pertama diajarkan pada Adam adalah kapak besi.

Sebagaimana besi menjadi bahan utama dalam membangun benteng penahan Ya’juj dan Ma’juj di masa Dzulqarnain, dan ditenggarai masa Dzulqarnain semasa dengan Ibrahim as (3000 SM). Karena nilai kemanfa’atannya penguasaan teknik pengolahan besi selalu menjadi sorotan, hingga dizaman Daud (1200 SM) penguasaan teknik pengolahan besi termasuk keistimewaan Daud.

Pertanian
Pertanian dan peternakan diajarkan Jibril pada Adam dengan seksama, mulai pembibitannya hingga panen. Teknik membajak tanah dengan kerbau telah diperkenalkan sejak masa Adam.

Adapun dalam pembibitan, bibit tanaman budidaya adalah bibit dari surga, yaitu seikat gandum dan 30 jenis tanaman panen.

10 jenis tanaman panen yang cangkangnya harus dikupas, yaitu : kacang walnut, kacang almond, kacang pistachio, kacang tanah, opium, oak, melinjo, kelapa, delima dan pisang.

10 jenis tanaman panen yang memiliki biji inti, yaitu : peach, apricot, pear besar, kurma, sorghum, buckthorn, apel mawar, jujube, bdellium, dan Chamelok.

10 jenis tanaman tanpa cangkang keras dapat dikupas dan tidak memiliki biji inti, yaitu : apel, quince , pear, anggur, berry, buah tiin, limau arab , carob, timun, dan semangka.

Bangunan Komunitas
Allah menyentuh punggung Adam saat di arafah, dan kemudian setelah itu mulailah masa reproduksi dan regenerasi.

Sebelum masa reproduksi tiba, Allah berkenan memberikan pengalaman lain akan dahsyatnya permusuhan iblis, dan betapa halusnya cara yang dipergunakannya. Hawa diuji dengan wafatnya dua bayi pertama yang terlahir dari rahimnya, mereka diberi nama Abdullah, dan tatkala hamil untuk ketiga kalinya, iblis menggoda bahwa penyebab kematian anak-anak Hawa adalah karena ia memberi nama dengan Abdullah, Iblis meniupkan was-was agar hawa memberi nama anaknya Abdul harits, al Qur’an menyebutkan:

“tatkala Allah memberi kepada keduanya seorang anak yang sempurna, Maka keduanya menjadikan sekutu bagi Allah terhadap anak yang telah dianugerahkan-Nya kepada keduanya itu. Maka Maha Tinggi Allah dari apa yang mereka persekutukan” (al ‘Araaf : 190)

Pemilihan nama anak ternyata termasuk hal yang harus diperhatikan, Allah mengkategorikannya sebagai mempersekutukan Allah dalam urusan nama. Dari peristiwa pemberian nama terhadap anak Adam dan Hawa ini, dapat dijadikan pelajaran bahwa suatu musibah dan keadaan derita dapat menyebabkan berpaling dari Allah dan tidak mempercayai kebesaranNya, padahal kesulitan ataupun kesenangan di dunia adalah ujian, apakah setelah kesulitan atau kesenangan itu tetap beriman pada Allah?

Adam dan Hawa memiliki 40 anak laki-laki dan perempuan, atau 20 pasang kembar, dan Adam wafat saat anak cucu keturunannya berjumlah 4000 orang, yang secara rentang waktu Adam hidup hingga turunan ke 8 yaitu Lamik.

Adam beserta putra-putrinya membangun bangunan komunitas, dengan cara yang dikenal dizamannya. Saling memenuhi kebutuhan pokok berupa sandang, yaitu yang mula-mulanya adalah kulit domba dan singa. Adapun dalam pemenuhan kebutuhan pangan, Adam diajarkan pula membuat roti dengan peragian dan pengovenan. Oven Adam yang diwariskan hingga zaman nabi Nuh as.

Anwasy cucu Adam dari Syits adalah yang pertama membudidayakan peternakan lebah, dan bertani biji-bijian.

Dalam teknik rumah Adam menggunakan gua sebagai tempat berlindung. Mahlail keturunan ke empat Adam dari Syits yang pertama membangun rumah dan kota-kota pusat peradaban. Hal tersebut dilakukan Mahlail dalam rangka rekayasa demografi agar tidak terjadi kepadatan penduduk. Persebaran dilakukan di empat arah mata angin, dan Mahlail membuatkan kota bagi keturunan Syits di tanah Iraq atau tanah Babil, dimana Mahlail menganggap sebagai tanah terbaik, jauh dari keturunan Qabil terutama dari Anusyil yang tinggal di pesisir pantai. Pada era rekayasa demografis inilah manusia memulai area persebarannya ke Habasyah, Mesir, Syam, Iraq dan Persia.

Di zaman Mahlail pula pertambangan di mulai, dan industri sederhana di mulai. Mesjid-mesjid dibangun, sistem pertanian dan pengairan ditetapkan, peternakan ditertibkan. Mahlail pun menetapkan hukum dan peraturan dan menegakkan keadilan.

Dengan anugerah yang dikaruniakan Allah pada Mahlail, ia berhasil memisahkan komunitas manusia dari setan gentayangan yang hidup dalam komunitas manusia, membunuh setan yang membangkang, hingga tak satupun berani hidup tengah komunitas kota.

Adapun Qabil, memiliki sepasang anak laki-laki dan perempuan, Khanukh dan ‘Adzba, dan mereka menikah dikarunia 3 orang laki-laki, Ghirad, Mahwil, Anusyil dan 1 orang perempuan Mulitsa. Anusyil menikahi saudarinya, dan dikarunia anak bernama Lamik, terutama dari Lamik inilah keturunan Qabil bertambah banyak, dan turut membangun kebudayaan Fir’aun dan para diktator.

Keturunan Qabil dari Anusyil mengembangkan nyanyian, drum dan berbagai alat musik, hingga terlena dalam kesenangan bermusik. Sistem cluster dan larangan bergaul yang ditetapkan Mahlail bagi keturunan Syits dengan keturunan Qabil, dan juga diusirnya setan dari kota-kota keturunan Syits ternyata tidak berhasil membuat keturunan Syits tidak tertarik pada kesenangan bernyanyi dan bermain musik.

Ratusan keturun Syits turun ke pesisir terlena dengan musik dan nyanyian, hingga melampaui batas dan tergoda kecantikan wanita-wanita keturunan Qabil hingga terjerumus dalam perbuatan keji dan minum-minuman keras. Wanita-wanita keturunan Qabil inilah yang pertama kali melakukan tabarruj (riasan berlebihan), dimana Allah melarang istri-istri Rasulullah bertabarruj sebagaimana tabarruj pertama dizaman Mahlail.

“dan hendaklah kamu tinggal di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, Hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (al Ahzab : 33)

Idris adalah turunan ke enam Adam dari Syits, yang memiliki kecerdasan diatas rata-rata, Ia adalah yang pertama memintal benang dan menjahit pakaian, ia pula yang pertama pula mengenakan pena untuk menulis dan mengajarkan, diantaranya menulis dan mengajarkan wahyu, padanya diturunkan 30 lembaran-lembaran suci. Idris pun sangat tertarik mempelajari ilmu astronomi dan matematika. Ditenggarai Idris ini yang disebut dalam kebudayaan Yunani kuno sebagai Hormus. Kebijakan Idris yang lain adalah menjadikan garis patriarkal keturunan Qabil sebagai budak.

Pada garis patriarkal kita dapat mengatakan keturunan Adam selain dari Syits terputus seiring dengan zaman, dan ilmu nasab ini termasuk ilmu yang terlupakan keturunan Adam, kecuali oleh sedikit saja.

Kenabian dan sistem ritual
Adam diturunkan ke bumi dalam kondisi psikologis terusir karena berbuat kesalahan. Beberapa saat setelah turun ke bumi, Adam menangis dan memohon pengampunan, tidak makan selama 40 hari, tidak mendekati Hawa selama 100 tahun. Kemudian Allah mengajarkan suatu do’a pada Adam : “Wahai Tuhan kami sesungguhnya kami telah zhalim pada diri sendiri, jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak menyayangi kami, maka kami termasuk kaum yang merugi”

Adam kemudian diperintahkan membangun ka’bah dengan permata merah dari Surga, berthawaf dan shalat sebagaimana yang dilaksanakan di sekeliling ‘arsy. Kemudian diperlihatkan manasik haji. Sepanjang hidupnya Adam berhaji 40 kali, di mulai dari India dengan berjalan kaki.

Adam dibekali dengan 21 lembaran-lembaran suci, didalamnya terdapat keterangan tentang halal dan haram, diantaranya haramnya bangkai, darah dan daging babi. Dalam lembaran-lembaran suci diperintahkan pula shalat 50 raka’at dalam sehari.

Setelah beranak cucu banyak, Allah mengenalkan suatu sistem peringatan ditengah umat manusia, yaitu sistem kenabian, suatu sistem yang merupakan unsur utama dalam keyakinan akan adanya wahyu Tuhan.

Adam adalah nabi utusan pertama, menyeru di tengah-tengah anak keturunannya yang hingga Adam wafat telah berjumlah 4000 orang.

Qabil yang melarikan diri ke Yaman kemudian tergoda iblis dan melakukan ritual penyembahan api. Adapun penyembahan berhala di mulai saat Yardu ayah Idris menjadi pemimpin kaum. Anugerah kenabian terdekat sesudah Adam ada pada Syits dan kemudian Idris. Pada Syits, Allah menurunkan 50 lembar dari lembaran suci dan pada Idris menurunkan 30 lembaran suci.

Sistem Keuangan
Dalam sejarah dunia diperkenalkan, bahwa sistem tukar menukar baranglah yang pertama kali berlaku dalam interaksi ekonomi manusia. Namun dalam keterangn sejarawan Muslim disebutkan bahwa sistem dinar dan dirham telah diajarkan Allah kepada Adam.

Iblis pun bersumpah bahwa dinar dan dirham adalah cara yang paling jitu dalam menyesatkan manusia dan membuatnya terhalang dari meyakini kebenaran.

Kejahatan pidana
Kejahatan pidana pertama adalah pembunuhan oleh sebab persaingan mendapatkan istri. Dalam zaman yang lebih kemudian, permasalahan wanita dan cinta termasuk permasalahan yang membelit ummat manusia bahkan hingga menyebabkan perang.

Habil dibunuh Qabil, dan kemudian Qabil melarikan diri dan melarikan saudarinya ke Yaman. Qabil beranak cucu di Yaman, dan melakukan tindak-tindak pidana lainnya, perzinahan, minum-minuman keras dan kerusakan di muka bumi. Adam menyaksikan kerusakan-kerusakan yang terjadi di tengah anak cucunya

Wasiat Kepemimpinan
Setiap bangunan komunitas membutuhkan kepemimpinan, lebih-lebih dalam menunaikan tugas sebagai pengelola bumi, maka adanya figur pemimpin dan sistem kepemimpinan adalah kebutuhan yang tidak bisa ditawar.

Komunitas yang terbangun telah terbagi dua sejak zaman Adam, ada mereka yang menjalankan apa-apa yang dijalankan oleh Adam, dan ada yang mengambil sikap berlawanan dengan apa-apa yang dijalankan Adam

Beberapa saat sebelum Adam wafat, Adam mewasiatkan amanah kepemimpinannya kepada Syits. Kemudian Syits mewasiatkan kepemimpinan kepada putranya Anwasy. Anwasy mewasiatkan kepemimpinan kepada putranya Qainan, dari Qainan ke putranya Mahlail, dari Mahlail ke Yardu, dan dari Yardu ke putranya Khanukh atau Idris.

Yardu masih hidup ketika Idris diangkat kelangit, dan Idris mewasiatkan kepemimpinan kepada Mattusyalakh. [Disarikan dari buku : “Islamic Golden Perspective" karya penulis]


Penulis : Tutik Hasanah
Pendidik di Ma’had al Imarat Bandung
Mengemban amanah di PTB dan aktif menulis

Copyright © 2012-2099 SEKILAS DAKWAH - Dami Tripel Template Level 2 by Ardi Bloggerstranger. All rights reserved.
Valid HTML5 by Ardi Bloggerstranger