lazada ID
Showing posts with label Motivasi. Show all posts

Doa Istri Shalihah Antar Sukses Bisnis Suami

5 Juli 2013 menjadi sebuah catatan spesial bagi saya dan 120 peserta seminar Bisnis Muslim pada Jumat malam itu. Diantara motivasi yang “membakar” semangat kami untuk berbisnis tanpa riba adalah kisah doa istri shalihah.

Dr Aan, pembicara utama pada malam hari itu mengisahkan bahwa istrinya telah meninggal setahun yang lalu. “Insya Allah syahid, karena meninggal dalam kondisi hamil,” tuturnya. Ya, istrinya dipanggil Allah saat hendak melahirkan sang anak.

Istrinya itulah yang berperan mengantarkannya menuju kesuksesan bisnis seperti yang diraihnya sekarang.

Bagaimana seorang istri bisa menjadi faktor utama dalam keberhasilan suaminya? Ternyata rahasianya adalah doa seorang istri shalihah yang didengarkan oleh Allah dan diijabahi. Istri Dr Aan yang sebelumnya adalah seorang fotomodel telah bertranformasi menjadi wanita yang berhijab dan shalihah. Seiring dengan itu, bisnisnya menghasilkan jauh lebih banyak dari profesinya sebagai dokter. Jika dulu ia punya banyak hutang dan hampir di semua bank di Indonesia, sekarang sudah sukses dan banyak berbagi dengan orang lain.

Banyak hal lain yang kami dapatkan dari seminar yang dilanjutkan workshop esuk harinya. Diantaranya, jika ingin sukses bisnis tanpa riba, kita tidak perlu berhubungan dengan bank –terutama bank konvesional- tetapi dekatilah orang yang sukses yang punya modal tetapi masih bingung untuk menjalankan usahanya. Caranya, presentasikan bisnis kita dan bagaimana cara bagi hasil seadil-adilnya. Dan jangan lupa, mintalah istri dan anak-anak mendoakan. Bisa jadi, keshalihahan istri dan kebersihan jiwa anak-anak kita-lah yang mengetuk pintu rezeki-Nya hingga tercurah deras untuk kita. [Danil S]

Mengapa Harus Kaya?

Kawan, coba kalian jawab apakah kalian setuju dengan 10 pernyataan berikut ini.

- Uang adalah akar dari segala kejahatan
- Uang bukan segalanya
- Uang tidak bisa membeli cinta
- Uang tidak menyelesaikan masalah
- Easy come easy go
- Orang harus pelit baru bisa jadi kaya
- Orang mati tidak membawa uang, maka tidak perlu cari banyak uang
- Orang kaya seringkali hidupnya tidak bahagia
- Orang yang uangnya banyak kurang spiritual
- Orang kaya dekat kesombongan

Setelah menjawab, apakah masih ingin menjadi kaya?

Pada suatu kesempatan, saya dipertemukan dengan Pak Rusli. Dari pertemuan dengan pengusaha sukses asal Gresik itu, saya semakin mantap untuk berusaha menjadi muslimah kaya.

Seperti yang dipaparkan beliau, ada beberapa hal mengapa sebaiknya orang Islam itu kaya. Pertama, harta merupakan tulang punggung kehidupan. Bagaimana tidak, terlepas dari faktor bahwa semua rezeki kita adalah anugerah Allah, sejak mulai bangun sampai tidur lagi kita selalu berhubungan dengan uang. Semisal, ketika bangun pagi kita harus bersih diri mulai dari mandi, pakai baju, sampai dandan. Tentu saja setiap hal itu memerlukan materi, memerlukan uang untuk memperolehnya terutama di daerah perkotaan yang air saja harus membayar. Belum lagi saat kita sarapan, berangkat kerja atau sekolah dan bejibun aktivitas lainnya tidak lepas dari kebutuhan duniawi kita yaitu uang. Nah, dari sini mungkin banyak yang mengiyakan tapi juga banyak yang masih kontra dengan hal ini.

Kedua, uang bukanlah indikator keshalihan/keburukan, tetapi sikap terhadap uang menunjukkan kualitas keshalihan seseorang. Ada sahabat Nabi yang kaya, ada pula yang tidak banyak uang. Tetapi, dari 10 sahabat yang dijamin masuk surga, mayoritas adalah orang-orang kaya. Tak bisa dipungkiri lagi bahwa seringkali uang membuat seseorang menjadi kalap dan khilaf melakukan hal-hal yang dilarang oleh norma-norma agama untuk memenuhi kebutuhan di balik himpitan biaya yang memaksa mereka untuk melakukannya, hingga ada maqolah: "kaadal faqru an yakuuna kufran" (hampir-hampir saja, kefakiran menjerumuskan ke dalam kekafiran). Uang menjadi alasan sekian banyak orang untuk melakukan kejahatan (mencuri, dan sebagainya) dan menganiaya dirinya sendiri (menjual diri, dan sebagainya). Sebaliknya, betapa banyak pula orang seperti Qarun yang menjadi sombong, gemar bermaksiat dan jauh dari Allah setelah memiliki banyak uang. Berbeda dengan orang yang kokoh imannya, saat bertambah uangnya, bertambah pula syukurnya.

Ketiga, banyak perintah syariah yang pelaksanaannya memerlukan uang. Contoh yang paling mudah adalah tentang haji. Ibadah satu ini jelas, tidak mungkin tidak, pasti memerlukan uang dan tidak sedikit. Walau memang ada banyak kisah tentang seseorang yang naik haji mendadak karena memang sudah jalannya Allah mengatur mudah tanpa biaya. Belum lagi ibadah lainnya seperti zakat, infaq, shodaqoh yang salah satu bentuknya adalah uang. Selain itu, permisalan seperti “jika cukup hanya dengan shodaqoh senyum, apa iya jika masjid roboh kita hanya shodaqoh senyum terus selesai begitu saja?” Tentu kita butuh uang juga untuk hal itu.

Hal yang keempat, harta itu adalah hal-hal yang dibanggakan oleh manusia sehingga menentukan strata sosial. Tidak menafikan bahwa seseorang memang akan lebih dihormati ketika memiliki kedudukan terutama dalam strata sosial. Akan lebih mudah pula bagi seorang juru dakwah jika ia dihormati dan disegani, walaupun memang bukan hanya karena kedudukan yang dapat membuat seseorang dihormati dan disegani akan tetapi hal itu merupakan keniscayaan dalam masyarakat. Apalagi jika sudah membahas mengenai kekuasaan. Banyak orang yang sangat memandang buruk akan kekuasaan. Padahal di sisi lain jika kita tilik lagi, dengan kekuasaan logikanya seseorang itu akan dengan mudah melakukan berbagai kebijakan dalam pengambilan keputusan. Coba dibayangkan manakala penguasa itu seorang yang zholim, dengan mudah ia akan melakukan hal-hal yang dilarang oleh agama. Begitu juga sebaliknya jika penguasa tersebut seorang yang adil, maka banyak kebijakan yang menguntungkan masyarakat.

Hal terakhir, harta itu salah satu sebab yang dapat membuat orang bisa bahagia di dunia. Dalam hal ini perlu digarisbawahi kata ‘salah satu’, harta adalah salah satu sebab seseorang bahagia hidup di dunia. Hal ini juga tak dapat dipungkiri dan impian semua orang jika mendapatkan kebahagiaan di dunia juga di akhirat dan hal yang perlu diingat juga bahwa :

:لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللّهِ إِنَّ اللّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُواْ مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلاَ مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia.” (QS. Ar Ra’d : 11)

Nah kawan, sekarang sepakat kan jika memang sebaiknya kita kaya, tentu tidak ada orang yang tidak mau. Untuk itu perlu ada usaha untuk menjadi kaya. Bukan hanya kerja keras tapi kerja cerdas. Bukan hanya mau tapi melakukan sesuatu. Untuk langkah-langkah selanjutnya menjadi kaya (masih dari nara sumber yang sama) akan saya sampaikan pada tulisan selanjutnya. Wallahu a’lam bisshowab. [Gresia Divi]

7 Wasiat Agar Menjadi Orang yang Bahagia

Kebahagiaan adalah impian semua orang. Betapa banyak orang yang melakukan segalanya agar menjadi bahagia. Betapa banyak orang yang mengejar kebahagiaan tetapi tak jua mendapatkannya. Bahkan, tak sedikit orang yang justru mendapatkan kebalikannya; jiwanya galau, hatinya selalu menderita.

Bagaimana kiat agar menjadi orang yang bahagia? Berikut ini 7 wasiat yang ditulis Karim Abdul Ghaffar dalam bukunya Tafriij al-Hamm (Seni Bergembira; Cara Nabi Meredam Gelisah Hati):

1. Tersenyumlah walau hanya berpura-pura. Berikutnya, senyuman itu akan menjadi senyum yang sesungguhnya.

2. Tersenyumlah langsung ketika Anda tertimpa musibah. Allah dan malaikat-Nya mengawasi reaksi Anda sedangkan Iblis menantikan kekafiran Anda.

3. Ekspresi wajah berperan besar dalam memberi bobot kegelisahan. Karena itu, perintahkanlah diri Anda supaya tersenyum.

4. Jangan tersenyum ketika saudara meninggal karena dengan begitu Anda tampil bodoh. Tersenyumlah di dalam hati Anda untuk memberitahukan keridhaan Anda kepada Allah.

5. Jangan mengharapkan sesuatu dari akhirnya, tapi harapkanlah dari awalnya. Awal sesuatu sudah termaktub dalam kitab Allah (lauh mahfudz). Jika ia merupakan milik Anda, Anda pasti mendapatkannya walau harus menunggu lama. Jika bukan, berdoalah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mengampuni Anda karena mengharapkan sesuatu yang bukan milik Anda.

6. Ingatlah baik-baik bahwa pena Allah (qalam) telah diangkat dan lembarannya pun telah mengering, supaya Anda tidak hidup dalam lamunan dan banyak berangan-angan kepada Allah.

7. Perhitungkan umur Anda. Umur hanyalah soal waktu. Betapa banyak waktu yang terbuang sia-sia karena membayangkan masa lalu yang menyedihkan atau merisaukan masa depan yang belum jelas.

[sumber: Seni Bergembira; Cara Nabi Meredam Gelisah Hati karya Karim Abdul Ghaffar]

Ingin Allah Menambah Kekuatanmu? Ini Caranya


Ulama mujahid di abad modern, Syaikh DR Abdullah Azzam, mengungkapkan hal yang membuat Allah menambah kekuatan seseorang. Kekuatan ini bukan hanya penting bagi para mujahid, tetapi juga bagi seluruh aktifis dakwah.

Berikut ini nasehat beliau di bawah judul “Dengan Apa Allah Menambah Kekuatan Seseorang” dalam buku “Tarbiyah Jihadiyah” :

Kekuatan jiwa hadir dalam diri seseorang melalui amal-amal shalih. Sebaliknya, kelemahan jiwa hadir melalui perbuatan jahat, maksiat dan perbuatan-perbuatan buruk. Oleh karena itu, Imam Ahmad menasehati orang yang penakut, “Jika hatimu sehat, pasti engkau takkan takut.”

Jika hati seseorang sehat, ia tidak akan takut pada orang lain. Perbuatan buruk itu ibarat racun, ia melemahkan hati sebagaimana racun melemahkan perut dan usus. Sedangkan amal kebaikan itu seperti makanan, ia menghidupkan hati dan membuatnya bersinar.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Perumpamaan rumah yang selalu disebutkan nama Allah di dalamnya dengan rumah yang tak pernah disebutkan nama Allah laksana orang yang hidup dengan orang yang mati.” (HR. Bukhari)

“Janganlah engkau jadikan rumah-rumahmu seperti kuburan.” (HR. Muslim)

Menghidupkan rumah dalam hadits di atas adalah dengan amal-amal sunnah. Jangan jadikan rumah seperti kuburan yang sepi dari amal shalih.

Adapun kekuatan fisik, Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:
“Dan (Hud berkata), ‘Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertaubatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras untukmu dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS. Hud : 52)

Di dalam kitab Fawaid, Ibnu Qayyim Al Jauziyah menulis sebuah pasal yang menarik. Ibnu Qayyim menjelaskan bahwa memandang sesuatu yang diharamkan akan melemahkan mata, mencuri akan melemahkan tangan, berjalan mendatangi hal-hal yang haram akan melemahkan kaki, dan memakan barang yang haram akan melemahkan fisik secara keseluruhan. Dan sesungguhnya, perbuatan baik akan menguatkan fisik.

Jadi, kekuatan fisik dan kekuatan hati datang dari amal. Sebaliknya, lemahnya fisik dan hati datang dari perbuatan-perbuatan yang menyelisihi kehendak Allah Azza wa Jalla. [BK]

6 Ayat Jihad Pembangkit Semangat


Sebagaimana iman bisa naik dan turun, semangat jihad pun kadang menguat dan kadang melemah. Semakin kencangnya arus rekayasa musuh dakwah, bagi sebagian kader akan semakin menguatkan militansinya dalam berjuang; tetapi, ada pula yang kemudian ghirahnya mengendor dan memudar.

Di saat-saat seperti ini, taujih Rabbani sangat kita perlukan. Ayat-ayat jihad menjadi penawar, sekaligus penguat semangat. Seperti yang saya alami, diidznillah. Saat dipaparkan 6 ayat jihad dalam majelis ukhuwah bersama saudari-saudari tercinta, semangat ‘jihad’ kembali menyala.

Ayat pertama,

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
“Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa." (QS. At Taubah : 36)

Dalam ayat ini bisa kita ambil kesimpulan bahwa Allah memerintahkan kita untuk memerangi orang-orang musyrik, sebagaimana mereka telah memerangi orang-orang yang beriman. Ayat ini sebagai awal pemanasan semangat jihad kita sekaligus mengingatkan kita kembali bahwa berjihad –dalam arti luas- adalah tabiat jalan dakwah kita. Al Jihad sabiluna.

Ayat kedua,

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (QS. Al Baqarah : 216)

Dalam ayat ini dijelaskan bahwa perang adalah hal yang dibenci oleh umat muslim, akan tetapi karena hal tersebut merupakan perintah wajib dari Allah untuk berperang maka wajib pula kita lakukan. Dijelaskan pula bahwa bisa jadi itu (perang) adalah hal yang sangat kita benci tapi itu adalah baik bagi kita dalam pandangan Allah.

Jika kita implikasikan pada realitas kehidupan kita saat ini, bisa jadi saat ini kita tidak berperang mengangkat senjata, akan tetapi perang pemikiran dan politik terus berlangsung setiap saat. Dan musuh-musuh Islam senantiasa mengarahkan amunisinya kepada kita. Tentu kita merasa lebih nyaman berdakwah sekedar amar ma’ruf, masyarakat mempersilakan dengan wajah manis, tanpa memusuhi. Tapi tidak begitu sejarah Nabi. Tersebab dakwahnya mengguncang sendi-sendi ekonomi, politik dan kekuasaan kaum jahiliyah, mereka pun memusuhi dakwah. Perang tak terhindarkan. Dan umat Islam harus siap jihad, meski ia tidak disukai. Tapi yakinlah, dalam ketidaksukaan itu ada banyak kebaikan. Jihad fi sabilillah hanya melahirkan dua hal; menang dengan membawa ghanimah dan kekuasaan atau mati syahid beroleh surga.

Ayat ketiga,

انْفِرُوا خِفَافًا وَثِقَالًا وَجَاهِدُوا بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
”Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan maupun berat, dan berjihadlah kamu dengan harta dan dirimu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." (QS. At Taubah : 41)

Dalam ayat ini dikuatkan kepada kita bahwa dalam keadaan apapun; berat-ringan, mudah-susah, ada dana-atau tidak, jihad harus tetap berlanjut dengan harta dan jiwa kita. Kata-kata ini bukan perintah dari orang tua kita atau perintah dari bos kita atau perintah dari manusia yang serba kekurangan tapi ini adalah perintah dari Zat Yang Menggenggam jiwa-jiwa kita, lalu apalagi yang kita tunggu...

Ayat keempat,

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
”Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (QS. At Taubah : 111)

Ayat ini jelas dan sudah sering dibahas tentang betapa tak pantasnya kita sesungguhnya, Allah membeli jiwa dan harta kita dan dibayar dengan surga, padahal apa yang kita usahakan tak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan surga. Jika ada obsesi ridha Allah dan surga, insya Allah yang kita rasa sulit akan lebih ringan bagi kita.

Wahai diriku, wahai ikhwah... camkan ayat ini jika militansi kita melemah. Jihad kita untuk kita. Kita akan dibayar dengan surga oleh Allah. Maka jika musuh dakwah yang mengharapkan keuntungan materi dan kekuasaan begitu bersemangat menyerang dakwah, tidakkah kita lebih bersemangat lagi dengan janji Allah berupa surga?

Ayat kelima,

لَا يَسْتَوِي الْقَاعِدُونَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ غَيْرُ أُولِي الضَّرَرِ وَالْمُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ ۚ فَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ عَلَى الْقَاعِدِينَ دَرَجَةً ۚ وَكُلًّا وَعَدَ اللَّهُ الْحُسْنَىٰ ۚ وَفَضَّلَ اللَّهُ الْمُجَاهِدِينَ عَلَى الْقَاعِدِينَ أَجْرًا عَظِيمًا
”Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ´uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk dengan pahala yang besar," (QS. An Nisa' : 95)

دَرَجَاتٍ مِنْهُ وَمَغْفِرَةً وَرَحْمَةً ۚ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا
(yaitu) beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa' : 96)

Dari ayat ini apakah kita tidak ingin menjadi mukmin yang mendapat pahala yang besar itu –beberapa derajat dari pada-Nya, ampunan serta rahmat ? Akan tetapi pada kenyataannya memang denganberbagai alasan terkadang ada sebagian dari kita yang menjadi bagian dari mukmin yang duduk-duduk. Lalu bagaimana kita bisa mendapat pahala yang besar tersebut, yang sama dengan pahala orang yang berjihad? Pada artikel yang pernah saya tulis sebelumnya –Belajar Menghapus Gelisah dari Seorang Shohabiyah – ada hadits yang cocok menjawab pertanyaan tersebut :

”Barangsiapa yang memberangkatkan seorang prajurit di jalan Allah maka ia pun dianggap ikut bertempur di jalan Allah. Barangsiapa yang mengurus urusan orang yang berperang di jalan Allah dengan baik, maka ia pun dianggap ikut bertempur.” (HR. Bukhari Muslim)

Maka, dari sini kita maksimakan apa pun yang kita miliki dan segala kemampuan kita sebab kita berurusan dengan Allah. Kita berjuang karena Allah.

Ayat keenam,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا هَلْ أَدُلُّكُمْ عَلَىٰ تِجَارَةٍ تُنْجِيكُمْ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ
”Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih?" (QS. Ash Saff : 10)

تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَتُجَاهِدُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنْفُسِكُمْ ۚ ذَٰلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ
”(yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." (QS. Ash Saff : 11)

يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ۚ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
”Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ´Adn. Itulah keberuntungan yang besar” (QS. Ash Saff : 12)

Menegaskan kembali apa yang telah tertulis di atas, jihad fi sabilillah hanya melahirkan dua hal; menang dengan membawa ghanimah dan kekuasaan atau mati syahid beroleh surga. Dan betapa bahagianya jika ayat dalam surat Ash Shaf tersebut dianugerahkan kepada kita. Kita berjuang, kita berjihad, dan Allah memberikan pertolonganNya sehingga kita menang dalam waktu yang tidak lama lagi. Dan pahala jihad tetap terjaga rapi hingga kita mati nanti, lalu Allah membukanya untuk kita; mudah di alam barzah, cepat saat dihisab, mulia beroleh ridha dan jannahNya.

Maka mari kuatkan kembali semangat ‘jihad’ dengan kembali kepada ayat-ayatNya. Kita niatkan segala langkah perjuangan kita sebagai bagian dari amar ma'ruf nahi munkar dan menolong agama Allah. Insya Allah 'nasrumminallah' (pertolongan Allah) itu akan datang. [Gresia Divi]

Berdakwah dengan Pena


Jalinan aneh ini, getar ini : cinta. Dalam segala keterbatasan, kita telah mencoba menebarkannya di jalan – jalan berliku, yang kita lalui. Percayalah, selalu akan sampai pada seseorang.
(Helvy Tiana Rosa, Risalah Cinta)

Membaca dan menulis. Yang pertama, sejak masih belia saya menyukainya. Bahkan hingga kini. Mulai LKS atau kitab setiap mata pelajaran, majalah Mentari, majalah Bobo, Harian Jawa Pos, semua saya baca. Bahkan hingga Salah Asuhannya Abdul Muiz atau Sitti Nurbayanya Marah Rusli saya lahap semua saat sekolah lanjutan tingkat pertama. Hanya mungkin yang tak pernah tersentuh, buku psikologi dan manajemen diri yang murni dengan bahasa baku dan kaku yang terlampau sulit saya pahami hingga kini. Menginjak masa SMA dan bangku kuliah sepertinya semangat baca saya makin menggila. Apalagi semenjak mengenal Harakah Dakwah. Tak pelak, saya tersadar terlampau banyak buku–buku dahsyat yang menggiurkan dan terlampau sayang untuk dilewatkan.

Sedangkan menulis, jujur saya tidak benar–benar menyadari jika saya menyukainya. Meski mengisi diari sudah menjadi kebiasaan yang tak terlewatkan kala masih di bangku sekolah. Saat kuliah, tulisan–tulisan iseng saya hanya menempel di Mading kamar mungil yang saya sewa. Tidak lebih dari itu. Kini Allah memudahkan jalan bagi saya, ada pintu terbuka bagi saya untuk lebih serius menggoreskan pena.

Menulis. Ternyata bukan pekerjaan sederhana. Dengan menulis tanpa sadar kita sedang mendulang pahala. Bagaimana bisa…??. Semua berawal dari niat. Jika niat menulis kita tulus untuk menyampaikan kebaikan. Bukan sekedar demi uang dan kebanggaan. Apapun bentuk tulisan itu, entah puisi, cerpen, novel, artikel ataupun berita tentang kisah nyata. Saya punya keyakinan jika setiap untaian kata penuh makna yang coba kita ciptakan bisa dipastikan akan membekas dalam bagi yang membacanya. Maka sejak pertama yang mesti ditata saat menulis tak hanya sejumlah buku atau artikel yang akan kita jadikan sebagai panduan dan referensi semata. Yang lebih penting dari itu semua. Tentu saja, niat. Saat hanya Ilahi yang jadi motivasi sejati maka keberkahanpun akan datang menghampiri.

Terbukti hati saya sering tertambat pada nama–nama penulis yang saya sebutkan ini. Helvy Tiana Rosa, Anis Matta, Salim A.Fillah, Habiburrahman El Shirazy dan M. Lili Nur Aulia. Betapa banyak pembaca yang merasa tercerahkan setelah membaca karya-karya mereka.

Helvy Tiana Rosa. Penulis wanita penggagas komunitas penulis sastra islami, Forum Lingkar Pena. Cerpen fenomenal beliau Ketika Mas Gagah Pergi telah sukses tak hanya membuat pembacanya menangis haru karena ending cerita yang cukup tragis. Namun, cerpen itu pula yang menggerakkan begitu banyak muslimah muda untuk berbondong-bondong memakai jilbab untuk menjaga kehormatan mereka. Begitupun tak sedikit lelaki muda yang merasa akan terlihat lebih “ganteng” saat mampu berislam dengan baik dan sungguh-sunguh sebagaimana karakter Mas Gagah yang ada di cerpen tersebut. Dan kabar terakhir menyebutkan, jika audisi pemain sedang digelar sebab cerpen tersebut akan segera diangkat ke layar lebar. Semoga berkahnya makin bertambah.

Anis Matta. Siapa yang tidak mengenalnya, terlebih dengan pemberitaan yang bertubi belakangan ini. Publik kini mengenalnya sebagai orator ulung hingga julukan Soekarno Muda melekat padanya. Tapi, beliau tak hanya mumpuni dalam hal berbicara saja. Beliau pun tak kalah fasih saat menguraikan ide-idenya dalam bentuk tulisan. Entah sudah berapa buku yang beliau rampungkan. Tapi yang pasti dari sekian banyak bukunya, Dari Gerakan ke Negara dan Menikmati Demokrasi menjadi bacaan wajib bagi para anggota KAMMI, sebuah organisasi mahasiswa tempat berkumpulnya para calon pemimpin negeri. Tema tulisan beliau pun bervariasi mulai tema cinta, motivasi, doa sehari-hari hingga konsep alur pemenangan dakwah. Semuanya tak pernah sepi peminat.

Salim A. Fillah, penulis muda yang bukunya banyak diminati. Usianya mungkin baru 29 tahun tapi pembaca bisa merasakan kedalaman dan ketajaman pola berfikir beliau jauh melampaui bilangan usianya. Beliau piawai memadukan dalil, kisah hikmah,dan sastra menjadi sebuah tulisan yang sarat dengan hikamah. Buku Dalam Dekapan Ukhuwah miliknya menuntun pembacanya memahami hakikat ukhuwah yang sejati. Dengan harapan agar membangkitkan kembali kekuatan ummat yang detik ini terserak-serak bagaikan buih yang tak berarti, sebagaimana yang beliau kutipkan dengan jelas hal tersebut pada bagian belakang sampul bukunya.

Habiburrahman El Shirazy, dengan panggilan Kang Abik ia lebih dikenal. Ayat-ayat Cinta, Ketika Cinta Bertasbih dan Dalam Mihrab Cinta adalah tiga buah novel karangannya yang banyak diburu pembaca. Bahkan ketiganya diangkat di layar lebar. Lewat sastra beliau berdakwah, berbagi kedalaman pengetahuan agama yang dimiliki. Sebab hal yang berbau syariah, hukum fiqih, dan muamalah tak selamanya harus disampaikan lewat mimbar- mimbar khutbah. Apalagi di negeri yang jumlah orang yang mampu pendengar yang baik tak banyak ditemui. Dan para duat sejati, pasti tak boleh kehilangan akal bagaimana hal-hal berbau agama tak kehilangan peminatnya. Dan lewat sastra itulah salah satu wasilahnya. Dan sejauh ini beliau belum terlihat gagal dalam mengusung ide dakwah tersebut.

Nama yang terakhir mungkin lebih diakrabi oleh para pembaca setia majalah Tarbawi, Muhammad Lili Nur Aulia. Tulisan–tulisan jernih miliknya masih setia menghiasi lembaran majalah tersebut hingga kini. Kata–kata lembutnya seperti embun pagi yang menetes di jiwa pembacanya. Menyegarkan, menentramkan dan menginspirasi. Sering tulisan beliau mengajak pembaca untuk lebih dekat dan lebih dalam memandang suatu suatu kondisi, masalah dan berbagai hal yang kadang hanya dipandang sebelah mata. Tak sedikit pembaca yang mengakui jiwa dan hatinya tersentuh hingga berubah menjadi lebih bijak setelah membaca tulisannya.

Demikianlah sekian nama yang bisa jadi penyemangat dan sumbu motivasi bagi para penulis pemula seperti saya. Meski tentu saja motivasi paling sejati hanyalah Ilahi Robbi. Setidaknya dari mereka kita bisa belajar bahwa saat menulis kita tidak hanya sekedar merangkai kata-kata. Sebaliknya kita sedang menjalin benang–benang pahala yang bisa jadi dengannya pintu surga bisa terbuka. Sebab kita tak pernah tahu, entah di belahan dunia mana dan pembaca ke berapa yang merasa terinsinpirasi dan tercerahkan oleh tulisan kita. Maka sejatinya kita tak perlu ragu, sebab saat kita menuliskan kebaikan-kebaikan dengan penuh cinta dan niat tulus hanya untukNya, yakinlah.. percayalah akan sampai pada seseorang. InsyaAllah. Maka hanya satu kata dari saya, selamat dan semangat berdakwah dengan pena. [Kembang Pelangi]

Untukmu Pejuang Militan


“Kita datang ke sini tidak untuk kembali. Kita hanya mempunyai dua pilihan, menaklukan negeri ini dan kemudian menetap disini atau kita semua binasa di tangan musuh”

Kata-kata bak mantera itu meluncur dari panglima Thariq bin Ziyad. Di bawah kepemimpinannya, bendera Islam berkibar di daratan Eropa. Thariq memimpin tentara Islam dari Afrika, mendarat di pantai Spanyol, dan menaklukannya.

Saat itu, Spanyol di bawah kekuasaan Gotik dari Jerman. Rakyat Spanyol ditindas. Petani dikenai pajak tinggi. Para perempuan dicabuli. Mereka, umumnya beragama Kristen dan Yahudi, lalu mengungsi dan minta perlindungan kepada daulah Islam di Afrika.

Salah seorang dari mereka adalah Julian, gubernur Ceuta yang putrinya telah dinodai oleh Raja Roderick, raja bangsa Gotik. Julian memohon kepada Musa bin Nushair, raja muda Islam di Afrika untuk memerdekakan negeri mereka dari penindasan Roderick. Musa mengabulkan permohonan itu dan memobilisasi pasukann dengan dibantu Thariq, bekas budak Roderick.

Pasukan Islam pun berangkat. Dari pantai Afrika, mereka berlayar dan mendarat di pantai Spanyol pada tahun 711 M. Dari atas karang pantai Spanyol yang kemudian hari ini dinamai Jabal Thariq (kalangan Barat menyebutnya Jibraltar) itu, Thariq mengobarkan semangat pasukan. Dia memerintahkan kapal-kapal yang telah mengangkut pasukan semuanya dibakar.

Apa yang ditunjukkan Thariq dengan membakar kapal adalah cerminan dari semangat dan daya juang tinggi. Kata yang tepat untuk menggambarkannya adalah militan. Kamus Besar Bahasa Indonesia mendefinisikan militan sebagai “bersemangat tinggi”, “penuh gairah”.
Seorang yang militan berarti orang yang memiliki semangat tinggi dalam memperjuangkan apa yang diyakininya. Daya juang yang tinggi itu tercermin dari kesiapan mereka untuk mengorbankan apa yang dimiliki –harta dan jiwa- untuk keridhoan Allah. "Berangkatlah kamu, baik dalam keadaan ringan ataupun merasa berat, dan dan berjihadlah dengan harta dan jiwa, pada jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui." (QS.At Taubah : 41)

Api semangat menyala-nyala dalam dada Thariq beserta segenap pasukannya. Api itu terus membakar spirit mereka untuk mencapai apa yang diperjuangkan menjadi result yang diharapkan, yaitu menaklukan Spanyol.

Thariq bin Ziyad adalah contoh dari sekian banyak pejuang militan. Militansi Thariq ini tumbuh subur dan berkembang di atas ranah iman. Dan keimanan kepada Allah adalah bahan bakar yang tiada habis yang menyalakan api semangat perjuangan.

Militansi yang tumbuh di atas iman akan terus tumbuh dengan zikir. Makin banyak mengingat Allah, semakin yakin akan pertolongan-Nya. Karenanya, orang yang militan akan konsisten menghadapi fase-fase perjuangan dan selalu berorientasi pada hasil: keridhoan Allah.

Bagi seorang yang mengaku pejuang militan yang punya keimanan yang kuat, maka ujian dakwah berupa celaan, hinaan, fitnah, hilangnya pekerjaan bahkan nyawa karena memperjuangkan agama Allah adalah sesuatu yang biasa. Semua itu dijadikan sebagai ajang pembuktian iman dan perlombaan untuk mendapat label "orang yang mulia" di hadapan Allah. Dia tidak akan berlomba menjadi "orang yang mulia" di mata manusia dengan mengejar karir, kedudukan, harta, anak & kelurga. Karena dia sadar bahwa itu kebahagiaan semu di "kampung dunia". Yang lebih utama baginya adalah "kampung akhirat" dimana ada surga di sana. Surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang di sana ada rumah, istana, makanan, minuman, suhu yang nyaman, pakaian yang bagus, wajah yang rupawan, pasangan hidup, dan segala hal yang dinginkan manusia. Itulah kebahagiaan yang hakiki bagi para pejuang militan yang mampu membuktikan keimanannya hingga hembusan nafas terakhir…

Selamat berjuang wahai para pejuang militan!



Penulis : Oktarizal Rais
Alumni Pondok Pesantren Modern Islam Assalaam Solo
Copyright © 2012-2099 SEKILAS DAKWAH - Dami Tripel Template Level 2 by Ardi Bloggerstranger. All rights reserved.
Valid HTML5 by Ardi Bloggerstranger