lazada ID
Showing posts with label Bedah Buku. Show all posts

Agar Hati Tak Salah Mencintai

Agar Hati tak Salah Mencintai
Judul : Agar Hati Tak Salah Mencintai
Penulis : Jauhar al-Zanki
Penerbit : Pro-U Media - Yogyakarta
Cetakan : 1, Januari 2013
Tebal : 214 Halaman ; 12 x 20 cm
ISBN : 979-1273-81-2

Membahas cinta tak ubahnya membincang kehidupan. Selalu seru, menarik dan tak jarang timbul perdebatan. Ibarat mata air, cinta akan bertambah seiring dengan semakin dalamnya penggalian makna cinta itu sendiri.

Tak ada kata yang bisa menjelaskan cinta selain kata itu sendiri. Ia ibarat arus listrik. Tak terlihat, tapi bisa membuat bola lampu bersinar. Ia juga bak angin. Ketika bergumul, kekuatannya bisa membadai dan menghancurkan aneka bangunan yang ditemuinya.

Banyak kisah cinta yang beredar diantara kita. Mulai yang jadul hingga yang terhangat. Mulai yang kuno hingga paling modern. Meski dengan banyak perbedaan, inti ceritanya sama. Bahwa cinta, tidak hanya bisa mengubah diri seseorang, tetapi juga mengubah sebuah bangsa bahkan sebuah peradaban.

Cinta bisa tumbuh dari banyak sebab. Mulai dari pandangan, kata-kata, wewangian, seringnya berinteraksi dan keserasian antara rasa dan jiwa. Cinta memang tak berbentuk. Tapi ia mempunyai ciri-ciri. Mereka yang tengah dilanda cinta bisa ditengarai dengan suka menyebut nama orang yang dicintai, bergetar bila disebutkan nama kekasihnya, selalu teringat dengan sosoknya, menuruti apa saja yang diingini sang kekasih, suka termenung, menggandengkan namanya dengan nama orang yang dicintai, senang bertanya kabar tentangnya, rindu untuk bertemu, dihinggapi rasa resah dan gelisah, menyukai tempat yang disukai kekasihnya, menyukai apa yang disukai kekasihnya, menekumi hobi kekasihnya, grogi dan salah tingkah saat berjumpa, muncul rasa cemburu, rela berkorban, bersikap sopan dan lemah lembut, dan suka memberi perhatian lebih kepada yang dicintai. ( Hal 46-62)

Cinta juga mempunyai banyak jenis. Mulai dari cinta monyet, cinta lokasi, cinta musiman, cinta kilat, cinta buta, cinta harta, dan cinta karena Allah. Ia juga sering disimbolkan. Baik dengan gambar hati yang ditusuk anak panah ataupun dengan warna merah jambu.

Oleh karena fitrahnya cinta, islam sebagai ajaran yang paling selaras dengan fitrah alam dan kemanusia memberikan aneka aturan agar cinta tumbuh sesuai dengan aturan Allah. Karena cinta adalah ciptaan Allah, maka hanya Allahlah yang berhak untuk memberikan aturan tentang cinta. Karakteristiknya dan bagaimana menyalurkannya.

Islam tak mengenal pengasingan diri tanpa cinta. Islam juga melarang perayaan cinta tanpa batas. Islam, mengatur cinta dalam koridor yang jelas, pernikahan. Jika mencintai, maka konsekuensinya adalah menikahi. Jika tak mampu, Rasul memberikan solusi untuk berpuasa.

Sehingga, sebagai kaum muslimin, maka yang harus dilakukan adalah mengatur cinta agar sesuai dengan apa yang telah Allah gariskan dan apa yang dicontohkan oleh Rasulullah. Agar cinta tetap suci dan bisa menjadi sarana untuk mengantarkan kepada cinta sejati, Allah dan RasulNya.

Diperlukan keteguhan hati untuk hal ini. Apalagi ketika zaman semakin tua. Ketika pergaulan sudah bebas. Begitupun dengan aneka buadaya yang tidak selaras dengan nilai kemusliman masuk dengan mudahnya ke dalam jenak kehidupan kita.

Sehingga, penjagaan diri adalah hal yang mutlak. Menjaga diri berarti terus memperbaiki kualitas diri agar tidak terjerumus dalam kehiduapn hedonis yang mendambakan materialisme dan fisik semata. Menjaga diri dengan terus mendekatkan diri kepada Allah dan memperdalam ilmu menjadikan seseorang menjadi lebih tenang (Hal 138). Penjagaan diri ini juga membuat seorang pemuda agar terus PD meskipun terasing dengan sekitarnya yang tidak islami. Ia bisa terus melaju dalam keimanan yang baik, agar cinta yang suci itu, bisa dirayakan ketika masanya tiba dengan cara yang benar pula.

Akhirnya, bagi kaum muslimin, cinta mereka adalah cinta yang sehat. Cinta mereka adalah cinta yang taat. Cinta mereka adalah cinta yang kuat. Cinta mereka adalah cinta yang bisa menjadi inspirasi penggugah jiwa. Yaitu cinta yang berbalut pernikahan islami sehingga rindumu, bersatu dengan rindu ia yang menjadi cintamu. Satu hal yang tak boleh dilupa, dirimu adalah potret kekasihmu. Maka perbaikan diri adalah cara paling jitu untuk mendapat cinta agar sesuai dengan yang kita cita-citakan. Memperbaiki diri adalah jalan, agar hati tak salah mencintai.[]


Penulis : Pirman
Penulis Antologi Surat Cinta Untuk Murobbi dan sejumlah buku lainnya
Penulis resensi di sejumlah media cetak
Facebook: usman.alfarisi.9

Tertarik dengan buku Agar Hati Tak Salah Mencintai ini?
silahkan hubungi 085773291640

Fikih Manhaji, Kitab Fikih Lengkap Imam asy Syafi'i

Fikih Manhaji - Kitab Fikih Lengkap Imam asy Syafi'i
Judul Asli : Al-Fiqh al-Manhaj ‘ala al-Madzhab al-Imam asy-Syafi’i
Judul Terjemahan : Fikih Manhaji : Kitab Fikih Lengkap Imam Syafi’i ( Jilid I )
Penulis : Dr. Mushthafa al-Bugha, Dr. Mushthafa al-Khan, Ali al-Syurbaji’
Penerbit : Darul Uswah ( Kelompok Pro-U Media) - Yogyakarta
Cetakan : 2012
Tebal : 1044 Halaman ; 16 x 24 cm
ISBN : 978-979-8143-19-1
Harga : Rp 185.000,-

Banyak umat Islam yang masih meremehkan pentingnya Ilmu Fikih. Bahkan, mereka yang salah memaknai tasawuf, mengira bahwa Fikih sangatlah ribet dan cenderung formalitas, hanya mengutamakan isi luar, tanpa melihat ruhnya. Pemahaman inilah yang kemudian menjadikan Ilmu Fikih terasing dari rahimnya sendiri. Jikapun dipelajari, hanya oleh segelintir orang, itupun bukan belajar kepada ahlinya.

Oleh karena itu, kaum muslimin harus kembali menekuni ajaran Islam yang menyeluruh. Karena, jika mau jujur, Fikih mencakup seluruh aspek kehidupan manusia. Baik yang terkait dengan hubungan dengan Allah secara langsung, hubungan dengan kerabat ataupun dengan sesama manusia dalam konteks muamalat.

Masalah Fikih sangat erat kaitannya dengan masalah aqidah seorang muslim. Bukankah Fikih membahas masalah wudhu? Bukankah wudhu merupakan syarat wajib untuk mendirikan sholat? Bukankah sholat merupakan sarana komunikasi utama dengan Allah yang paling efektif? Jika kaum muslimin tidak tahu cara wudhu yang benar, kemudian bagaimana sholat yang sesuai ajaran Nabi, maka bagaimana kualitas aqidah dan ibadah mereka kepada Allah?

Begitupun dengan bab Fiqih lain. Dimana semua itu, bertujuan untuk memandu kaum muslimin dalam beribadah secara benar.
Fikih didefinisikan sebagai ilmu pengetahuan tentang hukum syari’at yang mengatur tindak tutur dan tingkah laku manusia, disarikan dari dalil-dalil detail syar’i yaitu nash-nash al-Qur’an dan Sunnah serta ijma’ dan ijtihad yang berdasarkan al-Qur’an dan Sunnah.

Melihat definisi fikih ini, maka ilmu fikih terdiri dari tujuh bagian. Pertama, Al-‘Ibadah yaitu hukum terkait ibadah langsung (mahdhoh ) kepada Allah Subhanahu wa Ta’alaa. Dalam bab ini dibahas tentang wudhu, sholat, puasa, dan seterusnya. Kedua, Ahwal Syaksyiyah yaitu tentang hukum seputar keluarga. Meliputi nikah, cerai, nasab, persusuan, dan lain-lain. Ketiga, Muamalat yaitu hukum yang mengatur tentang perbuatan manusia dan pergaulan dengan sesama. Yang dibahas dalam hal ini meliputi jual beli, gadai, sewa, dan sejenisnya.

Keempat, Siyasah Syar’iyah yaitu hukum tentang kewajiban pemimpin. Misalnya tentang keharusan pemimpin menegakkan keadilan, mencegah kezaliman, penerapan hukum, dan seterusnya. Kelima, ‘Uqubat yaitu menjelaskan hukum bagi para perusuh keamanan. Tujuan dari hal ini adalah untuk mewujudkan keamanan dan ketertiban umum. Keenam, Siyar yakni hukum tentang hubungan Negara Islam dengan Negara lain. Dan terakhir, Adab wa Akhlaq yang membahas tentang perilaku dan budi pekerti.
Jika Fikih meliputi tujuh cabang, maka sumber dari kesemua cabang itu hanya ada empat. Pertama adalah Al-Qur’an. Ini merupakan sumber utama dan menjadi rujukan semua hukum. Misalnya tentang bolehnya jual beli dan haramnya riba’ sebagaimana dijelaskan dalam surah al-Baqarah (2) ayat 275. Jika di dalam Al Qur’an hanya menjelaskan secara gamblang dan menyeluruh, maka untuk hal-hal yang tidak didapati detailnya itu dirujuk kepada sumber kedua yaitu Sunnah. Misalnya tentang waktu sholat, tentang jumlah rokaat sholat, tentang sunnah-sunnah wudhu, dan seterusnya.

Sumber yang ketiga adalah Ijma’ yaitu kesepakatan ulama’ mujtahid terhadap suatu hukum syar’i. Dalam hal ini, tidak semua orang bisa disebut mujtahid. Ada banyak syarat yang harus dipenuhi. Dalam memutuskan ijtihad sekalipun, para ulama’ tetap merujuk pada al-Qur’an dan Sunnah.

Sedangkan sumber terakhir adalah Qiyas. Yaitu menganalogikan suatu perkara yang tidak ada hukum syar’inya dengan hal lain yang ditetapkan hukumnya oleh nash. Qiyas sendiri memiliki empat rukun. Meliputi perkara yang menjadi dasar analogi (asal), hal lain yang dianalogikan (cabang), hukum asal yang ada nashnya, Illat yang sama antara perkara yang menjadi dasar analogi dan yang dianalogikan.

Sebagai seorang muslim yang peduli dengan agamanya, maka mepelajari dan mempraktekan Ilmu Fikih ini menjadi sebuah kemestian. Sehingga dalam beramal, kaum Muslimin mempunyai dasar yang kuat sebagaimana diajarkan oleh ulama’-ulama’ terdahulu.

Kitab Fikih Lengkap Imam Syafi’i ini, bisa dijadikan rujukan dalam melakukan setiap amal dan ibadah. Apalagi, Madzhab Syafi’i ini menjadi madzhab mayoritas di Indonesia. Maka langkah yang dilakukan oleh penerbit ProU Media dalam menerbitkan karya langka ini perlu diapresiasi dan didukung. Agar kepedulian kepada Islam semakin menggejala dan banyak yang mengamalkan Islam dengan ilmu. Bukan sekedar taqlid tanpa tahu dasarnya.

Kitab ini dibuka dengan pengantar Fikih sebagaimana dibincang di awal tulisan ini. Kemudian dimulai dengan membahas bab bersuci. Satu diantara kelebihan kitab ini, di dalamnya dibahas juga tentang hikmah di balik pensyari’atan suatu perintah. Misalnya, ketika membahas tentang bersuci, di bagian akhir diberikan uraian tentang hikmah bersuci.

Ada lima hal yang akan bisa dapatkan ketika seseorang bersuci. Pertama, bersuci adalah naluri manusia. Mereka diciptakan dalam keadaan mencintai kebersihan, kebaikan dan kesucian. Kedua, agar terjaga kerhormatan dan wibawa seorang muslim. Bisa dibayangkan, mana yang lebih berwibawa dan terhormat antara mereka yang rajin bersuci dengan mereka yang jorok. Ketiga, untuk menjaga kesehatan. Inilah bukti kesempurnaan ajaran Islam. Bahwa Islam bukan hanya urusan hamba dengan Allah, tapi juga terkait masalah kesehatan. Jika perintah Allah dilakukan dengan baik sesuai sunnah RasulNya, maka kesehatan adalah jaminan. Keempat, menjaga tubuh dari penyakit. Ternyata, ketika seseorang rajin bersuci, baik wudhu atau mandi atau tayamum, maka debu-debu dan kotroan yang menempel pada tubuh seseorang akan ikut hilang bersama mengalirnya air. Sehingga mereka yang rajin bersuci, relatife lebih mudah terhindar dari berbagai jenis penyakit dibanding mereka yang cuek dengan pentingnya bersuci.
Terakhir, bersuci adalah sebentuk penghargaan kepada Allah. Bahwa sebagai hamba, ketika akan menghadap penciptaNya, harus berada dalam kondisi terbaik. Baik secara fisik maupun rohani (Hal 52)

Kitab Jilid I ini terdiri dari lima juz. Masing-masing juz memiliki banyak bagian. Dan dari setiap bagian, terdiri dari banyak bab yang membahas persoalan secara lengkap dan menyeluruh.

Sebut saja juz 1. Di dalamnya terdapat 3 bagian. Meliputi Bersuci yang terdiri dari 11 bab, Shalat yang terdiri dari 19 bab dan Jenazah yang terdiri dari 2 bab.

Begitupun dengan juz 2 yang membahas tentang Zakat (6 bab), Puasa (9 bab), Haji dan Umrah (15 bab). Juz tiga dengan uraian tentang Sumpah dan Nazar (5 bab), Buruan dan Sembelihan (5 bab), Aqiqah (2 bab), Halal dan Haram dalam Makanan dan Minuman (3 bab), Pakaian dan Perhiasan (8 bab), dan Kafarat (9 bab). Sedangkan juz empat, didalamnya dibahas tentang Pernikahan dan Keluarga (15 bab), Talak dalam Pernikahan (3 bab), Rujuk (2 bab), Iddah (1 bab), Nafkah (6 bab), Hak Asuh (3 bab), Menyusui (2 bab), Nasab (2 bab), dan Anak Pungut (3 bab). Sedangkan bab kelima berisi penjelasan tentang Waqaf (4 bab), Wasiat (5 bab) dan Faraidh (20 bab). []


Penulis : Pirman
Penulis Antologi Surat Cinta Untuk Murobbi dan sejumlah buku lainnya
Penulis resensi di sejumlah media cetak
Facebook: usman.alfarisi.9

Tertarik dengan buku Fikih Manhaji, Kitab Fikih Lengkap Imam asy Syafi'i ini?
silahkan hubungi 085773291640

Ekonomi Kita-kita

Ekonomi Kita-kita
Judul : Ekonomi Kita-kita
Penulis : Muhaimin Iqbal
Penerbit : Pro-U Media - Yogyakarta
Cetakan : I ; Mei 2013
Tebal : 115 Halaman
ISBN : 978-602-7820-06-7

Semangat kaum muslimin dalam beribadah –sebagai manifestasi penghambaan kepada Allah- selayaknya tidak berhenti pada ibadah ritual semata. Apalagi ketika menilik lebih jauh tentang tugas kekhalifahan manusia di muka bumi. Bahwa memakmurkan bumi dengan amal shalih untuk kepentingan seluruh umat manusia adalah bagian tak terpisahkan dari proses penghambaan diri itu.

Oleh karena tugas memakmurkan bumi itu, maka salah satu lahan dakwah yang harus diupayakan dengan sungguh-sungguh penguasaannya adalah masalah ekonomi. Hal ini teramat penting, mengingat ekonomi kita saat ini, tidak dikuasai oleh kaum muslimin. Padahal, jumlah kaum muslimin, baik di negeri ini maupun di dunia secara umum, adalah mayoritas.

Kita mungkin saja ingat, ketika Rasulullah pertama kali pergi hijrah ke Madinah, hal pertama yang Rasul dirikan setelah masjid adalah pasar. Jika mendirikan masjid dianggap sebagai sunnah dan banyak diteladani oleh kaum muslimin dimanapun mereka berada, tidak demikian dengan mendirikan pasar. Bahkan, bagi sebagian kaum muslimin, pasar masih menjadi barang tabu yang tidak layak didatangi oleh ‘orang-orang suci’ yang sibuk di masjid. Padahal, jika melihat sejarah awal hijrah, ketika mendirikan masjid menjadi sunnah nabi, maka mendirikan pasar juga berkedudukan demikian. Tentu, pasar harus didirikan, dikelola dan dikembangkan dengan semangat kenabian pula.

Dalam tahap ini, perlu adanya kajian mendalam tentang konsep Pasar Madinah yang didirikan Rasulullah dan semangat pantang menyerah untuk mendirikannya di negeri kaum muslimin dimanapun mereka berada. Sehingga, perlu diadakan penyadaran kepada kaum muslimin, bahwa pasar –dalam hal tertentu- tak beda dengan masjid. Harus dimasuki oleh kaum muslimin agar nilai-nilai Islam terejawantah di sana dengan baik.

Lantas, apakah ketika kaum muslimin sudah mendirikan pasar sesuai dengan konsep Pasar Madinah, maka masalah ekonomi umat Islam sudah terselesaikan? Ternyata mendirikan pasar, hanya langkah pertama untuk mewujudkan ekonomi berkeadilan berdasarkan semangat meneladani sang Nabi junjungan.

Setelah kaum muslimin memiliki pasar sendiri, masalah berikutnya ada pada ketersediaan komoditi yang akan dijual di pasar tersebut. Sudah menjadi lumrah, hampir semua komoditi, baik yang alami maupun buatan, semuanya belum dikuasai oleh kaum muslimin. Bahkan, sebagai negara agraris, kita dibuat miris dengan melambung tingginya komoditi pertanian, impor membabi-buta hingga belum sejahteranya petani-petani kita. Ini semcam tamsil, jika diibaratkan tikus, maka rakyat Indonesia mati di dalam lumbung padi. Beginilah adanya.

Sehingga, tahap berikutnya, kaum Muslimin harus terjun ke dalam sektor riil perekonomian. Mulai dari pertanian, peternakan, pertambangan dan seterusnya. Proses ini harus berlaku secara berkelanjutan agar ketahanan pangan kaum Muslimin dan dunia menjadi sesuatu nyata yang sangat mungkin untuk kita nikmati hingga anak cucu.

Proses ini, bukan isapan jempol, bukan pula kerja instan. Proses dan prosedur panjang harus dilalui. Mulai dari ketersediaan lahan, tenaga professional, konsep yang matang, modal yang tidak sedikit, dan banyak hal lainnya.

Sebelum itu semua, niat yang benar harus ditanamkan. Karena bukan sekedar penguasaan ekonomi yang diniatkan. Tetapi lebih dari itu, semua dikerjakan dengan niat beribadah kepada Allah.

Benarnya niat ini yang akan berujung pada penyandaran diri yang sangat kuat kepada Allah. Sehingga, ketika misalnya kaum Muslimin belum punya lahan, maka dia akan berdoa kepada Allah. Bukankah Allah penguasa semua lahan di dunia ini? Jika kemudian terkendala dengan modal, mereka akan meminta modal kepada Sang Pencipta. Bukankah Allah Maha Kaya? Bukankah Dia bisa memberikan sebanyak-banyaknya modal kepada seseorang jika Dia berkehendak?

Semangat inilah yang membuat kaum Muslimin selalu optimis. Meski sumber daya mereka terbatas. Tapi karena mereka merasa memiliki Allah Yang Tiada Batas, maka mereka terus bergerak dan belajar menyempurnakan diri dan karya.

Akhirnya, kaum muslimin dituntut untuk mengatasi kemiskinan yang setidaknya memiliki berbagai macam bahaya. Meliputi: kekufuran, buruknya karakter (mudah berbohong ketika mereka berhutang ), eksploitasi pemikirian oleh si kaya terhadap si miskin, dan mudahnya orang miskin terprovokasi isu negatif. Guna mengatasi kemiskinan tersebut, kaum muslimin dibekali dengan tujuh senjata. Yaitu, bekerja, tanggung jawab terhadap kerabat dekat, zakat, tanggung jawab para pemimpin, pemenuhan tanggung jawab tertentu (terhadap orang miskin, yatim, dan lain-lain), pelaksanaan ibadah tertentu (Qurban, Fidyah, dll.) dan sedekah. (hal 105-112). []


Penulis : Pirman
Penulis Antologi Surat Cinta Untuk Murobbi dan sejumlah buku lainnya
Penulis resensi di sejumlah media cetak
Facebook: usman.alfarisi.9

Tertarik beli buku Ekonomi Kita-kita ini?
silahkan hubungi 085773291640

Hanya 2 Menit Anda Bisa Tahu Potensi Rezeki Anda

Hanya 2 Menit Anda Bisa Tahu Potensi Rezeki Anda
Judul : Hanya 2 Menit Anda Bisa Tahu Potensi Rezeki Anda
Penulis : Ippho ’Right’ Santosa
Penerbit : Elex Media Komputindo - Jakarta
Cetakan : I ; 2012
Tebal : 109 Halaman
Harga : Rp 59.800,-
ISBN : 978-602-001-990-1


Hidup adalah upaya untuk menggapai kebahagiaan. Salah satunya dengan menjadi orang kaya. Memang, kaya tidak otomatis membuat seseorang bahagia. Kaya yang membahagiakan lebih pada adanya sikap yang benar terhadap harta yang dimiliki. Menjadi kaya –lebih lanjut- adalah upaya untuk meningkatkan kebermanfaatan diri bagi sesama. Karena yang paling baik diantara kita adalah yang paling bermanfaat untuk orang lain.

Sayangnya, menjadi kaya tidaklah mudah. Kekayaan negeri kita melimpah ruah. Namun, puluhan juta rakyat di negeri ini miskin. Tuna wisma merajalela. Anak terlantar dimana-mana. Pengemis menjamur. Pengamen menjadi kebanggaan. Rumah kumuh bisa kita dapati, dimanapun kita mau. Miris! Kita bagaikan tikus yang mati di dalam lumbung padi.

Menjadi kaya, seperti dituturkan oleh Ippho Santosa, adalah upaya untuk memberi kepada sesama. Kaya bukan terletak pada sebanyak apa harta yang kita kumpulkan, melainkan pada seberapa banyak distribusi kekayaan kita untuk orang lain.

Buku ini dimulai dengan membuka rahasia sukses Penulis. Perjalanan yang dilaluinya untuk menjadi sukses bukanlah hal yang mudah. Berawal dari bocah kecil yang gampang sakit, lanjut ke satu-satunya lelaki ‘banci’ yang tidak menyukai satupun jenis olah raga, menjadi penjual makanan ringan dan aneka komoditi lain yang harus dia jajakan hingga dini hari, hingga kemudian menjadi motivator, penulis mega best seller, dan pembicara seminar di berbagai negara dengan ribuan peserta. Sukses tersebut ia rumuskan dengan mengalikan antara Pembeda Abadi dengan Daya Ungkit dan Kesesuaian Momentum.

Selanjutnya, Penulis membedah rahasia sukses Donald Trump dan Robert Kiyosaki. Kedua pasangan ini merumuskan sukses dengan lima kiat. Kelima kiat tersebut adalah kekuatan karakter, kekuatan focus, kekuatan merek, kekuatan hubungan dan sentuhan kecil yang berdampak besar. Kelima kiat tersebut harus dikombinasikan dengan mimpi yang didukung visualisasi, vibrasi, agresif dan tahan banting. Tak heran, jika Donald Trump yang sempat bangkrut di tahun 90-an itu kini menduduki posisi 88 dari 400 daftar orang terkaya di dunia.

Di dalam buku setebal 109 halaman ini, kita juga akan diajak membedah rahasia sukses orang Jepang. Pertama, Keramahan. Meski sebagian besar masyarakat Jepang mempunyai jadwal yang padat, di sana banyak kita jumpai orang-orang yang menawarkan tempat duduknya ketika di angkutan umum kepada mereka yang lebih tua. Mereka juga saling melemparkan senyum kehangatan.
Kedua, Kejujuran. Di Tokyo, pencurian, penjambretan, dan perampokan nyaris tidak ada. Bahkan, ketika barang kita tertinggal di tempat umum dan baru kita ingat beberapa waktu kemudian, lalu kita mendatangi tempat tersebut, maka kita dapati barang kita masih di sana. Utuh.
Ketiga, Harga Diri. Ini merupakan sebuah sikap luar biasa yang tidak lagi banyak kita dapati di negeri ini. Mereka memaknai harga diri dengan sikap ulet dan pantang meminta-minta.

Yang tidak kalah menariknya, kita akan disuguhi rahasia sukses dari pengusaha nasional Chairul Tanjung yang kini menahkodai Trans Group. Ada juga Muhammad Yunus. Peraih nobel perdamaian pada tahun 2006 dari Bangladesh. Yang "hanya" dengan modal 17 dolar pada tahun 2003 bank yang didirikannya itu berhasil membantu 47.000 pengemis di negaranya.


Akhirnya, buku ini merupakan salah satu oase yang akan menyuntikkan semangat berkarya bagi seluruh aspek masyarakat di Negeri ini sehingga semakin bergelora dalam bekerja memakmurkan negeri. Sehingga Indonesia yang kita cintai, akan lebih bisa berbicara dalam kancah persaingan global. []


Penulis : Pirman
Penulis Antologi Surat Cinta Untuk Murobbi dan sejumlah buku lainnya
Penulis resensi di sejumlah media cetak
Facebook: usman.alfarisi.9

Tertarik beli buku Hanya 2 Menit Anda Bisa Tahu Potensi Rezeki Anda ini?
silahkan hubungi 085773291640

Berjalan di Atas Cahaya dan Meraih AmpunanNya

Judul buku : Berjalan Diatas Cahaya
Penulis : Hanum Salsabiela Rais, dkk
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama
Tebal Buku : 210 halaman
ISBN : 978-979-22-9359-3
Harga : Rp 60.000,-

Buku Berjalan Di Atas Cahaya merupakan buku yang ditulis oleh Hanum Salsabiela Rais, dkk. Berisi kumpulan kisah perjalanan Eropa yang akan membuat Anda semakin mengenal ampunan dan kasih sayang Allah melalui makhluk ciptaanNya. Terinspirasi dari kutipan surat cintaNya dalam QS Al-Hadid ayat 28 “ Dan Allah menjadikan untukmu cahaya yang dengan cahaya itu kamu dapat berjalan dan Dia mengampuni kamu dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang ”

Buku ini dipersembahkan khusus untuk mereka yang terus berjalan di atas cahaya. Sering kita temui seseorang dalam episode perjalanan hidup, namun kita menganggap orang itu tidak penting bagi hidup kita. Padahal sesungguhnya terdapat sesuatu yang kecil dan berharga, namun tersimpan dalam kisah yang mendalam dan mencerahkan pada cerita mereka.

Kisah tentang Bunda Ikoy, perempuan jam yang selalu berusaha membuktikan dirinya yang berjilbab sebagai agen muslimah yang baik, kisah tentang Nur Dann gadis keturunan Turki yang tetap berdakwah dengan profesinya sebagai Rapper, kisah tentang Glory yang sedang melakukan pencarian akan Tuhan, kisah tentang Anna Altman yang mengingatkan kita akan hari tua yang diliputi kelemahan, dan juga kisah mencerahkan lainnya yang ditulis oleh Tutie Amaliah dan Wardatul Ula dalam buku ini.

Buku ini sangat menarik! Cocok dibaca oleh siapa saja yang ingin merasakan Berjalan Di Atas Cahaya, ditutup dengan epilog yang sangat menyentuh dan menggetarkan jiwa. Hanum telah menulis bukan hanya karena panggilan jiwanya, namun ia juga telah mendapatkan petunjuk dariNya melalui sesorang yang ia temui ketika umroh untuk selalu menulis melalui Pena yang diberikan padanya.

Buku ini berhasil mengubah perspektif kita tentang setiap orang yang kita temui dalam hidup, bahwa mereka adalah malaikat-malaikat kecil yang dikirim Allah untuk kita, menjadi jembatan untuk memudahkan kita dalam mengarungi perjalanan hidup yang seharusnya rumit.

“Seru! Jalan-jalan ke Eropa dan dapat kisah inspiratif ‘hanya’ seharga buku ini. Beneran!” – testimoni dari K.H Yusuf Mansur

Penulis Resensi : Siti Haifa
sitihaifa_bcc[at]yahoo[dot]com

Air Mata Presiden Mursi

Judul : Air Mata Presiden Mursi
Penulis : AM Waskito
Penerbit : Pustaka Al Kautsar - Jakarta
Cetakan : I ; Juli 2013
Tebal : xiv + 138 Halaman ; 13,5 x 20,5 cm
ISBN : 978-979-592-640-5

Kudeta selalu menyisakan luka. Baik bagi rakyat umum, maupun bagi pihak yang dikudeta. Dalam rangakaian peristiwa itu, seringkali diiringi dengan kekerasan berdarah. Mulai dari pengasingan, intimidasi bahkan pembunuhan massal. Peristiwa perebutan kekuasaan ini, biasanya diawali dengan pembunuhan opini publik bahwa korban memang layak dikudeta.

Perisitiwa inilah yang terjadi di Mesir awal Juli lalu dan pernah juga dialami bangsa ini ketika Soeharto melakukan kudeta terhadap kepemimpinan Soekarno. Mirisnya, kudeta di Mesir ini terjadi pada abad 20. Ketika demokrasi diklaim sebagai sistem terbaik untuk tatanan dunia saat ini. Presiden Muhammad Mursi yang terpilih secara sah dalam pemilu terdemokratis sepanjang sejarah Mesir itu dilengserkan oleh militer pimpinan Jenderal Abdul Fatah as-Sisi. Kudeta ini bukan kehendak murni militer. Ada pesanan barat – AS, Israel, Uni Eropa, Emirat dan Saudi- sehingga kepemimpinan yang baru berjalan satu tahun ini harus digulingkan. (hal 3)

Diantara banyak pendapat tentang kudeta ini, sangat menarik sebuah ungkapan dari Manager Nasution yang merupakan salah satu angota Komnas HAM RI. Bahwa kudeta itu adalah kejahatan kemanusiaan, pengkhianatan demokrasi serta mengorbankan rakyat dan masa depan Mesir. ( Hal 51)

Pernyataan ini seakan terbukti setelah berlanjutnya aksi damai yang dilakukan oleh para pendukung Presiden Muhammad Mursi. Bukan saja di Mesir yang telah berlangsung lebih dari satu bulan. Melainkan juga dukungan yang terjadi di berbagai belahan dunia. Dimana pada aksi damai di Mesir itu, militer melakukan tindakan membabi buta. Sudah tiga kali militer melakukan pembantaian terhadap demonstran damai. Hingga saat ini, ada sekitar 500 orang yang harus meregang nyawa lantaran membela haknya itu.

Oleh karena beragamnya opini dan kompleksnya masalah inilah, kita dituntut untuk bersikap adil. Apalagi ketika melihat sejarah negeri ini. Bahwa Mesir adalah negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Sehingga secara historis, Indonesia berhutang budi kepada negeri para nabi itu.

Guna memberikan gambaran yang utuh tentang Kudeta 3 Juli 2013 ini, AM Waskito mengambil inisiatif untuk menulis buku Air Mata Presiden Mursi. Buku yang terbit beberapa pekan setelah kudeta ini membeirkan sebuah perspektif berimbang. Didalamnya disediakan data ilmiah dan analisis yang tajam. Beliau juga membedah sejumlah pemberitaan media massa nasional yang terkesan bermuka dua bahkan memperkeruh suasana.

Banyak sebab yang melatarbelakangi kudeta berdarah itu. Terkait isu ekonomi, banyak pakar yang berpendapat bahwa kepemimpinan Presiden Mursi gagal. Padahal, jika mau jujur, kepemimpinan ini baru berjalan satu tahun lebih tiga hari. Sangatlah tidak mungkin bagi seorang Presiden untuk memperbaiki kerusakan yang telah dilakukan selama 30 tahun dalam waktu satu tahun. (Hal 106)

Di sisi lain, ditemukan pula fakta bahwa awal mula kudeta terjadi lantaran Presiden yang merupakan kader Ikhwanul Muslimin ini menolak pinjaman sebesar 4.8 Milyar Dollar yang diberikan oleh IMF. Dengan alasan kemandirian, Sang Presiden mantap menolak pinjaman itu. Alhasil, pihak IMF dibantu Amerika dan Israel mengucurkan dana segar sebesar 1.3 Milyar Dollar kepada militer Mesir di bawah komando Jenderal as-Sisi. Dana itulah yang disinyalir sebagai mahar untuk melakukan kudeta. ( Hal 58 )

Dalam skala internasional, salah satu sebab dilakukannya kudeta ini adalah keberpihakan Mursi kepada Palestina dan Suriah. Palestina sejak tahun 1948 dijajah oleh Israel dan Suriah tengah mengalami pembantaian oleh Rezim Basyar Asad. Jika Presiden Mursi dibiarkan melenggang, maka tidak menutup kemungkinan bahwa Mesir akan menurunkan militernya untuk membantu Palestina dan Suriah.

Faktanya, tepat beberapa hari setelah Mursi dilantik, perbatasan Mesir dan Palestina langsung dibuka. Sehingga warga Palestina bisa keluar masuk Mesir tanpa pemeriksaan yang ketat. Dan tepat setelah kudeta terhadap Mursi, pintu perbatasan itu kembali ditutup. (Hal 63)

Pada akhirnya, kudeta dengan dalih apapun adalah tindakan yang menodai demokrasi. Apalagi, Barat sebagai promotor demokrasi seringkali bermuka dua. Ada agenda khusus yang mereka usung. Yang kita harapkan, tidak ada lagi darah yang tumpah. Apalagi, dalam demo damai pendukung Presiden Mursi yang sudah dilakukan lebih dari 30 hari di lapangan Rab Al Adawiyah ini telah menelan 500-an korban jiwa.

Aksi damai pendukung Presiden Mursi ini bukan klaim atau isapan jempol belaka. Karena majalah sekelas TIME pada edisi bulan Juli lalu mengeluarkan sebuah liputan dengan judul World’s Best Protesters. Julukan itu diberikan kepada demonnstran damai yang setia mendukung presidennya. Dengan jumlah massa jutaan, tidak ada tumpukan sampah di tempat aksi. Bahkan mereka melakukan seluruh aktivitas di medan aksi itu. Tanpa keributan, dengan pengaturan yang sangat baik. Mulai sholat tarawih, berbuka, sahur dan aktivitas sehari-hari lainnya. Kita berdoa, semoga keadilan segera tertegak di bumi ini. [Resensi ini juga dimuat di Koran Jakarta edisi 17 Agustus 2013, rubrik perada]



Penulis : Pirman
Penulis Antologi Surat Cinta Untuk Murobbi dan sejumlah buku lainnya
Penulis resensi di sejumlah media cetak
Facebook: usman.alfarisi.9

Tertarik beli buku Air Mata Presiden Mursi ini?
silahkan hubungi 085773291640

Kalau Bisa Mudah, Mengapa Dibuat Susah?

Judul : Kalau Bisa Mudah, Mengapa Dibuat Susah?
Penulis : Alwi Alatas
Penerbit : Pro-U Media - Yogyakarta
Cetakan : I,2013
Tebal : 298 Halaman ; 14 x 20 cm
ISBN : 978-602-7820-03-6

Kemudahan hidup adalah dambaan setiap manusia. Karena kemudahan adalah tabiat penciptaan manusia oleh Sang Maha Pencipta. Allah telah menciptakan manusia lengkap dengan seluruh sarana dan prasarana yang dibutuhkan. Tidak ada satupun kebutuhan manusia kecuali Allah telah menciptakan pemenuhannya. Ini adalah nikmat. Sayangnya, kemudahan yang Dia berikan seringkali disalahmaknai sehingga berubah menjadi kesusahan.

Sebagaimana laki-laki yang diciptakan dengan perempuan sebagai pasangannya, begitupun dengan kemudahan. Sehingga kesusahan menjadi sebuah kepastian. Yang perlu dicatat, kesusahan selalu dihadirkan bersamaan dengan dua kemudahan. Kesusahan juga mempunyai maksud mulia di belakangnya. Ia diciptakan oleh Allah untuk mengetahui kualitas penghambaan kita kepadaNya.

Jika mau membuka mata hati, sesungguhnya kemudahan hidup ada di sekitar kita. Bentuknya banyak, cara menggapainya pun sederhana. Apalagi ketika kita dibungkus dengan sebuah identitas kesucian : Islam. Maka secara otomatis, Islam yang diiringi iman akan mengantarkan kita pada kemudahan di dunia dan kebahagiaan di akhirat.

Satu diantara bentuk kemudahan itu adalah senyum. Aktivitas menyehatkan yang bernilai sedekah ini merupakan salah satu ciri kebahagiaan seorang hamba. Orang yang bahagia dan merasakan kemudahan dalam hidupnya akan banyak tersenyum, sedangkan orang yang merasa susah dan dan banyak masalah, wajahnya akan terlihat murung. Saat mendapati wajah seseorang dalam keadaan suram dan sedih, bisa ditebak bahwa ia tengah merasakan kesusahan dalam hidupnya. (Hal 53)

Sederhana juga menjadi ciri khas kemudahan. Sederhana adalah melakukan sesuatu sesuai dengan kadarnya. Tidak berlebihan juga tidak meremehkan. Sikap inilah yang membuat mental seseorang stabil karena bersikap ala kadarnya. Tidak dibuat-buat. Perbuatan mereka mengalir, tanpa perlu aneka macam jenis kepura-puraan yang tidak perlu.

Suka memberi hadiah juga menjadi salah satu kuncinya. Dimana Nabi sudah mencontohkan bahwa memberi hadiah bisa membuat seseorang saling mencintai. Dalam buku yang best seller di Malaysia ini, penulis dengan cerdas mengangkat sebuah cerita berkesan tentang suami romantis.

Suami pekerja keras itu selalu membawa buah tangan setiap kali pulang kerja. Apapun. Suatu malam, ia pulang larut. Karena ada deadline. Ia pun tidak menjumpai kedai penjual ole-ole atau makanan yang masih menjajakan dagangannya.

Tak kehabisan akal, ia teringat kalau di depan rumahnya ada pohon mawar yang sudah berbunga. Maka dengan senyum, ia melangkahkan kaki menghampirinya. Setelah dipetik dengan sempurna, ia melangkah menuju rahang pintu. Diketuklah pintu itu sepelan mungkin.
Tak berselang lama, keluarlah Sang Permaisuri hatinya. Sesaat setelah salam dijawab, diulurkanlah bunga hasil petikannya. Dengan lembut, Sang Pangeran berkata, “Maaf, Dik. Saya kemalaman. Di luar sudah tidak ada orang berjualan. Jadi oleh-olenya bunga ini saja ya.”
Yang diberi setangkai mawar tersenyum. Tersipu malu.

Keesokan harinya, ia kembali terlambat. Diputarlah otak. Apa yang akan dihadiahkan untuk istri yang setia mendampinginya sepanjang hidup itu. Dalam jenak, dilihatlah batu kecil di dekatnya berdiri. Diambil. Lalu dicuci. Setelah mengetuk pintu, sang istri membuka dengan senyum yang meneduhkan.

Suara sang suami baik hati itu kemudian memecah keheningan, “Dik, di luar sudah tidak ada penjual ole-ole. Mawarnya juga belum mekar. Ini abang cuma bawain batu.”
Sang istri bertanya bingung, “Batu? Untuk apa, Bang?”
Dengan tetap mengulum senyum, Sang Suami berujar lirih, “Untuk menggosok badan ketika mandi.”

Begitulah. Kemudahan itu ada di sekitar kita. Ia akan mengantarkan kita pada kebahagiaan di dunia dan keselamatan di akhirat. Tapi harus diingat. Ia harus dijalankan dalam rel undang-undang langit yang termaktub dalam al-Aqur’an dan Sunnah.

Buku ini menyajikan sebuah perspektif lain dalam menyikapi hidup. Sajian yang mengalir, runut dan berdasarkan fakta membuat buku ini mempunyai nilai lebih. Sehingga sangat sayang jika terlewatkan dari daftar baca dan koleksi pembaca sekalian.

Jika Parlindungan Marpaung berhasil menulis Setengah Isi Setengah Kosong menjadi best seller nasional, insya Allah buku ini pun akan bernasib serupa. Apalagi, di dalamnya banyak terdapat cerita-cerita islami yang wajib kita ketahui dan kita ambil hikmahnya dalam menjalani kehidupan yang makin ganas ini.



Penulis : Pirman
Penulis Antologi Surat Cinta Untuk Murobbi dan sejumlah buku lainnya
Penulis resensi di sejumlah media cetak
Facebook: usman.alfarisi.9

Tertarik beli buku Kalau Bisa Mudah, Mengapa Dibuat Susah? ini?
silahkan hubungi 085773291640

Kupilih Engkau Karena Allah

Judul : Kupilih Engkau Karena Allah
Penulis : Jauhar al-Zanki
Penerbit : Pro-U Media - Yogyakarta
Cetakan : I ; Februari 2013
Ukuran : 221 Halaman ; 12 x 20 cm
Harga : Rp 32.000,-

Bagi seorang muslim, apalagi aktivis dakwah, menikah bukan sekedar tertautnya dua fisik dan keluarga. Bagi mereka, menikah adalah pertautan antara ideologi dan cita-cita. Menikah adalah bagian tak terpisahkan dari proses penghambaan diri kepada Allah. Ia merupakan ibadah unggulan yang tidak boleh dilakukan secara sembarangan. Ada banyak hal yang dijadikan pertimbangan. Dan pertimbangan itu, bukan mempersulit melainkan mempermudah. Bukan pula untuk berlama tanpa sebab, tetapi menyegerakan setelah siap.

Tercapainya visi suci pernikahan berupa terlahirnya generasi yang memberatkan bumi dengan kalimat tauhid, sangat erat kaitannya dengan proses memilih pasangan. Baik oleh laki-laki maupun perempuan. Dalam hal memilih, Islam memberikan kemudahan. Bahwa memilih tidak hanya dilakukan oleh laki-laki saja. Dalam Islam, perempuan diberikan hak pula untuk memilih. Tentu, dengan cara ahsan yang sudah diatur dan dicontohkan dengan baik oleh generasi awal agama ini. Sebut saja Ummu Khadijah yang mengajukan dirinya untuk Rasululah Yang Mulia. Seperti halnya laki-laki, wanita yang mengajukan diri dengan keyakinan penuh, adalah satu dari sekian banyaknya wujud keshalihan dan keinginan untuk menjaga diri dari dosa.

Terkait pilihan terhadap calon jodoh, Rasulullah sudah jauh-jauh hari memberikan guidenya, “Wanita dinikahi karena empat perkara : hartanya, keturunannya, kecantikannya dan agamanya. Maka pilihlah karena agama, niscaya kalian akan beruntung.” Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim ini merupakan panduan yang tidak bisa ditwar lagi. (Hal 20)

Artinya, sebagai konsekuensi atas kemusliman kita, maka dalam memilih calon pasangan, yang dijadikan acuan utama adalah agamanya. Bukan sekedar kaya, darah biru ataupun cantik. Sehingga, memilih yang cantik, kaya ataupun keturunan ningrat bukanlah larangan. Tapi kesemuanya itu, harus didahuli dengan kata shalih atau shalihah (bagus agamanya). Maka, ketika pilihan dijatuhkan kepada mereka yang baik secara agamanya, disertai embel-embel duniawi lainnya, niscaya kita akan beruntung.

Diantara beberapa hal yang harus diperhatikan sebagai syarat keshalihan seseorang yang akan kita pilih adalah, selaras dan seimbang, pandai memelihara diri, santun perangainya, bisa menjaga rahasia, cermat dan bersahaja, menerima apa adanya, gampang dipinang, bibit unggul, taat dan bersahabat, bukan pencemburu buta, suka menyambung kekerabatan, menyayangi anak kecil dan mantap jiwanya. (Bab II)

Setelah pertimbangan-pertimbangan tersebut sudah dibicarakan dengan perantara, baik itu sahabat, guru, ustadz maupun orang tua, maka Islam membolehkan seorang peminang untuk melihat calon yang akan dipinangnya.

Melihat dalam makna lahir dan batin. Lagi-lagi, dalam hal ini Islam memberikan aturan yang jelas. Melihat calon diperbolehkan agar peminang semakin mantap terhadap calon pasangan hidupnya itu. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah, “Jika salah seorang diantara kalian meminang seorang wanita, maka tak ada dosa baginya untuk melihatnya jika maksudnya ingin benar-benar meminangnya, meskipun wanita itu tidak mengetahui (bahwa dirinya sedang dilihat). (HR Ahmad dan Thahawi) (Hal 97)

Melihat calon juga dianjurkan agar tidak terjadi penyesalan setelah pernikahan. Karena hal ini pernah terjadi di zaman nabi. Ada Sahabiyah yang menikah dengan seorang Sahabat. Memang, akhlak Sahabat tersebut sangatlah baik. Namun sebagai manusia, masalah fisik tidak bisa diabaikan begitu saja. Sehingga selepas nikah, Sahabiyah itu minta ijin kepada nabi agar diceraikan oleh suaminya lantaran fisik suami yang tidak seperti dalam bayangannya. Bahkan, dalam riwayat tersebut dikatakan, “Jika saja dia bukan suamiku, aku akan meludahinya ketika melihat wajahnya.” Sahabiyah itu mohon ijin cerai karena takut tidak taat kepada suaminya.

Hal berikutnya yang tidak boleh dilupakan oleh calon peminang adalah mengadukannya kepada Allah. Bahwa di atas semua pertimbangannya, ada Allah yang Maha Kuasa. Hendaklah pernikahan itu disandarkan kepada Dzat yang memerintahkannya. Sehingga, ketika terjadi riak dan gelombang di kemudian hari, pasangan tersebut bisa kembali minta tolong kepada Allah yang telah mempersatukan mereka.

Di luar itu semua, masing-masing muslim memang harus mempersiapkan diri dan berusaha sekuat mampunya. Terkait hasil –menikah kapan dengan siapa- itu adalah hak prerogatif Allah. Manusia hanya pelaku, bukan penentu hasil. Maka ketika belum mendapatkan apa yang diharapkan, bisa jadi, Allah menginginkan agar seseorang berusaha lebih keras lagi, lebih cerdas lagi.

Kesiapan masing-masing individu juga tak bisa dikesampingkan. Mulai dari persiapan ilmu sebagai panduan perjalanan, mental sebagai bekal, fisik sebagai sarana, ekonomi sebagai penunjang kebahagiaan dan persiapan sosial dalam rangka bermasyarakat selepas nikah. (Hal 160-168)

Dengan sajian yang mengalir, santun dan lembut ini, Jauhar al-Zanki mengajak para calon pengantin untuk sungguh-sungguh dalam proses mempersiapkan diri sebelum mengambil keputusan besar bernama pernikahan. Dengan lugas, penulis menyajikan analisis yang berimbang, dengan panduan kisah-kisah yang terjadi di zaman nabi. Sangat sayang dilewatkan bagi mereka yang hendak menikah, maupun bagi orang tua yang akan memilihkan jodoh untuk anak-anaknya.[]



Penulis : Pirman
Penulis Antologi Surat Cinta Untuk Murobbi dan sejumlah buku lainnya
Penulis resensi di sejumlah media cetak
Facebook: usman.alfarisi.9

Dalam Dekapan Ramadhan

Judul : Dalam Dekapan Ramadhan
Penulis : Saief Alemdar
Penerbit : Elex Media Komputindo - Jakarta
Cetakan : I ; Juni 2013
Tebal : 161 Halaman
ISBN : 978-602-02-1477-1


Satu diantara banyaknya tanda Sayangnya Allah kepada hambaNya adalah diturunkannya bulan Ramadhan untuk umat Muhammad. Bulan ke Sembilan dalam kalender hijriyah ini, dalam sebuah hadits riwayat Thabrani, disebut sebagai bulan terbaik. Sebagaimana Jum’at sebagai hari terbaik diantara hari yang lain.

Tentu, kemulian ini bukan bermaksud mendiskreditkan bulan lain. Melainkan sebuah penekanan agar aktivitas sepanjang detik di bulan itu, harus selalu diisi dengan amal-amal kebaikan yang disunnahkan. Dengan kuantitas sebanyak mungkin, dengan kualitas terbaik.

Sayangnya, meskipun banyak riwayat dan ayat yang menjelaskan tentang mulianya bulan ini, banyak diantara kaum muslimin yang salah faham. Bahkan, ada diantara mereka yang tidak mau memahami dengan seksama karakter bulan ini.

Banyak diantara kaum muslimin yang hanya menyambut Ramadhan dengan timbunan makanan enak untuk berbuka dan sahur, hiburan penuh canda tawa tak bermakna, jalan-jalan di pusat-pusat perbelanjaan ataupun pusat keramaian, sampai ‘nongkrong’ berjam-jam menunggu adzan berkumandang, tanpa aktivitas bermakna. Jangankan untuk akhirat, bermanfaat dalam kehidupanpun tidak.

Ketika Ramadhan hamper usai, kaum muslimin kembali disibukkan dengan tunjangan hari raya, belanja pakaian baru dan membuat aneka macam kue dan jenis makanan. Alhasil, sajian ruhani paling bergizi dalam setahun itu hanya dimaknai secara fisik. Tanpa ruh. Tanpa makna.

Untuk menggapai keberkahan Ramadhan yang tinggal separuh ini, perlu kita tinjau ulang niat kita. Yang harus dilakukan pertama kali adalah bertanya pada diri. Apakah Ramadhan adalah tuan rumah atau tamu agung yang kita nanti kedatangannya?

Jika Ramadhan adalah tuan rumah, maka sebagai tamu yang baik, kita haruslah mengikuti aturan main yang diberikan oleh tuan rumah. Tidak boleh asal. Apalagi melakukan kegiatan-kegiatan yang tidak disukai oleh tuan rumah tempat kita bertamu. Sementara ketika kita menganggap Ramadhan sebagai tamu, sudah selayaknya kita menyambut tamu dengan standar kemuliaan tamu tersebut. Sebagaimana ketika ada Presiden yang hendak mampir ke rumah kita, maka kita korbankan semua yang potensi dan harta untuk menyambut kedatangan sang Presiden. Maka sejatinya, mempersiapkan sambutan terbaik, lebih layak kita berikan kepada Ramadhan dibanding kepada Presiden negeri manapun yang bertamu ke rumah kita. (Hal 12)

Setelah memahami posisi bulan kemualiaan itu, yang tak kalah pentingnya adalah memahami teks al-Qur’an, hadits dan atsar para sahabat nabi tentang Bulan Suci ini. Al-Qur’an menyebutkan bahwa puasa di bulan mulia ini bermaksud untuk mendidik kaum muslimin menjadi orang yang bertaqwa, orang yang bersyukur dan orang yang senantiasa berada dalam kebaikan.

Dalam hadits disebutkan bahwa Ramadhan adalah bulan terbaik. Jika umat islam tahu betapa agungnya bulan ini, maka mereka akan berharap agar sepanjang tahun adalah Ramadhan. Pada bulan itu, pintu surga dibuka dan pintu neraka ditutup. Puasa dan sholat malam di dalamnya, jika dilakukan dengan iman dan ihtisaban, akan menjadi sarana penghapus dosa. Dan yang paling utama, pada bulan itu terdapat Lailatul Qadr. Yaitu malam yang lebih baik dari seribu bulan. (Hal 15-16)

Ramadhan adalah bulan cetakan sejarah. Banyak peristiwa monumental yang dicapai oleh kaum muslimin justru ketika mereka tengah berada dalam lapar dan haus. Mulai dari Perang Badar, Fathu Makkah, Penghancuran berhala di ka’bah oleh Khalid bin walid, Perang Qadisia melawan Romawi, Perang Zallaqa melawan Eropa, dan aneka jenis peperangan lain yang hampir semuanya dimenangkan kaum Muslimin. Termasuk Perang Arab melawan Zionis pada tahun 1393 Hijriyah yang berakhir dengan perjanjian Camp David.

Perang bukanlah produk Islam. Ia hanya sebuah mekanisme pembelaan terhadap diri dan agama. Sehingga suka maupun tidak, hal tersebut haruslah dilakukan. Karena dalam hal tersebut, ada banyak kebaikan yang hendak Allah berikan.

Maka, ketika tidak terjadi peperangan fisik, kaum muslimin harus tetap berperang melawan nafsu jahat yang ada dalam diri. Di sinilah bermulanya semuanya keajaiban-keajaiban yang Allah berikan kepada kaum muslimin. Bahwa kemenangan terhadap musuh, hanya bisa diperoleh ketika kaum muslimin berhasil mengalahkan nafsu yang bersemayam dalam dirinya.

Penundukan hawa nafsu inilah yang harusnya berujung pada perubahan kaum muslimin menjadi umat terbaik. Karena perubahan yang Allah gariskan, tidak akan terjadi selama kaum tersebut tidak merubah dirinya. Bulan Puasa seharusnya membuat kita lebih semangat berkarya dan membuat perubahan dalam hidup. Karena apapun yang dilakukan oleh orang yang berpuasa akan menjadi ibadah. Bahkan, tidur sekalipun termasuk ibadah. Meskipun lebih baik tidak hanya tidur saat berpuasa. (Hal 23)

Akhirnya, buku yang ditulis oleh lajang asal Tanah Rencong ini mengajak kita untuk menapaki Ramadhan dengan beragam amal shalih –Tilawah al-Qur’an, sedekah, dzikir, menjaga lisan, Qiyamullail, dst. Diawali dengan renungan-renungan dahsyat tentang Ramadhan, buku ini semakin menarik karena dilengkapi dengan fikih puasa yang wajib kita ketahui. Di dalamnya juga dibahas beragam pertanyaan yang sering terulang di bulan suci ini.

Yang tak kalah menarik, pada akhir buku disajikan peran zakat dalam memakmurkan sebuah komunitas maupun bangsa. Mulai dari zakat harta sampai zakat fitrah. Lebih khusus, zakat fitrah adalah ‘ramuan’ mujarab yang Allah perintahkan untuk menyempurnakan puasa yang kita kerjakan sebulan penuh.

Penulis yang tengah menimba ilmu di Damaskus ini seakan mengajak kita agar berada dalam dekap mesra Ramadhan. Beliau menuturkan halus dengan bahasa hikmah, “Ramadhan adalah bulan pengisian bahan bakar ruhani agar kita bisa melaju kencang dengan selamat menuju Allah dalam sebelas bulan setelahnya. Hingga kita bertemu Ramadhan di tahun beirkutnya. Atau kita mati selepas Ramadhan yang kita optimalkan di tahun ini.”



Penulis : Pirman
Penulis Antologi Surat Cinta Untuk Murobbi dan sejumlah buku lainnya
Penulis resensi di sejumlah media cetak

Tarbiyah Jihadiyah II

Judul Asli : Fi At-Tarbiyah Al-Jihadiyah wal Bina’
Judul Indonesia : Tarbiyah Jihadiyah (Buku kedua, jilid 7-11)
Penulis : Dr Abdullah Azzam
Penerjemah : Abdurrahman al-Qudsi
Penerbit : Jazera – Solo
Cetakan : I ; Mei 2013 / Rajab 1434 H
Ukuran : 736 Halaman ; 24 cm
Harga : Rp 120.000,-

Jihad sebagai tingkatan tertinggi dalam Islam seringkali disalahmaknai oleh kaum muslimin maupun kaum diluar mereka. Salah faham tentang Jihad ini bisa berdampak pada tindakan anarkisme maupun meremehekan syari’at mulia itu. Umat Islam harus memahami makna Jihad yang sebenarnya.

DR Abdullah Azzam, Sang Maestro Jihad dalam kitabnya Tarbiyah Jihadiyah mendefinisikan Jihad sebagai, “Memerangi orang–orang kafir dengan senjata sampai mereka taslim (memeluk agama Islam) atau membayar jizyah dengan rasa patuh sedang mereka dalam keadaan hina.” Doktor bidang Syari’ah lulusan Universitas al-Azhar ini mengatakan bahwa pengertian tersebut, telah disepakati oleh semua fuqaha’. Tentu, dalam memerangi kaum kafir ini terdapat banyak aturan yang sangat ketat. Sehingga, tidak semua orang kafir boleh diperangi.

Jihad secara bahasa bermakna bersungguh-sungguh. Namun sebuah amal bisa disebut Jihad jika dan hanya jika terkandung amalan sebagaimana kesepakatan fuqaha’ di atas. Hal ini bisa dianalogikan dengan Shalat. Shalat bermakna doa. Namun tidak semua orang yang berdoa bisa disebut sedang mendirikan shalat. Begitupun dengan Jihad. Tidak semua orang yang melakukan amal dengan sungguh-sungguh, bisa serta merta disebut sebagai Mujahid.

Jihad diatur dengan sangat ketat oleh Allah dan RasulNya. Hal ini agar Islam yang suci tidak salah diamalkan oleh pelakunya. Sehingga syari’at langit yang sangat mulia itu tetap terjaga dari tangan-tangan kotor musuh-musuh Islam. Oleh karena hal itu pula, Dr Abdullah Azzam yang terlibat langsung dalam Jihad Afghan menulis sebuah risalah bertajuk Tarbiyah Jihadiyah ini.

Di dalam buku kedua dari tiga seri Tarbiyah Jihadiyah ini, diterangjelaskan tentang sifat-sifat yang harus difahami dan dipraktekan oleh kaum muslimin ketika mereka tengah berada di medan Jihad. Pun, dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Di dalam buku ini tidak terdapat tentang aneka strategi perang maupun jenis-jenis alat peperangan fisik lainnya. Tidak pula terdapat gambar Bambu Runcing, Batu, Pedang, Senapan, AK47, Tank Perang, Granat, Peluru, Roket dan sejenisnya. Buku setebal 732 halaman ini hanya menjelaskan akhlak-akhlak yang harus dimiliki oleh kaum muslimin, khususnya mujahidin yang telah mewakafkan waktu, harta dan dirinya di jalan Jihad. Buku cetakan bulan Mei 2013 ini memuat 5 jilid dalam satu buku. Mulai dari jilid 7 hingga 11.

Hanya dengan Jihad, Islam akan terejawantahkan kemuliaannya. Jihad yang mulia itu, hanya bisa dilakukan oleh mereka yang besar pengharapannya terhadap Allah. Oleh mereka yang menjadikan Allah sebagai satu-satunya tujuan. Sehingga berkorban untukNya, lebih dicintai dari dunia dan seisinya.

Mujahid yang berani ‘meninggalkan’ dunianya, adalah mereka yang mempunyai semangat baja dalam menyongsong surga. Bahkan, mereka dengan senang hati memberikan nyawa satu-satunya yang Allah titipkan itu. Bagi mereka, mati itu bisa terjadi dimana saja : di kamar tidur, jalan raya, medan jihad maupun tempat lainnya. Maka dengan semangat yang benar, mereka lebih memilih medan Jihad untuk menyetorkan nyawanya.

Mujahid bukan preman. Bukan pula teroris yang asal menembakkan peluru atau meledakkan bom. Mereka mempunyai perhitungan yang sangat cermat. Mereka juga sangat memahami aturan-aturan Jihad yang sudah Allah gariskan secara jelas dalam al-Qur’an dan Sunnah. Diantara Adab Jihad tersebut adalah : Dalam rangka fii sabilillah, Taat kepada pemimpin, Berlaku baik terhadap kawan, Memudahkan teman dan Menjauhi kerusakan. ( Hal 71-75)

Kelima adab ini dijelaskan dalam banyak hal. Termasuk larangan menebang pepohonan, mencemari sumber air, larangan membunuh anak kecil dan wanita serta orang jompo. Terkait akhlak terhadap teman, diantaranya adalah setia kawan, mendahulukan sahabatnya dalam urusan dunia, larangan ghibah, saling menasehati, sabar dalam berbagai jenisnya.

Seorang Mujahid juga harus mempunyai mental membina generasi. Ia bukan hanya berjihad seorang diri dan hanya dengan senjata. Melainkan berupaya sekuat tenaga untuk melakukan kerja-kerja amal sholih untuk memakmurkan bumi dengan kalimat Allah. Membina masyarakat, dermawan terhadap sesama, berani karena benar, dan menjadi teladan dimanapun mereka berada.

Mujahid adalah sosok yang selalu memanfaatkan kesempatan untuk melakukan amal ssolih. Apalagi di waktu waktu istimewa. Terlebih ketika waktu mulia itu Allah turunkan dalam bentuk bulan Penuh Cinta, Ramadhan. Mereka sangat menyadari sebuah hadits riwayat Mutafaq ‘Alaih, “Barangsiapa berpuasa sehari di jalan Allah, Allah akan menjauhkan antara dia dengan neraka sejauh tujuh puluh tahun perjalanan.” Atau seperti yang diriwayatkan oleh Imam Tirmidzi dalam al-Misykat (2064), “Barangsiapa yang berpuasa sehari di jalan Allah, Allah akan menjadikan dia dengan neraka sebuah parit yang lebarnya sebagaimana jarak antara langit dan bumi.” (Hal 713)

Mereka akan menggunakan setiap jenak untuk beramal sholih, khususnya sholat dan Tilawah al-Qur’an. Sebagaimana Imam Syafi’i yang mengkhatamkan al-Qur’an sebanyak 60 kali dalam sebulan. Ketika I’tikaf, mereka mengkhatamkan al-Qur’an sekali dalam semalam. Begitupun ketika mereka berada dalam medan Jihad. Tiada sedetikpun yang mereka lewati kecuali dengan tilawah, muroja’ah dan dzikrullah. Sebagaimana disampaikan oleh Ustadz Abu Hasan an-Nadwi, “Saya sempat hidup bersama syeikh-syeikh saya. Ketika bulan Ramadhan datang, sebagian dari mereka tidak mau berbicara (yang tidak penting). Karena bulan tersebut adalah bulan untuk beribadah, membaca al-Qur’an, dan shalat malam. Jika ada seseorang yang mengajaknya berbicara, dia hanya menjawab dengan sepatah dua patah kata. Dia sangat kikir sekali dengan waktu yang dimilikinya, dan takut kehilangan pahala.” (Hal 712)

Mujahid juga mempunyai jadwal yang terstuktur di bulan Barokah ini. Mereka menyusun agenda berdasarkan waktu sholat (Hal 722-723). Senantiasa menjaga shalat berjama’ah di Masjid, menunggu waktu shalat dengan memperbanyak istighfar, tidur lebih awal agar bisa bangun sahur dan qiyamullail, membaca, menghafal dan mentadabburi al Qur’an, senantiasa menjaga waktu dengan amal shalih, memperbanyak berdoa di waktu sahur, membaca buku-buku tsaqofah dan amal shalih lainnya.

Akhirnya, buku ini perlu dikaji ulang diberbagai Majlis Ta’lim. Agar Jihad tidak disalahmaknai, agar tidak ada lagi malpraktik Jihad. Khususnya di Negeri yang kita cintai ini, dan di seluruh penjuru bumi. []


Penulis : Pirman
Penulis Antologi Surat Cinta Untuk Murobbi dan sejumlah buku lainnya
Penulis resensi di sejumlah media cetak

Menikah Memuliakan Sunnah

Judul : Menikah Memuliakan Sunnah
Penulis : Mohammad Fauzil Adhim, Salim A. Fillah, dkk
Penerbit : Proumedia - Yogyakarta
Cetakan : I ; 2013
Tebal : 184 Halaman

Dalam ajaran Islam, Pernikahan merupakan tema sentral yang tidak bisa ditawar. Bahkan, al-Qur’an menyebut ikatan pernikahan dengan istilah Mitsaqon Gholidhoh- perjanjian yang berat. Dimana istilah itu hanya dipakai tiga kali. Ketika membahas nikah, ketika membahas perjanjian dengan para Nabi dan ketika Allah menyuruh Bani Israil bersumpah.

Oleh karena pentingnya masalah nikah ini, Proumedia mengambil posisi yang tepat dalam menyosialisasikan Pernikahan Islami. Penerbit asal Kota Pelajar ini sejak awal berdirinya selalu menyajikan tema tersebut dari berbagai pakar dan praktisi. Sebut saja buku 184 halaman berjudul Menikah Memuliakan Sunnah.

Ada dua kelebihan utama buku ini. Pertama, merupakan buku antologi pertama Proumedia dengan tema pernikahan. Di dalamnya berkumpul penulis-penulis best seller yang telah malang melintang di dunia perbukuan. Ada M Fauzil Adhim, Salim A. Fillah, Sholikhin Abu Izzuddin, Rh Fitradi, Jauhar al-Zanki, Muhamin Iqbal, dll. Kedua, seluruh royalti buku ini diinfaqkan untuk saudara-saudara kita di Palestina. Sehingga ketika membeli, disamping mendapat jutaan ilmu yang barokah, secara otomatis pembaca telah menyumbangkan saham jihad di bumi para nabi itu.

Buku ini dibuka oleh CEO Proumedia yang juga relawan Sahabat al-Aqsha, M Fanni Rahman. Dengan haru biru, beliau menceritakan pengalamannya ketika menghadiri pernikahan massal yang diinisiasi oleh Hamas. Disusul dengan khutbah nikah oleh M fauzil Adhim. Beliau menceritakan tentang suci dan kokohnya ikatan pernikahan sehingga harus disiapkan dan dijalani dengan baik. Selain menjelaskan makna Mitsaqon Gholidhoh, beliau menggaris bawahi tentang dua hal : pentingnya meluruskan niat dan memperbanyak ilmu sebelum, ketika dan setelah menikah.

Barokah dan tidaknya sebuah ikatan pernikahan, erat kaitannya dengan pilihan yang diambil ketika memutuskan untuk menikah. Dalam pembahasan berikutnya, Salim A. Fillah membahas tentang sholat istikharoh dilanjutkan dengan meminta pendapat kepada orang tua, ustadz dan orang-orang bijak terkait pilihannya tersebut.

Selanjutnya, dr. Egha Zainur Ramadhani membincang segundang manfaat nikah berdasarkan riset kesehatan terkini. Beliau menjelaskan, “Orang yang sudah menikah cenderung mudah bersikap dewasa; mengurangi gaya hidup beresiko, seperti kebiasaan tak sehat dan hobi yang terlalu ekstrem.” (Hal 80).

Buku ini semakin lengkap dengan turun tangannya Muhaimin Iqbal. Pendiri Gerai Dinar yang telah menjalani pernikahan selama 25 tahun. Beliau membeberkan kiat rumah tangga bahagianya dengan Tujuh Bukan : Suasana bukan benda, berbagi bukan memberi, kini bukan nanti, win-win bukan menang-menangan, ke depan bukan ke belakang, dibuang bukan dipendam dan usaha bukan hasil.

Dalam rumah tangga, kebosanan kerap terjadi karena berbagai macam faktor. Bahagia yang diimpikan sejak sebelum nikah pun seakan nihil. Di sinilah, ujian pernikahan dimulai. Maka, bijaklah apa yang dituturkan oleh Rh Fitriadi dalam buku ini. Beliau bertutur tentang pengalaman berumah tangganya terkait bagaimana mencapai bahagia. Beliau menjelaskan bahagia dengan berbagi, memberikan perhatian penuh kepada pasangan.

Masih banyak ilmu lain yang bisa didapatkan dalam buku ini. Semoga buku ini menjadi sebuah ‘guide’ yang bisa membimbing kaum muslimin untuk memuliakan sunnah dengan menikah. Selamat membaca.[]

*Tulisan ini telah dimuat di Majalah Dakwah Al-Intima’ Edisi 041 Rubrik ‘Alamul Kitab Halaman 14


Penulis : Pirman
Penulis Antologi Surat Cinta Untuk Murobbi dan sejumlah buku lainnya
Penulis resensi di sejumlah media cetak

Cerdas Mengelola Keuangan Keluarga

Judul Buku : Cerdas Mengelola Keuangan Keluarga
Penulis : Dra. Sulistianingsih M.Si.
Penerbit : Pro-U Media – Yogyakarta
Tebal : 180 halaman ; 14 x 20 cm
ISBN : 979-1273-278
Cetakan Ke-2 : April 2012

Dalam Islam, kebahagiaan sebuah keluarga dilukiskan dalam tiga kata, sakinah, mawaddah dan rahmah. Konsep kebahagiaan ini meliputi kebahagiaan fisik, fikir dan juga ruh. Ketiga hal ini harus berjalan seimbang agar mendapat bahagia yang sempurna. Ketiadaan salah satunya, bisa mengakibatkan sebuah keluarga berantakan bahkan berujung pada perceraian.

Untuk menggapai kebahagaiaan ini setiap keluarga harus memiliki ilmu yang cukup. Karena bahagia dalam keluarga bukan bonus yang turun begitu saja dari langit. Melainkan hasil perjuangan maha dahsyat yang tak kenal ujung. Harus ada kesusungguhan dalam mewujudkannya.

Diantara hal yang sangat penting dalam menyusun bangunan kebahagiaan sebuah rumah tangga adalah kecerdasan dalam mengatur keuangan. Hal ini tidak bisa dipandang sebelah mata. Karena hampir seluruh aktivitas dalam kehidupan membutuhkan andil uang di dalamnya. Yang perlu dicatat, keberhasilan pengaturan keuangan tidak berhubungan dengan besarnya jumlah penghasilan. Melainkan lebih pada pengoptimalan rejeki yang sudah Allah atur pembagiannya dengan sangat baik.

Hal pertama yang harus difahami adalah kriteria suami dan istri yang baik. Karena kebahagiaan disusun sejak awal dengan pondasi yang tepat. Suami yang baik sedikitnya memiliki tiga kriteria, berperilaku yang baik, sanggup mendidik istri dan anak-anak, dan mampu memberi nafkah untuk keluarga. Sedangkan istri yang baik haruslah memiliki sifat amanah dalam menunaikan kewajiban terhadap suami dan anak-anak, menjaga rahasia suami dan selalu minta izin kepadanya, serta menjaga kehormatan diri dan harta suami. (Hal 20 – 36)

Setelah memahami kewajiban dan hak masing-masing, sebuah keluarga harus memiliki pemahaman yang sama tentang makna harta dalam kehidupan. Harta hanyalah penopang. Penunjang kehidupan dan salah satu sebab yang bisa mengantarkan mereka menuju kebahagiaan dunia dan akhrat. Yang perlu diingat dengan baik, harta bukanlah tujuan. Maka adanya hanya menimbulkan syukur dan tiadanya membuat keluarga muslim semakin giat berusaha agar kehidupannya dapat berjalan seimbang sebagaimana mestinya.

Contoh terbaik dalam hal ini bisa didapati dari kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘alaih wa Sallam. Beliau diriwayatkan pernah mengganjal perutnya dengan batu karena tidak mempunyai apapun untuk dimakan. Sementara dalam kesempatan lain, beliau membagikan harta rampasan perang yang ‘disebar’ di halaman rumah beliau, siapa yang berhak, silahkan ambil. Bahkan, beliau pernah risau lantaran masih menyimpan harta di sore hari setelah ashar. Beliau baru lega ketika harta tersebut telah disalurkan kepada orang yang berhak menerimanya.

Maka sejatinya, beginilah seharusnya seorang muslim. Ia harus faham, bahwa kaya bukan terletak pada seberapa banyaknya seseorang menumpuk harta dan kekayaan, melainkan pada seberapa banyak harta yang ia bagikan kepada sesamanya, terlebih kepada mereka yang membutuhkan.

Jika hal ini sudah difahami dengan baik, maka setiap keluarga muslim akan bersungguh-sungguh dalam mencari sumber rejeki. Sehingga mereka tidak menjadi benalu bagi keluarga lain dan bisa memberikan manfaat sebanyak-banaknya kepada seluruh umat manusia dengan hartanya.

Ada tiga hal yang harus diperhatikan ketika keluarga muslim mencari rejeki. Pertama, jangan mencari usaha dari sumber yang haram. Termasuk di dalamnya riba’, perjudian, jual beli barang haram, merampok, korupsi, dst. Kedua, jangan sampa mencari rejeki dengan meninggalkan ibadah wajib. Karena mencari rejeki merupakan bagian dari ibadah. Ia bukan menjadi penyebab dibolehkannya seorang meninggalkan ibadah. Ketiga, dilarang menimbun harta. Baik dilakukan oleh perorangan maupun kelompok. Apalagi jika penimbunan tersebut berakibat pada kelangkaan bahan pokok dan melambungnya harga. (Hal 50)

Terkait hal teknis, Rasulullah membeberkan sepuluh jalan untuk membuka pintu rejeki. Lima hal pertama adalah mencukupkan dengan yang halal dan menghindari yang haram, menjauhkan diri dari yang meragukan, selalu berprasangka baik kepada Allah, beriman dan bertaqwa, serta bertawakkal penuh kepada Allah yang Maha Memberi.

Sedangkan lima hal lainnya meliputi, senantiasa bersabar, bersyukur dan perbanyak istighfar, berikhtiar dan menyambung silaturahim, bersungguh-sungguh dalam ibadah dan berdoa, memperbanyak infaq dan sedekah, serta tekun, ulet dan kerja keras. (Hal 53-61)

Perlu juga difahami tentang sebab-sebab terhambatnya rezeki seseorang. Yaitu sikap bermalas-malasan, berburuk sangka kepada Allah, rakus terhadap dunia, serta perilaku boros dan kikir.

Di samping itu, sebuah keluarga perlu juga memahami hal-hal teknis yang menjadi sumber rejeki. Meliputi kepegawaian atau perburuhan, wiraswasta (pengusaha), pertanian, perikanan dan peternakan, pendidikan, pengobatan, pertambangan, dan investasi.
Selain itu, dalam buku yang sudah dua kali cetak ini, dibahas pula tentang manajemen asset keluarga, contoh tabel pendapatan dan pengeluaran keluarga, jenis-jenis pengeluaran dan bab tentang pentingnya menjadi wanita mandiri dalam rumah tangga. Sehingga ia tidak tergantung sepenuhnya kepada suami. Dengan catatatn, kewajiban utamanya sebagai istri dan ibu tetap bisa dilaksanakan dengan baik dan dalam menjalankan aktivtas kemandirian tersebut tetap mendapat ijin dari suaminya.

Yang paling menarik, pada setiap akhir bab disajikan kesimpulan dan aneka tips praktis. Sehingga pembaca lebih mudah dalam memahami dan mempraktekan apa yang menjadi kajian utama dalam tiap bab.

Uang bukanlah sumber kebahagiaan sebuah rumah tangga. Tapi ketiadaan dan kesalahan pengelolaannya, tidak jarang menjadi penyebab konflik dalam rumah tangga. Dimana konflik tersebut berujung pada broken home dan perceraian yang marak terjadi sejak awal diciptakannya manusia hingga detik ini. []

Penulis : Pirman
Penulis Antologi Surat Cinta Untuk Murobbi dan sejumlah buku lainnya
Penulis resensi di sejumlah media cetak

Di Balik Fatwa Kontroversial Yusuf Al-Qaradhawi

Judul : Di Balik Fatwa Kontroversial Yusuf Al-Qaradhawi
Penulis : Hepi Andi Bastoni MA
Penerbit : Pustaka Al-Bustan - Bogor
Cetakan : I ; Januari 2013
Tebal : XII + 520 Halaman ; 24.5 x 16 cm

Yusuf Al-Qaradhawi bukanlah sosok yang asing lagi dalam dunia pemikiran Islam kontemporer. Ijtihadnya yang kontroversial seringkali mengundang perdebatan dalam berbagai kalangan kaum muslimin. Sehingga, ada kalangan yang pro, kontra bahkan ada yang pada tingkatan mengkafirkan Syaikh kelahiran Mesir ini.

Buku ini dimulai dengan membahas biografi Qaradhawi. Lahir dalam keadaan yatim. Hafal Al-Qur'an pada usia 10 tahun. Usia 15 tahun, sang ibu wafat. Qaradhawi kecilpun hidup bersama pamannya, Ahmad. Bersama sang paman, ia belajar perniagaan.

Qaradhawi bergabung bersama Ikhwanul Muslimin sebagai kader remaja ketika ia duduk di kelas 4 sekolah dasar Sejak saat itu, ia mulai aktif berdakwah ke Damaskus, Oman, Palestina, dan lain-lain. Karena keaktifan dan kepandaiannya, beliau dijuluki teman-temannya di Al-Azhar dengan sebutan "Ensiklopedi yang Berjalan"

Qaradhawi menulis ratusan buku yang terbagi dalam 11 bidang keilmuan. Mulai Fikih dan Ushul Fikih, Ekonomi Islam, Ilmu Al-Qur’an dan Sunnah, Akidah, Fikih Perilaku, Dakwah dan Tarbiyah, Gerakan dan Kebangkiatn Islam, Pemikiran Islam, Wawasan Umum, Biografi Tokoh Islam, Sastra dan lain-lain. Dalam tiap bukunya, ia piawai menggabungkan antara orisinalitas, idealitas dan realitas.

Diantara guru beliau adalah Syeikh Hamid Abu Zuwail, DR Abdul Halim Mahmud, Syaikh Sayyid Sabiq, Syaikh Muhammad Al-Ghazali, Syaikh Mahmud Syaltut, Ibnu Rusyd, Imam Ibnu Hazm, Sayyid Quthb, Abul A’la Al-Maududi, Hasan Al-Banna dan lain lain.

Selanjutnya, buku ini menjelaskan tentang Fatwa dan Ijtihad dalam Islam. Dijelaskan pula tentang prinsip pokok dalam ijtihad kontemporer yang dilanjutkan dengan14 cara yang selalu dilakukan Qaradhawi sebelum membuat fatwa. Meliputi, penggabungan antara fiqih dan hadits, moderat, memberi kemudahan, memberi kabar gembira dan tidak menakut-nakuti, mempersatukan bukan mencerai-beraikan, memperhatikan realita, bersikap reformis dan tidak jumud, bebas dari fanatisme madzhab, memahami nash juz’i, membedakan antara qath’i dan zhanni, menggabungkan antara orisinalitas dan kemodernan, mengutamakan universalitas, internasionalitas dan memadukan antara naql dan aql.

Yang paling menarik, dijelaskan pula tentang bagaimana seharusnya menyikapi perbedaan pendapat. Dimulai dengan bahasan tentang sikap ulama’ terhadap mereka yang mencaci maki ulama’ lain, hingga sikap seorang muslim terhadap orang-orang yang mencaci maki ulama’. Di akhir bagian, disebutkan delapan contoh fatwa Qaradhawi yang dianggap kontroversial berikut sikap para ulama’. Diantaranya adalah komentar Syeikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz, “Buku-bukunya memiliki bobot ilmiah dan sangat berpengaruh dalam dunia Islam.” (Hal 505).

Akhirnya, semoga hadirnya buku ini menjadi sebuah pencerahan bagi siapa saja yang hendak memandang persoalan secara jernih sesuai awal diturunkannya. [Resensi buku Di Balik Fatwa Kontroversial Yusuf Al-Qaradhawi ini telah dimuat di Majalah Dakwah Islam Al-Intima’ – Bandung Edisi 040 (hal 21) Mei 2013/ Rojab 1434 H]


Penulis : Pirman
Penulis Antologi Surat Cinta Untuk Murobbi dan sejumlah buku lainnya
Penulis resensi di sejumlah media cetak

Risalah Kultwit @malakmalakmal #1


Judul buku : Risalah Kultwit @malakmalakmal #1
Penulis : Akmal Sjafril
Penerbit : Afnan Publishing
Cetakan ke : I
Tahun Terbit : April 2013
Dimensi : 120 hlm; 14 x 21,5 cm
ISBN : 978-602-17748-0-9

Dalam beberapa tahun terakhir, Twitter telah menjadi medan baru penyebaran pemikiran. Tak terkecuali oleh kalangan Islam liberal. Di sana mereka mencoba mengkontaminasi keyakinan umat Islam dan menjajakan pahamnya. Untungnya, para dai Islam juga masuk ke medan pertempuran yang sama, setelah sebelumnya mampu ‘menggulung’ pemikiran mereka melalui buku, seminar, debat dan sejenisnya.

Salah seorang dai Islam itu adalah Akmal Sjafril. Melalui akun twitternya @malakmalakmal, penulis yang juga peneliti di Institute for the Study of Islamic Thought and Civilizations (INSISTS) ini mewarnai twitterland dengan twit-twit khasnya yang membongkar kerancuan pemikiran Islam liberal.

Cukup banyak kultwit yang telah dihasilkan Akmal sejak 2010 lalu. Kultwit-kutwit tersebut sangat bermanfaat bagi umat untuk membendung pemikiran-pemikiran menyimpang, khususnya dari Islam liberal. Nah, buku Risalah Kultwit @malakmalakmal #1 ini adalah kumpulan kultwit hingga Februari 2011. Keunggulannya, karena sudah tidak dibatasi dengan 140 karakter, 14 kultwit dalam buku ini telah ‘disulap’ menjadi tulisan yang lebih enak dibaca dan lebih kaya penjelasan dengan adanya catatan kaki.

Seperti buku sebelumnya, Islam Liberal 101, buku Risalah Kultwit ini juga penuh hujjah; argumentatif dalam mematahkan pemikiran Islam liberal. Misalnya dalam kultwit pertama, #Diin. Dengan bahasa yang mengalir Akmal menjelaskan bahwa diin berasal dari kata yang bermakna seputar “hutang,” membentuk konsep hutang kita kepada Allah, yang harus dibayar dan ditunaikan. Dari kutwit pertama ini kita menjadi paham bahwa diin bukanlah sekedar “agama” atau “religion”. Kesalahan dalam menerjemahkan diin sebagai “agama” menyebabkan munculnya paham-paham yang menyimpang. Sebaliknya, pemahaman yang benar terhadap konsep diin membuat kita dapat dengan jelas mengetahui benturan/pertentangan antara Islam dan sekulerisme.

Jika pemahaman konsep diin diletakkan sebagai bab pertama, sesungguhnya dari sanalah konsep lainnya menginduk. Bagaimana perbedaan Islam dan liberalisme berbeda secara diametral menyikapi aurat misalnya. Ini dijelaskan penulis di kultwit kedua, #Aurat. Atau bagaimana mendudukkan Ahmadiyah yang mendapatkan proporsi cukup besar dalam buku Risalah Kultwit ini. Kalangan liberal yang mengatasnamakan “kebebasan” mengambil sikap membela Ahmadiyah dengan beragam argumen. Sementara di sisi yang berseberangan ada kelompok yang melakukan tindak kekerasan pada kasus Ciekusik. Bagaimana menyikapi Ahmadiyah dikupas oleh penulis dalam kultwit #MenyikapiAhmadiyah. Tetapi, ada dua kultwit lagi tentang Ahmadiyah yang tidak boleh dilewatkan; #Ciekusik dan #AhmadiyahDalamBerita dan #AnalisisAhmadiyah. Penulis bukan saja mengajak kita memahami dasar lahirnya sebuah pemikiran, namun juga mematahkan retorika yang menjadi argumen kalangan liberal membela Ahmadiyah.

Selain kultwit #Diin, ada sejumlah kultwit lain yang membuat kita memahami kesalahan pemikiran Islam liberal dari akarnya. Misalnya kultwit ketiga #GembongLiberal dan kultwit kelima #LiberalisasiIman. Jangan kaget jika pada kultwit #GembongLiberal kita akan menemukan siapa generasi pertama liberal dalam penuturan cerita yang menarik dan kita dapati banyaknya kesamaan dengan generasi Islam liberal pada masa kini. Sedangkan pada kultwit #LiberalisasiIman kita menemukan penjelasan betapa menjadi Islam liberal sesungguhnya adalah melepaskan rukun iman satu per satu.

Akhirnya, buku Risalah Kultwit ini sangat direkomendasikan bagi Anda yang ingin tahu lebih jauh tentang kerapuhan pemikiran Islam liberal dan menjadi salah satu referensi terbaik untuk membendung pemikiran menyimpang itu. [Abu Nida]

Syarifuddin Khalifah, Bocah yang Mengislamkan Ribuan Orang


Judul buku : Mukjizat dari Afrika, Bocah yang Mengislamkan Ribuan Orang; Syarifuddin Khalifah
Penulis : Mujahidin Nur
Penerbit : Zaytuna, PT. Ufuk Publishing House
Cetakan ke : VIII
Tahun Terbit : November 2012
Dimensi : 120 hlm
ISBN : 978-602-18351-2-8

Mungkin Anda terheran-heran bahkan tidak percaya, jika ada orang yang bilang bahwa di zaman modern ini ada seorang anak dari keluarga non Muslim yang hafal Al Qur’an dan bisa shalat pada umur 1,5 tahun, menguasai lima bahasa asing pada usia 5 tahun, dan telah mengislamkan lebih dari 1.000 orang pada usia yang sama. Tapi begitulah kenyatannya, dan karenanya ia disebut sebagai bocah ajaib; sebuah tanda kebesaran Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Syarifuddin Khalifah, nama bocah itu. Ia dilahirkan di kota Arusha, Tanzania. Tanzania adalah sebuah negara di Afrika Timur yang berpenduduk 36 juta jiwa. Sekitar 35 persen penduduknya beragama Islam, disusul Kristen 30 persen dan sisanya beragam kepercayaan terutama animism. Namun, kota Arusha tempat kelahiran Syarifuddin Khalifah mayoritas penduduknya beragama Katolik. Di urutan kedua adalah Kristen Anglikan, kemudian Yahudi, baru Islam dan terakhir Hindu.

Seperti kebanyakan penduduk Ashura, orangtua Syarifuddin Khalifah juga beragama Katolik. Ibunya bernama Domisia Kimaro, sedangkan ayahnya bernama Francis Fudinkira. Suatu hari di bulan Desember 1993, tangis bayi membahagiakan keluarga itu. Sadar bahwa bayinya laki-laki, mereka lebih gembira lagi.

Sebagaimana pemeluk Katolik lainnya, Domisia dan Francis juga menyambut bayinya dengan ritual-ritual Nasrani. Mereka pun berkeinginan membawa bayi manis itu ke Gereja untuk dibaptis secepatnya. Tidak ada yang aneh saat mereka melangkah ke Gereja. Namun ketika mereka hampir memasuki altar gereja, mereka dikejutkan dengan suara yang aneh. Ternyata suara itu adalah suara bayi mereka. “Mama usinibibaptize, naamini kwa Allah wa jumbe wake Muhammad!” (Ibu, tolong jangan baptis saya. Saya adalah orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, Muhammad). Mendengar itu, Domisia dan Francis gemetar. Keringat dingin bercucuran. Setelah beradu pandang dan sedikit berbincang, mereka memutuskan untuk membawa kembali bayinya pulang. Tidak jadi membaptisnya.

Awal Maret 1994, ketika usianya melewati dua bulan, bayi itu selalu menangis ketika hendak disusui ibunya. Domisia merasa bingung dan khawatir bayinya kurang gizi jika tidak mau minum ASI. Tetapi, diagnose dokter menyatakan ia sehat. Kekhawatiran Domisia tidak terbukti. Bayinya sehat tanpa kekurangan suatu apa. Tidak ada penjelasan apapun mengapa Allah mentakdirkan Syarifuddin Khalifah tidak mau minum ASI dari ibunya setelah dua bulan. “Apakah karena ibunya adalah seorang Kristiani? Ataukah ini merupakan fase keunikan-keunikan yang selanjutnya akan banyak mengiringi kehiduan anak ini sampai dia dikenal jutaan manusia di seluruh dunia sebagai anak ajaib?” Tanya penulis pada halaman 47.

Di tengah kebiasaan bayi-bayi belajar mengucapkan satu suku kata seperti panggilan “Ma” atau lainnya, Syarifuddin Khalifah pada usianya yang baru empat bulan mulai mengeluarkan lafal-lafal “aneh.” Beberapa tetangga serta keluarga Domisia dan Francis terheran-heran melihat bayi itu berbicara. Mulutnya bergerak pelan dan berbunyi:”Fatuubuu ilaa baari'ikum faqtuluu anfusakum dzaalikum khairun lakum ‘inda baari-ikum, fataaba ‘alaikum innahuu huwat tawwabur rahiim.”

Orang-orang yang takjub menimbulkan kegaduhan sementara namun kemudian mereka diam dalam keheningan. Sayangnya, waktu itu mereka tidak mengetahui bahwa yang dibaca Syarifuddin Khalifah adalah QS. Al Baqarah ayat 54.

Domisia khawatir anaknya kerasukan syetan. Ia pun membawa bayi itu ke pastur, namun tetap saja Syarifuddin Khalifah mengulang-ulang ayat itu. Hingga kemudian cerita bayi kerasukan syetan itu terdengar oleh Abu Ayub, salah seorang Muslim yang tinggal di daerah itu. Ketika Abu Ayub datang, Syarifuddin Khalifah juga membaca ayat itu. Tak kuasa melihat tanda kebesaran Allah, Abu Ayub sujud syukur di dekat bayi itu.

“Francis dan Domisia, sesungguhnya anak kalian tidak kerasukan syetan. Apa yang dibacanya adalah ayat-ayat Al Qur’an. Intinya ia mengajak kalian bertaubat kepada Allah…” kata Abu Ayub.

Beberapa waktu setelah itu Abu Ayub datang lagi dengan membawa mushaf. Ia memperlihatkan kepada Francis dan Domisia ayat-ayat yang dibaca oleh bayinya. Mereka berdua butuh waktu dalam pergulatan batin untuk beriman. Keduanya pun akhirnya mendapatkan hidayah. Mereka masuk Islam. Sesudah masuk Islam itulah mereka memberikan nama untuk anaknya sebagai “Syarifuddin Khalifah”.

Keajaiban berikutnya muncul pada usia 1,5 tahun. Ketika itu, Syarifuddin Khalifah mampu melakukan shalat serta menghafal Al Qur’an dan Bible. Lalu pada usia 4-5 tahun, ia menguasai lima bahasa. Pada usia itu Syarifuddin Khalifah mulai melakukan safari dakwah ke berbagai penjuru Tanzania hingga ke luar negeri. Hasilnya, lebih dari seribu orang masuk Islam.

Cerita lengkap dan detail tentang Syarifuddin Khalifah bisa Anda dapatkan di buku “Mukjizat dari Afrika, Bocah yang Mengislamkan Ribuan Orang; Syarifuddin Khalifah” ini. Isinya yang menarik dengan bahasa yang mengalir serta agaknya membuat buku ini menjadi megabestseller, seperti dikampanyekan dalam cover depannya. Tercatat, dalam rentang empat bulan saja buku karya Mujahidin Nur ini telah naik cetak sebanyak delapan kali. [Muchlisin]

Fiqih Dakwah


Judul Buku : Fiqih Dakwah
Judul Asli : Ad-Da'wah, Qawaid wa Ushul
Penulis : Jum'ah Amin Abdul Aziz
Penerjemah : Abdus Salam Masykur
Penerbit : Era Adicitra Intermedia, Solo
Cetakan Ke : 7
Tahun Terbit : Sya'ban 1432 H / Juli 2011
Dimensi : 412 hlm., 23 cm
ISBN : 979-9183-04-9

***

Seorang mahasiswa aktifis dakwah pulang ke rumah. Ini adalah tahun kedua ia bergabung dengan organisasi dakwah. Semangatnya yang membara bertemu dengan karakter dakwahnya yang keras. Ia ingin orangtuanya terdakwahi, benar dalam beraqidah dan selamat dari bid'ah. Ia juga ingin masyarakat desanya di Bojonegoro itu berpemahaman sama dengan dirinya.

"Anakku ini menjadi apa sekarang?," orangtuanya kaget dengan penampilan dan sikap si anak. Ia datang dengan celana menggantung dan banyak melarang. Harapan orangtua akan anak yang santun pada orangtua seakan sirna. Terlebih mereka seakan dihina dengan label "bid'ah" dan "jahiliyah" yang dilontarkan anak terhadap tradisi leluhurnya.

Sikap serupa juga didapatkan tetangga dan masyarakatnya. Mereka merasa dihina dengan label "bid'ah" dan "jahiliyah" yang tiba-tiba mereka dapatkan. Padahal para ustadz dan Kyiai justru menjadi orang-orang terdepan dalam tradisi dan adat mereka. Singkat cerita, sebagian masyarakat terlibat perseteruan dengan mahasiswa itu, lalu mengadu pada orangtuanya, dan bersama-sama mereka sepakat untuk "mengusir" sang mahasiswa. Orangtuanya bahkan mengancam: "Jangan sebut lagi kami bapak dan emak, jika engkau masih seperti itu!". Mahasiswa itupun kembali ke kota, gagal mencapai misinya; mendakwahi orangtua dan tetangga.

***

Masih banyak kisah nyata lainnya, yang bahkan Anda sendiri pernah mengetahuinya, betapa dakwah yang hanya mengandalkan semangat tanpa dibekali dengan fiqih dakwah seringkali justru mendatangkan masalah. Tujuan dakwah tidak tercapai, justru obyek dakwah membuat tembok pemisah, menentang dan menolak dakwah mentah-mentah.

Fiqih Dakwah, dengan demikian, sangat diperlukan oleh para aktifis dakwah. Ia bukan sekedar mengenai metode menyampaikan dakwah tetapi juga meliputi kaidah-kaidah dalam berdakwah. Kita bersyukur bahwa sejumlah kitab Fiqih Dakwah telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Diantaranya ada Fiqih Dakwah-nya Ali Abdul Halim Mahmud, Fiqih Dakwah-nya Musthafa Masyhur, dan Fiqih Dakwah Iallah-nya Taufiq Yusuf Al-Wa'iy. Selain ketiga buku itu, Fiqih Dakwah karya Jum'ah Amin Abdul Aziz ini tak kalah bermutu untuk dibaca dan menjadi pegangan para dai.

Buku Fiqih Dakwah ini terdiri dari empat bagian. Pertama, menjelaskan tentang prinsip-prinsip dakwah dan hal-hal yang terkait dengannya. Diantaranya makna dakwah, dalil kewajiban dakwah, keutamaan dakwah, karakter dan sarana dakwah.

Bagian kedua menjelaskan hal-hal yang berkaitan dengan dai. Bahwa Islam tegak dengan dakwah. Dakwah tegak dengan adanya dai. Karenanya dai harus menjadi cermin bagi Islam. Pada bagian ini dipaparkan karakter dai, yaitu amanah, shidq, ikhlas, rahmah, rifq, hilm, shabr, hirsh, tsiqah dan wa'iy.

Bagian ketiga menjelaskan prinsip dan kaidah dakwah para Rasul. Di dalamnya disajikan contoh kadiah dakwah para Rasul, kaidah-kaidah dakwah secara umum, hingga sikap dai terhadap masyarakat dan tingkatan hukum yang hendak didakwahkan serta tingkatan manusia yang hendak didakwahi.

Bagian keempat adalah bagian paling tebal dari buku Fiqih Dakwah ini. Sesuai judul aslinya, Ad-Da'wah, Qawaid wa Ushul, bagian keempat yang membahas kaidah-kaidah dakwah inilah yang menjadi inti sekaligus kelebihan buku ini dibandingkan buku-buku Fiqih Dakwah yang lain. Di dalamnya dijelaskan secara mendalam mengenai 10 kaidah dakwah yang diambil dari ushul fiqih oleh sang penulis.

10 kaidah dakwah itu adalah:
1. Memberi keteladanan sebelum berdakwah
2. Mengikat hati sebelum menjelaskan
3. Mengenalkan sebelum memberi beban
4. Bertahap dalam pembebanan
5. Memudahkan, bukan menyulitkan
6. Yang pokok sebelum yang cabang
7. Membesarkan hati sebelum memberi ancaman
8. Memahamkan, bukan mendikte
9. Mendidik, bukan menelanjangi
10. Muridnya guru, bukan muridnya buku

Kesepuluh kaidah itu dibahas dalam 223 halaman, sehingga penjelasannya mendalam dan bisa dipahami dengan baik oleh dai yang membaca buku ini untuk selanjutnya dijadikan pegangan dalam berdakwah. Selamat membaca dan mempraktikkan Fiqih Dakwah ini. [Muchlisin]

Copyright © 2012-2099 SEKILAS DAKWAH - Dami Tripel Template Level 2 by Ardi Bloggerstranger. All rights reserved.
Valid HTML5 by Ardi Bloggerstranger