lazada ID
Showing posts with label Kaifa Ihtada. Show all posts

Dapat Hidayah, Model Terkenal Carley Watts Masuk Islam dan Berhijab

Carley Watts
Allah memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya, tanpa seorangpun bisa mencegahnya. Itulah yang dialami oleh seorang model terkenal, Carley Watts.

Bukan model biasa, Carley merupakan model seksi pakaian dalam wanita yang cukup terkenal di Inggris. Setelah mengetahui betapa Islam memuliakan perempuan, ia pun tersadar dan kembali kepada fitrahnya. Carley akhirnya masuk Islam dan menutup tubuh indahnya dengan hijab.

"Di dalam Islam, perempuan diperlakukan dengan hormat. Muslimah juga menghargai diri dan tubuh mereka," ujar Carley mantap.

Di Tunisia Kisah Hidayah Dimulai
Kisah hidayah Carley dimulai dari Tunisa. Suatu hari ia berlibur ke negeri yang kini dipimpin oleh Partai an Nahdlah itu. Saat jalan-jalan di pantai, tak sengaja Carley bertemu dengan seorang penjaga pantai bernama Muhammad Shalah.

"Aku memberanikan diri menanyakan namanya. Bahasa Inggrisnya tidak baik, kami pun berbicara dalam bahasa Prancis. Namun hanya sedikit bahasa Prancis yang saya ingat saat sekolah," ujar model berusia 24 tahun itu, seperti dikutip The Sun.

Carley pun kemudian mengenal agama Islam yang dianut oleh Shalah. Rupanya Shalih menjadi perantara Carley menemukan hidayah.

Wanita itu pun kemudian tertarik pada risalah yang dibawa Rasulullah. "Muhammad telah membuatku benar-benar melihat hidupku. Aku merasa tenang dan bahagia," terang Carley.

Dengan bantuan Shalah, Carley mempelajari agama Islam. Ia kemudian menemukan betapa Islam memuliakan wanita. Carley yang selama ini mengumbar keindahan tubuhnya pun merasakan penyesalan yang sangat. Makin mempelajari syariat Islam kepada para wanita, Carley makin membulatkan tekad untuk mengakhiri pekerjaannya.

Carley merasa selama ini hidupnya begitu liar. Apalagi gaya hidup pemuda-pemudi Inggris seperti minum alkohol dan pergi ke klub malam juga sangat dekat dengan kehidupannya.

"Aku tak ingin lagi hidup liar, tak mau lagi mempertontonkan auratku juga tak akan pergi lagi ke klub malam lagi," tuturnya.

Merengkuh hidayah, Carley pun sepenuh keyakinan mengucapkan syahadat. Ia masuk Islam dan menutup lembaran hitam sejarah hidupnya.

Ditentang Keluarga dan Fas
Keputusan Carley masuk Islam ternyata tidak mudah. Ia ditentang oleh keluarga dan fans-nya.

"Mereka tak dapat menerima aku masuk Islam dan mengenakan jilbab. Mereka menganggap aku telah mengakhiri hidupku dengan keputusan itu," ujarnya.

Kendati demikian, Carley tak goyah. Ia tetap memutuskan untuk menjadi muslimah. Ia pun bersyukur Shalah yang telah melamarnya selalu mendukungnya.

"Dia mencintaiku dan memintaku untuk menjadi istrinya. Kami sudah membulatkan itu (rencana pernikahan). Ia menerimaku apa adanya, ia tak pernah mencoba mengubahku," ujarnya.

Bertekad untuk Berhijab
Tidak hanya meninggalkan profesinya sebagai model, Carley juga meninggalkan Inggris. Ia memilih pindah ke Tunisia dan membangun keluarga bersama Shalah.

'Hijrah'nya ke Tunisia, di samping sebagai usaha seriusnya meninggalkan profesinya sebagai model, juga untuk mewujudkan tekadnya menutup aurat. Ia ingin berhijab dengan lebih baik setelah keislamannya, sembari bertaubat atas masa lalunya yang mengumbar keindahan tubuh di depan banyak mata. [AM/TS/Rol]

Asalnya Benci Islam, Kini Suhail Kapoor Jadi Ulama’

Nama kecilnya Manu. Manu Kapoor. Ia dilahirkan dan dibesarkan di lingkungan Hindu. Semula, ia membenci Islam dan Muslim. Namun, ketidakpuasannya terhadap agama yang ia peluk membuatnya mencari kebenaran.

Sungguh ajaib hidayah Allah. Dalam pencariannya, Manu mendapati bahwa agama yang benar adalah agama yang dulunya ia benci. Agama itu tidak lain adalah Islam. Diantara ajaran Islam yang paling berkesan bagi Manu adalah keadilan dan kasih sayang.

"Seorang Muslim yang benar ia akan berlaku adil terhadap siapapun dan tidak pernah menyakiti siapapun," kata Manu yang kemudian berganti nama menjadi Suhail, ketika berkunjung ke Jeddah, seperti dikutip arabnews, Jumat (30/8).

Sekian tahun memeluk Islam, juga berarti sekian tahun Suhail Kapoor berdakwah. Kesungguhan Suhail dalam memperdalam Islam, mengantarkannya menjadi seorang ulama yang disegani di Kanada. Ia pun berpesan agar umat Islam bersungguh-sungguh mengemban tanggung jawabnya. Jika umat Islam menunaikan kewajibannya, maka Allah akan memberikan pertolongan kepada umat terbaik ini. Sebaliknya, jika saat ini umat Islam mengalami kesulitan, itu karena diri mereka sendiri. Ada yang dilupakan umat Islam. Ini yang menyebabkan kurang sempurnanya iman seorang Muslim.

"Ada masanya ketika Muslim Cina menjadi contoh. Negara dengan 80 juta Muslim," ujar Suhail.

Muslim Cina, seperti negara lainnya mengalami kemajuan pesat ketika kemakmuran mulai merata. Namun, kemakmuran duniawi bukanlah tujuan akhirnya.

Tak terasa sudah 13 tahun Suhail berdakwah. Jika dulu ia pernah menjadi non-Muslim yang membenci Islam, kini ia aktif berdakwah di kalangan non-Muslim. Selain berdialog dengan mereka, Suhail juga dengan senang hati memberikan mushaf Al Qur’an kepada mereka. Dengan harapan, mereka bisa mempelajari Islam lebih jauh dan kemudian mendapatkan hidayah seperti dirinya. [IK/Rpb]

Takjub pada Al-Qur'an, Wanita Jerman Ini Masuk Islam

Setelah masuk Islam, ia memiliki nama Aminah Amatullah. Aminah, berasal dari keluarga Protestan. Sebenarnya gadis yang tinggal di Hannover, Jerman, ini tidak merasa terlalu religius. Tetapi ia seperti menyadari ada yang salah dengan keyakinan yang dianut keluarga dan masyarakat umumnya. Dalam berdoa misalnya, Aminah tak mau berdoa kepada Yesus. Dan ia juga meyakini, berdoa bisa dilakukan di mana saja. Karenanya ia tidak merasa perlu datang ke gereja.

"Aku ketika berdoa ditujukan kepada Allah bukan Yesus. Aku juga tidak pernah ke gereja, karena itu tidak perlu," kenang Aminah seperti dikutip onislam.net, Selasa (18/6) lalu.

Memasuki usia 22 tahun, Aminah menikah dengan seorang Katholik. Dari pernikahannya, Aminah memiliki tiga anak. Ia mengajarkan kepada anak-anaknya tentang apa yang diyakininya, bahwa Allah dekat dengan mereka, Allah melindungi keluarganya.

Aminah begitu bahagia dengan keluarga kecilnya. Sayang, kebahagiaan itu perlahan sirna. Sekitar tahun 1998, Aminah memutuskan pindah ke Wernigerode, kota kecil di Timur Jerman. Di sana, ia berharap bisa menyelamatkan pernikahannya. Ia juga mulai kembali bekerja. Di tempatnya bekerja, Aminah bertemu seorang Muslim. Saat itu, Aminah tidak tahu banyak soal Islam dan Muslim. Hari demi hari berjalan, dan setelah berlalu setahun, Aminah mulai menerima perilaku Muslim dan itu membuatnya merasa lebih kuat. Meskipun, saat itu pernikahannya terancam bubar.

Aminah mulai tersentuh hidayah saat dirinya mengunjungi laman pribadi seorang pria Muslim yang dikenalnya melalui internet. Di sana ada link Al Qur’an dan asmaul husna.

Mulai membaca Al Qur’an, Aminah langsung takjub. Kekagumannya terhadap Al Qur’an menjadikan Aminah terus berusaha mendalami ajaran Islam. Saat berpindah ke Macedonia, beberapa pekan berikutnya, niat mendalami Islam itu terlaksana.

Hingga suatu hari... dorongan untuk menjadi Muslim tak terbendung.

"Satu malam, saya bermimpi menemukan kucing kesayangan anak-anak mati. Mimpi itu seolah mengingatkanku untuk segera mengambil keputusan, sebelum Allah Subhanahu wa Ta’ala kembali memanggilku," kenangnya.

Aminah sudah mantap untuk masuk Islam. Tetapi, ia merasa bingung karena sulit menemukan komunitas Muslim di Macedonia. Ia pun kembali ke Jerman. Di sana ia menyambangi Braunschweig, kota kecil di Barat Jerman. Setibanya, ia menyambangi masjid, untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Momen itu mendapat simpati umat Islam di daerah itu.

Selesai bersyahadat, Aminah berencana memberitahu keluarga dan kerabatnya. Ketika diberitahu, keluarganya sangat terkejut. Tidak ada lagi yang ingin berbicara padanya. Aminah merasa sedih dengan hal tersebut.

"Tapi aku tidak mungkin meninggalkan iman hanya karena keluarga dan teman-teman saya," kata dia.

Tak lama, Aminah mulai mengenakan jilbab. Gaya berbusana yang serba terbuka perlahan diganti dengan gaya santun dan sopan. Ketika memakai jilbab, Aminah merasakan kenikmatan yang tak bisa diungkap.

"Memang masyarakat Jerman belum sepenuhnya menerima jilbab. Tapi aku tidak menyesali putusan ini," kenangnya seperti dikutip Republika dari on Islam.

"Tidak menjadi Muslim yang sempurna, tapi aku bersyukur pada Allah atas anugerahnya ini. Semoga Allah memberikan balasan kepada mereka yang membantu saya kembali pada Islam," ucapnya. [IK/Rpb]

John Ridley, Kisah Perjuangan Jurnalis BBC Masuk Islam


Betapa besarnya ujian seorang jurnalis Inggris yang masuk Islam. Keislamannya bukan hanya ditentang oleh keluarga, ia bahkan mengalami kesulitan mendapatkan penghasilan.

Namanya John Ridley. Ia dilahirkan di tengah keluarga Nasrani. Ia rajin ke gereja tiap pekan bersama orang tua dan saudara perempuannya. Namun, semakin bertambah usianya, pemikiran John pun makin kritis. Banyak pertanyaan dari hatinya mengenai Tuhan dan kebenaran agama yang tidak menemukan jawaban di gereja.

Hingga tibalah saat itu, ketika John mendapatkan kesempatan untuk mengenal Islam. John diterima di BBC Worldwide sebagai jurnalis untuk dikirim ke Timur Tengah. Sebelum berangkat ke Timur Tengah, John berkenalan dengan seorang Muslim saat tengah menjalani masa pelatihan broadcasting dan jurnalistik BBC. Ia pun mempelajari Islam sebelum berangkat ke Timur Tengah dan berinteraksi dengan umat Islam di sana.

John ditugaskan di Oman. Di sana ia bebas bercakap-cakap dengan umat Islam, membuatnya bisa berdiskui tentang Islam di samping ia juga aktif membaca literatur Islam. Hidup John mulai berubah, sebab ia menemukan jawaban dari pertanyaannya selama ini justru di sini; di dalam Islam.

"Aku mendapat kesempatan bertugas di Timur Tengah selama enam bulan. Itu adalah petualangan pertama yang menakjubkan yang pernah ada dalam hidupku," kata John Ridley, menceritakan kisahnya merengkuh hidayah.

Di Timur Tengah itulah, setelah menyadari kebenaran Islam dan menyaksikan secara langsung kehidupan muslim di sana, John mengikrarkan dua kalimat syahadat.

Perjuangan Mempertahankan Islam
Masuk Islam bukanlah perjalanan mulus bagi John Ridley. Saat pulang kembali ke Inggris, John mendapati keluarganya menentangnya. John terus mendekati keluarganya, tetapi mereka tak kunjung berubah sikap. Di negerinya sendiri, John juga mulai kesulitan mendapatkan penghasilan.

Saat-saat itu barangkali adalah saat-saat paling sulit dalam hidup John. Tetapi, Allah tidak membiarkannya sendirian. Allah membukakan jalan kepada John. Sebuah stasiun radio Arab Saudi memintanya menjadi seorang reporter selama invasi AS ke Irak pada 2003. John pun menerima tawaran itu. Ia terbang kembali ke Timur Tengah.

Usai bertugas di Saudi, John pindah ke Kuala Lumpur, Malaysia. Makin bertambahlah pegetahuannya tentang Islam. Delapan bulan kemudian, ia kembali ke Timur Tengah. Sejumlah negara telah ia kunjungi dalam 30 tahun terakhir. Antara lain Lebanon, Oman, Yaman, Uni Emirat Arab, Arab Saudi, Bahrain, Iran dan Yordania.

Pengalaman John hidup puluhan tahun di Timur Tengah menjadi kekuatan tersendiri bagi profesinya sebagai jurnalis, penyiar dan penulis. Pengetahuan dan pemahamannya tentang dunia Islam dinilai luar biasa.

Membela Palestina
Menulis menjadi senjata John untuk membela Palestina. Dalam berbagai tulisannya, John menyerukan hak warga Palestina.

"Kemanusiaan, perdamaian, perlindungan anak, diajarkan dalam Islam. Bagaimana saling mengerti antarmanusia dan hidup berdampingan. Saya benar-benar beruntung menemukan Islam," ujar John bersyukur.

Namun demikian, pembelaan John untuk Palestina tidak hanya diwujudkan melalui tulisan. Ia juga terjun langsung memberikan pidato di camp-camp pengungsian Palestina.

Menulis, bagi John, bukanlah masalah menghasilkan uang. Apalagi menulis untuk membela hak-hak kemanusiaan di Palestina dan dunia Islam. "Kita memang membutuhkan uang. Tapi, ada hal yang lebih penting yakni manusia dan kemanusiaan. Saya tidak mau hanya diam sementara orang-orang di luar sana telantar dan kesulitan. Saya benar-benar ingin menjadi bagian untuk membela mereka," kata John menegaskan misinya. [IK/Rpb]

Kisah Nyata Di Balik Masuk Islamnya Petugas Guantanamo


Masuk Islamnya petugas keamanan penjara Guantanamo menjadi salah satu kisah nyata paling menarik dari CNN. Media raksasa Amerika Serikat (AS) itu juga mengungkapkan bagaimana dan mengapa Terry Holdbrooks yang atheis itu bisa memeluk Islam.

Mediaite.com melansir cerita luar biasa dari CNN itu, Sabtu (7/4). Kisah dimulai saat Holdbrooks tiba di Guantanamo pada tahun 2003. Pria berusia 19 tahun itu adalah seorang penganut atheis.

Tugas menjaga Guantanamo membuat Holdbrooks dapat menyaksikan dari dekat bagaimana kehidupan para tahanan Muslim. Ia juga menyempatkan berkomunikasi dengan sejumlah tahanan yang bisa berbahasa Inggris.

Hari-hari Holdbrooks menjaga Guantanamo tiba-tiba menjadi hari-hari yang mengherankan, sekaligus mengagumkan. Pasalnya, Holdbrooks menyaksikan pemandangan yang tidak pernah ia lihat. Bahkan tidak pernah ia bayangkan.

Ia menyaksikan rutinitas orang-orang Muslim di Guantamo bangun pagi, bahkan dini hari. Orang-orang Muslim itu juga tetap tersenyum meskipun mereka terkunci di sebuah kamp penjara dengan sedikit harapan kebebasan. Ternyata siksaan yang mereka alami selama di penjara tidak bisa merenggut kebahagiaan yang terpancar dari aura wajah dan senyum mereka.

Sementara bagi Holdbrooks, orang-orang Barat yang katanya hidup bebas, kehidupan mereka justru dilanda kegelisahan. Termasuk para tentara dan penjaga penjara.

Di tengah keheranan dan kekaguman itu, Holdbrooks mulai berpikir ada sesuatu yang lebih dari Islam yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya.

Seperti layaknya orang penasaran, ia mulai menanyakan banyak hal. Holdbrooks mulai berbicara selama berjam-jam dengan para tahanan mengenai Islam. Seorang tahanan bahkan memberikan salinan kitab suci Al Qur’an untuk ia pelajari dan membawanya untuk mengubah cara hidupnya.

Ketika ia mendekati seorang tahanan dan memintanya untuk membimbingnya menjadi seorang Muslim, ia diperingati oleh tahanan Muslim itu bahwa keyakinannya akan mengubah hidupnya.

“Anda memahami jika Anda menjadi seorang Muslim, unit Anda akan melihat Anda dengan cara yang berbeda, keluarga Anda, negara Anda. Anda paham, negara Anda akan melihat Anda dengan cara yang tidak baik. Ini akan membuat banyak hal sulit bagi Anda,” tahanan Muslim itu, kenang Holdbrooks.

Namun hidayah yang telah mengalir dalam hati Holdbrooks membuatnya tidak mempedulikan segala kemungkinan buruk yang akan menimpanya jika ia memeluk Islam. Maka dengan segala keteguhannya, Holdbrooks pun mengikrarkan dua kalimat syahadat. Setelah menjadi mualaf, Holdbrooks kemudian meninggalkan dinas militer dan menjadi seorang aktivis yang vokal menentang kamp di Teluk Guantanamo. Holdbrooks mungkin telah kehilangan peluang karir dan banyak materi, tetapi kisah nyata keislamannya telah menjadi inspirasi bagi sekian banyak calon mualaf dan membangkitkan kesadaran ribuan umat Islam untuk membela sesama muslim dari kezaliman musuh-musuh Islam. [IK/CNN/Ar/bsb]

Keponakan Tony Blair dan Pelajar Inggris Berbondong-bondong Masuk Islam


Fenomena mengejutkan terjadi di sekolah-sekolah Inggris. Sebuah laporan baru-baru ini menunjukkan, jumlah pelajar di Inggris yang masuk Islam terus bertambah signifikan.

Seperti dirilis Aljazeera, salah seorang pelajar yang masuk Islam adalah Alexandra. Siswa berusia 12 tahun putri Lauren Booth itu tidak lain adalah keponakan mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair.

Alexandra mengikrarkan dua kalimat syahadat pada Ramadhan lalu. Setelah masuk Islam, Alexandra merasa bisa lebih rendah hati.

“Islam telah mengubah hidupku, memberiku kehormatan dan kerendahan hati. Aku juga menjadi lebih menghormati diri sendiri setelah memutuskan untuk mengenakan Jilbab,” kata Alexandra.

Selain Alexandra, banyak pula pelajar lain yang masuk Islam. George Radev (14) misalnya. Siswa asal Swedia itu senang mengambil gambar menara masjid. Ketika mendengar adzan saat menjalani hobi fotografinya itu, Radev merasakan sesuatu yang aneh. Ia pun bertanya kepada temannya sekolahnya, Abdullah dan Tamer, mengenai adzan. Akhirnya mereka mendapatkan banyak informasi melalui internet. Pengetahuan baru tentang Islam itu mendorong Radev ingin memeluknya. Ia pun kemudian menyampaikan kepada keluarganya. Aneh bin ajaib, keluarganya tidak keberatan dan menyuruhnya untuk mempelajari lagi keputusannya tersebut. Akhirnya Radev pun memeluk Islam bulan lalu di London.

Meskipun masih belia, Radev cukup peka dengan "propaganda" media di Inggris tentang Islam yang tidak sesuai dengan fakta sebenarnya. "Mengapa hanya kontroversi bodoh tentang Islam yang memenuhi media kami?" keluhnya.

Begitu pula halnya dengan Sheila Rudd (15) yang telah memeluk Islam tahun lalu. Pelajar dari Eardenj itu mengatakan bahwa media-media di Inggris berupaya menghambat warga untuk masuk Islam. Namun demikian, media-media tersebut tidak dapat menghalangi hidayah Allah seperti yang dikaruniakan-Nya kepada dirinya.

Selain Alexandra, Radev dan Rudd, masih banyak pelajar Inggris lainnya yang berbondong-bondong masuk Islam. Institute Gatston menegaskan bahwa setiap bulan terdapat ratusan warga Inggris yang masuk Islam.

Menurut sejumlah studi di Inggris, jumlah muslim telah bertambah 37 persen selama 6 tahun terakhir, diikuti dengan pertambahan jumlah masjid menjadi sekitar 1500 masjid. [IK/EM]

Mengapa Arnoud Van Doorn Masuk Islam? Ini Kisahnya


Masuk Islamnya Arnoud Van Doorn membuat Belanda gempar. Pasalnya, Van Doorn adalah teman Geert Wilder sekaligus mantan Wakil Ketua Partai Kebebasan (PVV). Geert Wilders dikenal luas sebagai politisi anti-Islam yang pernah membuat film Fitna pada 2008 lalu. Sedangkan PPV yang didirikannya juga dikenal sebagai partai politik berhaluan liberal yang menentang Islam.

Apa alasan Van Doorn masuk Islam dan bagaimana ia mendapatkan hidayah? Berikut ini kisahnya:

Arnoud Van Doorn bukanlah nama baru dalam jagat perpolitikan Belanda. Ia aktif di PVV, bahkan menjadi salah satu pucuk pimpinan sebagai Wakil Ketua. Tetapi justru itulah yang mengusik hatinya. Mengapa partainya selalu memusuhi Islam? Rasa penasaran Van Doorn terhadap Islam semakin tak terbendung, hingga ia pun mulai mempelajari apa itu Islam yang sebenarnya.

"Saya benar-benar mulai memperdalam pengetahuan saya tentang Islam karena penasaran," kata Van Doorn mengenang awal mula hidayah Islam menghampirinya.

Rasa penasaran itu membuat Van Doorn mencari terjemah Al-Qur'an, hadits, dan buku-buku referensi Islam. Hari demi hari berikutnya ia lalui dengan membaca dan mengkaji buku-buku itu satu per satu, tanpa meninggalkan aktifitasnya yang lain. Selama ini Van Doorn hanya tahu Islam dari perkataan orang-orang yang membencinya.

Orang-orang yang dekat dengan Van Doorn sebenarnya tahu bahwa Van Doorn membaca referensi Islam, tetapi agaknya mereka tidak sampai berpikir bahwa itu akan menjadi jalan hidayah bagi Van Doorn. Karena lazim dalam dunia mereka, mengkaji sebuah pemikiran atau suatu faham tanpa harus mempercayai dan mengikutinya. Bahkan, tidak sedikit orang yang mempelajari Islam untuk kemudian menyerangnya.

Van Dorn menghabiskan waktu hampir setahun untuk mengkaji Qur'an, Sunnah dan sejumlah referensi Islam tersebut. Ia juga menyempatkan berdialog dengan penganut Islam untuk mengetahui lebih jauh tentang agama yang menarik hatinya tersebut.

"Orang-orang di sekitar saya tahu bahwa saya telah aktif meneliti Qur'an, sunnah dan tulisan-tulisan lain selama hampir setahun ini. Selain itu, saya juga telah banyak melakukan percakapan dengan Muslimin tentang agama," ujar Doorn kepada televisi Al-Jazirah Inggris.

Semakin lama mempelajari Islam, Van Doorn semakin tertarik. Ia mulai merasakan Islam sebagai sesuatu yang spesial. Meskipun sebelumnya ia juga memiliki pondasi Kristen sebagai agamanya, Van Doorn merasakan Islam itu istimewa.

Apa yang selama ini ada dalam kepalanya bahwa Islam itu fanatik, menindas wanita, tidak toleran, membabi buta memusuhi Barat, perlahan hilang dari pikirannya. Van Doorn menemukan Islam sebagai sesuatu yang sama sekali berbeda dari apa yang pernah ia sangka.

Van Doorn juga menemukan, Islam adalah agama yang cinta damai. Tidak seperti tuduhan media Barat yang selama ini mencitrakan Islam sebagai teroris.

"99 persen kaum muslimin adalah pekerja keras dan pecinta damai. Jika lebih banyak orang mempelajari Islam yang benar, semakin banyak orang yang akan melihat keindahan itu," kata Van Doorn ketika diwawancarai oleh MNA.

Jalan hidayah bagi Van Doorn semakin terbuka lebar ketika bertemu dengan seorang Muslim bernama Aboe Khoulani, seorang rekannya yang menjabat di Dewan Kota Den Haag. Selain menjelaskan Islam lebih jauh, ia juga menghubungkan Van Doorn dengan Masjid As-Soennah.

Puncak "pertarungan batin" dialami Van Doorn beberapa waktu kemudian. Apakah ia akan mengikuti hidayah yang diamini oleh fitrahnya itu atau sebatas menjadikannya sebagai pengetahuan. Beruntung, saat-saat itu tidak berlarut-larut. Setelah mantap dengan Islam, Van Doorn pun mengikrarkan syahadat. Ia pun menjadi Muslim dan menjadi saudara bagi sekitar 1,9 milyar umat. Tetapi bagi partai dan pengikutnya, Van Doorn dicap "pengkhianat." [IK/MNA/Rpb/bsb]

Nonton Youtube, Fotografer AS Masuk Islam


Hidayah bisa datang dengan cara yang tak terduga. Hidayah bisa datang melalui berbagai media. Salah satunya, melalui Youtube. Seperti dialami oleh perempuan warga Amerika Serikat (AS) ini.

Namanya Nicole Queen. Ia warga Dallas, AS. Perempuan yang berprofesi sebagai fotografer ini masuk Islam setelah menonton video Youtube. Awalnya, ia menonton tayangan Youtube tentang Islam setelah ditunjukkan oleh teman. Queen yang penasaran dengan Islam kemudian mencari dan menonton tayangan-tayangan Youtube lainnya mengenai Islam.

"Teman-teman saya menunjukkan tayangan kuliah di Youtube. Saya kemudian melihat dan mencari segala hal tentang Islam. Dan, saya justru menjadi ketagihan untuk terus menonton. Saya terus di depan komputer menontonnya hingga jam lima pagi," ujar Nicole Queen, seperti dilansir ROL, Jum’at (15/3).

Queen tak pernah menyangka, tayangan-tayangan Youtube itu membawanya mengenal hingga kemudian tertarik pada Islam.

Queen pun kemudian mengikrarkan dua kalimat syahadat setelah mantap dengan keyakinan barunya. Fotografer itu merengkuh hidayah, menjadi seorang muslimah.

Video Youtube apa yang ditonton Queen hingga membuatnya masuk Islam? Nantikan laporan berikutnya. Insya Allah.[IK/Rpb]

Kisah Nyata Heather Matthews, Dari Gila Pesta Menuju Cahaya Islam


Sampai semester kedua tahun 2012 lalu, Heather Matthews masih berpenampilan super-minim. Wanita Inggris yang kini berusia 28 tahun ini, pada saat itu juga tergolong gila pesta dan suka minum alkohol.

Lalu, segalanya berubah ketika ia masuk Islam pada September 2012 lalu. Kini, tak ada lagi Matthews yang gila pesta. Tak ada lagi Matthews yang minum alkohol. Tak ada lagi Matthews yang berpakaian minim. Ia kini telah berubah total, menjadi muslimah berjilbab.

Jalan Matthews menuju Islam diawali ketika ia meyakinkan mantan suaminya, Jerrome, yang baru saja menjadi muslim, bahwa Islam adalah agama yang salah. Ia yang bercerai pada 2011 lalu, curiga pada agama yang baru dianut mantan suaminya itu. Ia pun kemudian banyak membaca untuk mendukung argumennya.

Anehnya, niat awal untuk “membantah” Islam justru mendatangkan keyakinan bahwa agama yang akan ia serang itu adalah agama yang benar. Makin mempelajari Islam, Matthews semakin mengerti. Hidayah pun masuk ke dalam hatinya. Dengan segenap keberanian, ia pun menyatakan masuk Islam. Mengikrarkan syahadat pada September 2012 di depan seorang ulama lokal.

Bukan hanya karena menemukan agama yang benar, yang membuat Matthews bahagia. Ia menjadi semakin bahagia lagi sebab ternyata saudara-saudaranya seaqidah sangat peduli padanya. Nilai-nilai ukhuwah bukan hanya indah daam teori, tetapi ia juga mendapatkan buktinya.

"Saat ini aku memiliki saudari-saudari muslim, mereka membelikan aku hijab dan buku-buku Islami untuk merayakannya. Ini luar biasa," kata wanita mualaf itu.

Keputusan Matthews untuk masuk Islam bukannya tanpa resiko. Reaksi tidak nyaman ia dapatkan dari teman-teman dan keluarga. Juga kenalannya yang kebetulan berpapasan, ternganga melihat kepalanya berjilbab.

"Saat memakai jilbab, aku bisa tersenyum pada orang, tanpa membuat mereka berpikir, itu godaan secara seksual," kata Matthews seperti dilansir Daily Mail.

Meski baru masuk Islam, Matthews menyadari bahwa penampilan seksi ala Barat adalah sebuah kekeliruan. Dua bulan sebelum masuk Islam, Matthews sempat berlibur di Ibiza. Foto-foto liburannya di Ibiza, yang tanpa jilbab, kini disadarinya sebagai bukti kekeliruan bagaimana dunia Barat mendefinisikan kecantikan.

"Aku melihat cara gadis-gadis masa kini berperilaku dan berdandan, mati-matian menciptakan imej untuk mereka tunjukkan pada orang lain, terutama para pria," kata dia.

"Ini adalah soal menghormati diri sendiri. Jika Anda berpakaian dan berperilaku dengan cara tertentu, baik atau buruk, itu akan mempengaruhi cara orang memperlakukan Anda."

Memeluk Islam, membuat Matthews menemukan kebahagiaan sejat yang selama ini tidak pernah ia alami. Ia juga mulai mengerti cinta yang sejati.

"Islam mengajarkan pada saya tentang kesejatian cinta, bukan hasrat palsu dan nafsu. Saat ini saya bahkan memandang perjodohan adalah hal yang logis,” ujarnya.

Matthews tidak sendiri. Matthews bukan satu-satunya wanita mualaf di Inggris. Studi kelompok lintas agama, Faith Matters menemukan, jumlah warga Inggris yang akhirnya memeluk agama Islam saat ini melewati angka 100.000, dua kali lipat dalam 10 tahun terakhir. Menurut data Faith Matters, dua per tiganya adalah perempuan, dengan rata-rata usia 27 tahun. [IK/Vv]

Kisah Nyata, Masuk Islam Setelah Tuhannya Dibuang di Tempat Sampah


Sudah menjadi kebiasaan penduduk Yatsrib, para pembesar membuat patung-patung tuhan kecil di rumah mereka, meskipun sudah ada berhala besar di tempat pemujaan umum. Tidak terkecuali, seorang pembesar yang satu ini. Ia juga meletakkan satu patung yang ia sembah di rumahnya.

Amr bin Jamuh, nama pembesar itu. Anaknya yang bernama Muadz bin Amr telah lebih dulu masuk Islam. Ia ingin sang ayah menjadi muslim juga. Maka bersama Muadz bin Jabal ia membuat strategi dakwah untuk sang ayah, berharap agar ayahnya meninggalkan penyembahan berhala menuju mentauhidkan Allah Ta'ala. Untuk itu, keduanya akan menyadarkan ayah bahwa berhalanya tak sanggup berbuat apa-apa.

Di malam hari, keduanya menyelinap masuk rumah Amr bin Jamuh, mengambil patung tersebut lalu membuangnya ke tempat pembuangan sampah.

Keesokan harinya, Amr bin Jamuh terkejut sebab tuhannya tak ada di tempat. Setelah mencarinya ke sana kemari, akhirnya ia menemukan tuhan itu di tempat sampah.

"Celaka kalian, siapa yang berbuat kurang ajar pada tuhanku tadi malam," teriak Amr bin Jamuh marah. Tak ada seorangpun yang mengaku bertanggungjawab atas penghinaan berhala itu. Amr bin Jamuh kemudian mencuci berhala itu, memberinya wewangian dan meletakkannya di tempatnya.

Malam berikutnya, Muadz bin Amr dan Muadz bin Jabal kembali menyelinap masuk rumah Amr bin Jamuh, mengambil patung Manat tersebut lalu membuangnya ke tempat pembuangan sampah.

Keesokan harinya, Amr bin Jamuh lagi-lagi terkejut sebab tuhannya tak ada di tempat. Ia pun menemukan tuhan itu di tempat sampah.

"Celaka kalian, siapa yang berbuat kurang ajar pada tuhanku tadi malam," teriak Amr bin Jamuh marah. Tak ada seorangpun yang mengaku bertanggungjawab atas penghinaan berhala itu. Amr bin Jamuh kemudian mencuci berhala itu, memberinya wewangian dan meletakkannya di tempatnya.

Kali ini Amr bin Jamuh mulai kesal. Ia pun meletakkan pedang di leher Manat. "Jika engkau membawa kebaikan, lindungilah dirimu dengan pedang ini!" kata Amr bin Jamuh, tanpa jawaban apapun dari patung tersebut.

Malamnya, dua pemuda muslim tersebut kembali "mengerjai" Manat.

Amr bin Jamuh yang kembali kehilangan tuhannya segera mencarinya. Ia menemukan Manat di tempat yang sama. Bedanya, kali ini patung tuhan itu terikat pada bangkai anjing. Ia sangat marah, sekaligus kecewa.

Para pembesar Madinah yang berada di tempat itu mengajak Amr bin Jamuh menggunakan akalnya. Sambil menunjuk patung yang tak berdaya itu, mereka mengatakan betapa berhal itu tidak memiliki kekuatan apapun, bahkan untuk bisa membela dirinya. Para pembesar Madinah yang telah memeluk Islam itu pun menjelaskan bahwa satu-satunya tuhan adalah Allah, yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa. Allah mengutus Muhammad sebagai nabi dan rasul dengan Islam sebagai risalah/agamanya. Hidayah Allah datang, Amr bin Jamuh pun menerima dakwah itu dan masuk Islam.

Episode kehidupan Amr bin Jamuh kemudian tercatat dengan tinta emas, dipenuhi semangat jihad. Meski kakinya cacat, ia memaksa ikut perang Uhud. Doanya yang fenomenal "Ya Allah, berikan aku kesyahidan. Jangan Kau kembalikan aku pada keluargaku" itupun dikabulkan Allah. Ia syahid fi sabilillah. [Abu Nida]

Diego Michiels Masuk Islam


Pesepakbola nasional keturunan Belanda, Diego Michiels memutuskan untuk masuk Islam, Kamis (7/2). Diego mengaku, dirinya telah lama tertarik dengan Islam. Pria kelahiran 8 Agustus 1990 itu juga telah menyimpan banyak referensi Islam.

"Hal yang mengejutkan, Diego ternyata banyak menyimpan referensi tentang Islam dan dia memutuskan untuk memeluk Islam di bawah bimbingan saya," ujar Kuasa Hukum Diego, Kapitra Ampera, di Gedung Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Pusat, Jl Gajah Mada, Jakarta, Kamis (7/2).

Diego menegaskan, ia masuk Islam karena ketertarikannya kepada agama yang dibawa Nabi Muhammad itu. Ia tidak mendapatkan tekanan dari siapapun, juga bukan karena Nikita Willy.

"Ketertarikan ini murni berasal dari dalam diri saya. Tidak ada tekanan dari pihak manapun. Juga bukan karena kekasih saya seorang muslimah," terang Diego.

Selain itu, Diego membubuhkan kata Mohammad dalam nama lengkapnya. Kini, nama lengkap pria yang lahir di Devender, Belanda, itu menjadi Diego Mohammad Bin Robby Michiels.

Diego membaca Syahadat disaksikan oleh tiga orang saksi yaitu Riandi Rusman, Vidi Galenso dan Elza Syarief. Sebelum masuk Islam, Diego beragama Kristen. [IK/Mdk/Trb/bsb]

Jatuh Cinta pada Islam, Polwan Inggris Ini Bersyahadat


Jika Allah memberikan hidayah kepada hamba yang dikehendakiNya, tak seorang pun kuasa mencegahnya. Dan jalan hidayah Allah bisa melalui apa saja, termasuk hal yang tak diduga sebelumnya. Seorang polisi wanita Inggris bernama Jayne Kemp adalah salah seorang wanita yang merengkuh hidayah Allah dengan cara yang tak pernah ia sangka.

Ceritanya bermula saat ia bertemu kasus kekerasan rumah tangga seorang wanita di Eccles, Salford. Ia berupaya membantu wanita yang datang ke kantornya itu.

“Saat itu saya tidak sedang mencari agama apapun, tetapi setiap pertanyaan yang saya jawab tentang Islam, Saya hanya bisa menjawab lima lebih lah,” kata Jayne Kemp dikutip dari Manchester Evening News.

Untuk membantu wanita itu, Jayne perlu mengetahui solusi Islam untuk kasus seperti itu. Polisi berusia 28 tahun itu kemudian berdiskusi dengan Muslim yang ia temukan di Twitter.

Tak cukup di dunia maya, Jayne semakin tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang Islam.

“Di tempat saya bekerja di Eccles, di sana ada sebuah masjid besar dan populasi Muslim yang besar, jadi Saya pikir Saya harus mencari lebih banyak tentang ini,” ujarnya.

“Saya rasa Saya jatuh cinta dengan Islam.”

Hari demi hari yang dilalui Jayne dengan pengetahuan barunya mengenai Islam semakin membuat polisi wanita itu menyukai agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad itu.

Jayne menemukan ternyata Islam mengajarkan nilai-nilai luhur seperti berbuat baik kepada tetangga, menghormati orang-orang tua, dan menyayangi yang lebih muda.

Jayne, yang semula selalu mendengar isu negatif tentang Islam, bahwa wanita dalam Islam itu teraniaya, menemukan fakta berbeda. Ternyata semua itu salah. Islam sangat memuliakan wanita.

Kecintaan Jayne kepada Islam mengantarkannya untuk berikrar Syahadat pada April 2012 dan mengubah namanya menjadi Aminah. Ia pun kini telah menjadi seorang muslimah yang berjilbab.

Keislaman Jayne diterima oleh keluarga dan rekan-rekan kerjanya. Namun, ia juga tidak akan memaksa kedua anaknya untuk masuk Islam, sebagaimana memang tidak ada paksaan untuk masuk agama Islam. [IK/MZ]

Kisah Nyata Syarifuddin Mengislamkan Ribuan Orang


Kisah nyata ini terjadi di Distrik Pumwani, Kenya, tahun 1998. Ribuan orang telah berkumpul di lapangan, untuk melihat bocah ajaib, Syarifuddin Khalifah. Usianya baru lima tahun, tetapi namanya telah menjadi buah bibir karena pada usia itu ia telah menguasai lima bahasa. Oleh umat Islam Afrika, Syarifuddin dijuluki Miracle Kid of East Africa.

Perjalanannya ke Kenya saat itu merupakan bagian dari rangkaian safari dakwah ke luar negeri. Sebelum itu, ia telah berdakwah ke hampir seluruh kota di negaranya, Tanzania. Masyarakat Kenya mengetahui keajaiban Syarifuddin dari mulut ke mulut. Tetapi tidak sedikit juga yang telah menyaksikan bocah ajaib itu lewat Youtube.

Orang-orang agaknya tak sabar menanti. Mereka melihat-lihat dan menyelidik apakah mobil yang datang membawa Syarifuddin Khalifah. Beberapa waktu kemudian, Syeikh kecil yang mereka nantikan akhirnya tiba. Ia datang dengan pengawalan ketat layaknya seorang presiden.

Ribuan orang yang menanti Syarifuddin Khalifah rupanya bukan hanya orang Muslim. Tak sedikit orang-orang Kristen yang ikut hadir karena rasa penasaran mereka. Mungkin juga karena mereka mendengar bahwa bocah ajaib itu dilahirkan dari kelarga Katolik, tetapi hafal Qur’an pada usia 1,5 tahun. Mereka ingin melihat Syarifuddin Khalifah secara langsung!

Ditemani Haji Maroulin, Syarifuddin menuju tenda yang sudah disiapkan. Luapan kegembiraan masyarakat Kenya tampak jelas dari antusiasme mereka menyambut Syarifuddin. Wajar jika anak sekecil itu memiliki wajah yang manis. Tetapi bukan hanya manis. Ada kewibawaan dan ketenangan yang membuat orang-orang Kenya takjub dengannya. Mengalahkan kedewasaan orang dewasa.

Kinilah saatnya Syeikh cilik itu memberikan taushiyah. Tangannya yang dari tadi memainkan jari-jarinya, berhenti saat namanya disebut. Ia bangkit dari kursi menuju podium.

Setelah salam, ia memuji Allah dan bershalawat kepada Nabi. Bahasa Arabnya sangat fasih, diakui oleh para ulama yang hadir pada kesempatan itu. Hadirin benar-benar takjub. Bukan hanya kagum dengan kemampuannya berceramah, tetapi juga isi ceramahnya membuka mata hati orang-orang Kristen yang hadir pada saat itu. Ada seberkas cahaya hidayah yang masuk dan menelusup ke jantung nurani mereka. Selain pandai menggunakan ayat Al Qur’an, sesekali Syarifuddin juga mengutip kitab suci agama lain. Membuat pendengarnya terbawa untuk memeriksa kembali kebenaran teks ajaran dan keyakinannya selama ini.

Begitu ceramah usai, orang-orang Kristen mengajak dialog bocah ajaib itu. Syarifuddin melayani mereka dengan baik. Mereka bertanya tentang Islam, Kristen, dan kitab-kitab terdahulu. Sang Syeikh kecil mampu memberikan jawaban yang memuaskan. Dan itulah momen-momen hidayah. Ratusan pemeluk Kristiani yang telah berkumpul di sekitar Syarifuddin mengucapkan syahadat. Menyalamai tangan salah seorang perwakilan mereka, Syarifuddin menuntun syahadat dan mereka menirukan: “Asyhadu an laa ilaaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan Rasuulullah.”

Syahadat agak terbata-bata. Tetapi hidayah telah membawa iman. Mata dan pipi pun menjadi saksi, air mata mulai berlinang oleh luapan kegembiraan. Menjalani hidup baru dalam Islam. Takbir dari ribuan kaum muslimin yang menyaksikan peristiwa itu terdengar membahana di bumi Kenya.

Bukan kali itu saja, orang-orang Kristen masuk Islam melalui perantaraan bocah ajaib Syarifuddin Khalifah. Di Tanzania, Libya, dan negara lainnya kisah nyata itu juga terjadi. Jika dijumlah, melalui dakwah Syarifuddin Khalifah, ribuan orang telah masuk Islam. Ajaibnya, itu terjadi ketika usia Syeikh kecil itu masih lima tahun. [Disarikan Abu Nida dari “Buku Bocah yang Mengislamkan Ribuan Orang”]

Epilepsi Sembuh Setelah Minum Air Zam-zam, Raju Masuk Islam


Setelah dua pekan berturut-turut meminum air zam-zam, seorang warga Sri Lanka yang tinggal di Arab Saudi sembuh dari penyakit epilepsi. Setelah penyakitnya sembuh, perempuan yang berprofesi sebagai pembantu rumah tangga itu kemudian masuk Islam.

Kejadiannya bermula ketika majikannya membawa air zamzam dari Makkah. Sang majikan meminta Raju meminum air yang dipercaya berkhasiat menyembuhkan berbagai penyakit itu. Setelah dua pekan berturut-turut mengkonsumsi air zamzam, penyakit epilepsi yang diderita Raju sejak 15 tahun lalu hilang. Raju sembuh.

"Pembantu ini terus meminum air zamzam selama hampir dua pekan. Lalu, dokter menyatakan penyakit epilepsinya sembuh," tulis surat kabar Saudi, Sharq, baru-baru ini.

Sembuhnya epilepsi membuat Raju takjub dengan khasiat air zamzam sebagaimana yang dikabarkan dalam hadits Nabi. Ia pun kemudian mengikrarkan syahadat dan mengganti namanya dengan Farida.

Air zamzam diyakini oleh kaum muslimin memiliki khasiat sebagaimana niat orang yang meminumnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, "Air Zam-Zam sesuai dengan niat ketika meminumnya. Bila engkau meminumnya untuk obat, semoga Allah menyembuhkanmu. Bila engkau meminumnya untuk menghilangkan dahaga, semoga Allah menghilangkannya. Air Zam-Zam adalah galian Jibril, dan curahan minum dari Allah kepada Ismail." (Hadits hasan li ghairihi. Shahih Targhib wa Tarhib, al Albani) [IK/Rpb/Mhj]

Victoria: Islam Mengubah Hidupku, Islam Menenangkan Hatiku


Victoria, namanya. Seperti banyak dialami oleh orang-orang Barat lainnya, perempuan warga Kanada ini "dihantui" oleh perasaan takut mati. Sampai kemudian, ia mendapatkan hidayah dan masuk Islam.

"Sulit diungkapkan dengan kata-kata, karena Islam begitu menakjubkan", kata Victoria mengungkapkan kebahagiannya menjadi mualaf.

"Aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa. Seperti belum pernah aku alami selama ini."

Victoria mengikrarkan syahadat dua tahun lalu. Setelah menjadi muslimah, ia mengaku hidupnya berubah 180 derajat. Ia mengungkapkan, dirinya kini lebih sabar dan disiplin. Ia tak lagi takut mati seperti apa yang ia alami sebelumnya.

"Menjadi Muslim, membuatku sangat disiplin dan sederhana. Aku harus bangun pagi, aku laksanakan shalat subuh. Rutinitas macam ini benar-benar membuatku tenang," terangnya.

Ia meyakini bahwa ia telah diselamatkan Allah Subhanahu wa Ta'ala melalui hidayah yang diperolehnya pada usia dewasa. Ia kini yakin dengan adanya kehidupan sesudah kematian. Ia yakin ada yang mengasinya setiap detik. Dengan keyakinan itu, ia kini dimudahkan menahan diri dari kehendak nafsu.

Masuk Islam benar-benar membuat Victoria bahagia bahkan sebelum mengikrarkan syahadat. Banyak dukungan yang datang dari Muslim yang dijumpainya. Ada yang memberinya tasbih, sajadah, Al-Qur'an atau nasihat. Bahkan Victoria kini memiliki lima mushaf Al-Qur'an dalam terjemahan berbeda.

"Mereka benar-benar mendukungku," kenang Victoria.

Setelah bersyahadat, ungkapan tulus turut berbahagia didapatkan Victoria dari banyak orang. Banyak pelukan hangat dari para muslimah menghampirinya. Bahkan, ada satu Muslim yang tak ragu menawarkan bantuan kepadanya.

"Masya Allah, luar biasa," pungkas Victoria. [IK/Rpb]

Masuk Islam, Kini Peraih MTV Europe Music Awards Ini Berjilbab


Lahir di Nikosia, Siprus, 30 Juli 1980 lalu, Diam's memiliki nama asli Mélanie Georgiades. Menjelang dewasa, Diam's menjadi rapper Perancis yang terkenal.

Album pertamanya "Premier Mandat" terbit pada tahun 1999, saat usianya menginjak 19 tahun. Sepuluh tahun kemudian lima album telah dihasilkannya.

Sedikitnya, delapan penghargaan musik diterimanya sejak tahun 2004 hingga 2007. yang paling fenomenal adalah saat Diam's meraih MTV Europe Music Awards pada tahun 2006.

Namun, di puncak karirnya itu, Diam's malah mengalami depresi. "Di puncak kesuksesan karir, saya menderita depresi berat. Saya telah mengunjungi banyak psikolog, tapi tidak satu pun dari mereka yang bisa membantu saya," kenang pemilik nama asli Mélanie Georgiades itu.

Diam's mengaku mulai menemukan jawaban atas segala kegalauan jiwanya ketika melihat seorang rekan Muslim-nya menunaikan shalat. Sejak saat itu, ia mulai mempelajari Islam dengan membaca terjemah kitab suci Al-Qur'an.

"Memeluk Islam adalah hasil perenungan pribadi saya setelah mempelajari agama ini dan membaca Al-Qur'an," kata Diam's yang memeluk Islam pada 2008 silam.

Setelah masuk Islam, kini Diam's mengenakan jilbab dan lebih fokus pada kegiatan-kegiatan sosial. Diantaranya, membantu anak-anak yatim. [IK/Wkp/Rpb/Mua]

Gara-gara Ayat Iddah, Tokoh Yahudi Pakar Genetika Masuk Islam


“Wanita-wanita yang ditalak hendaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru.” (QS. Al-Baqarah : 228).

Ayat tersebut menarik perhatian Robert Guilhem, seorang pakar genetika dan tokoh Yahudi di Albert Einstein College. Ia bertanya-tanya, mengapa kitab suci umat Islam memberikan ketentuan masa iddah tiga bulan? Mengapa setelah bercerai perempuan tidak boleh langsung menikah lagi dengan lelaki lain?

Guilhem pun menyelidiki ayat itu dan melakukan penelitian. Seperti dipublikasikan societyberty.com, hasil penelitian Guilhem menunjukkan, hubungan intim suami istri menyebabkan laki-laki meninggalkan sidik khususnya pada perempuan. Jika pasangan suami istri tidak bersetubuh, maka tanda itu secara perlahan-lahan akan hilang antara 25-30 persen. Kemudian ia akan hilang secara keseluruhan setelah tiga bulan berlalu. Setelah tiga bulan dan sisik khusus suaminya hilang, perempuan yang dicerai akan siap menerima sidik khusus laki-laki lainnya.

Guilhem kemudian melakukan penelitian dan pembuktian lain di sebuah perkampungan Muslim Afrika di Amerika. Dalam studinya, ia menemukan setiap wanita di sana hanya mengandung sidik khusus dari pasangan mereka saja.

Ketika ia melakukan penelitian serupa di perkampungan nonmuslim Amerika, ia mendapatkan hasil yang berbeda. Ternyata wanita di sana yang hamil memiliki jejak sidik dua hingga tiga laki-laki. Artinya, wanita-wanita non-muslim di sana melakukan hubungan intim selain pernikahannya yang sah.

Pakar genetika itu juga melakukan penelitian kepada istrinya sendiri. Ternyata hasilnya menunjukkan istrinya memiliki tiga rekam sidik laki-laki. Ia mendapati bukti bahwa istrinya berselingkuh. Dari tiga anaknya, hanya satu yang berasal dari dirinya.

Setelah penelitian-penelitian tersebut, Guilhem akhirnya memutuskan untuk masuk Islam. Ia bersyahadat setelah meyakini hanya Islam lah yang menjaga martabat perempuan dan menjaga keutuhan kehidupan sosial. Ia yakin bahwa perempuan muslimah adalah perempuan paling bersih di muka bumi ini. [IK/Rpb]

Sebuah Novel Mengantarkan Molly Carlson Menjadi Mualaf


Seperti banyak warga Amerika Serikat (AS) lainnya, Molly Carlson dilahirkan dalam keluarga Nasrani. Ia tidak pernah mengenal Islam hingga suatu saat ia membaca sebuah novel berjudul King of the Wind.

Dari buku fiksi karya Marguerite Henry itu, Molly kecil terkesan dengan Islam. Berbeda dengan doa-doa, pelayanan, dan salib di dadanya yang selama ini tak menyentuh hatinya.

“Saya tidak ingat berapa umur saya ketika membaca buku itu, tapi saya ingat betul satu adegan di buku itu yang membuat saya mengenal Islam dan mempertanyakan identitas saya sebagai Katolik,” kenang Molly yang tidak bisa melupakan adegan puasa Ramadhan dalam buku yang menceritakan tentang seorang anak laki-laki dari Maroko dan kudanya itu.

“Entah mengapa setelah membaca kisah tersebut, hati saya tiba-tiba tergerak,” kata Molly. Setelah itu, ia mulai mencari tahu tentang Islam, meskipun belum sepenuhnya memahami mengingat faktor usianya yang masih kecil.

Kenangan Molly semakin berkesan dengan hadirnya mimpi-mimpi yang menuntunnya. “Pada usia 12 tahun saya mendapatkan mimpi misterius yang tidak benar-benar saya mengerti. Tidak menakutkan, namun mimpi itu seperti merefleksi hati saya ketika itu,” ujarnya.

Dalam mimpi itu, Molly berdiri di sebuah ruangan kotak yang diterangi sebuah lentera. Dindingnya terbuat dari kayu dan lantainya berlapis karpet berpola. Ruangan itu terbagi menjadi dua oleh sebuah pembatas. Satu ruangan ditempati oleh para perempuan berhijab dan ruangan lainnya, tempat Molly berada, dipenuhi oleh laki-laki. Meskipun mimpi, tiba-tiba Molly tersadar dan merasa bersalah karena seharusnya ia berada di ruangan perempuan berhijab, bukan di ruangan laki-laki.

Beberapa tahun berikutnya Molly bermimpi yang tidak kalah berkesan. Ia melihat seorang perempuan berdiri di sebelahnya. Perempuan itu menggunakan hijab hitam menutupi seluruh tubuhnya dari kepala hingga ujung kaki.

Semula Molly merasa takut melihat sosok tersebut, namun kemudian ia memberanikan diri untuk mendekat. Ia terkejut ketika melihat mata perempuan tersebut lebih seksama. Itu adalah dirinya!

“Saya bisa tahu dari mata itu. Itu mata saya. Kami seperti cermin. Sejenak saya berpikir bahwa mimpi tersebut adalah masa depan saya kelak,” ujarnya.

Eksplorasi Molly terus berlangsung. Hingga setelah peristiwa 9/11, ia merasakan bagaimana kepedihan diskriminasi yang dialami oleh seorang Muslim. Ketika itu ia berusia 18 tahun, semester pertama di perguruan tinggi.

Peristiwa 9/11 telah menimbulkan kebencian kepada Muslim, tetapi Molly tidak terpengaruh. “Saya tidak tega melihat teman saya diperlakukan tidak baik pasca kejadian tersebut. Saya sudah mengenal mereka sejak lama. Mereka orang yang sangat baik. Bukan teroris ataupun ekstremis,” ujarnya.

Ia bahkan ingin merasakan apa yang dialami oleh seorang Muslim akibat peristiwa itu. Karenanya ia meminjam hijab milik temannya dan datang ke kampus dengan penampilan serba tertutup.

“Kenyataannya saya benar-benar diperlakukan secara berbeda. Perlakukan yang keras bahkan membuat saya menangis,” ujarnya.

Perlakukan itu tak menyurutkan langkahnya untuk memeluk Islam. Pada 2005, ketika usinya 22 tahun, Molly mengikrarkan syahadat.

“Saya masih ingat betul perasaan saya saat itu. Saya merasakan tangan Tuhan merangkul saya dan mencabut dosa saya serta membuat saya menjadi orang yang baru,” katanya.

Sejak saat itu, Molly tidak pernah melihat ke belakang. Sejak saat itu ia merasakan kebahagiaan dan kedamaian sejati. “Saya menemukan lebih banyak arti dan kesenangan dalam hidup saya setelah menjadi muslim,” pungkasnya. [AM/Rpb]

Subhanallah, Dai Ini Islamkan Ribuan Warga Filipina


Omar Penalber, nama pria ini. Ia masuk Islam 24 tahun silam. "Saya telah memilih agama yang tepat," katanya usai mengikrarkan dua kalimat syahadat, menegaskan bahwa dirinya telah berpikir panjang atas putusannya masuk Islam.

Hebatnya, Omar tak puas hanya dengan sekedar masuk Islam. Pria ini pun belajar mendalami Islam dan berkomitmen menjadi dai. Kini, ia telah mengislamkan ribuan warga Filipina sejak tahun 2010 lalu.

Omar mengatakan, sejak menjadi muslim ia terdorong untuk ambil bagian dalam dakwah Islam. Ia ingin agar warga Filipina lainnya juga merasakan indahnya Islam dan mendapatkan manisnya hidayah.

"Saya ingin menginspirasi mereka pada ajaran Rasulullah SAW, guna mempersiapkan diri menggapai surga yang dijanjikan," tekadnya.

Untuk bisa masuk surga, tambah Omar, setiap muslim harus melaksanakan ajaran Islam secara kaffah.

"Islam adalah agama yang benar. Saya sarankan kepada mereka untuk tidak ragu menerima Islam," tambahnya.

Demi mencapai cita-citanya menjadi dai, Omar pun belajar ke Timur Tengah. Di sana ia belajar Islam dan berupaya mengamalkannya secara kaffah. Sekembalinya dari Timur Tengah pada 2007, Omar aktif mendakwahi masyarakat Filipina. Ia menyampaikan bahwa menjadi muslim sangat mudah, masuk Islam tidak susah.

"Begitu mudah menjadi muslim. Usai membenarkan Islam, lalu mengucapkan dua kalimat syahadat. Selanjutnya, muslim diwajibkan mematuhi empat rukun Islam lainnya seperti shalat, puasa, zakat dan pergi haji," kata Omar.

Dengan izin Allah, warga Filipina berbondong-bondong menyambut seruan Omar. Tercatat, ribuan warga negara tujuan wisata di Asia Tenggara itu masuk Islam sejak tahun 2010 melalui dakwah Omar. [AM/Rpb]



Mantan Direktur NATO Masuk Islam, Jerman Gempar


Namanya Wilfried Hoffman. Ia dilahirkan dalam keluarga Katholik Jerman pada 3 Juli 1931. Hoffman meraih gelar Doktor di bidang ilmu hukum dan yurisprodensi dari Universitas Munich, Jerman tahun 1957. Pada tahun 1983-1987, ia ditunjuk menjadi direktur informasi NATO di Brussels.

Jerman sangat mengenal Hoffman, karena setelah bertugas di NATO, ia diangkat menjadi diplomat (duta besar) Jerman untuk Aljazair tahun 1987 dan dubes di Maroko tahun 1990-1994. Karenanya, Jerman menjadi gempar seketika saat Hoffman menerbitkan buku yang berjudul Der Islam als Alternative (Islam sebagai Alternatif). Jerman terkejut, ternyata salah satu putra terbaiknya telah memeluk Islam.

Hoffman sebenarnya telah masuk Islam sejak lama, jauh sebelum bukunya dipublikasikan pada 1992. Ia masuk Islam bahkan sebelum bertugas ke Aljazair dan Maroko. Bagaimana ia mendapatkan hidayah?

Saat itu, Hoffman sangat prihatin pada dunia barat yang mulai kehilangan moral. Agama yang dulu dianutnya dirasakannya tak mampu mengobati rasa kekecewaan dan keprihatinannya akan kondisi tersebut.

Hoffman juga memiliki sejumlah pertanyaan teologi yang belum terjawab, terutama mengenai dosa warisan. Ia juga tidak puas dengan jawaban mengapa tuhan memiliki anak dan harus pasrah disiksa hingga mati di kayu salib.

“Ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak punya kuasa,” tegasnya.

Hoffman bahkan sempat “meragukan” keberadaan Tuhan. Ia lalu melakukan analisa terhadap karya-karya filsuf seperti Wittgenstein, Pascal, Swinburn, dan Kant, hingga akhirnya ia dengan yakin menemukan bahwa Tuhan itu ada.

Jika Tuhan itu ada, bagaimana manusia berkomunikasi dengan-Nya? Hoffman menemukan, jawabannya adalah wahyu. Maka ia pun membandingkan berbagai “wahyu” yang ada. Setelah membandingkan kitab suci Yahudi, Kristen dan Islam itulah Hoffman mendapati Islam-lah yang secara tegas menolak dosa warisan. Ia juga mendapati, dalam Islam seseorang langsung berdoa kepada Allah, bukan melalui perantara atau tuhan-tuhan lainnya.

“Seorang Muslim hidup di dunia tanpa pendeta dan tanpa hierarki keagamaan; ketika berdoa, ia tidak berdoa melalui Yesus, Maria, atau orang-orang suci, tetapi langsung kepada Allah,” kata Hoffman.

Tauhid yang murni di dalam Islam itulah yang akhirnya membuat Hoffman memeluk Islam. Keyakinannya semakin kuat ketika ia bertugas di Aljazair dan melihat betapa umat Islam Aljazair begitu sabar, kuat dan tabah menghadapi berbagai macam ujian dan cobaan dari umat lain. Sangat bertolak belakang dengan kepribadian masyarakat Barat yang rapuh.

"Saya menyaksikan kesabaran dan ketahanan orang-orang Aljazair dalam menghadapi penderitaan ekstrem, mereka sangat disiplin dan menjalankan puasa selama bulan Ramadhan, rasa percaya diri mereka sangat tinggi akan kemenangan yang akan diraih. Saya sangat salut dan bangga dengan sikap mereka," ujarnya.

Ketika keislamannya diketahui publik pasca terbitnya buku Der Islam als Alternative, media massa dan masyarakat Jerman serentak mencerca dan menggugat Hoffman. Media massa sebesar Del Spigel pun turut mencercanya. Bahkan pada kesempatan berbeda, televisi Jerman men-shooting Hoffman saat ia sedang melaksanakan shalat di atas Sajadahnya, di kantor Duta Besar Jerman di Maroko, sambil dikomentari oleh sang reporter: "Apakah logis jika Jerman berubah menjadi Negara Islam yang tunduk terhadap hukum Tuhan?"

Hoffman tersenyum mendengar komentar sang reporter. "Jika aku telah berhasil mengemukakan sesuatu, maka sesuatu itu adalah suatu realitas yang pedih." Artinya, lelaki yang menambah namanya dengan “Murad” (yang dicari) ini, paham bahwa keislamannya akan membuat warga Jerman marah. Namun ia sadar, segela sesuatu harus ia hadapi apapun resikonya. Bagi Murad Wilfried Hoffman, demikian nama lengkapnya setelah menjadi Muslim, Islam adalah agama yang rasional dan maju.

Seiring waktu, masyarakat Jerman mulai “menerima” keislaman Hoffman. Sebagian mereka juga turut membaca karya-karya mualaf yang komitmen mendakwahkan Islam ini. Buku berikutnya yang ditulis Hoffman berjudul Trend Islam 2000. Selain menulis, Hoffman juga aktif dalam organisasi keislaman, seperti OKI. Ia terus menyampaikan pemikiran-pemikiran briliannya untuk kemajuan Islam.

Pada September 2009 lalu, Hoffman dinobatkan sebagai Muslim Personality of The Year (Muslim Berkepribadian Tahun Ini), yang diselenggarakan oleh Dubai International Holy Quran Award (DIHQA). Penghargaan serupa pernah diberikan pada Syeikh Dr Yusuf al-Qardhawi. [IK/Rpb]


Copyright © 2012-2099 SEKILAS DAKWAH - Dami Tripel Template Level 2 by Ardi Bloggerstranger. All rights reserved.
Valid HTML5 by Ardi Bloggerstranger