lazada ID
Showing posts with label Muslimah. Show all posts

Antara Wanita Shalihah dan Bidadari Surga


Jam menunjukkan pukul 13:30. Matahari menyembulkan sinar dari balik awan, cerah. Awan putih di sekelilingnya menghiasi langit biru, ia seolah tersenyum melihat aku dan ummi yang tengah duduk berdua. Angin sepoi yang berhembus, membuat kami semakin asyik dalam angan kami. Di depan kami, terlihat kupu-kupu yang sedang berterbangan diantara bunga-bunga pohon yang biasa disebut orang Gresik sebagai pohon Keres, sedangkan orang Jogja biasa menyebutnya Talok.

“Dek” kata ummi, anganku terhenti. Kututup buku yang kupegang.
“Iya ummi” kupalingkan wajahku pada ummi, ummi terdiam sejenak.
“Liat deh dek, kupu-kupu itu seperti bidadari-bidadari yang berterbangan di taman surga. Sayapnya yang indah, dengan aneka macam warna, mengelilingi bunga talok dan daun-daunnya yang hijau. Indah ya dek?” kata ummi, matanya memandang ke arah kupu-kupu yang berterbangan di atas daun Talok yang terletak di samping asrama kami.

“Iya mi, indah ya. Kupu-kupunya bagus. Berwarna–warni. Subhanallah...” kataku pada ummi.

Aku lalu membayangkan bagaimana bidadari-bidadari surga itu menghiasi taman surga. Mereka saling bercengkerama. Matanya yang jeli, kulitnya yang halus dan bening, suaranya yang merdu, aah indahnya...

Tapi...

Anganku terhenti sejenak… Diam. Kosong. Mataku kembali menerawang jauh ke angkasa. Bukankah bidadari dunia itu lebih indah dan mulia tatkala ia bisa menjadi wanita sholihah, mereka wanita shalihah yang menjaga kehormatan dirinya dan martabat suaminya, mereka wanita-wanita shalihah yang tetap tegar menegakkan panji-panji Islam di tengah hiruk pikuk kehidupan dunia, mereka yang rela dianggap asing demi tegaknya sunnah Nabi di muka bumi ini, dan mereka yang menjauhkan dirinya dari hal-hal yang berbau maksiat dan syubhat.

Dalam hadits diceritakan bahwa suatu saat Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha bertanya kepada Rasulullah shallallahu alaihi wasallam: ”Ya Rasulullah beritakanlah kepada kami, mana yang lebih utama di surga, wanita di dunia ataukah bidadari surga?”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam menjawab, “Wanita-wanita di dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari seperti kelebihan apa yang tampak dari apa yang tidak terlihat”

Ummu Salamah kemudian bertanya “Mengapa wanita-wanita shalihah lebih utama daripada bidadari?”

Beliau menjawab “Karena shalat mereka, puasa, dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuningan, sanggulnya mutiara, dan sisirnya dari emas. Mereka lalu berkata “Kami hidup abadi dan tidak mati. Kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali. Kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Maka berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya” (HR. At-Thabrani)

Subhanallah... Sungguh mulianya wanita shalihah hingga Rasulullah mengatakan bahwa wanita shalihah lebih utama daripada bidadari surga. Wanita shalihah yang mengerjakan sholat, puasa dan memperbanyak ibadah.

Wahai saudariku...

Sungguh kita semua adalah wanita yang cantik, maka mari kita percantik diri kita dengan akhlak yang mulia, dengan menjadikan diri kita wanita yang shalihah hingga kita bisa menyaingi bidadari surga....

Wallahu a’lam bish-shawab... [Ukhtu Emil]

Menjadi Akhwat Tangguh


apakah mereka yang slalu berbuat baik itu tak pernah "terluka"
ah kawan.. boleh jadi mereka lah yang paling banyak terluka di "jalan ini"
bahkan mungkin hati mereka sudah tak utuh lagi.. tercabik dan terkoyak di sana-sini..
lalu mengapa mereka terus menebar kebaikan..?
karena yang mereka cintai adalah Allah… bukan dirinya sendiri…

[Sarwo Widodo Arachnida]

“3 hari sesudah menikah… kami pun hidup terpisah…” ucapnya dengan suara datar.
“Subhanallah…artinya sejak itu anti di Jakarta dan suami di Jawa Timur...? ” tanya Murobbiyah saya untuk meyakinkan.
“Benar…” jawab akhwat tersebut dengan penuh keyakinan tanpa penyesalan.

Itu sepenggal kisah yang dibagi murabbiyah saya saat duduk bersama di Masjid Islamic Center, pagi itu. Kisah tentang salah seorang akhwat pembimbing anak-anak calon penghafal Al Qur’an di Markaz Utrujah yang dirintis oleh DR. Sarmini Lc. MA. Seorang Akhwat tangguh yang berani mengambil pilihan memenangkan Allah dan dakwah di atas kesenangan pribadinya. Beliau lebih memilih mendampingi anak-anak menghafal setiap ayat demi ayat Al Qur’anul Karim dengan konsekuensi harus terpisah jarak dengan sang suami. Beliau lebih memilih bersabar untuk tidak berjumpa dengan suami yang dicinta demi mengantarkan bocah-bocah calon penghafal Al Qur’an itu menjadi generasi Robbani yang akan menjayakan dan memuliakan Islam dengan Al Qur’an. Sebuah pilihan yang tak mudah memang, tapi beliau telah membuat keputusan.

Dari pribadi–pribadi berjiwa tangguhlah selayaknya kita mengambil teladan. Sebab dalam hidup akan ada begitu banyak tantangan yang mesti kita hadapi. Sebab dalam hidup tak sedikit “persimpangan jalan” yang bakal memaksa kita untuk membuat pilihan dan keputusan. Sebab dalam hidup terlampau sering manusia “dipaksa” menjadi lebih kuat agar tidak mengalah pasrah saat menghadapi masalah.

Dari pribadi–pribadi berjiwa tangguh kita belajar, belajar terus menebar kebaikan. Mereka tak hidup untuk dirinya sendiri tapi juga menghidupkan dan memberi manfaat pada sekitarnya. Mereka percaya dengan penuh keyakinan jika di setiap langkah hidup yang mereka tempuh itu demi Allah dan dakwahNya, maka tak pernah akan ada yang sia- sia. Allah Maha Melihat dan malaikatpun tak akan lalai mencatat.. Mereka sepenuhnya mengimani firmanNya :

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula)” (QS. Ar-Rahman: 60)

Jika sebuah pilihan yang tak mudah telah diambil, benturan dan luka adalah sebuah keniscayaan. Bentuknya bisa jadi berupa perasaan tidak nyaman, godaan keikhlasan, cacian dan celaan, rasa tidak puas serta tuntutan berlebihan dari lingkungan hingga lintasan hati untuk menghentikan perjuangan. Mungkin tidak cukup sekali, dua kali, tiga kali, bahkan mungkin akan berkali-kali benturan dan luka yang akan terjadi. Tapi pribadi berjiwa tangguh tak terlalu risau dengan segala luka dan kepahitan itu. Mereka lebih memilih Allah dari pada sekedar rasa nyaman. Mereka memilih untuk menjadi kuat sebab mereka tahu Allah yang akan memampukan dan menguatkan mereka dengan pertolonganNya.

”…dan merupakan hak Kami, untuk Menolong orang-orang yang beriman…” (QS. Ar-Rum 47)

“Yang pasti modal awalnya azzam yang kuat… kemudian jiddiyah… bersungguh-sungguh…” kata murabbiyah saya sambil menepuk lembut lutut mutarabbi yang sedang bersila di sampingnya. “Akhwat tadi bisa… Bu Sarmini juga bisa… antipun pasti bisa…” sambungnya menguatkan. Tiba–tiba… serasa sebuah pilihan dihamparkan di hadapan saya. Pilihan menjadi tangguh atau pengeluh…? Menjadi gagah atau kalah…? Pilihan pertama lebih indah sepertinya… bagaimana menurut kalian..? [Kembang Pelangi]

Ukhti, Kejarlah Cintamu


“Jangan hanya mengejar cita-cita, tapi kejarlah cinta kalian juga” pesan guru MTs saya, saat saya dan teman-teman silaturrahmi ke rumah beliau. Bu Guru yang hampir berkepala empat ini ternyata belum menikah. Padahal beliau sudah mapan secara ekonomi dan sudah siap secara lahir dan bathin, secara fisikpun beliau imut. Namun entahlah sampai sekarang beliau belum juga menemukan pendamping hidupnya.

Pesan beliau menyiratkan makna yang mendalam bagi kami yang masih berusia kepala dua. Ada satu pelajaran yang dapat kami petik, yakni bagaimanapun planning kami tentang masa depan dan cita-cita jangan sampai lupa untuk mengejar cinta, menggenapkan separuh agama.

Kadangkala karena terlalu sibuk menuntut ilmu, mengejar cita-cita, mengejar target masa depan seperti planning S1, S2 keluar negeri, jadi PNS atau kerja di lembaga ini dan seterusnya, kita lupa memprioritaskan untuk menikah. Ketika usia sudah menginjak kepala tiga baru sadar kalau usia sudah tak lagi muda, teman-teman sudah mengantarkan anak-anak mereka sekolah, kita lantas ‘iri’ melihatnya.

Mungkin bukan cuman bu guru saya yang mengalami hal seperti ini. Ada beberapa kasus lain yang serupa, bahkan saya juga menemukan seorang akhwat yang usianya sudah 40 tahunan yang saya kira ummahat ternyata belum menikah juga. Dan masih banyak lagi kasus serupa.

Kalau kita hidup di tengah kota seperti Jogja, hal ini menjadi hal yang tak terlalu bermasalah. Karena tak ada yang menuntut, tak ada yang mengkritik kecuali beberapa orang di lingkungan kita yang memang sudah betul-betul mengenal kita yang berani bertanya pada kita, menggoda kita dengan pertanyaan-pertanyaan seputar itu bahkan mereka akan membantu mencarikan.

Tapi, coba kalau kita hidup di desa. Ini akan menjadi permasalahan yang serius. Selain menjadi beban kedua orang tua, hal ini terkesan menjadi ‘aib’ keluarga karena salah satu anggota keluarganya ada yang belum menikah padahal usia sudah kepala tiga bahkan kepala empat.

Dalam sebuah obrolan ringan dengan ayah saya, beliau mengatakan pada saya “Mau kamu sudah lulus kuliah, mau kamu sudah kerja, tapi kalau kamu belum menikah beban ayah belum selesai. Karena menikahkan kamu adalah tugas ayah”. Glekkk!!! Iya juga sih kalau dipikir.

Kata-kata serupa juga sempat diucapkan oleh seorang ibu yang saya temui saat saya mencari oleh-oleh di depan kantor pusat Semen Gresik tempo hari. Beliau punya dua orang anak perempuan. Anak yang kedua seusia dengan saya sedangkan anak pertama alumni IAIN Surabaya. Anak beliau yang pertama usianya sudah 30 tahunan, namun belum juga menemukan jodohnya.

“Saya itu kepikiran sama anak saya. Padahal usianya sudah 30 tahunan tapi belum juga menemukan jodohnya. Makanya adek kalau sudah lulus dan ada calon segera saja. Jangan terlalu banyak pilih seperti anak saya” kata ibu itu. Saya cuman senyum-senyum saja, sambil bilang “inggih, Bu”.

Saudaraku, bicara soal menikah. Apakah kalau kita mau menikah harus sukses dulu? Punya rumah dulu? Kalau menurut saya tidak! Kenapa? Karena iya kalau Allah memberi kesuksesan pada kita dalam usia muda, sehingga kita mapan, mampu beli rumah dan lain-lain. Tapi kalau ternyata Allah memberi kesuksesan pada kita di usia 30 tahunan atau bahkan 40 tahunan? Apa kita harus menunggu usia segitu? Apa kita tega membiarkan orang tua kita terus memikirkan kita? Apa kita tidak ‘iri’ melihat teman-teman yang sudah berkeluarga?

Beberapa hari yang lalu saya mencoba iseng menggoda sahabat saya

“Kapan nyusul Chopid?” sambil menyenggol teman saya yang sedang asyik menikmati hidangan walimahan sahabat saya juga.
“Ga tahu Nung” jawabnya, tangannya masih memegang makanan
“Lho kenapa. Kan sampean sudah ada?”
“Aku pengen sukses dulu. Pengen punya usaha dulu, pengen punya rumah dulu”
Hah? Saya melongo. “Apa ga kelamaan mbak? Iya kalau kita sukses dalam waktu dekat ini? Kalau ternyata Allah memberi kesuksesan di usia 40 tahunan, apa kudu nunggu usia segitu?” saya mencoba berargumen. Teman saya itu diam.
“Yaah kalau kita mau nikah kan butuh moda Nung. Tuh lihat Chopid. Berapa banyak biaya pernikahan yang dikeluarkan. Banyak Nung” katanya.
“Iya juga mbak. Tapi yang penting adalah modal nekad. Terserah acara walimah kayak gimana. Yang penting kan akadnya. Ga mesti harus seperti ini” kami lalu saling diam.

Mungkin kalau teman saya lihat fenomena di atas, dia akan berpikir ulang untuk menunda pernikahan. Karena menikah harus nunggu sukses, ga harus punya banyak modal. Yang penting modal nekat (bonek, bondo nekat hehe). Karena inti dari walimah adalah ijab qobul. Untuk acara walimah, ya semampu kita.

Saudaraku, tentunya kita semua punya planning baik itu jangka pendek maupun jangka panjang. Tapi dari semua planning itu jangan lupa untuk mempriotaskan menikah. Jangan sampai kita menyesal di kemudian hari lantaran kita belum menikah kemudian kita melihat teman-teman kita yang sudah menikah dan menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Kalau menurut ilmu kedokteran, usia produktif wanita untuk melahirkan itu antara 20-35 tahun, sedang selebihnya akan lebih riskan bagi rahimnya.

Dan dengan menikah maka kita akan membebaskan ayah atau orang tua kita dari kewajibannya terhadap kita. Karena tugas ayah terhadap anak perempuannya adalah menjaga dan menikahkannya, setelah itu tanggung jawab beralih kepada suami kita. Selain itu dengan menikah maka semua amal kita akan bernilai ibadah, walau hanya sekedar senyum terhadap suami.

Dan tentunya kita tidak mau kan membujang sampai tua? Rasulullah melarang hal ini, dalam haditsnya yang artinya : Dan Sa’ad bin Abu Waqqash ra berkata, “Rasulullah SAW pernah melarang ‘Utsman bin Madh’un membujang dan kalau sekiranya Rasulullah mengijinkannya tentu kami berkebiri”. (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Saudaraku, walau jodoh sudah ditetapkan oleh-Nya maka jangan menjadikan ini sebagai alibi untuk berpangku tangan menunggu ikhwan datang untuk melamar kita. Tapi jodoh itu ibarat rizki, maka mari kita jemput ia dengan cara yang baik, kita ikhtiarkan ia dengan cara-cara yang baik, seperti minta tolong kepada orang tua, murabbiyah, teman dekat, yang disertai dengan taqorrub ilallah, memperbanyak ibadah, sedekah (terutama pada kaum dhuafa’) minta didoakan sama mereka karena doa kaum dhuafa’ biasanya maqbul. Selebihnya kita serahkan semuanya kepada-Nya.

Waallahu a’lam bish-shawab. [Ukhtu Emil]

Untukmu yang Sedang Dalam Penantian

Kepada para wanita yang belum menikah, penantian adalah hal yang pasti dilalui, entah itu lama atau sebentar. Dalam masa penantian itu, ada banyak hal yang mencuat dalam benak dan perjalanannya. Kebosanan, putus asa, atau bahkan kesabaran dan tawakal yang mengiringi setiap detiknya. Jenuh, kadang itu yang terlontar, pun tak ingin pula jika moment penentu masa depan kita itu juga kita lalui dengan sembarangan orang walaupun terkadang banyak faktor yang membuat kita harus terburu-buru untuk segera menikah. Tuntutan umur, keluarga, atau bahkan “intimidasi” adat dan tradisi. Akhirnya, tidak sedikit muslimah yang terpaksa menikah dengan orang yang tidak diinginkan, entah karena akhlaknya atau alasan lainnya.

Tentang penantian, sepertinya ada sebuah lirik seorang penyair yang bisa kita toleh, bisa menjadi masukan... Ebiet G.A.D. Ada dua pilihan yang bisa kita lakukan dalam masa penantian: menoreh manfaat atau merugikan diri.

Menunggu ada kalanya terasa mengasyikkan, banyak waktu kita miliki untuk berfikir
Sendiri seringkali sangat kita perlukan, meneropong masa silam yang telah terlewat
Mungkin ada apa yang kita cari, masih tersembunyi di lipatan waktu yang tertinggal
Mungkin ada apa yang kita kejar, justru tak terjamah saat kita melintas


Jika kita manfaatkan masa-masa penantian itu dengan positif, banyak hal yang bisa kita lakukan, entah untuk muhasabah atau pun meng-upgrade diri agar lebih berkualitas. Begitu pun sebaliknya, seperti pada syair selanjutnya.

Menunggu lebih terasa beban yang membosankan, banyak waktu kita terbuang tergilas cuaca
Sendiri seringkali sangat menyakitkan, meneropong masa depan dari sisi yang gelap
Mungkin ada apa yang kita takuti, justru t'lah menghadang di lembaran hari-hari nanti
Mungkin ada apa yang kita benci, justru t'lah menerkam menembusi seluruh jiwa kita
Mungkin ada apa yang kita takuti, justru t'lah menghadang di lembaran hari-hari nanti
Mungkin ada apa yang kita benci, justru t'lah menerkam menembusi s'luruh jiwa kita


Jika kita manfaat waktu penantian itu dengan hal yang negatif, bisa jadi kita justru terkalahkan oleh waktu itu sendiri.

Memang seharusnya kita tak membuang semangat masa silam
Bermain dalam dada, setelah usai mengantar kita tertatih-tatih sampai di sini


Di akhir lirik tersebut ada pesan terakhir yang diselipkan tentang semangat masa silam yang mengantarkan kita menjadi seperti sekarang, untuk tak membuang semangat itu sehingga kita tetap bertahan menjadi lebih baik hingga hari ini.

Bait syair Ebit mungkin memberi inspirasi bagi kita. Namun ada inspirasi yang jauh lebih hebat untuk menjadi pegangan kita dalam penantian. Inspirasi itu tidak lain adalah surat cinta Allah Subhanahu wa Ta’ala pada hamba-hambaNya yang beriman :

وَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ حِينَ تَقُومُ وَاصْبِرْ لِحُكْمِ رَبِّكَ فَإِنَّكَ بِأَعْيُنِنَا
“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri. Dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar).” (QS. Ath Thuur: 48-49)

Dalam ayat tersebut, Allah mengarahkan Rasulullah dan kaum mukminin untuk bersabar. “Yakni bersabarlah terhadap gangguan mereka (orang-orang jahiliyah, kafir quraisy)” terang Ibnu Katsir dalam tafsirnya. Sayyid Quthb dalam tafsir Fi Zhilalil Qur’an merinci lebih luas: “bersabar dalam menghadapi kesulitan, pendustaan dan cacian. Juga bersabar di jalan dakwah yang berat lagi panjang seraya menyerahkan persoalan kepada keputusan Allah”

Kata-kata Sayyid Quthb pada kalimat terakhir itulah yang perlu digarisbawahi dalam mengambil inspirasi penantian dari ayat ini: bersabarlah seraya menyerahkan persoalan kepada Allah. Sabar dan tawakal.

Langkah penantian seperti itulah yang dicontohkan Fatimah. Sebenarnya, Fatimah mencintai Ali. Tetapi ia diam. Ia tak pernah mengatakannya, juga tak pernah menjadikan alasan itu untuk menolak lelaki shalih yang lebih dulu datang melamarnya. Sebab ia tak tahu ketentuan Allah kelak seperti apa.

Jika kemudian Abu Bakar melamar Fatimah dan ditolak, Umar melamar juga ditolak, yang menolak adalah Rasulullah, bukan Fatimah. Sampai kemudian ketika Ali melamar Fatimah, Rasulullah menyetujuinya: ahlan wa sahlan.

“Maafkan aku, karena sebelum menikah denganmu. Aku pernah satu kali jatuh cinta pada seorang pemuda ” kata Fatimah kepada Ali setelah keduanya menjadi suami istri.
“Kalau begitu mengapa engkau mau menikah denganku? dan siapakah pemuda itu?” Ali balik bertanya. Ia terkejut dengan apa yang didengarnya dari istri tercinta.
“Ya, karena pemuda itu adalah dirimu” jawab Fatimah sambil tersenyum.

Bisakah kita seperti Fatimah? Merangkai 3 hal dalam masa penantian, seperti petunjuk Allah dalam ayat di atas: bersabar, bertasbih, dan shalat malam. [Gresia Divi]

Belajar Menghapus Gelisah dari Seorang Shahabiyah

“Sungguh surga yang memang mahal itu bisa membalikkan 100% kegalauan, tinggal pilihan kita saja; mau atau tidak.” Akhir ulasan singkat tentang seorang shahabiyah di zaman Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang dipaparkan murobbiyah tercinta sore itu cukup membuat saya terhenyak. Sekelas Mario Teguh, motivasi yang bersumber dari kisah sahabat pun bisa menjadi pemantik jitu yang tak usah membayar berjuta-juta asal kita tahu darimana sumbernya.

Sebuah kunci solusi galau, gundah, merana yang bukan hanya isapan jempol atau gombal dari kisah shahabiyah Ummu Haritsah bin Suraqah. Kisah yang mungkin banyak orang sudah sering membaca di kitab-kitab sirah dan sejenisnya tapi kali ini melalui murabbiyah tercinta, ada hikmah lain yang mungkin terlewat untuk direnungi.

Kisah seorang wanita tua renta yang sangat ingin anaknya mati syahid. Anak yang sangat ia cintai itu bukan ia manja, namun ia harapkan gugur sebagai syahid. Dengan cara inilah ia mencintai sang anak. Subhanallah. Eits...tapi bukan itu yang hendak saya unggulkan.

Dan dari Anas radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Rabi‘ binti Barra’ –yaitu ibu dari Haritsah bin Suraqah—datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan berkata: “Wahai Rasulullah, tidakkah engkau beritahu aku tentang keadaan Haritsah (yang terbunuh dalam perang Badar)? Jika ia di surga maka aku bersabar, tetapi jika tidak maka aku akan menangis menyedihkan kepergiannya.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Hai Ummu Haritsah, sungguh ada beberapa surga di dalam surga, dan sesungguhnya puteramu mendapatkan surga Firdaus yang tertinggi.” (HR. Bukhori)

Bagi seorang ibu, kesedihan akan bencana anaknya atau bahkan kematian akan anaknya sama saja dengan bencana bagi seluruh hidupnya. Paling tidak begitulah gambaran hati seorang ibu akan kasih sayangnya pada anaknya yang bahkan rela menukar nyawanya demi keselamatan dan kebahagiaan anaknya. Begitu pun dengan Ummu Haritsah bin Suraqah. Namun, semua kegundahan akan kematian anaknya dalam perang bisa ia balik 100% menjadi sebuah kebahagiaan penuh harap akan surga tertinggi yang Allah janjikan bagi seorang yang syahid.

Dalam sebuah riwayat :
“Barangsiapa yang memberangkatkan seorang prajurit di jalan Allah maka ia pun dianggap ikut bertempur di jalan Allah. Barangsiapa yang mengurus urusan orang yang berperang di jalan Allah dengan baik, maka ia pun dianggap ikut bertempur.” (HR. Bukhari Muslim)

Secercah hikmah tersemburat dari kisah tersebut yang tak kalah ampuh dibandingkan kata-kata motivator yang bernilai jutaan. Tentang bagaimana kekuatan surga itu bisa membalikkan 100% galau, gundah, merana yang tercecer mengotori hati. Harap-harapnya pada janji-janji Allah yang tak mungkin teringkari membuat wanita tua itu tak bersedih lagi setelah mengetahui bahwa anaknya berada pada surga tertinggi.

Lalu, bagaimana dengan kita? Cukupkah surga membuat setiap perih yang kita rasa dalam perjalanan hidup ini kita ubah menjadi keikhlasan dan harapan tertinggi pada surga-Nya kelak? Sejauh itukah iman kita menguatkan harapan kita tentang surga? Atau separuh iman saja yang ragu akankah surga itu sungguh balasannya? Tanyakan pada hati. [Gresia Divi]

Kisah Nyata Keajaiban Sedekah dan Jodoh

Keajaiban sedekah dan jodoh telah banyak dirasakan oleh muslim dan muslimah. Salah satunya adalah wanita lajang berusia 37 tahun ini, yang datang kepada salah seorang ustadz untuk bertanya tentang jodoh. Ustadz Yusuf Mansur menuliskan kisah nyata tersebut dalam buku Kun Fayakun 2:

“Ustadz, cari jodoh susah ya?” tanya wanita itu setelah bertemu sang ustadz.
“Makanya, jodoh jangan dicari, tapi dibeli” jawab ustadz, membuat wanita ini tertawa sekaligus keheranan.
“Beli di mana, Ustadz? Memang ada yang jualan jodoh?”
“Ada!”
“Siapa?”
“Allah, Rabbul ‘alamin,” jawab ustadz mantap, “Kata Rasul ‘Dhau’ mardhakum bish shadaqah’ belilah penyakit dengan sedekah, termasuk penyakit kesepian, yaitu jomblo”
“Insya Allah, Ustadz. Saya akan sedekah”
“Iya, pulang, dah. Insya Allah dapat jodoh. Insya Allah”

Wanita ini pun pulang. Lalu, ia mampir ke masjid di kompleknya. Ia segera mendatangi takmir masjid tersebut.
“Pak, saya ingin sedekah di sini. Kira-kira masjid butuh apa yang bisa saya sedekahkan di sini?”
“Kebeneran, Neng, kami lagi melelang lantai. Satu meternya 150 ribu rupiah” jawab takmir.?

Wanita ini membuka dompetnya. Awalnya, ia hanya mengambil 150 ribu rupiah. Begitu ingat pesan bahwa kalau sedekah kita harus poll, akhirnya ia bersedekah 4 kali lipatnya: 600 ribu rupiah, dapat 4 meter.

“Pak takmir, doain ya, supaya hajat saya terkabul” katanya setelah menyerahkan sedekah.
“Memang, hajatnya apa, Neng?” tanya takmir.
“Ada, rahasia” kata si Neng, merahasiakan keinginannya mendapatkan jodoh. Namun, meskipun takmir tidak tahu apa hajatnya, Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Tahu. Allah mengetahui bahwa wanita ini telah bersedekah dan sangat membutuhkan jodoh.

Tak lama kemudian, datang 4 orang melamar wanita ini, dalam waktu yang berdekatan. Subhanallah, setelah lama menanti jodoh, kini wanita ini malah dikasih Allah pilihan, memilih mana diantara 4 orang yang datang. Angka 4 persis seperti sedekahnya yang bernilai 4 meter lantai Masjid. Subhanallah... sungguh kisah nyata ini menjadi bukti keajaiban sedekah dan jodoh. [Disarikan dari buku Kun fayakun 2 karya Ust. Yusuf Mansur]

Agar Engkau Menjadi Wanita Tercantik di Dunia


Kecantikanmu bersinar melebihi terangnya mentari. Akhlakmu semerbak melebihi harumnya kasturi. Tawadhu’mu indah melebihi cahaya purnama. Dan kasih sayangmu membawa ketenangan melebihi curahan hujan.

Peliharalah kecantikanmu dengan keimanan, keridhaan, qana’ah, iffah, dan busana muslimah.

Ketahuilah, perhiasanmu bukanlah emas, berlian dan permata. Tetapi, beberapa rakaat menjelang sahur, rasa dahaga di siang hari saat puasa, sedekah tersembunyi yang tiada seorangpun mengetahui kecuali Ialhi Rabbi. Air mata hangat yang membasuh dosa, sujud panjang di atas sajadah, serta rasa malu yang membuat niat jahat dan maksiat tercegah.

Pakailah pakaian taqwa, saudariku. Tentu engkau menjadi wanita tercantik di dunia. Walau pakaianmu tertambal, itu tak jadi soal.

Pakailah pakaian luar yang sopan, niscaya engkau menjadi wanita terindah di alam. Walau engkau tak memiliki baju yang mahal, itu tak jadi soal.

Jauhilah kehidupan wanita-wanita durjana, kafir dan penggoda. Jangan sampai engkau membuka aurat atau berbuat sesuatu yang menjadikanmu tak lagi terhormat. Sebab siapa yang menjajakan kehormatannya, maka api neraka telah menunggunya. “Tidak ada yang masuk ke dalamnya, kecuali orang yang paling celaka” (QS. Al Lail : 15)

Saudariku, di setiap relung kehidupan ada kegelapan. Tiada pilihan bagimu, kecuali menyalakan lentera dalam jiwa. Maka cahaya dari Ilahi membuatmu menjadi wanita tercantik di dunia.

[Disarikan dari As’adu imroatin fil ‘alam -Kiat Menjadi Wanita Paling Bahagia di Dunia dan Akhirat- karya Aidh Al Qarni]

Mengapa Kita Harus Menolak Kontes Kecantikan?


Oleh: Ishmah Rafidatuddini

Sejarah Kontes Kecantikan
Kontes kecantikan modern pertama kali digelar di Amerika pada tahun 1854. Namun, kontes ini ternyata diprotes masyarakat Amerika hingga akhirnya kontes tidak berlanjut. Dan uniknya panitia kontes kecantikan pertama di dunia tersebut sebelumnya sukses menggelar kontes kecantikan anjing, babi, dan burung. Lalu sukses kontes kecantikan hewan tersebut tersebut diuji-coba untuk manusia. 

Pagelaran kontes kecantikan di dunia tidak serta-merta mati. Pada sekitar tahun 1951 di Inggris, Eric Morley menggelar kontes kecantikan internasional untuk pertama kali. Kontes ini berawal dari festival lomba yang bernama Festival Bikini Contest, kemudian berganti nama menjadi Miss World. Jadi, Miss World adalah kontes kecantikan termasyhur yang tertua di dunia. Namun beberapa tahun kemudian Eric Morley meninggal sehingga pagelaran tersebut diteruskan istrinya hingga muncul konsep 3B yakni Brain(kecerdasan), Beauty (kecantikan), dan Behavior (Kepribadian). Konsep 3B ini sebenarnya hanya untuk memoles kontes kecantikan agar diterima banyak kalangan, karena saat itu masih banyak pihak menolak kontes tersebut, bahkan hingga sekarang. Penyebabnya tentu saja karena kontes kecantikan dinilai hanya meng-ekploitasi perempuan. Hingga saat inipun kontes kecantikan masih ditolak para aktivis perempuan di beberapa negara.

Setelah Inggris cukup sukses menggelar kontes kecantikan lalu sukses tersebut merambat ke Amerika meski sebelumnya publik sempat melakukan protes. Pada tahun 1952 sebuah perusahaan pakaian dalam di Amerika mencoba untuk mencari cara mempromosikan produknya dengan menggelar Miss Universe. Tentu para peserta wajib berbusana bikini agar menarik minat pembeli pakaian dalam tersebut. Pada tahun 1996 Donald Trump membeli hak kontes tersebut untuk ditayangkan di sebuah televisi.

Sementara Indonesia baru ikut-ikutan kontes kecantikan kelas dunia pada tahun 1982 dengan mengirimkan wakilnya, yakni Andi Botenri, secara diam-diam karena di dalam negeri kontes kecantikan semacam itu masih banyak pihak yang menolak. Tahun berikutnya, 1983, Titi DJ dikirim diam-diam untuk mewakili Indonesia dalam kontes Miss World di London Inggris. Pengiriman diam-diam tersebut dilakukan karena sebelumnya Dr. Daoed Joesoef, saat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan periode 1977-1982, menyatakan secara terbuka penolakannya terhadap segala jenis pemilihan kontes kecantikan. Daoed Joesoef menilai kontes kecantikan hakikatnya adalah sebuah penipuan dan pelecehan terhadap perempuan. Kontes kecantikan hanya untuk meraup keuntungan bisnis perusahaan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, atau salon kecantikan, yang bertujuan mengeksploitasi kecantikan perempuan sebagai primitive instinct dan nafsu dasar laki-laki, serta kebutuhan akan uang untuk hidup mewah. Ia menolak habis-habisan kontes kecantikan, meski dirinya lulusan luar negeri yang berpandangan liberal.

Walaupun ada penolakan di dalam negeri, kontes kecantikan tetap digelar untuk pertama kali pada hari ulang tahun Jakarta ke 441 pada 22 Juni 1968 dengan peserta hanya 36 orang dan yang terpilih sebagai None Jakarta yaitu Riziani Malik.  Indonesia baru memiliki kontes kecantikan secara nasional pada tahun 1992 yang digelar oleh Yayasan Puteri Indonsia dengan sponsor pabrikan kosmetik. Seperti dikatakan Menteri Daoed Joesoef, kontes kecantikan selalu berbanding lurus dengan bisnis.[1]

Pada tahun 1992, kontes kecantikan nasional bertitel Puteri Indonesia diizinkan pemerintah karena masih dianggap sopan. Namun sejak tahun 1997 kontes Puteri Indonesia dilarang Presiden Soeharto karena ajang pamer aurat itu disalahgunakan penyelenggara. Ini terjadi karena setahun sebelumnya, penyelenggara secara diam-diam menjadikan kontes tingkat nasional tersebut sebagai ‘batu loncatan’ untuk mengirim pemenangnya, yaitu Alya Rohali untuk mengikuti kontes Miss Universe 1996.

Suasa berubah justru ketika tahun 2000, di masa pemerintahan Gus Dur, kontes Puteri Indonesia kembali diizinkan, namun pemenangnya tidak dikirim ke kontes Miss Universe maupun Miss World. Kebijakan ini tetap dipertahankan sewaktu Megawati memimpin negara ini. Sungguh patut disayangkan, setelah SBY berkuasa di Istana Negara, pemenang kontes Puteri Indonesia tidak dilarang, bahkan cenderung didukung untuk mengikuti kontes pamer aurat sejagad. [2]

Mengapa Harus Ditolak?
Kontes kecantikan, apapun namanya, Miss World, Miss Universe, Miss Indonesia, Puteri Indonesia, None Jakarta, Putri Solo, Miss Hijab, dan seterusnya, layak untuk ditolak karena berbagai alasan.
1. Perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk Menutup Aurat dan Menahan Pandangan
“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu, dan isteri-isteri orang Mukmin: ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS Al Ahzab: 59)

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’ Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya.’” (QS An Nur: 30-31)

2. Perintah Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk Menahan Pandangan
Dari Buraidah Radhiyallahu ‘Anhu, bahwasanya Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Wahai ‘Ali, janganlah kamu mengikutkan pandangan dengan pandangan. Sesungguhnya bagimu hanyalah pandangan yang pertama, dan bukan yang setelahnya.” (HR. At-Tirmidzi no. 2777, Abu Dawud no. 2149, hasan)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Telah dituliskan atas Bani Adam bagian dari zina yang pasti ia melakukannya, tidak bisa tidak. Maka, zina kedua mata adalah melihat (yang diharamkan), zina kedua telinga adalah mendengar (yang diharamkan), zina lisan adalah berkata-kata (yang diharamkan), zina tangan adalah memegang (yang diharamkan), zina kaki adalah melangkah (ke tempat yang diharamkan), hati berkeinginan dan berangan-angan, dan kemaluan membenarkan itu semua atau mendustakannya.” (HR Al Bukhari no. 6243 dan Muslim no. 2657, dan ini adalah lafazh Muslim)

3. Tabarruj (Berhias) Seperti Orang Jahiliyah
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, beliau berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Ada dua golongan dari penduduk neraka yang belum pernah aku lihat: Suatu kaum yang memiliki cambuk seperti ekor sapi untuk memukul manusia dan para wanita yang berpakaian tapi telanjang, berlenggak-lenggok, kepala mereka seperti punuk unta yang miring. Wanita seperti itu tidak akan masuk surga dan tidak akan mencium baunya, walaupun baunya tercium selama perjalanan sekian dan sekian.” (HR. Muslim no. 2128)

4. Tasyabbuh (Meniru) pada Orang Kafir
Dari Abdullah bin Amr bin Al Ash Radhiyallahu Anhu, dia berkata: “Sesungguhnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: ‘Bukan termasuk golongan kami orang yang menyerupai kaum selain kami.’” (HR. At Tirmidzi no. 2695)

Dari Abdullah bin Umar Radhiyallahu 'Anhu dia berkata: Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk darinya”. (HR. Abu Daud no. 4031, shahih)

Dari Abu Sa’id Al Khudri, Rasulullah Shallallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, “Kalian pasti akan mengikuti langkah-langkah orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal atau sehasta demi sehasta, sampai walaupun mereka masuk ke dalam lubang biawak, kalian pun memasukinya.” Para shahabat bertanya: “Apakah yang dimaksud adalah Yahudi dan Nashara?” Beliau menjawab: “Siapa lagi (kalau bukan mereka)?” (Muttafaqun ‘Alaihi)

5. Simbol Penjajahan atas Budaya Indonesia dan Agama Islam
Dalam The Protocols of The Learned Elders of Zion pasal 13-14, yang dianggap data otentik rencana kaum Yahudi Zionis membentuk Tata Dunia Baru disebutkan, “Kita dirikan sebanyak mungkin tempat pembangkit maksiat. Kita juga perbanyak reklame di koran atau majalah, guna menyeru mereka agar masuk dalam arena kontes Ratu Kecantikan, atau berkedok kesenian dan olahraga. Hiburan semacam itu akan banyak melalaikan mereka dari mengurusi permasalahan kita, yang mungkin akan membuat pertentangan antara kita dan mereka. Apabila dunia telah dikuasai, maka tidak dibenarkan agama-agama selain Yahudi untuk berkembang. Karena kitalah bangsa termulia dan agama Yahudi adalah agama pilihan Allah.”

Kontes kecantikan merupakan salah satu bentuk Westernisasi. Kita masih ingat seorang Puteri Indonesia 2009 asal Aceh yang pernah menyatakan minta izin untuk tidak pakai jilbab kepada ulama Aceh. Ini menunjukkan bahwa Westernisasi itu berhasil. Untuk jadi puteri tercantik, maka harus menyingkirkan dulu jilbab. Poin ini mereka sudah berhasil. Poin selanjutnya, memperkenalkan acara pamer aurat itu kepada para wanita Muslimah, agar pemikiran mereka bisa sedikit "terbuka" menerima perkembangan zaman dalam hal mode, busana, umbar aurat, dan lain-lain. Poin, berikutnya adalah harapan kepada negeri-negeri mayoritas Muslim untuk bisa menerima acara semacam ini. Memberi keluasan, agar dakwah Westernisasi ini bisa tersampaikan kepada seluruh kaum Muslimin.[3]

6. Menjadikan Perempuan sebagai Komoditas Ekonomi
Dalam pandangan Barat, mereka memandang perempuan dengan pandangan terbuka. Hingga terbuka segala-galanya, pakaiannya, dan auratnya dilihat sebagai simbol keindahan. Padahal inilah simbol kebinatangan. Ideologi kapitalisme telah menjerat perempuan sebagai mahkluk cantik yang dipertontonkan, padahal sungguh (secara tidak sadar) itu adalah simbol penghinaan.

Kontes kecantikan menjadikan perempuan dan tubuhnya sebagai barang dagangan di atas panggung, catwalk, majalah, koran, dan televisi. Kecantikan dan tubuh perempuan peserta kontes dijadikan alat promosi industri rating media, industri alat komestik, dan industri fashion.

7. Dusta Konsep 3B (Brain, Beauty, and Behavior)
Konsep 3B dalam kontes kecantikan, yakni Brain(kecerdasan), Beauty (kecantikan), dan Behavior (kepribadian), adalah konsep dusta untuk membungkus kontes semacam ini agar diterima masyarakat. Kita akan bertanya-tanya, dalam kontes yang hanya dilakan beberapa hari, bagaimanakah menilai kecerdasan, kecantikan, dan kepribadian? Apakah ada tes IQ atau ujian Matematika? Tidak. Yang dinilai hanyalah 1 konsep saja, yakni kecantikan. Meskipun para juri mengatakan bahwa para kontestan dinilai dengan konsep 3B, mengapa para finalis tetaplah mereka yang cantik dalam pengertian umum saja?

8. Merusak Tatanan Sosial dan Rumah Tangga
Adalah QS, pemenang kontes kecantikan Putri Indonesia 2009. Demi memenangkan kontes kecantikan tersebut, ia mengaku sengaja melepaskan kerudung yang sebenarnya wajib dikenakannya sebagai Muslimah sekaligus wakil Propinsi Nangroe Aceh Darussalam. Setelah memenangkan kontes kecantikan tersebut dan menjalankan “tugas” sebagai Putri Indonesia, ia mulai lupa kehidupan normalnya sebagai seorang anak. Tenggelam dalam kesibukannya sebagai seorang Putri Indonesia, pihak keluarga pun mulai was-was dan curiga. Pasalnya sang anak terjerat dalam dunia kesyirikan. Saat itu, QS mulai gemar semedi dan membakar dupa. Ibunya mengatakan bahwa QS melakukan ritual melepaskan belut dan kura-kura, dilepas di sungai yang mengalir, serta melepas burung pipit. Kekhawatiran pihak keluarga tidak dihiraukan oleh sang anak, bahkan ditanggapi secara negatif. Kemudian, akibat beban mental yang semakin berat, sang ibu pun harus tega memutuskan tali keluarga dengan si buah hati.

Kisah ini berulang pada Miss Indonesia 2011, AHIY. Aktifitas dan kegiatan bebas di luar rumah paska terpilihnya sebagai Miss Indonesia, membuat keluarganya resah. Apalagi sang putri masih berumur belia yaitu 21 tahun. Sang ayah sudah berusaha keras menasehatinya untuk mengembalikan si anak hilang ke rumah. Namun, tanpa diduga sikap yang ditunjukkan oleh putri tercinta di luar prediksi, karena jelas-jelas tidak menerima nasehat orang tuanya. Sehingga dengan berat hati, sang ayah pun mengumumkan secara resmi lewat media ibukota tentang pumutusan hubungan keluarga antara si anak dengan orang tuanya.[4]

9. Pintu Menuju Kemaksiatan yang Lain
Ada sebagian orang yang beralasan bahwa kontes-kontes kecantikan yang diselenggarakan di Indonesia masih dalam batas-batas kesopanan, di antaranya peserta masih diperbolehkan untuk berjilbab, tidak diselenggarakan kontes bikini, masih menjaga adab-adab ke-Timur-an, dan seterusnya. Mereka bisa memberikan argumentasi demikian, tapi mereka lupa bagaimana sejarah kontes kecantikan ini di Indonesia. Pertama kali kontes-kontes semacam ini “hanya” untuk bertujuan untuk mencari duta wisata, kemudian tahun demi tahun berlanjut hingga akhirnya setelah kontestan dari Indonesia mengikuti kontes ini di luar negeri, wakil dari Indonesia mulai mengenakan bikini. Kemudian akhirnya, Indonesia pun menjadi lokasi dan penyelenggara kontes ini, meskipun konon tanpa bikini. Kita tidak tahu apa yang akan terjadi dalam kontes-kontes kecantikan selanjutnya.

Dari Sahl bin Sa’ad berkata, bersabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Hati-hatilah terhadap dosa-dosa kecil. Hal itu tidak ubahnya seperti sekelompok orang yang turun ke sebuah lereng gunung. Mereka masing-masing membawa sebatang ranting kayu sehingga dengan ranting-ranting kayu itu bisa mereka masak roti. Dosa-dosa kecil kapan saja di lakukan oleh seseorang ia akan menjadi celaka.” (HR Ahmad)

Pariwisata Sebagai Alasan
Belakangan, sejumlah pejabat tinggi di negeri ini mengatakan bahwa penyelenggaraan kontes kecantikan di sejumlah tempat di Indonesia bertujuan untuk menarik wisatawan dalam negeri dan luar negeri. Pendapatan dari pariwisata ini tentunya akan digunakan untuk membiayai dan membangun negara Indonesia.

Cukuplah nasihat Sayyid Quthb dalam Risalah ila Ukhti Muslimah, sebagai pengingat, “Sulit sekali rasanya aku akan membayangkan bagaimana mungkin kita akan mencapai tujuan mulia dengan menggunakan cara hina. Sungguh tujuan yang mulia tidak bisa hidup kecuali dalam hati yang mulia. Lalu bagaimana mungkin hati yang mulia itu akan sanggup menggunakan cara yang hina?

Dan lebih jauh dari itu bagaimana mungkin ia menemukan cara yang hina itu? Ketika kita akan mengarungi telaga berlumpur ketepi sana, pastilah kita akan mencapai pantai dengan berlumuran lumpur pula. Lumpur-lumpur jalanan itu akan meninggalkan bekas pada kaki kita, dan pada jejak keki kita. Begitu pula kalau kita menggunakan cara hina, najis-najis itu akan menempel pada ruh kita, akan membekas pada ruh itu dan pada tujuan yang telah kita capai juga.

Sebenarnya cara dalam ukuran ruh, merupakan bagian dari tujuan. Dalam alam ruh, tidak ditemukan perbedaan dan pemisahan antara keduanya. Hanya perasaaan manusiawi sajalah yang tidak akan sanggup menggunakan cara hina untuk mencapai tujuan yang mulia. Dan dengan sendirinya pula ia akan terhindar dari teori “tujuan menghalalkan cara”. Teori itu merupakan hikmah terbesar bangsa Barat, karena bangsa Barat itu hidup dengan akalnya, dan dalam keadaan demikianlah ditemukan perbedaan dan pembagian antara cara dan tujuan.”

26 Jumadil ‘Ula 1434


[1]Didik Wahyudi, Ritus Gagal Kontes Kange-Yune
[2]Muhammad Nurhidayat, Miss Universe dan Bahaya “Teroris” Moral
[3]Anshari Taslim.
[4]Masykur A. Baddal, Miss Indonesia, Antara Privasi dan Anak Durhaka

Ketika Cinta Berlabuh di Hatimu


“Ukhti, aku mencintaimu karena Allah” sebuah sms masuk dari seorang ikhwan kepada teman saya. Ia hanya diam. Entahlah, apa yang ada dalam hatinya. Mungkin sedang berbunga-bunga. Yang jelas, roman wajahnya telihat seperti orang yang dilanda asmara.

Beberapa minggu kemudian...

“Ukhti, anti tenang saja. Suatu saat ana akan melamar anti. Sekarang kita jalani saja dulu. Sambil kita mempersiapkan semuanya” janji ikhwan itu melalui sms, setelah keduanya makin dekat.

Teman saya cukup sabar menunggunya. Entahlah, karena memang saking cintanya atau bagaimana. Sampai suatu saat dalam sebuah telpon singkat..

“Maaf ukhti, sepertinya hubungan kita tak bisa dilanjutkan” Saya ikut terenyuh mendengarnya, saya lihat gurat-gurat kesedihan mulai bersemayam di hati teman saya.

“Ukh… “ matanya mulai berkaca-kaca
“Iya?”
“Yang sabar ya ukh, mungkin dia bukan yang terbaik untuk anti” kata saya mencoba membesarkan hatinya. “Mungkin Allah punya rencana lain di balik semuanya”
“Iya ukh… “

Ya, saya tahu apa yang ia rasakan. Sungguh menyakitkan memang. Setelah ikhwan tersebut menyatakan cintanya, kemudian memberikan janji palsu bahwa suatu saat akan melamarnya, di hari ulang tahun teman saya itu justru ikhwan tersebut menghancurkan semua mimpi yang telah ia bangun.

“Ukh, insya Allah dalam waktu dekat ini saya akan menikah dengan fulanah” kata ikhwan itu dalam sebuah sms.

Teman saya hanya diam tak dapat berkata-kata. Lagi dan lagi saya lihat gurat-gurat kesedihan yang amat mendalam. Setelah ikhwan tersebut memutuskan hubungan dengannya dan menghancurkan semua mimpi-mimpinya dengan gampangnya dia mengatakan akan menikah dengan fulanah.

“Sabar ukh… “ kata saya memegang pundaknya. Kurangkul ia erat-erat. Tangisnya mulai pecah. Suasana menjadi haru. “Mungkin inilah jalan yang terbaik yang Allah berikan. Ada pesan yang ingin Allah sampaikan”
“Ingat ukh, laki-laki yang shalih untuk wanita yang shalihah. Anti terlalu shalihah buat dia” saya menghiburnya. Dan dia mulai tersenyum.

Akhwati fillah... seperti yang kita ketahui, bahwa kita semua punya hati dan perasaan. Tak terkecuali perasaan terhadap ikhwan. Kadang kala seringnya beraktifitas bersama membuat kita mengetahui banyak hal akan kelebihan dan kekurangannya. Awalnya cuma kagum. Lama-lama berubah menjadi sangat kagum dan saling mengagumi. Lalu tumbuhlah rasa cinta. Dan seperti yang saya sebutkan dalam tulisan sebelumnya, witing trisno jalaran soko syuro eh ‘afwan soko kulino maksudnya, hehe. Cinta berawal dari kebiasaan saling bersama. Mungkin awalnya tidak suka tapi karena seringnya interaksi bersama akhirnya tumbuhlah rasa cinta itu.

Lantas bagaimana kalau rasa cinta itu tumbuh diantara ikhwan dan akhwat?

Akwati fillah, saya sering berpesan kepada adik-adik saya di asrama, “Boleh kalian suka dan jatuh cinta sama ikhwan. Namun ketika kalian belum siap untuk menikah, tak perlu rasa cinta itu diungkapkan. Misalnya dengan memberikan perhatian yang berlebihan, sms-an, atau yang lebih parah saling ketemuan. Cukuplah rasa cinta itu menjadi rahasia kita dengan Allah. Kalau toh memang jodoh, pasti Allah akan mempertemukan kita dengannya dalam suatu ikatan suci pernikahan.”

Cerita teman saya tersebut memberikan pelajaran bagi kita terutama para akhwat, jangan mudah terpengaruh dengan rayuan “gombal” ikhwan. Ikhwan yang berniat baik sama kita, pasti dia akan mengajak ta’aruf sama kita secara resmi entah itu lewat murabbiyah atau lewat teman, bahkan langsung ketemu orang tua.

Saya tahu, mungkin ketika dia mengatakan suka sama kita, kita juga menyukainya. Namun kita tak boleh lengah oleh kata-kata dan janji “palsu” yang diberikannya. Kita harus tegas bahwa cara seperti ini bukan cara yang syar’i. Saling suka sama suka lantas menjalin hubungan tanpa diketahui siapapun. Kemudian memberikan perhatian berlebih entah itu sekedar lewat sms mengingatkan tahajjud atau dalam bentuk nyata, misalnya ngasih hadiah. Meskipun hadiah itu berupa Al-Quran.

Seorang laki-laki lewat di hadapan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Lalu Nabi berkata (kepada para sahabatnya), “Bagaimana pendapat kalian mengenai laki-laki ini?” Para sahabat menjawab “Laki-laki in pantas jika melamar dinikahkan, jika meminta tolong ditolong, jika berkata didengar”. Nabi diam. Kemudian lewat lagi laki-laki dari kalangan fakir miskin, maka Nabi bertanya , “Bagaimana pendapat kalian tentang laki-laki ini?” Mereka menjawab, “Laki-laki ini pantas jika melamar lamarannya ditolak, jika meminta tolong maka tidak diberi pertolongan, jika berkata tidak didengar.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Laki-laki yang terakhir ini lebih baik dari sepenuh bumi laki-laki seperti itu” (HR. Bukhari).

Hadits di atas memberikan pelajaran bagi kita, bahwa penilaian kita terhadap seseorang kadang bertolak belakang dengan penilaian Allah. Apa yang kita lihat secara dhohir di hadapan kita baik, bisa jadi di mata Allah tidak bernilai apa-apa. Begitu pula dengan penilaian kita terhadap ikhwan. Bisa jadi ikhwan yang ketika jalan menundukkan pandangan, sering orasi, aktif di organisasi ini, dan segala kelebihannya ternyata adalah orang-orang yang tidak bisa menjaga ‘izzah-nya yaitu dengan mengajak antunna menjalin hubungan tanpa status, memberikan janji-janji palsu untuk menikah, dan ujungnya berakhir tragis seperti cerita teman saya di atas.

Akhwati filllah…

Sekali lagi katakan TIDAK untuk ikhwan yang mengajak ke arah HTS (hubungan tanpa status). Walau sebesar apapun rasa suka kita sama dia. Dan ingat! Jangan kita terjebak sama rayuan “gombal” ikhwan seperti itu. Ikhwan yang berniat baik tidak akan tidak akan memberikan janji dan mimpi palsu. Apapun alasannya. Ia pasti akan mengajak anti melakukan ta’aruf seacara resmi melalui perantara baik itu teman atau murabbiyah. Bahkan mereka akan datang langsung ke rumah, menemui ibu dan ayah. Wallahu a’lam bish shawab. [Ukhtu Emil]

Kenapa Harus Pakaian Syar’i?


Kenapa sih harus pake rok mbak? Kenapa pake jilbabbnya mesti didobelin? Kenapa jilbabnya harus gedhe kayak gitu? Dan kenapa juga harus pake deker dan kaos kaki? Bukankah pakai celana juga gapapa, yang penting ndak ketat, yang penting kan pake jilbab dan sederetan pertanyaan lain yang bernada protes.

Bahkan ibu saya sendiri awalnya sempat protes ketika saya ke depan rumah saja pakai jilbab dan kaos kaki. Ibu hampir malu setiap bepergian sama saya lantaran saya mengenakan kaos kaki. “Kayak orang bubulen aja ke mana-mana pake kaos kaki” kata beliau saat kami hendak berkunjung ke rumah nenek yang agak jauh dari rumah.

Itu belum komentar tetangga saya. Pernah suatu saat saya nyapu halaman rumah. Di depan rumah tetangga saya kebetulan ada dua ibu-ibu yang sedang ngobrol. Sayup-sayup terdengar sebuah perkataan yang membuat tangan saya berhenti untuk menyapu. “Itu tuh lihat mbaknya Emil. Bajunya gedhe-gedhe kayak orang hamil aja” kata salah seorang diantaranya sambil melihat ke arah saya.

Akhwati fillah… mungkin berpakaian seperti kita masih menjadi hal yang “aneh” bagi lingkungan sekitar. Berjilbab rapi, berpakaian longgar, rok, deker dan kaos kaki. Namun semua pertanyaan di atas adalah ujian bagi kita apakah kita akan tetap berpegang teguh pada prinsip berpakaian kita yang kita anggap sudah sesuai syariat ataukah sebaliknya. Dan pernyataan tersebut juga sebagai bentuk ujian dari Allah apakah kita mampu bertahan dianggap asing di negeri sendiri.

Dalam surat Al-Ankabut ayat 2-3 Allah berfirman yan artinya, “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ’Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta”.

Kalau dalam cerpen Ketika Mas Gagah Pergi mbak Nadia seorang akhwat yang mulai mengenakan jilbab saat kuliah di Amerika mengungkapkan 8 alasan mengapa dia mengenakan jilbab, maka saya di sini juga ingin mengungkapkan beberapa alasan, mengapa kita mengenakan pakaian seperti sekarang ini.

Yang pertama, berpakaian secara syariat adalah perintah Allah. Sedangkan secara umum syarat pakaian yang sesuai syariat adalah longgar, tidak membentuk lekak-lekuk tubuh, tidak tembus pandang/nerawang, tidak menyerupai laki-laki, menutup seluruh anggota tubuh, dan tidak memakai minyak wangi yang berlebihan sehingga dapat mengundang fitnah bagi mereka yang memakainya.

Yang kedua, kenapa jilbab saya didobelin? Atau kenapa jilbabnya gedhe atau lebih tepatnya menutup dada? Seperti yang saya sebutkan di atas syarat pakaian yang syar’i salah satunya adalah tidak nerawang. Biasanya jilbab yang dijual sekarang ini bahan kainnya tipis, terutama jilbab paris sehingga jika tidak didobelin maka rambut masih akan kelihatan.

Dari Abdullah bin Umar ra, dia menceritakan, aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda : “Pada akhir umatku nanti akan ada orang laki-laki yang menaiki pelana, mereka singgah dipintu masjid, yang wanita-wanita mereka berpakaian tetapi (seperti) telanjang, di atas kepala mereka terdapat sesuatu seperti punuk unta yang mirng. Laknat mereka, karena mereka semua terlaknat.” (HR. ibnu Hibban). Dalam hadits tersebut sudah jelas Allah melaknat wanita yang berpakaian tapi telanjang. Karena pakaiannya atau jilbabnya tipis sehingga rambut, atau bentuk tubuhnya masih kelihatan.

Pernah suatu saat saya berdebat dengan salah seorang teman KKN saya, kurang lebih seperti ini,

“Kenapa sih jilbab kamu mesti didobelin bude?”tanyanya saat melihat saya memakai jilbab rangkap dua.
“Biar auratnya ga kelihatan tante” jawab saya.
“Tapi kan jilbab kamu itu ga begitu nerawang bud?”
“Masih kelihatan kok tante. Coba deh tan, kamu amatin jilbab kamu” kata saya sambil memintanya mengamati jilbabnya sendiri. Ia lalu mengamati jilbabnya sendiri di depan kaca.
“Iya juga sih, tapi gapapa kok bud. Ga begitu”
“Jangan gitu tan, sehelai rambutpun yang kelihatan bisa mengundang syahwat laki-laki. Mereka akan membayangkan bagaimana bentuk rambut kita” kata saya memperjelas. Teman saya itu hanya diam. Setelah itu dia hampir tidak pernah protes mengenai jilbab saya lagi.

Selain itu kenapa jilbabnya mesti gedhe atau lebih tepatnya menutup dada? Akhwati fillah, di dalam Qur’an surat An-Nur ayat 31 yang artinya “Katakanlah kepada wanita yang beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung ke dadanya...” dalam ayat tersebut sudah jelas bahwa kita diperintahkan untuk menjulurkan jilbab hingga menutup dada.

Kalau ada yang tanya “apa ndak panas?”. Ya panas itu jelas, apalagi kalau di daerah Gresik dan sekitarnya. Tapi api neraka itu apa ndak lebih panas lagi? Apakah kita ndak takut gara-gara rambut atau bentuk tubuh kita kelihatan, lantas kita mencicipi panasnya api neraka yang panasnya 70 kali lipat dari panasnya api dunia?

Yang ketiga, kenapa mesti pakai rok? Karena syarat berpakaian yang syar’i adalah tidak menyerupai laki-laki. Rasululullah bersabda melalui Ibnu Abbas: Beliau melaknat seorang laki-laki yang menyerupai perempuan dan perempuan yang menyerupai laki-laki (HR. Bukhari). Sedangkan memakai celana, meskipun ndak ketat alias longgar, tetap saja menyerupai laki-laki. Selain itu dengan memakai rok atau gamis akan memperjelas identitas kita sebagai perempuan.

Dan yang terakhir kenapa pake deker dan kaos kaki, karena seperti halnya shalat, aurat seorang wanita itu seluruh tubuh kecuali muka dan telapak tangan. Asma binti Abu Bakar telah menemui Rasulullah dengan memakai pakaian yang tipis. Sabda Rasulullah “Wahai Asma! Sesungguhnya seorang gadis yang telah berhaid tidak boleh baginya menzahirkan anggota badan kecuali pergelangan tangan dan wajah saja” (HR. Bukhari dan Muslim).

Maka memakai deker di lengan adalah sebagai antisipasi baju kita yang longgar kadang tanpa sengaja terbuka ke atas, atau ketika kita banyak aktifitas sehingga memungkinkan tersingkapnya lengan baju kita.

Dan mengapa mengenakan kaos kaki? Karena kaki juga termasuk aurot kita yang harus ditutupi. Dalam sebuah artikel yang pernah saya baca yahoo.com bahwa salah satu anggota tubuh yang menarik laki-laki adalah kaki. Hayoo, tentu kita ngga mau kalau ada seorang yang bukan muhrim lihat-lihat kaki kita kan? Selain itu dengan adanya kaos kaki, kaki kita akan terlindungi dari sinar matahari dan kotoran. Ingat kaki merupakan salah satu anggota tubuh yang berhubungan langsung dengan tanah. Dengan memakai kaos kaki, maka kita menjaga kesehatan kaki kita. Waallahu a’lam bish shawab. [Ukhtu Emil]
Copyright © 2012-2099 SEKILAS DAKWAH - Dami Tripel Template Level 2 by Ardi Bloggerstranger. All rights reserved.
Valid HTML5 by Ardi Bloggerstranger