lazada ID
Showing posts with label Dakwah Kampus. Show all posts

Dakwah Kampus Anti-Mutung

“Innahu in lam takun bihim falan yakuna bighoirihim, wa in lam yakunu bihi fasayakununa bighoirihi”

[Jika aku tak bersama mereka, aku tak akan bersama selain mereka. Dan bila mereka tak bersamaku, mereka akan bersama selain aku]

“Lha ne kabeh mutung trus piye…??” begitu kata seorang murobbiyyah sore itu. Yang terjemahan bebasnya adalah “lha kalau semua ‘mogok’ terus bagaimana..?”

Seperti biasa, hari Jum’at selalu membawa berkah. Pencerahan datang tiba-tiba. Sambil menunggu jemputan bercengkramalah keduanya, si Murobbiyah dan mad’unya. Meluncurlah cerita dari bibir si mad’u mengenai kegelisahannya beberapa hari ini. Sebab dirasa-rasa bahtera dakwah kampusnya makin lama makin goyah. Lha.. kenapa??. Sebab seiring berjalannya waktu ia merasa bangunan dakwah kampusnya makin sepi penghuni. Jumlah para pengusung dakwahnya makin lama makin mendekati stadium parah, bukan malah bertambah. Meski di tengah segala keterbatasan yang ada, anggota-anggota yang tersisa masih tetap terus berusaha melangkah. Walaupun lebih bisa dibilang tertatih-tatih.

Saat regenerasi kader berjalan lambat apalagi mandeg, adalah sebuah konsekuensi jika kader-kader yang senior harus tetap terus menjalankan roda organisasi. Mereka harus tetap aktif dan produktif dalam dakwah kampus tersebut. Syuro, seminar, kajian rutin, atau bahkan apapun jenis acaranya harus tetap mereka datangi. Meski saat mereka berkaca, usia mereka tak lagi muda. Bangku kuliah juga telah mereka ditinggalkan sebab telah dinyatakan lulus seusai prosesi wisuda. Bahkan mungkin beberapa dari mereka telah atau juga akan menikah. Dunia yang mereka geluti tak lagi dunia kampus yang penuh gelora tapi berganti dunia kerja yang harus mereka jalani. Namun, lagi-lagi itu bukan jadi alasan mreka untuk pergi. Sekali lagi tidak. Sebab mereka punya kesadaran, ada kewajiban yang masih harus ditunaikan hingga ada pengkaderan.

Jika bukan mereka lalu siapa lagi. Sebab jika mereka mengaku kader sejati, maka demi Allah mereka tak akan rela dakwah kampus yang telah membesarkan dan menaungi mereka selama ini mati begitu saja. Karena tak berpenghuni. Jangan disangka, godaan untuk pergi meninggalkan pasti pernah terbesit di hati. Seribu macam alasan bisa saja dibuat untuk menghalalkan mereka melakukannya. Tapi lagi-lagi, hati nurani mereka berbisik menguatkan “Jika bukan kalian…!! Siapa lagi…??” . Tak hanya itu, jika diingat kembali lewat pintu dakwah kampus inilah mereka mulai mengenal nikmat dalam tarbiyah. Berdakwah mengusung risalah Allah adalah nikmat. Berukhuwah penuh cinta dengan saudara seiman adalah nikmat. Saling menopang dan memecahkan persoalan dakwah demi ummat adalah nikmat. Lalu apakah persoalan personal semisal kerja, menikah, atau ambisi-ambisi pribadi akan jadi penukar yang pantas. Tidak demikian kiranya. Oleh sebab kesadaran itu semua, mereka masih tetap berusaha setia berjuang dalam dakwah kampus tersebut.

Meski, adalah manusiawi jika tak jarang mereka merasa letih. Merasa bosan dengan segala kondisi seperti ini. Jenuh seakan tak ada perubahan yang terjadi, betapapun mereka sudah berusaha. Seakan ingin berlari saja. Tapi benarlah ucapan si Murobbiyah “Lha ne kabeh mutung trus piye…??” Apa jadinya dakwah yang selama ini sudah dibangun. Siapa yang akan jadi penolong bagi agama Allah..?? Meski Allah sudah berjanji jika satu generasi lemah dan tak bisa menyandang amanah dakwah maka sudah pasti Allah akan menggantinya dengan generasi yang jauh lebih baik. Dan Allah tak pernah mengingkari janji-Nya. Mereka tahu itu. Dan lagi, alangkah ruginya jika mereka tidak turut menjadi bagian dari generasi tangguh yang dijanjikan Allah itu. Jika tidak bersama dakwah mereka berjalan lalu bersama siapa lagi. Sedangkan tanpa mereka, dakwah akan terus berjalan. Maka, pilihan terbaik adalah tetap bertahan.[Kembang Pelangi]

Antara Dakwah dan Prestasi Akademik

Membicarakan dakwah, seakan menjadi sesuatu yang tak pernah ada habisnya. Mulai dari modelnya, cara pendekatan, relasi antara murabbi dan mutarabbi, dan seterusnya.

Sebagian orang mungkin akan menganggap bahwa dakwah adalah urusan para ustadz atau ulama."Udahh itu bukan urusan gue..", begitu kira-kira celotehan sebagian orang.
Nyatanya dakwah adalah tugas bagi siapapun juga yang mengaku dirinya sebagai seorang muslim,dia menyeru pada kebaikan dan ketaatan pada Allah Subhanahu wa Ta'ala. Menjadi dai, tak harus ia seorang lulusan pesantren atau alumnus keilmuan syar'i. Seorang da'i bisa saja mahasiswa teknik, farmasi, sastra, atau apalah.. Menjadi da'i menembus batas profesi, umur, ruang dan waktu. Menjadi dai adalah menjadi penyeru bukan penyaru, menjadi pendidik bukan penghardik.

Ketika kita semua memahami bahwa menjadi seorang da'i adalah menjadi kewajiban bagi setiap muslim. Maka, pertanyaan selanjutnya adalah siapkah kita berkorban? Pertanyaan simple tapi sulit untuk dijawab. Dijawab disini bukan hanya bermanis di lisan miskin realitas, tapi yang dimaksud adalah aksi nyata dalam keikhlasan.

Kemudian, tantangan selanjutnya bagi kita sebagai seorang da'i dan sekaligus seorang mahasiswa adalah kesibukan akademik kampus. Entah.. kuliah, pre tes, post tes, laporan praktikum, dan sebagainya. Bahkan dalam keadaan bete (butuh tausiah) mungkin terbesit dalam hati "ahh,ngapain sih ngisi mentoring, tugas aja lom selesai" Begitulah kira-kira... semuanya membuat konsentrasi kita harus terpecah dan membagi waktu seefektif mungkin. Melakukan hal-hal seefisien mungkin dan dalam waktu yang terbatas, begitulah kiranya sang mujaddid mengatakan "alwaajibaat aktsaru minal awqoot". Dan terkadang karena saking sibuknya dakwah, prestasi akademik jadi terabaikan.

Saya teringat tausiah seorang ustadz, beliau mengatakan "jangan sampai dakwah kamu mengganggu akademikmu di kampus, prestasimu adalah dakwahmu. Namun,bukan berarti kamu meninggalkan dakwahmu untuk fokus akademikmu hingga semua terabaikan....kamu tahu proporsionalnya". Hmhmn.. benar juga pernyataan sang ustadz ini, dengan prestasi justru kita bisa berdakwah dalam cakupan yang lebih luas dan lebih mantap.

Jika kita mencoba untuk menelusuri biografi seorang yang sukses dalam dakwahnya hari ini, adalah mereka yang dulu juga ketika seumuran kita adalah mahasiswa berprestasi. Sebut saja, Abdul futuh..seorang mantan anggota sebuah gerakan pembaharu Islam ini adalah seorang mahasiswa kedokteran di masa seperti kita ini. Ada lagi, Muhammad Mursi.. siapa yang tak kenal orang yang satu ini. Beliau adalah presiden Mesir yang baru terpilih tahun ini, ia berasal dari sebuah gerakan pembaharu Islam, Al-Ikhwan Al-Muslimun. Muhammad mursi adalah seorang doktor metalurgi dari south california university-USA, bahkan beliau sempat menjadi dosen disana selama 5 tahun.

Masih kurang?? Kita akan flashback pada masa keemasan Islam ratusan tahun silam. Di sana ada Ibnu Sina, seorang bapak kedokteran muslim yang telah menulis banyak buku di bidang kedokteran bahkan bidang tafsir dan hadits. Karya fonumentalnya 'al Qonuun fii at Tibb (pokok-pokok dalam kedokteran)' telah menjadu rujukan dan referensi utama buku-buku mahasiswa kedokteran di Eropa hingga abad ke 19..luarr biasa!!

Kalau kemudian mereka saja bisa menggabungkan dakwah mereka dengan akademik mereka, dengan prestasi mereka.. maka tidak ada alasan lagi bagi kita untuk mengelak dan mencari alasan untuk tidak terus berprestasi, berprestasi dalam dakwah dan akademik.

Bagi siapa saja yang mengimani Allah dan Rasul-Nya,maka tentu ayat "wattaqullah wa yu'allimukumullah" cukuplah menjadi sandarannya untuk terus istiqomah menjalani jalan juang ini tanpa ada yang harus terabaikan. Terus bersabar dan terus meyakini bahwa memang ini adalah tugas berat nan mulia, tugas yang penuh tantangan. Insya Allah, Allah selalu bersama kita...amiin

Kiranya moto Gubernur Jabar ini bisa menjadi penyemangat kita, "SABISA-BISA, KUDU BISA, INSYA ALLAH PASTI BISA" []


Penulis : Rian Nurul Hidayat
Mahasiswa S1 Farmasi Universitas Pancasila
Anggota Rohis Al-Azzam Fakultas Farmasi Universitas Pancasila

Ketika Aktivis Dakwah ‘Bergelar’ Mahasiswa Tingkat Akhir


Beberapa bulan terakhir ini Allah memberikan kesempatan pada saya untuk dapat berdiskusi dengan teman-teman ADK (Aktivis Dakwah Kampus) dari berbagai universitas, baik itu mengenai kondisi LDK di kampus mereka masing-masing, strategi perekrutan mahasiswa baru, alur kaderisasi lembaga, program-program syi'ar dan peningkatan kualitas kader pengurus, ataukah hanya sekedar obrolan ringan untuk lebih mengenal karakteristik kader dari berbagai daerah

Maka selain ada ilmu-ilmu baru tentang dakwah kampus yang saya dapatkan dari diskusi tersebut, saya bisa menyimpulkan satu hal bahwa, aktivis dakwah kampus selalu menemukan permasalahan yang sama di tingkat akhir perkuliahan mereka, yaitu, SKRIPSI..hehe

Nah, ulasan yang ingin saya buat kali ini bukan tentang bagaimana manajemen/strategi dakwah dari kampus mereka, karena saya merasa masih belum pantas untuk menuliskannya, selain itu data yang terkumpul masihlah belum memadai, maka saya menjadi khawatir hasilnya tidak begitu maksimal jika dipaksakan saat ini.

Ulasan kali ini ringan saja, hehe.. sambil mengingat masa lalu, saya akan mencoba sedikit berbagi tentang bagaimana dulu saya menyelesaikan permasalahan mahasiswa tingkat akhir itu saat masih kuliah S1dulu.

Yup, kali ini, kita akan berbicara tentang skripsi.. ^.^b
Semoga tulisan ini terlindungi dari hal-hal yang tidak mendatangkan berkah dari-Nya.

Bismillahirrahmanirrohim..

Hal pertama yang harus sama-sama kita pahami adalah, kita semua pasti akan menjumpai skripsi dalam proses perjalanan kuliah kita. Apakah itu mau kita percepat atau malah akan kita undur pengerjaannya. Yang pasti, “saat” itu akan tetap kita jalani, kita HARUS MENYELESAIKANNYA. Karena seperti yang kita tahu, skripsi adalah syarat penting kelulusan S1.

Hal kedua yang juga harus kita sepakati adalah, kita BUKAN MAHASISWA BIASA. Ada berbagai pertimbangan amanah organisasi yang (sering) mempengaruhi pengambilan keputusan kita dalam pengerjaan skripsi tersebut. Pertanyaan “siapa yang akan meneruskan amanah itu ketika saya pergi?” selalu singgah di pikiran kita. Benar?

Hal ketiga yang tak kalah penting adalah, kita smua punya keluarga dan lingkungan yang senantiasa menilai serta mengharapkan yang terbaik dari pribadi kita. Katakanlah, kuliah ini adalah juga sebagai bentuk pelaksanaan TANGGUNG JAWAB kita kepada orang tua yang telah membiayai, serta mendoakan kita agar sukses nantinya. Sepakat?

Jika kita sudah menyepakati ketiga hal tersebut, maka saya akan memulai cerita saya…
………………..

Saya mulai mengerjakan skripsi pada semester 4. Tapi jangan mengira bahwa pada saat itu saya sudah langsung mulai menulis proposal skripsi / konsultasi-konsultasi kepada dosen pembimbing, belum.. Tahukah apa yang saya lakukan di semester 4 itu? Saya membuat PETA KELULUSAN.

Isinya adalah alur-alur dan target yang harus saya lalui untuk menperoleh gelar S.Farm. Jangan juga mengira bahwa peta skripsi itu adalah sesuatu yang sempurna dan valid untuk saya ikuti hingga lulus. Tidak, sungguh peta skripsi awal saya jauh dari sempurna. Banyak sekali mengalami revisi pada semester-semester sesudahnya.

Catatan penting pada poin pertama ini adalah, buatlah RENCANA. Tanpa rencana yang jelas untuk masa depan, sama saja kita sedang merencanakan kegagalan. Hal ini tentu bukan sekedar rencana bahwa bulan sekian saya akan seminar proposal, bulan berikutnya saya sidang pendadaran, dan seterusnya.. bukan, tentu tidak semudah itu rencana yang harus kita buat. Ingat, kita bukan mahasiswa biasa.

Rencana yang kita buat harus jelas dan realistis dengan tahapan-tahapan pencapaiannya. Contoh, ketika kita merencanakan seminar proposal pada semester ke-7, maka kita juga harus menentukan langkah-langkah untuk mencapainya, seperti mencari alternatif judul proposal yang baik sejak semester 6, konsultasi dengan pihak-pihak tertentu sejak semester 5, mencari referensi jurnal-jurnal / studi kasus lapangan, hingga menentukan berapa waktu yang kita perlukan (serta targetkan) untuk menyelesaikan tulisan proposal skripsi kita. Nah, langkah-langkah “kecil” tersebut sangat penting untuk mencapai target seminar proposal di semester 7 itu. Maka, buatlah serinci mungkin apa yang harus kita lakukan untuk mencapai setiap target. Dan, KONSISTEN UNTUK MELAKSANAKAN SETIAP TARGET yang kita buat. Kalau perlu, tulis besar-besar di kertas / papan tulis, dan tempel / letakkan di tempat yang selalu kita lihat setiap hari. Dinding kamar misalnya.

Selanjutnya, saya mulai mewujudkan satu per satu target yang telah saya buat tersebut. Dalam proses pelaksanaannya, tentu banyak terjadi hambatan. Maka, hal penting selanjutnya adalah rutin melakukan EVALUASI TARGET. Fleksibel saja. Jika memang harus ada target yang direvisi, maka segera perbaiki. Penyegeraan evaluasi tersebut membuat kita selalu on fire mencapai tahapan-tahapan target selanjutnya yang belum tercapai. Insya Allah, SABAR DAN IKHLAS saja dalam menjalaninya. Allah menilai setiap usaha kita, yang penting kita sudah benar-benar MELAKUKAN DENGAN MAKSIMAL. Eitss..jangan salah, perencanaan dalam bentuk target itu adalah salah satu poin penting untuk memaksimalkan usaha kita lo..

Poin kedua, yang tentu saja tidak kalah pentingnya, yaitu JANGAN PERNAH MENINGGALKAN AMANAH DAKWAH KARENA SKRIPSI. Banyak aktivis yang terjebak untuk memilih di antara keduanya, jika fokus skripsi maka pasti akan meninggalkan aktivitas dakwah, begitu pula sebaliknya. Tidak, saya tegaskan sekali lagi bahwa tidak seperti itu. Pegang dengan keteguhan hati kita isi kandungan QS. Muhammad : 7, “Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong agama Allah niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”.

Sikap yang tepat adalah dengan mengaturnya dengan managemen yang baik. Fokus bukan berarti meninggalkan hal lain untuk melakukan satu hal khusus saja. Bukan seperti itu. Jangan lupa bahwa fokus merupakan salah satu bentuk profesionalitas kita sebagai bukan mahasiswa biasa. Contoh nyatanya seperti ini, pada saat syuro maka fokuskan pikiran dan tubuh kita dengan hal yang berhubungan dengan materi syuro. Jangan sampai ada jurnal bahan skripsi di samping buku syuro kita, atau jangan pula asyik browsing bahan penelitian pada saat pemimpin syuro sedang memaparkan agenda syuro. Begitu pun sebaliknya, saat di kelas dosen sedang menjelaskan materi kuliah, kita malah asyik sms-an koordinasi dengan ketum tentang rencana agenda dakwah ahad nanti. Hehe..intinya, jangan mencampur-adukkan amanah yang satu (akademik) dengan amanah yang lain (organisasi dakwah).

Ehm..sebenarnya untuk yang satu itu, saya juga sempat beberapa kali “melanggar”nya sendiri kemarin. Hehe.. Memang saya akui sulit, memusatkan pikiran untuk satu hal (kuliah misalnya) di saat yang bersamaan mungkin kita juga sedang menghadapi satu permasalahan dakwah yang harus segera diselesaikan. Atau, di saat acara dakwah yang sedang tampak “membosankan”, pikiran kita malah ada di tumpukan tugas-tugas kuliah di rumah. Subhanallah, dan saya pun mengakui, saat-saat itu adalah waktu yang paling tepat untuk mengaplikasikan ilmu manageman waktu kita.Maka, tertantanglah kita untuk bisa menerapkan FOKUS PADA TEMPATNYA.

Jika pun suatu saat terjadi benturan yang sulit diatasi, maka langkah yang selanjutnya lagi-lagi bukan meninggalkan amanah dakwah, tapi “mengurangi” intensitasnya. Kita alokasikan diri kita untuk peran-peran dakwah yang masih dapat kita lakukan sambil tetap menyelesaikan amanah akademik. Contoh, jika pada semester 6 jumlah binaan kita ada 4 halaqoh, maka mungkin langkah yang bijaksana untuk menguranginya menjadi 2 halaqoh saja pada semester 7, dengan catatan 2 halaqoh yang lain tentu sudah mampu dikondisikan untuk dilakukan rolling murabbi / penataan kelompok. Contoh lain, jika pada tahun ke-3 perkuliahan kita memiliki amanah di 2 organisasi internal dan 1 organisasi eksternal kampus, maka bijaksana pula untuk memaksimalkan diri hanya di 1 organisasi saja pada tahun ke-4. Tentu lagi-lagi dengan catatan, kita harus sudah memaksimalkan adanya regenerasi sebelumnya, atau antisipasi-antisipasi lain sehingga kepergian kita tidak membuat organisasi tersebut menjadi bermasalah. Inilah pentingnya perencanaan di awal, untuk mengantisipasi hal-hal seperti regenerasi kader misalnya. Kadang kita terlena dengan amanah dakwah kita, tidak sadar bahwa waktu kita sungguh sempit di tempat ini, sementara pekerjaan kita yang lain masih banyak yang harus diselesaikan.

Selanjutnya, poin ketiga, KOMUNIKASIKAN DENGAN BAIK pilihan-pilihan (baik pikiran maupun tindakan) kita kepada pihak-pihak terkait. Contoh, untuk pengerjaan skripsi maka yang tepat adalah mengkomunikasikannya dengan dosen kita. Sampaikan minat dan keinginan yang ingin kita dapat dari skripsi kita tersebut, kapan target kelulusan kita, dan mintalah kesediaan dosen kita untuk membantu mewujudkannya.

Selanjutnya komunikasikan pula dengan pihak keluarga, dalam hal ini orang tua kita. Sampaikan perkembangan akademik kita, untuk orang tua yang pendidikannya juga tinggi dan paham tentang perkuliahan, kita bisa ajak diskusi tentang rencana yang akan kita jalankan untuk mencapai target kelulusan, apa saja kendala dalam penelitian, dan sebagainya. Namun jika orang tua kita kurang paham tentang segala kerumitan kuliah kita (hehe..), maka jelaskanlah hal-hal umum yang mampu mereka mengerti saja. Intinya, mereka tau bahwa kita sedang berusaha yang terbaik untuk kuliah kita. Hal itu akan membuat mereka percaya dan bangga dengan bagaimanapun hasil yang kita dapatkan di akhir perkuliahan nantinya.

Dan..komunikasikan pula dengan qiyadah kita di organisasi terkait hal ini. Jangan sampai kita tiba-tiba “menghilang” tanpa kabar berita dan dinilai non-aktif tanpa alasan yang jelas. Komunikasikan dengan bijak lo, jangan berlebihan pula. Peran qiyadah yang nantinya akan membantu kita mengatur hal-hal yang dapat tetap kita kerjakan bersamaan dengan pengerjaan target akademik kita (skripsi). Maka, qiyadah juga dituntut bijak dalam hal ini. Eitss..satu hal lagi, jangan lupa komunikasikan semuanya dengan murabbi.

Poin keempat, atau yang terakhir..tapi sesungguhnya menjadi yang paling utama, yaitu PERBAIKI HUBUNGAN DENGAN ALLAH SWT. Insya Allah Dia akan membimbing kita memilih yang terbaik, melakukan yang terbaik, serta menjadi yang terbaik untuk semua pihak.. Insya Allah dengan niat yang lurus, ikhtiar yang maksimal, dan doa yang tulus.. kesuksesan itu bukan hal yang mustahil.

Maka apapun pilihan kita, lulus cepat atau lulus PADA WAKTU YANG TEPAT, keduanya mampu kita pertanggungjawabkan kelak di hadapan-Nya..

...................
Astaghfirullah..astaghfirullah..astaghfirullah..

Saya tentu sangat jauh dari kesempurnaan, mungkin banyak pihak yang terdzalimi atas pilihan yang telah saya ambil dulu, mungkin juga ada amanah yang menjadi tidak maksimal karena saya memilik untuk memaksimalkan amanah yang lain.

Maka, saya memohon maaf yang sebesar-besarnya, semoga mereka dan Allah SWT mengampuni dan menjadikannya sebagai pelajaran serta hikmah di kemudian hari.

SELAMAT BER-IKHTIAR.. !!! ^.^[]


Penulis : Lia Puspitasari
Mahasiswi Pasca Sarjana Farmasi ITB 2012

Insinyur Dakwah


Bobotoh persib adalah hooligans terbesar kedua setelah manchaster united. Pebisnis mengamati hal tersebut dan mengambil kalkulatornya lalu menghitung berapa keuntungan yang bisa didapatkan dengan mengkapitalisasi hal tersebut. Para da’I berpikir bagaimana mendakwahi umat sebanyak itu.

Dulu saya pernah mengikuti training tentang pengobatan islam. Acara training tersebut berlokasi di masjid, duduk bersila dengan konsumsi satu kotak kue. Kami menonton berbagai macam video, salah satunya video tentang kekejaman israel pada palestina. Peserta yang datang bertipe sama, wajah sholeh, berjanggut, berkopeah, celana bahan baju kemeja atau gamis. Untuk orang seperti itu, bentuk dakwah yang dilakukan si penyelenggara training amatlah cocok. Namun pertanyaannya bila sang penyelenggara mengundang bobotoh persib, apakah training bisa dilakukan dengan cara yang sama?

Di lain kasus, sering kita melihat ada kampanye anti zionis yang menyamakan berbagai logo perusahaan dengan bintang david atau mata satu dalam segitiga. Lalu ada orang berkomentar, “Umat Islam bisa mundur kalau bahasannya kayak gini terus.”. Dalam hati, saya mengatakan bahwa saya tidak sepakat. Ada segmen masyarakat yang bisa didakwahi dengan cara seperti itu. Ada umat yang bisa menerima hidayah dengan cara mengetahui konspirasi dajal dan freemason, meski bagi sebagian orang video-video tersebut tampak berlebihan.

Di lain kasus, saat Dahlan Iskan maju sebagai menteri dan mencuat wacana bahwa beliau akan mengambil tampuk kepresidenan 2014, muncul gembar gembor info bahwa istri beliau adalah anggota dari organisasi yang merupakan underbow israel. Muncul pendapat “Ini adalah gaya primitif kita dalam berdakwah”. Sekali lagi saya tidak sepakat. Ada orang-orang yang bisa makin dekat dengan islam saat disodorkan fakta-fakta unik seperti itu. Mungkin umat akan bertanya, “Ada apa dengan lion club?”, “Ada apa dengan israel?”, dan pada akhirnya ia akan jatuh ke pelukan islam.

Dakwah adalah rekayasa sosial, menggiring masyarakat yang buruk menjadi masyarakat yang sholeh. Ada cara yang berbeda saat kita berdakwah ke dokter, bobotoh persib, tukang bakso, mahasiswa, ibu rumah tangga, pengacara, dokter, warga desa, preman, dan lain-lain. Ada metode yang khusus untuk tiap komunitas tersebut. Maka akan terjadi eror saat orang yang terbiasa berdakwah pada siswa SMA harus berdakwah pada kaum buruh. Eror itu terus terjadi sehingga sang da’i yang mantan ustadz SMA itu belajar dari kesalahan demi kesalahan dan pada akhirnya berhasil. Proses belajar itu panjang, butuh banyak waktu, dan menghabiskan biaya dengan banyak kegagalan yang harus ditolerir. Mengapa tidak diciptakan suatu buku panduan standar untuk berdakwah pada tiap segmen tersebut? Mengapa tidak ada lulusan sarjana atau master yang keahliannya memang merancang panduan standar, atau suatu panduan yang saya sebut “sistem dakwah”?

Perlu ada seseorang yang ahli dalam merancang sistem dakwah di suatu tempat dan segmen. Dia merancang empat dimensi; man, machine, material , method sebagaimana merancang sistem industri. Orang tersebut melakukan rekayasa atau engineering. Orang yang melakukan proses engineering biasa kita sebut insiyur. Maka orang tersebut kita sebut insinyur dakwah.

Insinyur tersebut melihat kondisi objek dakwah, membaca potensi dan kemudian merancang sistem dakwah yang baik. Perancangan yang dilakukan dapat dimulai pada aspek man yang berarti bagaimana manusia atau da’i yang nanti akan berkecimpung dalam dakwah tersebut. Apa saja kompetensi da’i, apa jobdesc-nya, bagaimana cara melatihnya, dan bagaimana cara mengontrol kinerjanya. Semua hal tersebut digodok oleh sang insinyur dakwah. Sebagai misal bila hendak berdakwah pada kalangan bobotoh persib, maka da’i harus punya pemahaman tentang sepakbola serta setidaknya memiliki kesukaan terhadap bola. Da’i pun harus cukup fasih berbahasa sunda karena bobotoh kebanyakan lahir di tanah pasundan.

Insinyur dakwah juga merancang aspek material yang berarti apa saja materi islam untuk disampaikan nantinya. Dakwah harus dimulai dari bab apa kemudian berlanjut ke bab apa. Mahzab mana yang harus digunakan terlebih dahulu. Hasil rancangan aspek ini dapat berbentuk kurikulum pembinaan. Misalkan bila berdakwah kepada para pecinta musik rock, insinyur dakwah merancang sistem dakwah sehingga materi pertama tidak boleh berisikan halal haram musik. Mahzab yang digunakan adalah mahzab yang membolehkan musik untuk menghindari konflik di awal.

Insinyur dakwah juga merancang aspek machine yang berarti apa saja fasilitas dan peralatan apa saja yang penting digunakan. Apa hardware dan software yang akan mendukung proses dakwah, bagaimana spesifikasinya, dan bagaimana cara pengadaannya. Peralatan yang cukup akan membuat dakwah tidak menemukan hambatan yang tidak perlu. Misalkan bila berdakwah di kalangan pebisnis sukses, da’i mesti dibekali dengan gadget black berry agar mudah dalam komunikasi.

Aspek terakhir yang tidak harus dirancang terakhir adalah aspek method. Aspek ini berisikan suatu rancangan dari insinyur terkait hal-hal yang nirfisik. Misalkan metode panyampaian, jadwal dakwah, langkah yang ditempuh, cara penyampaian suatu materi, panduan negoisasi, pembagian tugas, SOP-SOP yang digunakan, perencanaan strategi dan lain-lain. Misalkan bila berdakwah di kalangan geng motor, perlu dibuat SOP (Standard Operational Procedure) dalam mengajak anggota demi anggota ke pengajian.

Dengan adanya insinyur dakwah yang merancang sistem dakwah untuk tiap segmen masyarakat tersebut, da’i tidak perlu kebingungan lagi dalam melakukan dakwahnya dan dapat menjemput kesuksesan dengan jalan tercepat, insyaAllah. Tidak perlu lagi ada keluhan masyarakat karena cara dakwah yang tidak baik atau kurang tepat, karena sistem dakwah telah dirancang dengan apik. []


Penulis : Rio Aurachman, ST
Staf Bidang Dakwah Komunitas Pelajar Bandung
Ketua LP2K Karisma ITB Tahun 2010

Miskin Tapi Berprestasi (Pesan Moral untuk Mahasiswa Baru 2012)


“…..Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya JALAN KELUAR. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. ………………” (QS. Ath Thalaaq : 2-3).

Adik-adik mahasiswa baru,
Sesungguhnya jika seseorang ditanya, apakah mau dilahirkan dalam keluarga mampu (kaya) atau miskin, sudah tentu jawabannya adalah, “saya mau dilahirkan dari keluarga kaya“, sehingga semuanya fasilitas sudah tersedia tidak perlu pusing memikirkan kebutuhan hidup apalagi biaya sekolah. Namun, Allah SWT Maha Adil, yang menciptakan langit dan bumi, malam dan siang, perempuan dan laki-laki, tua dan muda, tentunya yang kaya dan miskin, semuanya ada hikmahnya, dan semuanya merupakan tanda kebesaran Allah SWT bagi orang yang berakal.

Adik-adikku sayang,
Bagi kalian yang terlahir dari keluarga mampu, harus banyak BERSYUKUR karena tentunya kalian belum pernah merasakan sulitnya hidup, mungkin belum pernah merasakan letihnya mencari nafkah sendiri (menjual koran, mencuci mobil, menyemir sepatu, menjual kacang goreng, membantu berdagang orang tua, dsb). Ya, karena semuanya serba ada dan tinggal meminta saja kepada orang tua tercinta, tanpa harus bersusah payah mendapatkannya dengan uang sendiri.

Adapun bagi kalian yang lahir dari keluarga miskin, BERSABARLAH atas kondisi yang ada, tidak perlu berkeluh kesah bahkan menyesali hidup. Tanamkan dalam diri kalian, bahwa HIDUP ADALAH PERJUANGAN, jangan pernah menangis tanpa mau berusaha, jangan menggerutu karena gelapan tanpa mau menjadi sumber cahaya. Kalian diberikan KESEMPATAN oleh yang Maha Pemberi Rezeki, menjadi pribadi yang lebih MANDIRI dari yang lainnya, diuji menjadi lebih tegar atas likunya perjalanan hidup, bahkan mungkin menjadi PAHLAWAN KELUARGA guna mencukupi kebutuhan hidup.

Intinya, siapa pun kita, dalam kondisi apa pun kita, kita wajib bersyukur serta bersabar atas semua karunia Allah SWT, hatta kita dilahirkan dari keluarga sederhana, keluarga pas-pasan, keluarga dengan penuh perjuangan untuk bisa hidup dan sekolah. Ingatlah, Rasulullah SAW – junjungan kita pernah mengatakan : “Sesungguhnya Allah SWT, tidak melihat bentuk fisik seseorang, keturunan kaya atau miskin tetapi Allah melihat pada TAQWA-nya”, bahkan Allah SWT pun berfirman: “Sesungguhnya, hamba yang paling MULIA di sisi-Nya adalah yang paling TAQWA”. SUBHANALLAH, begitu Maha ADIL-Nya Allah SWT yang memberikan derajat ketinggian hamba tanpa melihat status sosialnya, semua diperlakukan dan diberikan kesempatan yang sama, yang penting TAQWA (taat kepada-Nya).

Adik-adikku tercinta,
Mari kita renungi kisah sahabat nabi yang protes atas kemiskinannya dan iri kepada sahabat yang kaya. Diriwayatkan dari Abu Hurairah RA, orang-orang miskin dari kalangan Muhajirin datang kepada Rasulullah SAW, mengadukan kemiskinannya. Mereka berkata, “Orang-orang kaya pergi dengan membawa kedudukan yang tinggi dan kenikmatan abadi. Mereka shalat sebagaimana kami shalat, berpuasa sebagaimana kami berpuasa, dan mereka memiliki kelebihan harta sehingga bisa melaksanakan haji, umrah, berjihad, dan bershadaqah.”

Lalu Rasulullah SAW bersabda, “Maukah aku ajarkan kepada kalian sesuatu yang dengannya kalian bisa menyusul orang yang telah mendahului kalian dan jauh meninggalkan orang yang datang sesudah kalian. Tak seorangpun yang lebih mulia dari kalian kecuali ia melakukan seperti yang kalian lakukan?”

Mereka menjawab, “Kami mau, ya Rasulullah.” Beliau bersabda, “Kalian bertasbih, bertahmid, dan bertakbir tiga pulah tiga kali setiap selesai shalat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Adik-adik yang berbahagia,
Dari penjelasan di atas cukup bagi kita untuk berbaiksangka terhadap semua ketentuan/takdir Allah. Ya, sesungguhnya kaya-miskin merupakan ketentuan Allah. Dia melapangkan rizki kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Begitu juga sebaliknya, menyempitkan rizki dan membatasinya kepada siapa yang Dia kehendaki. Dia sengaja membuat perbedaan itu dengan hikmah yang Dia ketahui. “Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.” (QS. Al-An’am: 165)

Islam menuntun kita untuk mensyukuri apa pun yang saat ini kita miliki, dan salah satu bentuk kesyukuran itu adalah memiliki PRESTASI dalam hidup. Sekolah/kuliah dengan kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan, memang bukan cita-cita setiap kita, namun bukan berarti kita PATAH SEMANGAT untuk punya prestasi. Kuliah berprestasi serta mendapatkan beasiswa adalah jawaban bagi yang punya masalah dengan biaya/kebutuhan kuliah.

Adik-adikku yang hebat,
Dunia kampus sangatlah berbeda dengan dunia sekolah yang baru saja kalian tinggalkan, kampus penuh dengan tantangan, kemandirian, pengorbanan, dan beraneka ragam budaya dan pemikiran. Di kampus lah, nantinya kalian akan digodok menjadi calon-calon intelektual muda - pemimpin masa depan, agen perubahan sosial (agent of social change) sekaligus pengganti generasi yang ada saat ini. Oleh karenanya, jangan sia-siakan waktu kalian di kampus, raih berbagai prestasi - baik prestasi akademik maupun prestasi organisasi, selagi kalian mampu untuk meraihnya. Jangan hanya sekadar mengejar IP (Indeks Prestasi) tinggi, namun melupakan interaksi sosial antar sesama, nantinya kalian hanya akan menjadi robot-robot akademik saja.

Kuliah berprestasi berarti kalian harus memiliki IP yang bagus (kalau bisa di atas 3.00), plus kalian punya prestasi ilmiah dengan rajin mengikuti kompetisi ilmiah, dan kalian juga ikut aktif dalam organisasi kampus agar luas pergaulannya dan cakap dalam me-manage. Banyak organisasi kemahasiswaan yang bisa kalian ikuti, ada HMJ (Himpunan Mahasiswa Jurusan), BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), berbagai UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), seperti : KPM (Kelompok Peneliti Muda), LKM (Lembaga Kajian Mahasiswa), LDK (Lembaga Dakwah Kampus), Pencinta Alam, Pramuka, dsb. Kalian bisa memilih apa pun organisasi yang kalian sukai, tetapi ingat JANGAN LUPAKAN KULIAH.

Jika adik-adik punya PRESTASI, khususnya prestasi akademis, Insya Allah- segudang BEASISWA dari berbagai lembaga/instansi menanti kalian, sehingga tidak perlu pusing dengan biaya kuliah dan tidak perlu memusingkan orangtua di rumah. Kalian tidak lagi perlu meminta ongkos/transport kepada orang tua, meminta uang sewa kost, dsb, karena saat ini dana beasiswa-rasanya cukup untuk menutupi itu semuanya.

BISMILLAH, sekarang, mulai-lah kalian berniat dan ber-azzam (bertekad) untuk punya PRESTASI di kampus, buang kemalasan, jangan sia-siakan waktu yang ada, jangan habiskan waktu dengan kegiatan tak berarti. Jangan urai kembali airmata kesedihan orang tua kita, hadirkan terus wajahnya yang berharap, kalianlah yang kelak akan mengangkat derajat keluarga. Jadikan orang tua BANGGA terhadap kalian, gantilah tetesan airmata kesedihan dan keletihan orang tua menjadi air mata KEBANGGAAN dan SUKA CITA.

Jangan merasa MALU menjadi ORANG MISKIN, tetapi MALU lah kalian kalau TIDAK PUNYA PRESTASI. Ayoooo….maju terus untuk meraih PRESTASI. Selamat belajar….selamat meraih PRESTASI.[]

———————
*sebuah pengalaman hidup pribadi, semoga bermanfaat buat kalian, adik-adikku.


Penulis : Muhammad Yusro
Seorang guru yang selalu ingin berbagi. Ph.D Student – Universite Blaise Pascal, France.
Web: www.myusro.com

Change!


BERUBAH atau MATI! Untuk apa suatu organisasi terus dipertahankan kalau ia hanya menjadi beban masyarakat? Hidup, tetapi mengidap penyakit ketuaan, tidak memberi manfaat, dan menyulitkan banyak orang. Kalimat ini adalah opening note yang sedikit saya revisi dari sebuah buku yang saya baca beberapa waktu lalu tentang perubahan.

Perubahan atau change bukanlah kata yang asing di telinga kita. Salah satu contohnya adalah “mahasiswa itu agen perubahan”. Dan kita memahami bahwa perubahan itu tidak kemudian dilakukan dari hal yang mula-mula besar, tapi dirintis dari hal-hal yang kecil. Akan tetapi, meskipun begitu, banyak kemudian orang yang susah melakukan perubahan meski kecil, hanya karena alasan susahnya memulai untuk berubah. Tidak banyak memang orang yang mampu melihat momentum perubahan, apa saja yang harus diubah, dan bagaimana merubahnya. Dari sebagian orang yang mampu ‘melihat’ perubahan, hanya beberapa yang kemudian mampu melakukan sesuatu atau bergerak untuk berubah. Banyak dari kita kemudian hanya mampu menjadi penonton dalam melihat realitas yang ada. Tidak berhenti sampai disini, dari beberapa yang mampu ‘bergerak’ itu perlu disadari bahwa hanya ada sedikit yang ‘mampu menuntaskan perubahan’. Melihat realitas hari ini dengan perubahan yang terjadi, di dalam diri kita, lingkungan kita, hingga bangsa kita, sudahkah perubahan yang terus menerus dilakukan itu tuntas sehingga kita layak menyandang gelar seorang agen perubahan?

“We can not solve the problem by using the same kind of thinking we used when we created them”. - Albert Enstein. Sebagian besar orang telah terperangkap oleh kesuksesan masa lalu. Pada beberapa hal, kita kemudian seringkali menggunakan cara-cara yang sama, strategi yang sama, dalam meyelesaikan permasalahan yang terus bergulir pada jaman yang berbeda. Seperti kata Peter Drucker, bahaya terbesar dalam turbulensi bukanlah turbulensi itu sendiri, melainkan "cara berpikir kemarin" yang masih digunakan untuk menyelesaikan masalah hari ini. Sometimes, nowadays, we have to change the rule of the game! Semestinya, ada inovasi solusi dalam mensiasati persoalan yang bergulir ketika menghadapi medan yang sangat variatif. Hal ini kemudian bisa jadi menjawab permasalahan-permasalahan kita di lapangan dalam kerja-kerja kita. Ketika terjadi sebuah hambatan dalam mengusung perubahan banyak yang kemudian stagnan dengan beribu alasan, atau tidak mampu ‘melihat’ secara visioner, ‘bergerak’ dengan kerja cerdas --bukan sekedar kerja keras, lalu menuntaskan sebuah perubahan.

Ada beberapa hal yang kemudian menghalangi kita dalam mengusung dan menuntaskan perubahan. Apakah itu? Mari kita uraikan sebagai berikut. Jika ada beberapa orang yang hendak pergi ke suatu tempat yang belum pernah ia kunjungi, seharusnya apa yang dia bawa? Peta. Ya, betul sekali. Peta adalah hal yang penting dalam perjalanan gerak menuju perubahan. Jangan sampai kemudian kita membawa peta yang salah. Sekalipun dalam perjalanan tersebut sudah ditunjuk seorang pemimpin, tetap saja semua anggota tim harus mampu ‘melihat’ medan. Hal ini penting, karena jika hanya pemimpin yang mampu melihat medan, bagaimana perubahan itu akan terjadi? Itu tidak mungkin terjadi. Tugas seorang pemimpin adalah menjadi co-team yang membantu mengarahkan dan mempercepat pengambilan keputusan. Begitupun dalam aktivitas kita. Tidak seharusnya kemudian mengandalkan hanya pada pemimpin atau oang-orang tertentu dalam tim. A leader takes people where they want to go. A great leader takes people where they don’t necessarily want to go but ought to be (Rosalynn Carter).

Berikutnya, tentang disiplin. “Bagaimana mau bicara soal disiplin organisasi kalau soal disiplin diri aja masih ribet”, pernyataan ini sempat terlontar dalam diskusi ringan saya dengan seorang teman beberapa tahun yang lalu. Setiap organisasi punya kultur, beberapa organisasi memiliki kedisiplinan, namun hanya sedikit organisasi yang punya kultur kedisiplinan. Selebihnya yang sangat menghalangi perubahan adalah kesolidan organisasi, komunikasi yang tidak berimbang, dan komitmen yang tidak kuat. Apabila hal-hal tersebut mampu di-cover semestinya tidak ada hambatan lagi untuk berubah.

Meminjam kata Mahatma Gandhi, kebahagiaan akan terjadi ketika apa yang kita pikirkan, apa yang kita katakan, dan apa yang kita lakukan kemudian menyatu dalam sebuah harmoni. Rangkaian kata tersebut sebenarnya telah kita pahami dalam Islam sebagai sebuah iman, a belief. Ketika kemudian kita menyadari bahwa setiap progress yang kita lakukan adalah bagian dari perjalanan perubahan hidup kita, maka pasti nantinya akan muncul sebuah harapan. Harapan itu akan seperti sebuah jalan di sebuah kota, dimana jalan itu semula tidak ada, lalu orang-orang berjalan di atasnya, barulah kemudian jalan itu terlihat keberadaannya (the road of hope comes into existence). Harapan perlu dipelihara dan dikendalikan dengan baik karena ia merupakan ekspektasi yang jika tidak diarahkan dengan benar justru akan menumbuhkan benih kekecewaan-kekecewaan apabila tidak tercapai.

Ada seseorang yang mengungkapkan bahwa, “Seorang pemimpin yang gagal menyelesaikan perubahan adalah seperti mahasiswa yang tak pernah diwisuda”. Atau dalam ungkapan lain yang pernah saya alami, meminjam redaksional Bunda Marwah Daud Ibrahim, “Bukan sebuha skripsi yang menggebrak, luar biasa idenya yang bagus, tapi juga ia yang selesai atau tuntas”. Begitupun dengan perubahan, bukan yang sangat menggelegar, atau penuh mimpi-mimpi tinggi, tapi apakah ia adaptif? Apakah ia aplikatif? Apakah ia mampu di target, diberi indicator dan dituntaskan? Oleh karena itu, kita harus pandai-pandai dalam me-manaj sebuah perubahan dimanapun kita berada, baik untuk diri kita sendiri, organisasi yang kita terlingkup di dalamnya, untuk masyarakat luas, ataupun untuk negeri kita tercinta, Indonesia. Seorang pemuda hari ini tidak lagi menunggu momentum ”melihat rakyat tertindas” terlebih dahulu untuk berubah dan selalu mengulang sejarah. Sukarno telah berpesan, “Perjuanganku lebih mudah karena melawan penjajah, akan tetapi perjuanganmu lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Untuk mahasiswa muslim Indonesia, selamat bergerak, teruskan perjuangan, tuntaskan perubahan! []


Penulis : Ita Roihanah, ST
Freelance Architect and Researcher
Sekretaris Departemen Kebijakan Publik KAMMI Malang Raya

Format Jamaah Dakwah Ideal



وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.(Ali-Imran:104)

Problematika kita pada saat ini adalah kurangnya sikap peduli antar sesama, terkadang ketika melihat salah satu dari ikhwah kita yang futur atau mulai kurang semangatnya dalam beribadah, rasa peduli itu hilang sehingga tidak lagi saling menasehati dalam kesabaran dan ketaatan. Begitulah yang terjadi diantara kita, terlebih lagi apa yang terjadi di negara kita saat ini. Melihat kemungkaran tumbuh subur di mana-mana, kemaksiatan merajalela, yang haq terlihat batil dan yang batil terlihat haq. Pornografi dibela mati-matian sedangkan orang yang konsisten terhadap ajaran Islam terlihat asing bahkan dicurigai sebagai teroris. Masyarat kita sudah tidak lagi memiliki ukuran yang pas dalam melihat fenomena yang terjadi, pemerintah pun demikian tidak menimbang permasalahan-permasalahan dengan timbangan yang adil, seakan-akan dunia sudah mulai terbalik di mana hukum rimba yang berlaku. Inilah akibat dari kesalahan kita, kita lebih tertarik dengan hukum-hukum yang dibuat oleh manusia dari sumber yang diliputi hawa nafsu belaka. Kita begitu enggan menerapkan hukum Allah di bumi pertiwi ini, acap kali menolak ketika disodori Hukum Allah itu untuk dibumikan di negara ini.

Kita khususnya para aktivis dalam mendakwahkan Al-Islam ini tidaklah mungkin terlaksana dengan baik bila dilakukan sendiri-sendiri. Untuk itulah pentingnya sebuah jamaah yang mewadahi dakwah ini. Nah jamaah bagaimana dan seperti apa yang dimaksud? Apakah sekedar jamaah sekumpulan orang-orang yang memiliki semangat tinggi namun tidak terorganisir dengan baik? Ataukah sebatas gerakan yang hanya sibuk menyerukan syariat Islam namun hanya sebatas seruan semata? Atau sebuah jamaah yang asyik mengkritik gerakan-gerakan yang lain? Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Dr.Shadiq Amin disebutkan bahwa format gerakan dakwah yang ideal adalah:

1. Kitabullah adalah sandaran bagi setiap referensi dan konsep yang di gunakan untuk menetapkan tujuan, sarana, cara menghadapi berbagai situasi dan kondisi. [1]

Al-Qur’an dan As-Sunnah harus dijadikan pedoman, rujukan sebuah jamaah dakwah. Bagaimana mungkin kita yang menyerukan dakwah ini penyambung dari risalah yang dibawa oleh Rasululla Saw., namun tidak menjadikan Al-Qur’an dan Sunnah Rasul sebagai mabda asasi di dalam dakwahnya.

2. Adanya kejelasan visi jamaah dalam mencapai tujuan dan metode beramal.[2]

Sebuah jamaah dakwah harus memiliki visi yang jelas, tidak hanya sekedar menyampaikan dan mengajak orang lain bergabung ke dalam kelompoknya namun setelah itu ditinggalkan begitu saja tanpa adanya pembinaan selanjutnya.

3. Tarbiyah individu perlu lebih didahulukan.[3]

Jumlah yang banyak dalam sebuah jamaah penting namun kualitas pun tidak kalah penting. Kita terkadang begitu semangat merekrut anggota baru sebanyak-banyaknya sehingga lupa pada sisi pembinaan, yang mestinya lebih diperhatikan.

4. Dapat memberi pengaruh dari sisi amal atas sisi teori.[4]

Dapat kita fahami bahwa seorang dai mesti selaras antara ucapan dan perbuatan. Tidak hanya pandai berteori namun mampu menafsikan dalam kehidupan sehari-hari.

5. Hendaknya jamaah ini mengambil seluruh sebab-sebab syar’i untuk menegakkan sistem Islam.[5]

6. Untuk merealisasikan tujuan besar itu jamaah harus memiliki sarana yang layak untuk mencapainya.[6]

Setelah kita membaca poin-poin di atas tentu kita dapat menentukan manakah jamaah dakwah yang ideal yang kita mesti bergabung di dalamnya. Dengan tidak ta’ashub (fanatik) yang membuat mata kita hitam dalam memandang jamaah lain hanya karena tidak sefikroh (sefaham) dengan kita. Namun hendaknya kita bisa mengajak mereka berjalan bersama, saling bahu-membahu dalam mengemban amanah dakwah ini. Wallaahu a'lam. []

_____________________
[1]Dr.shadiq Amin,Ad-Da'wah Al-Islamiyah Faridhah syar'iyah wa dharurah basyriyah atau Mencari Format Gerakan Fakwah Ideal,terj.Syarif ridwan(Jakarta:Al-I'tishom cahaya umat,2006),halm.71.
[2]Ibid,halm.73
[3]Ibid,halm.73
[4]Ibid,halm.74
[5]Ibid,halm.75
[6]Ibid,halm.77


Penulis : Abdurrahman Hilabi
Ketua Umum Forum Ukhuwah dan Study Islam

Dauroh: Formalitas atau Substansi?


Bisa dipastikan tidak ada aktivis dakwah kampus (ADK) yang tidak mengetahui arti kata dauroh. Secara bahasa dauroh bisa bermakna pelatihan atau pembinaan. Dauroh diadakan guna menjaga kader tetap dalam nuansa iman islam dengan pemahaman semakin meningkat. Pelaksanaan dauroh disesuaikan pada sasaran kader dakwah yang menjadi peserta. Setiapnya ada tingkatan dauroh. Tak ubahnya bentuk pelatihan lain yang memiliki tingkatan.

Di sini saya tidak akan membahas panjang lebar akan makna dan tujuan dauroh. Karena semua ADK tentunya sangat faham akan hal itu. Namun, yang menilisik saya untuk menulis tidak lain mencoba menguraikan akan hakikat dauroh itu. Setidaknya berdasarkan perjalanan pengalaman saya mengikuti dauroh sendiri.

Dalam organisasi dakwah, dauroh menjadi salah satu agenda utama dalam pembinaan yang tidak tergantikan. Hal ini karena memang dauroh sangat penting peranannya dalam putaran laju roda dakwah. Diantaranya, menjadi pencegah maraknya virus taqlid (ikut-ikutan) yang menjangkiti sebagian ADK. Dengan mengikuti dauroh para ADK akan faham akan hal yang sebelumnya belum dipahami. Sesuai firman Allah “Sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu” (QS.Asyam: 9).

Namun, problem dauroh akan muncul ketika pelaksanaan dauroh tidak bisa menghasilkan apa-apa. Tidak ada perubahan yang terjadi pada ADK seperti yang menjadi harapan para peng-create dauroh. Memang bukanlah sikap yang adil jika mengkambing hitamkan apalagi menghakimi pelaksanaan dauroh semata sebagai penyebabnya. Butuh semangat dan kesungguhan dari para ADK merupakan modal dasar tercapaian targetan dauroh.

Masalahnya ialah bagaimana para ADK akan antusias mengikuti dauroh jika pelaksanaan dauroh tidak terlalu memperhatikan konten dari dauroh itu sendiri. Perlu dipahami peserta dauroh dalam hal ini ADK berangkat dari latar belakang, disiplin ilmu, karakter, pola pikir yang satu sama lain berbeda. Tetapi semuanya berharap yang sama yakni meningkatnya pemahaman hingga meningkatnya keimanan.

Perbedaan yang melekat pada para ADK ini kurang tepat menurut hemat penulis jika dilakukan generalisasi dalam transformasi pemahaman dalam pelaksanaan dauroh. Dan ini yang terjadi di lapangan pada saat pelaksanaan dauroh. Sebagai penyelenggara atau panitia kita kerap lebih diributkan dengan setting tempat, tata tertib dauroh, pemeriksaan wajibat dan sejenis lainnya. Tetapi begitu jarang, jika tak ingin dikatakan tidak pernah, kita (panitia/penyelenggara) terlibat dalam diskusi dialektika gagasan yang dalam untuk mencari formulasi terbaik bagaimana caranya agar semua peserta dauroh bisa mendapatkan ilmu yang maksimal sepulangnya dari dauroh.

Berlalunya satu materi ke materi berikutnya seakan menjadikan kita semakin merasa ringan akan tugas sebagai panitia dauroh. Kita mungkin hanya sebatas "mengawal" materi demi materi itu hingga selesai semuanya. Ketika dauroh ditutup secara resmi dengan doa penutup majelis, kita beranggapan tugas telah dilaksanakan sepenuhnya. Jika ini yang terjadi, jangan salahkan peserta dauroh berseloroh: "membosankan".

Bahwa Dauroh merupakan sarana belajar bagi para ADK untuk menambah pengetahuan, tak perlu kita perbantahkan. Tetapi bukan berarti kita mengabaikan makna mulia dari belajar itu sendiri. Meminjam istilah Ignas Kleden dan Andrias Harefa belajar itu memiliki kategorisasi berupa belajar tentang dan belajar menjadi.

Ketika Belajar tentang, kita hanya mengetahui ilmu yang kita pelajari, tidak lebih. Namun, saat belajar menjadi maka kita tidak sekedar menjadi tahu tetapi juga mampu bahkan bisa saja ahli. Inilah filosofi pembelajar. Misal: belajar tentang cara merekrut maka kita hanya sebatas mengetahui cara merekut. Namun, tidak menjamin kita menjadi bisa merekrut. Karena menjadi bisa merekrut merupakan proses belajar menjadi.

Kaitannya dengan dauroh, hemat saya ia merupakan sebuah ajang pembinaan, bukan pelatihan. Hakikat dari pembinaan ialah pembelajaran. Sedangkan makna dari pembelajaran ialah belajar menjadi. Ouputnya berupa kemampuan dalam bentuk life skill. Jika dauroh merupakan sebuah pembinaan (pembelajaran) maka sudah seharusnya output dari dauroh ialah lahirnya kader yang memiliki kemampuan (life skill). Jika itu tercapai, di sini substansi dauroh menurut hemat saya telah dilaksanakan.

Namun ketika dauroh dimaknai sebuah pelatihan yang terjadi outputnya hanya sebatas mengetahui, pelaksanaan dauroh tak lain hanya sebuah formalitas dari agenda rutin sebuah pembinaan (kaderisasi). Kering dari muatan semangat dan tekad keingintahuan.

ADK yang menjadi peserta dauroh bisa jadi telah mengetahui semua materi dauroh. Tetapi adakah yang menjamin jika para ADK tersebut telah memiliki kemampuan (life skill) untuk mengaktualisasikan materi yang telah didapat? bukankah tantangan realitas lebih membutuhkan kader dakwah yang memiliki kemampuan ketimbang sekedar mengetahui?

Andaikan setiap pelaksanaan dauroh yang menjadi mainstream berpikir para ADK hanya sebatas mengetahui maka tak heran jika pasca-dauroh tidak ada progress perubahan yang terjadi pada kita atau skala yang lebih besar perubahan pada dakwah kampus kita. Dan juga tidak mengherankan kalau dauroh menjadi sepi peminat karena orientasi mengetahui bisa digantikan dengan cukup membaca buku atau bertanya pada para ustad.

Sebagai penutup, saya ingin menyampaikan semua ini memang soal persepsi. Tetapi sebuah proses berawal dari persepsi lalu berujung pada manis atau tidaknya hasil yang didapat. Wallhualam. []


Penulis : M. Iqbal Themi
Ketua PK KAMMI Al Aqsho UNSRI 2011-2012

Dakwah Kampus dalam Dimensi Ruang dan Waktu


Dakwah dari masa ke masa menjadi perjalanan yang begitu indah untuk diselami dan ditapaki. Mencermati jejak–jejak dakwah kampus memang memberikan inspirasi tersendiri bagi Aktivis Dakwah Kampus (ADK). Tak terkecuali dakwah kampus di UNSRI.

Dakwah kampus di UNSRI dalam dua tahun belakangan ini menunjukkan gerak yang sangat signifikan dan peran yang sangat penting dalam kemajuan Islam di kampus. Agenda dakwah yang membumikan Islam sebagai ideologi perlu ditanamkan dalam setiap lini kehidupan mahasiswa.

Para ADK perlu mencermati dan memanfaatkan peluang-peluang dakwah di kampus UNSRI. Terlebih, UNSRI kini memiliki peran di dunia internasional -khususnya di ASEAN- dengan gerak nyata melalui kerjasama UNSRI dengan perguruan tingggi di Thailand dan Negara ASEAN lainnya. Pertukaran mahasiswa dan pengenalan budaya antara UNSRI dengan kampus-kampus ASEAN memberikan ruang yang sangat luas kepada mahasiswa untuk mengembangkan potensinya. Fakta itu juga menuntut ADK untuk mengembangkan pola dakwahnya, sehingga semua lini dakwah mampu digerakkan secara optimal.

Pada tahun 2011–2012, perjalanan dakwah kampus UNSRI mengalami kemajuan baik dalam program dakwah maupun akselerasi kader yang menduduki peran strategis dan pengambilan kebijakan kampus. Bahkan mereka yang diamanahi di pos-pos strategis itu adalah ADK tahun kedua atau semester empat. Penempatan itu memang memerlukan penjagaan khusus (ri'ayah khas) bagi kader itu sendiri, sekaligus butuh persiapan yang matang. Tidak mudah membangun akselerasi dakwah untuk pertama kalinya.

Gerak dakwah harus melintasi seluruh penjuru dalam dimensi ruang dan waktu. Dakwah harus disuarakan bukan hanya kepada mahasiswa. Bahkan dosen dan guru besar pun perlu didekati, agar mereka merasakan indahnya dakwah dan bersama-sama memperjuangkannya. Hal yang terpenting dalam membawa ideologi Islam adalah dengan kekuatan iman, ilmu dan prestasi sehingga dakwah mampu menembus ke wilayah–wilayah yang dulunya sulit dijangkau.

Agar mampu menembus ruang dan waktu, dakwah perlu membangun pola pengkaderan yang kokoh. Dengan banyaknya personil yang terjaring menjadi ADK, maka upaya melebarkan sayap dakwah akan menjadi semakin mudah. Berikutnya, pemetaan (mapping) kader perlu dilakukan dengan tepat. Misalnya kader di setiap fakultas dan setiap jurusan terpetakan mulai potensi hingga muyul-nya.

Mengambil contoh di UNSRI, FMIPA memiliki enam jurusan yaitu matematika, fisika, biologi, kimia, kelautan dan farmasi. Setiap jurusan mempunyai penanggung jawab yang menjadi koordinir gerak dakwah jurusan. Fungsi kader ADK sebagai koordinator jurusan yaitu membuat peta kader dalam memasuki kerja dakwah jurusan. Misalnya menjadi asisten, menjadi pengurus di himpunan mahasiswa jurusan ( HMJ ), mengelola Study Club, English Club, Research Club dan koordinator asisten (KOAS). Dengan mapping semacam ini, dakwah relatif lebih mampu mengkondisikan geraknya dalam membangun kerja–kerja besar dakwah menuju masyarakat yang Islami.

Mari kita rapatkan barisan untuk membangun gerak nyata dakwah, dengan mulai memaksimalkan gerak dakwah kita sebagai kader, dalam setiap ruang dan waktu. I am a Muslim and Islam is My Choice.[]


Penulis : Beni Saputra
Mahasiswa Fisika FMIPA UNSRI
Pegiat KAMMI Al Quds UNSRI

Zeit Geist


Setiap zaman memiliki jiwa zamannya. Setiap zaman memiliki karakternya yang khas. Tantangan yang dihadapi satu dekade lalu tidaklah sama dengan tantangan yang kita hadapi sekarang. Problematika yang muncul pada era sebelumnya sudah jauh berbeda dengan problematika yang menanti di sini, kini. Peluang yang terbuka dan menjadi tren 10 tahunan silam, detik ini sudah tidak ada lagi; berganti. Maka, solusi dan kepahlawanan pada zaman ini juga tentu saja berbeda dari zaman sebelumnya. Mereka yang tidak mampu menangkap jiwa zaman (zeit geist) akan tenggelam. Mereka yang kukuh mempertahankan 'status quo' dan angkuh untuk berubah niscaya akan ditinggalkan sejarah. Masalah-masalah baru terlalu rumit untuk diselesaikan dengan pendekatan yang sama seperti zaman sebelumnya.
Mahasiswa yang kemudian terinstitusi dalam gerakan mahasiswa juga tidak terlepas dari hukum ini. Bahkan sebagai individu ia bahkan tidak bisa mengelak. Kalau hari ini kita bisa melihat satu contoh kecil, bahwa para ahli goresan spanduk telah dilipat oleh teknologi banner dengan desain grafisnya, para mahasiswa yang stagnan juga akan mendapat realita yang sama di mimbar sejarah. Mereka yang memandang bahwa aktifis haruslah demonstran militan, pergi subuh pulang larut malam, kuliah amburadul tanpa prestasi akademis membanggakan, berarti telah terjebak pada romantisme masa lalu. Menjadikan diri dan gerakan seperti 'profil lama' itu memang menjadi pilihan terbaik pada 1998-an. Tapi, bukan untuk sekarang! Aksi (demonstrasi) memang masih dibutuhkan oleh gerakan mahasiswa tapi itu tidak cukup untuk menghadapi zaman kita.
Membaca Jiwa Zaman
Maka yang diperlukan pertama kali sebelum gerakan mahasiswa melangkah lebih jauh adalah membaca jiwa zaman. Tentu ini akan mengkonsumsi stamina yang cukup besar dan analisa yang mendalam. Namun, ibarat mengasah gergaji, terlalu sedikit waktu yang diperlukan jika dibandingkan dengan ketepatan dan kecepatan yang datang kemudian untuk memotong kayu-kayu permasalahan dan membuka hutan kebuntuan menjadi peradaban kesuksesan.
Maka, kita pun perlu belajar dari sejarah. Akankah selamanya gerakan mahasiswa menjadi agent of change. Bangga dengan status itu kemudian terdiam dalam kompetisi sejarah perubahan yang justru dimulainya sendiri. Mengeluarkan segala power-nya kemudian lemas terpaku seraya berkata: “bukan perubahan seperti ini yang kita inginkan”. Implikasi lain dari mempertahankan status ini adalah gerakan mahasiswa akan “tertidur pulas” ketika tidak mendapatkan penguasa tiran yang menjadi common enemy untuk 'ditumbangkan'. Ditambah lagi arus demokratisasi yang mengalir bebas, membuat gerakan mahasiswa menjadi bonsai di tengah hegemoni partai politik seperti sekarang ini.
Director of Change
Sudah masanya mahasiswa mempertimbangkan peran yang lebih strategis, director of change. Artinya bukan sekedar kita menjadi infanteri perintis serangan, tetapi kitalah yang akan menentukan konsep pasca perubahan (baca: kemenangan). Tentu saja ini mensyaratkan pondasi persiapan yang kokoh sebab itu sama artinya dengan menjadikan mahasiswa sebagai Muslim Negarawan. Bukan berarti semua mahasiswa berambisi menjadi pejabat negara, tetapi memiliki mentalitas kontributor bagi bangsa dan negaranya.
Lalu bekal apa yang diperlukan bagi gerakan mahasiwa dalam memenuhi cita-cita tahap lanjut tersebut? Setidaknya gerakan mahasiswa harus mampu membangun enam kompetensi kritis untuk setiap kadernya: pengetahuan keislaman; kredibiltas moral; wawasan keindonesiaan; kepakaran dan profesionalisme; kepemimpinan; serta diplomasi dan jaringan. Dengan kompetensi yang pertama ia akan memiliki basis ideologi Islam yang mengakar, yang selalu dibutuhkan sehingga tidak keluar dari rel 'Ilahiyah' dan cita-cita menyemai kehendak Ilahi bagi alam ini. Kompetensi yang kedua akan menjamin mahasiswa tetap memiliki idealisme dan konsistensi, tidak larut oleh efek negatif setiap zaman yang dihadapinya, tidak berbelok menjadi generasi pelanjut bagi kaum pragmatis dan oportunis. Kompetensi yang ketiga dan keempat ia butuhkan untuk membangun basis pengetahuan dan pemikiran yang mapan, tidak mudah didekontruksi oleh pihak lain yang memang kontra. Dengan kepemimpinan yang kompeten ia akan berkontribusi pada pemecahan problematika umat dan bangsa, ditunjang kompetensi diplomasi dan jaringan yang membuatnya mampu menjadi perekat komponen bangsa pada upaya perbaikan.
Menutup tulisan singkat ini, saya ingin mengutip perkataan Umar bin Khattab “Bertafaqquhlah kaliah (bangun kompetensi) sebelum kalian menjadi pemimpin, sebab setelah kalian menjadi pemimpin, tidak ada lagi waktu -yang cukup- untuk bertafaqquh” [Muchlisin]
Copyright © 2012-2099 SEKILAS DAKWAH - Dami Tripel Template Level 2 by Ardi Bloggerstranger. All rights reserved.
Valid HTML5 by Ardi Bloggerstranger