lazada ID
Showing posts with label Renungan. Show all posts

Mengenal Karakteristik Jama'ah-jama'ah Dakwah

Jamaah Tabligh (foto: rimanews.com)
Dakwah akan menjadi tinggi…saat pribadi yang membawanya…sama indah… dengan apa yang di bawanya…
[ Sarwo Widodo Arachnida ]

Radikal…!!! Sampeyan itu terlalu radikal…! Ucapan itu tiba –tiba meluncur tanpa diduga dari lelaki separuh baya yang ada di ujung meja, ayahnya. Sebuah ucapan yang belum pernah didengar sebelumnya. Tidak sekalipun sejak ia mengenal dan memutuskan bergabung dalam barisan kafilah dakwah, pengusung risalah para anbiya'. Kata “radikal” itu membuatnya menginsyafi, sepertinya kali ini ia salah langkah…salah memilih strategi dalam berdakwah. Tiba–tiba mucul sebuah tanya “seperti apakah format dakwah yang ideal itu sejatinya…? ”

Dewasa ini, dakwah Islam mengalami perkembangan. Beragam jamaah dengan berbagai bendera pun bermunculan. Yang mana hampir bisa dipastikan semua jamaah mengaku berjuang dan berdakwah di jalan Allah. Dan masing–masing jamaah mempunyai spesifikasi tertentu dalam dakwah yang mereka usung. Setiap jamaah dakwah mempunyai pendekatan dan sudut pandangnya sendiri. Tanpa perlu menghakimi siapa yang paling unggul dan terbaik. Ada baiknya kita mencoba mengenali sebagian di antaranya. Berikut ini beberapa jamaah beserta karakterisiknya sebagainya pernah disampaikan ustadz Amir Faishol Fath.

Jamaah yang satu ini terlihat begitu cinta dengan masjid. Mereka tak hanya sekedar mencintai masjid, mereka berusaha menghidupkannya. Cara dakwah mereka berkunjung dari masjid ke masjid. Isu utama yang mereka usung ketika menyampaikan dakwahnya adalah mengenai makna laa ilaha illaah. Sering kali terutama selesai shalat berjamaah mereka dengan penuh keyakinan menyampaikan pentingnya memaknai laa ilaha illallah sebagai pondasi untuk meraih kehidupan dunia dan akhirat. Sebagaimana, yang jamak terjadi kini banyak muslim yang mengucapkan laa ilaha illallah tapi dalam kehidupan sehari–hari masih tetap menomor duakan Allah. Melaksanakan shalat tapi tetap bermaksiat. Halal dan haram aturan Allah sering dicampuradukkan. Dosa dan ketaatan masih dijalankan beriringan. Maka, ada kalimat pengantar yang menjadi ciri khas jamaah ini saat memberi taushiah yakni inna najaahanaa wa falaahanaa fiddunya wal akhirah biqodri a’maalinaa bi laa ilaha illallah yang kurang lebih artinya sesungguhnya kesuksesan dan kebahagiaan kita di dunia dan di akhirat sangat tergantung pada kesungguhan kita dalam mengamalkan laa ilaaha illallah. Meski jamaah ini jarang, bahkan menghindari membicarakan isu dan tema politik anggota jamaah ini tergolong kumpulan orang–orang yang santun penuh persaudaraan. Hampir tidak pernah menjelek-jelekkan, mencaci dan memusuhi jamaah dakwah lainnya. Mereka larut dalam kesederhanaan gaya penampilan dan dakwah mereka. Mereka meyakini bahwa dakwah itu untuk memperbaiki bukan untuk menghakimi apalagi mencaci. Mereka mengisyafi mungkin cara mereka bisa dibilang terlalu tradisional dan mengesampingkan teknologi, tapi bagian merekalah menangani sisi–sisi yang belum tersentuh oleh jamaah dakwah lainnya

Jamaah yang satu ini berbeda lagi. Biasanya mereka duduk khusuk di selasar masjid sambil jemari menggengam tasbih panjang. Mulutnya tak berhenti berdzikir. Ibadah ritual yang menjadi kosentrasi mereka. Terkadang hingga membuat mereka mengacuhkan urusan dunia. Tak makan berhari-hari tak menjadi masalah bahkan dianggap sebagai pencapaian puncak ruhani. Lupa kewajiban pada anak dan istri. Tak hanya itu, bermunajat pada Allah dengan gerakan menari berputar–putar adalah salah satu ciri. Sebagian dari mereka menafsirkan Al Qur’an dengan pendekatan isyari (simbolik) yakni ayat Al Qur’an tak lagi dipahami sesuai makna bahasa Arab yang asli melainkan sebagai simbol dari makna ruhani yang mereka pahami. Para ulama tafsir dan ulumul Qur’an banyak yang tak sepakat dengan hal ini. Banyak yang mengkritisi apa yang dilakukan jamaah ini, sebab Islam yang dibawa Rasulullah ini universal mencakup segala hal bukan hanya ritual. Sebagimana pula yang Rasulullah contohkan, tak hanya rajin shalat tapi juga berjihad di medan perang. Tak hanya dzikir tapi urusan ekonomi dan Negara juga dipikir. Tidak timpang sebelah. Islam hadir tak hanya untuk menajamkan ruhiah kemudian menumpulkan sisi lainya. Justru Islam hadir sebagai solusi untuk semua dimensi.

Jamaah selanjutnya, ia begitu aktif mempromosikan berdirinya khilafah. Jamaah ini berpendapat jika umat Islam kehilangan kekuatannya akibat runtuhnya khilafah yang dianggap sebagai wadah politik untuk menegakkan ajaran Islam. Jamaah ini aktif menggelar beragam kajian dengan tujuan agar wawasan intelektual kaum muslim terbuka dalam berbagi hal. Terlebih mengenai pemahaman Islam dan permasalahan yang berkutat dalam hal intelektual. Namun, kita semua menyadari jika masalah umat ini tak hanya itu. Umat ini perlu tarbiyah yang berkesinambungan untuk menuju tegaknya kembali khilafah ala minhaji nubuwwah. Khilafah yang dulu pernah ada bukan datang begitu saja. Khilafah hadir dalam rentang sejarah perjuangan yang panjang dan pembinaan yang tanpa henti. Meski terkadang keterikatan secara emosional lebih terasa kuat dalam anggota jamaah ini, tetapi signifikansi kontribusi jamaah ini dalam menghadapi tantangan berbagai aliran pemikiran yang menyimpang di tengah masyakat layak untuk dibanggakan. Kita mesti mengakui hal tersebut sebagai terobosan yang mungkin belum dimiliki jamaah lain.

Berikutnya, jamaah kali ini berperan kongkrit dalam menyelesaikan masalah pembinaan akidah dengan kembali memahami nash –nash hadits dengan begitu selektif. Melalui proses tahqiq yang mereka lakukan, banyak hadits–hadits Rasulullah yang awalnya tak diketahui kedukukannya kemudian menjadi jelas klasifikasinya antara yang shahih dan yang dhaif. Menurut jamaah ini kembali pada tuntunan Rasulullah adalah keharusan sehingga tak jarang mereka menghadang fenomena apa saja yang menurut kacamata mereka tak ada nashnya dari Rasulullah. Meski tak jarang sebagian dari mereka yang begitu bersemangat menggebu mudah menjatuhkan anggapan sebuah fenomena yang yak ada teksnya dari Rasulullah sebagai sebuah bid’ah. Sebab tidak semua fenomena perkembangan hidup manusia modern tercover secara lengkap dan mendetail pada zaman rasulullah. Tak sedikit perkembangan tersebut yang membutuhkan ijtihad–ijtihad baru sehingga hal ini mehadirkan lahirnya ulama-ulama fiqih. Yang mana ulama–ulama tersebut menghasilkan berbagai dokumentasi terkait kajian fiqih yang kadang dengan alasan bahwa kita sudah memiliki teks hadits Rasulullah langsung yang mungkin hanya perdasarkan pemahaman versi ilmu sempit kita ijtihad-ijtihad dari ulama fiqih tersebut jadi terabaikan. Dan berujung mudah menjatuhkan vonis ahlu bid’ah atau takfir pada yang jamaah kurang sejalan. Bukankah perbedaan ijtihad belum pernah akan jadi alasan yang cukup untuk saling bertentangan dengan sesama muslim.

Jamaah terakhir yang dibahas kali ini, bersifat komperhensif. Jamaah ini memperhatikan betul pentingnya tarbiyah dan pembinaan keislaman yang utuh. Mereka mencoba memahami manhaj dakwah Rasulullah secara utuh tidak sepotong-sepotong.. Bukan mengambil sebagian kemudian menolak sebagian yang lain. Tak hanya masalah aqidah, fiqih, atau akhlaq sesama manusia namun juga permasalahan ekonomi dan pengelolaan negara. Hal–hal yang prinsip mereka perjuangkan. Mereka menekankan pentingnya bahasa Arab dan mendalami ilmu pengetahuan agama. Begitupun dalam hal ibadah hampir selalu terkontrol peningkatan dan perkembangannya tiap pekan. Sehingga dengan pembinaan intensif yang mereka lakukan diharapkan anggota jamaahnya akan memiliki kualifikasi pribadi muslim yang aqidahnyabenar, ibadahnya benar, akhlaqnya kokoh, pengetahuanya luas, fisiknya kuat dan sehat, produktif dalam hal ekonomi, efektif dan efisien dalam manajemen diri dan waktu dan tentu saja, menjadi pribadi yang bermanfaat bagi orang lain. Jamaah ini berpendapat jika komitmen para anggota terhadap Islam lebih penting untuk membesarkan jamaah ini dari pada penokohan terhadap sosok tertentu yang ada dalam jamaah.

Demikianlah pemaparan keempat jamaah yang cukup mempunyai ruang dalam dakwah Islam. Ada baiknya jika masing–masing jamaah mempunyai pemahaman jika mereka adalah bagian dari jamaah umat Islam yang besar ini sehingga mereka tak akan pernah memaksakan bahwa umat Islam harus satu kubu dan satu suara dengan jamaah tersebut. Sebab yang terpenting adalah bagaimana bagimana jamaah–jamaah Islam ini bersinergi membangun pilar–pilar kebangkitan Islam dengan cara yang santun dan sesuai dengan syariat tapi juga tetap bisa diterima baik oleh masyarakat. Sebab indahnya Islam yang disampaikan sama indahnya dengan para dai yang membawanya, berasal dari manapun jamaahnya. Semoga… [Kembang Pelangi]

*disarikan dari opening buku Mencari format Gerakan Dakwah Ideal karya Dr. Shodiq Amin

Tips Agar Mereka Mematuhi Perkataanmu

Sebagai seorang pendidik, orang tua, bahkan public figure sangat penting sekali bagaimana mengolah kata untuk menyampaikan sesuatu hal agar didengar, diikuti, dan dilaksanakan. Bahkan untuk hal ini banyak orang yang sekolah khusus untuk melatih retorika dan public speaking mereka. Sama sekali tidak salah memang, bahkan itu lebih baik. Akan tetapi ada satu pelajaran berharga yang nampaknya belum pernah saya dapatkan pun saat kuliah public speaking semasa muda dulu.

Berawal dari keluh kesah teman-teman seperjuangan mengajar dan para orang tua dengan anak-anak yang tak juga mengikuti nasihat mereka. Padahal banyak dari mereka yang tak kurang-kurang pengalaman mengajarnya bertahun-tahun bahkan para orang tua yang gelar sarjananya bertumpuk-tumpuk pun mengeluhkan hal itu. Tak perlu banyak waktu untuk peka dengan situasi saat itu, seorang ustadzah senior menguraikan kata demi katanya yang hanya membuat kita semua manggut-manggut di ruang rapat saat itu: “Amalan-amalanmu yang tidak terlihat oleh manusia itulah yang membuat setiap perkataanmu didengar, diikuti, dan dipatuhi.”

Hening sejenak membuat kita saat itu menerawang, meraba-raba, mengingat kembali apakah shalat malam sudah ditunaikan dengan setulus rindu pada-Nya, apakah tilawah sudah dilantunkan sepenuh rasa, apakah infaq yang keluar sudah lebih didahulukan daripada pulsa, dan apakah semua amalan sudah setulus jiwa hanya untuk-Nya, bukan untuk perkataan orang bahwa kita shalih…

Allah-lah yang menguasai hati-hati manusia dan Allah lah pula yang akan membolak-balikkannya. Seberapa lihai pun kita berorasi, beretorika, berceramah, tak kan mampu menundukkan hati tanpa kehendak-Nya.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : “Sesungguhnya kalbu-kalbu keturunan Adam berada di antara dua jari dari jari-jari Allah laksana satu hati, Allah membolak-balikannya sesuai kehendakNya,” kemudian beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam berdoa: “Ya Allah, Dzat yang membolak-balikan hati, palingkanlah hati-hati kami kepada ketaatanMu".(HR.Muslim)

Wallahu a’lam bish shawab. [Gresia Divi]

Hadiahku, Wasilah Menjemput HidayahNya

Di zaman sekarang, sarana dakwah telah berkembang. Kita bisa berdakwah secara tidak langsung, yakni dengan meminjamkan atau memberikan hadiah berupa kaset-kaset pengajian (audio/audio visual) atau buku-buku Islam yang menggugah. Dakwah dengan cara ini memiliki banyak kelebihan, yang diantaranya:

1. Tidak terkesan menggurui.
2. Materi lebih berbobot karena pemateri adalah seorang yang memang berilmu dan lebih bertakwa.
3. Penjelasan materi lebih detail.
4. Luwes dalam penggunaan waktu, karena dapat diputar atau di baca ketika saudara kita punya waktu luang.
5. Cara ini paling mudah dilakukan karena paling halus dalam masuk ke topik agama.

Adapun kelemahan tetap ada meskipun sebenarnya lebih kecil, yaitu diantaranya:
1. Bisa jadi materi tidak pas dengan keadaan, mood atau problematika dan latar belakangnya.
2. Bisa saja buku itu tidak dibaca atau kaset itu tidak disetel.

Dalam kenyataan sehari-hari cara ini sesungguhnya banyak membuahkan hasil. Secara umum saudara kita sangat menghargai pemberian saudaranya. Ini adalah fitrah di mana seseorang amat menyukai hadiah dan akan timbul di dalam hatinya rasa kasih kepada yang memberinya, sebagaimana hadiah merupakan salah satu sunnah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.

Ingat hadiah maka aku teringat dengan kisah yang aku alami terhadap saudara jauh aku yang ada di seberang sana, waktu itu.

Ketika dia akan pulang ke desa tempat kota kelahirannya aku bermaksud membelikannya sebuah hadiah. Akan tetapi hadiah itu bukanlah sebagai tanda kasih sayang seperti biasanya, karena dia dia bukanlah seorang muslim yang taat kebanyakan yang aku kenal. Boro-boro taat, shalat hanya Syarib (Isya’ dan Maghrib). Hadiah yang aku harapkan adalah sesuatu yang bisa mengguggahnya agar mengenal Islam lebih dalam.

Selama ini aku tak mampu berdakwah kepadanya secara langsung melalui penjelasan atau perdebatan. Maksimal aku hanya bisa memberinya teladan. Kadangkala ketika dia butuh seorang teman dan mengajak ngobrol selagi aku pas ada waktu maka aku temani. Beginilah akhlak orang Islam terlebih yang mengaku dirinya yang bertaqwa. Akan tetapi, sebentar lagi dia akan pulang ke kampung halaman karena permintaan orang tuanya yang sudah tua dan lagi mulai sakit-sakitan. Aku harus berbuat sesuatu untuknya.

Ketika aku berjalan-jalan di Surabaya pas ada acara pertemuan aktivis dakwah, maka aku sempatkan untuk mampir ke toko buku lslam yang sudah menjadi langganan saya ketika harus membeli buku. Di toko buku itulah aku melihat sebuah buku ber-cover putih dan warna hijau tulisan judul buku tersebut yang nampaknya cukup menarik dan pas untuk dibaca orang yang belum kenal Islam. Aku lihat harganya, ehm teramat murah untuk sebuah hadiah. Hanya beberapa ribu rupiah. Apakah pantas buku ini aku berikan sebagai hadiah? Dan aku teringat akan hadits Rasulullah tentang antar satu sama lain sesama muslim untuk senantiasa saling memberi. “Saling memberi hadiahlah kalian, niscaya kalian saling mencintai (HR al-Bukhari, al-Baihaqi, Abu Ya’la)

Hadits ini menyatakan bahwa saling memberi hadiah merupakan sarana untuk menumbuhkan rasa saling mencintai di antara kaum Muslim. Al-Hafizh Ibn Hajar berkata, mengikuti al-Hakim, “Jika dengan tasydîd maka itu berasal dari al-mahabbah dan jika tidak dengan tasydîd maka itu berasal dari al-muhâbâh. Hal itu karena hadiah termasuk bagian dari akhlak Islam yang ditunjukkan oleh para nabi di didorong oleh para pengganti mereka di antara para wali; (bisa) melembutkan hati dan melenyapkan kemarahan di dalam dada.”

Hadiah adalah pemberian dalam makna pemindahan kepemilikan suatu harta kepada pihak lain karena adanya hubungan, untuk menjalin kedekatan dan kasih sayang, atau sebagai penghormatan.

Singkatnya, buku itu aku beli dan aku berikan kepadanya. Waktu berlalu begitu cepatnya dan tak terasa telah setahun sudah. Aku pun sebenarnya sudah melupakan perihal itu hingga tiba-tiba aku mendapat sms dari nomor yang asing yang masuk ke layar hpku. Aku tidak mengenal nomor itu, dari mana ia tahu nomorku. Setelah aku baca isi sms itu barulah aku paham bahwa ternyata sms itu dari dia. Nomornya telah berganti dengan nomor yang baru. Ia bercerita bahwa buku itulah yang membuatnya penasaran ingin tahu lebih banyak tentang Islam, kemudian ia banyak membaca buku-buku tentang Islam lainnya dan bertanya dengan seorang ustadz yang ada di kotanya. Dan sekarang ia telah menjadi seorang muslim yang memegang prinsip Islam yang mengakar kuat pada pribadinya.

Dalam hati aku membatin dan bertanya bagaimana bisa semudah ini ya Allah? Hanya dengan sebuah buku yang tak seberapa harganya ternyata bisa mengubah nasib orang, dan bukan sembarang nasib. Nasib yang mempertaruhkan akidah seseorang. Memang bener-benar kita tidak boleh meremehkan suatu perbuatan yang nampaknya kecil dari sudut pandang kita tapi tidak di pandangan Allah Subhanahu wa Ta'ala.

Dan dengan kejadian ini aku mengazzamkan diri untuk senantiasa memberikan hadiah berupa buku kepada siapa dalam kesempatan apa bagaimana dan dimanapun berada.

Yuk kita semarakkan sunnah Rasulullah dengan gemar memberi kepada sesama kita. Memberi tidak harus dengan yang mahal hingga jutaan yang ribuan saja juga tidak masalah ketika membawa makna bagi yang menerima itu lebih berkah syukur-syukur yang jutaan bagi mereka yang membutuhkan. Wallahu a’lam [Mija Akhmadt]

THR untuk 7 Turunan

Andaikan saja presiden negeri ini membuat pengumuman,

"Wahai rakyat negeri yang kucintai. Mulai malam ini, hingga sembilan malam mendatang, pintu kerajaanku terbuka lebar untuk kalian semua.

Aku telah menyediakan jamuan spesial di acara open house itu. Kalian bisa makan sepuasnya, minum sepuasnya, bersenang-senang sepuasnya. Setelah kalian puas, silahkan dibungkus. Bawa oleh-oleh untuk keluargamu di rumah. Sebanyak mungkin. Agar semuanya kebagian.

Di antara sepuluh malam itu, aku akan selipkan sebuah kejutan dahsyat bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh. Aku sediakan THR yang cukup untuk hidup sampai tujuh turunan."

Apa yang ada dalam benak kita jika ada pengumuman dari Istana Negara seperti itu? Bisa dipastikan, jumlah pengunjung akan membludak. Dan, dipastikan, Sang Presiden tak bisa memenuhi janjinya.

Saya yakin, semua warga juga sangat antusias dalam menyambut pengumuman itu. Pastilah ada yang menyiapkan bantal, kasur, makanan ringan, pakaian ganti, handuk, alat mandi,dan semua perlengkapan yang dibutuhkan untuk bermalam selama sepuluh hari.

Jika ada beberapa yang enggan, kemungkinannya ada dua. Dia termasuk orang yang malas. Atau sombong. Yakni merasa tak butuh dengan apa yang ditawarkan oleh Sang Presiden di Negerinya itu. Benar?

Nah, sayangnya, ketika pengumuman itu datang melalui insan Paling Mulia di Jagat Raya ini, menyampaikan apa yang diperintahkan oleh Dzat yang Menciptakan Sang Presiden, bahkan kepastiannya dijamin tak akan meleset, masih saja kita dapati sebuah pemandangan yang berkebalikan.

Sehingga, ketika Allah mengundang kaum muslimin untuk bermalam di RumahNya, sangat banyak diantara kita yang memilih acuh. Bahkan, banyak berdalih aneka cerita.

Padahal jelas janjiNya melalui lisan utusanNya, barangsiapa berjalan menuju Masjid untuk mencari kebaikan atau mengajarkan kebaikan, maka dia seperti Mujahid Fi Sabilillah.

Atau sabda Nabi yang lain, Siapa yang melangkahkah kaki ke masjid, maka satu langkahnya sebagai penghapus dosa dan satu langkah yang lain sebagai pengangkat derajat.

Kemudian, setibanya di RumahNya itu, kita disuguhi dengan aneka hidangan super lezat. Cukup duduk sambil dzikir, maka sudah dihitung I'tikaf. Ketika ia bertatap muka dengan sesamanya, berjabat tangan dan bertukar senyum, maka terhitung silaturahim. Apa balasan silaturahim? Siapa yang mengikat tali silaturahim, maka dipanjang umur, diluaskan rejeki dan dihindarkan dari penyakit.

Jikapun hanya tidur, setelah niat baik, maka bisa tercatat sebagai memakmurkan RumahNya. Dahsyat balasannya, "Hanya orang-orang yang beriman dengan Allah dan Hari Akhirlah yang memakmurkan Masjid."

Apalagi? Sangat banyak kawan. Bahkan, di forum itu, semua keutamaan diberikan oleh Sang Pemilik Rumah. Sampaikan semua hajat kita, maka Dia akan mengabulkan. Sampaikan saja.

Minta jodoh. Mulai dari satu, dua, tiga atau empat. Asal adil. Minta rejeki. Berapapun, karena Dia Maha Kaya. Agar dimudahkan segala urusannya. Agar dijauhkan dari penyakit. Agar Islam segera berjaya. Agar kaum Muslimin segera memenangkan pertempuran melawan kebatilan.

Sudah. Datang saja. Berdoa saja.

Untuk diri sendiri. Istri, suami, orang tua, kakek, nenek, anak, kakak, adik, keponakan, cucu, sahabat dan semuanya. Untuk negeri ini. Agar barokah dengan iman dan taqwa. Untuk Mesir, Palestina, Suriah, Rohingnya, dan semua negeri muslim lainnya. Berdoa pula agar Allah menjadikan diri ini bagian dari para Pejuang itu. Minimal, dengan kita mencintai dan mendoakan mereka yang berjuang.

Apakah ini bukan suatu tawaran sangat sangat sangat spesial? Adakah tawaran lain dari pihak lain yang lebih spesial dari tawaran ini?

Bahkan, jikapun kita tidak meminta apapun di RumahNya itu, Maka Dia akan memberikan yang terbaik dari apa yang kita butuhkan. Apalagi, ketika kita datang dengan niat yang tulus, melangkah dengan gagah, mengamalkan sepenuh hati apa yang telah diajarkan oleh Sang Nabi. Maka yakinlah, dunia dan seisinya adalah seperti sayap nyamuk. Kecil. Sangat tak layak jika dibandingkan dengan segala macam imbalan yang Allah berikan.

Dan jika, imbalan bukan menjadi alasan kita. Maka ketulusan niat itu, akan membuat kita cukup dengan Allah. Hasbunallah wa ni’mal wakiil. Ni'mal maula wa ni'man nashiir.

Adakah kita akan menyia-nyiakan tawaran ini? Sementara esok, tak ada yang bisa menjamin bahwa kita masih bernafas. Apalagi tahun depan?!



Penulis : Pirman
Penulis Antologi Surat Cinta Untuk Murobbi dan sejumlah buku lainnya
Penulis resensi di sejumlah media cetak
Facebook: usman.alfarisi.9

Video Renungan Idul Fitri yang Bikin Menangis

Sebuah video renungan hari raya Idul Fitri yang diproduksi oleh Bernas, Malaysia, membuat banyak orang menangis. Hampir seluruh komentar bernada haru dan mengatakan menangis saat menonton video berdurasi 7 menit 43 detik ini.

Dikisahkan, dua anak bersaudara berencana tetap tinggal di asrama yatim saat Idul Fitri tiba. Tetapi, ketika seluruh anak-anak lain telah mudik ke kampung halaman, kerinduan pada ibu pun membuat mereka ingin pulang.

Segala cara dicoba, dari terminal yang tak ada lagi bis hingga kereta api yang tiketnya telah habis. Akhirnya dua anak itu pun nekat menumpangi mobil barang. Perjalanan mereka penuh haru. Tetapi, endingnya jauh lebih mengharukan. Ternyata ibu mereka...

Silahkan simak langsung videonya:

Memahami Remaja Lebih Dekat

“Menjadi seorang musyrifah (pembina asrama), guru atau ustadzah bukan hanya sekedar mengelola manusia (murid atau santri). Tapi ia mengelola hati dan perasaan (jiwa) seseorang” kata ustadz Sholihun dalam perjalanan terakhir saya ke Srunen awal Juli lalu. Maksudnya adalah kita tidak sekedar mengatur adik-adik binaan kita, santri atau murid kita. Yang dalam perjalanannya kita minta mereka begini dan begitu sesuai dengan berbagai program yang telah kita buat sedemikian rupa. Ada hati di sana, ada perasaan di sana, yang sewaktu-waktu berubah sesuai dengan mood dan pikiran.

Karena pada dasarnya menjadi seorang musyrifah, guru, ustadzah atau apalah sebutannya bukan hanya sekedar memberi materi-materi yang telah disesuaikan dengan kurikulum yang telah dibuat. Tanpa mempertimbangkan bagaimana perasaan murid atau santri kita.

Kadang kala ketika kita menyusun berbagai program dan kurikulum kita lupa bahwa ada jiwa-jiwa yang perlu kita perhatikan perasaannya, perlu kita dekati secara khusus, dan perlu kita berikan bimbingan agar menjadi pribadi yang baik karakter dan kepribadiannya.

Terutama mengelola siswa MTs atau setingkat SMP. Di mana pada masa itu adalah masa pertengahan antara anak-anak dan dewasa. Masa yang kepribadiannya bisa berubah-ubah sewaktu-waktu , masa yang membutuhkan inspirasi dalam kehidupannya. Emosinya labil dan sangat peka terhadap cara pandang orang lain terhadap diri mereka. Dan pada masa ini pengaruh teman sebaya sangat kuat terhadapnya. Maka tak heran apabila di rumah kita menjumpai adik kita yang pendiam namun setelah sering bergaul dengan teman sebayanya yang rame adik kita berubah.

Contohnya dulu sewaktu saya menjadi musyrifah di SMPIT Abu Bakar Yogya. Dulu saya kelompokkan adik-adik yang kurang rapi atau akhlaknya kurang dengan mereka yang baik dan penurut. Dalam beberapa bulan si adik yang agak ngeyelan dan kalau sholat selalu di baris belakang perlahan berubah. Sholatnya mulai rajin, karakternya juga mulai membaik.

Saudaraku, memahami remaja tidak seperti memahami anak-anak atau orang dewasa. Jikalau anak-anak, mungkin mereka cukup dibilangin lalu nurut atau sekedar bertanya “buat apa ustadzah?” atau kalau orang dewasa mereka akan mengerti atau sesekali mereka protes dengan bahasa yang sudah mereka pilih. Tapi kalau remaja, mereka bukan sekedar bertanya atau protes, ngeyel, manyun atau bahkan ketika emosi mereka tidak terkendali, mereka akan membentak dan melakukan hal-hal yang kasar adalah hal yang sering terjadi.

Maka di sinilah perasaan atau jiwa itu harus kita kelola, mengingat tipe anak-anak sangat beragam. Ada mereka yang cuek, ada mereka yang penurut, ada mereka yang manyun dan suka membantah, ada yang lugu, ada yang polos dan berbagai karakter mereka sesuai dengan latar belakang dan background mereka.

Dalam dauroh murobbi pesatren beberapa waktu yang lalu, kak wahyu salah seorang pembicaranya menjelaskan tentang keterampilan memahami remaja. Yang pertama yakni, memahami penyebabnya. Maksudnya kita cari tahu penyebab dari prilaku remaja tersebut. Misalnya, dulu salah seorang santri saya di Abu Bakar ada yang tiba-tiba menjadi pendiam dan sekali ngomong nyelekit bahasa Gresiknya, padahal biasanya si adik selalu ceria. Ternyata setelah kami telisik, dia merasa malu karena akan punya adik lagi. Atau ada salah seorang santri yang emosinya labil, sedikit-sedikit manyun, eh ternyata keluarganya broken home, ayah dan ibunya pisah saat dia masih TK.

Yang kedua adalah memberikan empati, yakni dengan memberikan perhatian pada hal-hal kecil. Misalnya dengan mengetahui kebiasaan makannya, di mana letak sepatunya, atau warna atau kesukaannya dll. Mungkin terkesan sepeleh tapi itu akan menjadi kesan tersendiri buat adik-adik. Karena kalau hal-hal kecil saja diperhatikan apalagi yang besar?

Yang ketiga yakni berbicara dari hati kehati. Yakni apabila terjadi sebuah prilaku yang kurang maka kita ajak bicara pelan-pelan. Kita minta dia menceritakan atau curcol sama kita dengan cara yang baik dan kalau bisa kita luluhkan hatinya.

Dan yang terakhir dengan melakukan konseling. Konseling ini bisa dilakukan dengan memanggil satu persatu, atau dengan melakukan pendekatan spiritual vision atau memberikan pemahaman pada anak-anak bahwa apa yang mereka lakukan adalah tidak sesuai syariat misalnya.

Contohnya ketika terjadi kasus pencurian dalam sebuah asrama, kita buat renungan, kita pahamkan pada anak-anak bahwa mencuri adalah akhlak tercela, dan hukumnya adalah haram. Kalau tidak ada yang mengaku maka kita panggil satu persatu, dan kita tanyakan baik-baik.

Kemudian dalam dauroh tersebut beliau juga menjelaskan hal-hal yang harus dihindari oleh seorang guru, ustadzah, atau teacher bahasa Inggrisnya. Yang pertama adalah membandingkan. Setiap anak atau remaja adalah unik, dia punya karakter yang khas. Dia juga ingin dihargai dan diapresiasi sekecil apapun prestasinya, dia ingin diakui eksistensi dirinya. Karena pada masa ini adalah masa pencarian jati diri mereka dan masa yang labil. Sekali mereka tidak dihargai mereka akan jatuh dan tidak akan mau berusaha lagi.

Misalnya saja, adik kita mendapat rangking 16 di kelasnya, sementara tetangga mendapat rangking 3 besar. Maka jangan sekali-kali membandingkan dia dengan tetangga kita tersebut. Kita hargai adik kita yang sudah berusaha keras untuk mendapatkan yang terbaik dan kita motivasi agar ke depannya dia berusaha lebih giat lagi hingga dapat meningkatkan prestasinya. Atau misalnya si A punya prestasi di bidang sastra tapi nilai matematikanya jeblok. Maka jangan sekali-kali menjust bahwa anak ini bodoh, tidak bisa, dan membandingkan dengan temannya yang nilainya bagus. Dia akan ngedrop dan meninggalkan hobinya menulis cerpen misalnya. Padahal di situlah bakatnya. Maka hendaklah kita bisa memotivasinya agar dia terus mengasah bakatnya hingga suatu saat dia bisa menjadi penulis besar.

Yang kedua yakni pilih kasih. Saudaraku, janganlah sekali-kali kita pilih kasih pada salah satu murid atau santri kita. Karena hal ini akan menimbulkan kesenjangan sosial diantara anak-anak. Tidak ada bedanya mau santri yang rajin, mau santri yang penurut, mau santri yang ngeyelan. Semuanya sama. Mereka punya karakter yang unik dan perlu penyikapan yang berbeda-beda.

Dan yang terakhir yakni, cuek, pasif, masa bodoh. Setiap anak selalu ingin diperhatikan, baik itu orang tua, teman, atau gurunya. Apalagi mereka yang punya prilaku “spesial” yang memerlukan perhatian khusus. Maka sikap cuek, pasif, dan masa bodoh terhadap mereka sudah selayaknya kita hindari sebagai seorang guru. Kalau kata ustadz Musyafa’, sikap ini merupakan ciri guru yang tidak bertanggung jawab. Karena seorang guru adalah pendidik, pejuang, seorang yang banyak berkorban dan seorang kader yang terus mengembangkan diri yang terus melakukan perbaikan diri.

Saudaraku, semoga yang sedikit ini menjadi pelajaran buat kita dalam memahami adik-adik, murid atau santri kita yang masih remaja. Karena mereka adalah pribadi yang unik, pibadi yang khas yang memerlukan penyikapan yang berbeda-beda.

Maka sikap pertama yang harus kita miliki dan selalu kita memiliki adalah sabar. Karena di balik kesabaran ada keikhlasan dan ketulusan, yakni ikhlas ketika sikap labil mereka membuat mereka bersikap kasar terhadap kita, dan tulus dalam memberikan setiap bimbingan dan arahan kepada mereka. Karena di balik kesabaran ada sikap qona’ah, yakni menerima mereka dengan segala keunikan sikap mereka, menerima mereka satu paket kelebihan dan kekurangan mereka. Dan di balik kesabaran itu pula ada ketegaran, yakni tegar dalam menghadapi segala bentuk tingkah laku mereka.

Waallahu a’lam bish shawab.... [Ukhtu Emil]

Resep Mengejar Target Tilawah

Seribu satu kiat memenej waktu agar tercapai target tilawah sering kita temui di buku-buku bahkan di situs-situs keislaman. Tapi nampaknya ada satu resep sederhana selain resep-resep andalan lainnya yang patut dicoba dan sudah teruji.

Berawal dari pertemuan dengan seorang ustadzah dalam suasana buka bersama sore itu, dengan mulut yang komat-kamit dan buku tipis kecil di tangannya. Berbeda dengan pegangan teman yang lainnya ; handphone atau pun mushaf Al Qur’an. Selidik punya selidik, setelah introgasi sana sini termasuk pada beliau secara langsung, itu merupakan salah satu kiat beliau untuk tetap konsisten pada target tilawah hariannya dan bukan hanya saat Ramadhan.

Ternyata, menurut beliau dengan menggunakan mushaf yang sudah terbagi-bagi menjadi per juz akan lebih memicu kita untuk menuntaskan target tilawah dalam sehari itu. Semisal, jika beliau mentargetkan khatam Al Qur’an tiga kali dalam sebulan, maka tiga buah buku mushaf per juz yang akan ia bawa ke mana-mana dan menjadi patokannya untuk sesegera mungkin menuntaskan segala amanah dan mencari-cari waktu senggang untuk menghabiskan ketiganya. Jika belum maka beliau tidak akan tidur terlebih dahulu.

Hal ini memang saya rasakan berbeda ketika sempat meminjam handphone teman yang terdapat mushaf digitalnya atau pun dengan menggunakan mushaf biasanya. Kita akan termindset bahwa banyak sekali lembar juz yang masih harus ditempuh yang secara psikologis sering kali pula membuat kita enggan melanjutkan melahap habis ayat demi ayat. Selain itu, sulit untuk mengukur capaian kita, naik turunnya semangat, dan tentu saja kurang praktis.

Nampaknya, hal sesepele ini perlu kita cermati dan praktikkan, termasuk saya yang selama ini menggunakan mushaf pada umumnya. Akan tetapi, bagaimanapun juga ada trik tersendiri bagi setiap orang untuk menuntaskan target tilawahnya. Wallahu a’lam bish showab. [Gresia Divi]

2 Orang yang Tidak Mendapat Ampunan Allah di Malam Nisfu Sya’ban

Betapa bahagianya mendapatkan ampunan Allah. Betapa menderitanya tidak mendapatkan ampunan dari-Nya.

Di malam nisfu Sya’ban, Allah akan mengampuni hamba-hamba-Nya. Namun, ada dua orang yang dikecualikan. Mereka tidak mendapatkan ampunyan-Nya.

Siapakah mereka? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَيَطَّلِعُ فِي لَيْلَةِ النِّصْفِ مِنْ شَعْبَانَ، فَيَغْفِرُ لِجَمِيعِ خَلْقِهِ إِلاَّ لِمُشْرِكٍ أَوْ مُشَاحِنٍ
Sesungguhnya Allah memeriksa pada setiap malam nishfu Sya'ban. Lalu Dia mengampuni seluruh makhluk-Nya, kecuali yang berbuat syirik atau yang bertengkar dengan saudaranya. (HR Ibnu Majah, dinilai shahih oleh Al-Albani)

1. Orang yang berbuat syirik
Orang yang berbuat syirik, menyekutukan Allah dengan sesuatu, ia tidak akan mendapatkan ampunan Allah. Tidak hanya di malam nisfu Sya’ban, di waktu apa pun ia tidak akan diampuni Allah kecuali dengan syarat meninggalkan perilaku syirik tersebut dan melakukan taubat nasuha.

Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar. (QS. An-Nisa’ : 48)

Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya. (QS. An-Nisa’ : 116)

Sesungguhnya orang-orang kafir dan (yang) menghalangi manusia dari jalan Allah kemudian mereka mati dalam keadaan kafir, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampun kepada mereka. (QS. Muhammad : 34)

Syirik bukan hanya berbentuk menyembah sesuatu selain Allah, sebagaimana kafir Quraisy menyembah berhala di sekeliling ka’bah. Di zaman sekarang, kadang syirik tidak disadari dan dianggap biasa-biasa saja. Misalnya, meminta sesuatu (berdoa) kepada selain Allah; berlindung kepada jin; percaya/meminta tolong kepada dukun; menggunakan tamimah (jimat) untuk perlindunga, keselamatan, dan sebagainya; mempercayai ramalan zodiak, dan sejenisnya.

Rasulullah pernah melihat seseorang memakai jimat kuningan. Lalu beliau bertanya kepadanya: “Apakah ini?” orang itu menjawab, “Penangkal sakit.” Nabi pun bersabda, “Lepaskan itu, karena dia hanya akan menambah kelemahan pada dirimu. Sebab jika kamu mati sedang gelang itu masih ada pada tubuhmu, kamu tidak akan beruntung selama-lamanya” (HR. Ahmad)

2. Orang yang bertengkar dengan sesama Muslim
Islam bukan hanya menuntun hubungan dengan Allah (hablun minallah). Islam juga mengatur hubungan dengan sesama (hablun minannas). Islam menghendaki hablun minannas juga dijalankan dengan baik, apalagi kepada sesama muslim. Ada konsep ukhuwah islamiyah. Bahwa sesama muslim itu laksana bangunan yang saling menguatkan, dan orang-orang yang beriman itu bersaudara.

Karenanya sesama muslim tidak boleh saling menyakiti, tidak boleh saling membenci, memata-mati, menghasud dan sebagainya. Kalaupun dalam keadaan terpaksa kemudian berselisih, Islam hanya memberikan batas waktu tiga hari saling berdiam diri. Lebih dari tiga hari tidak saling sapa, orang itu berdosa. Dan khusus di malam nisfu Sya’ban, sesama muslim yang saling bertengkar –meskipun keduanya bersih dari syirik- mereka tidak mendapatkan ampunan dari Allah.

Maka, mari kita berlepas dari syirik dan memaafkan seluruh saudara seiman sejak malam ini. Dan semoga, dengannya Allah memberikan ampunan kepada kita di malam nisfu Sya’ban-Nya. []

Ketika Syekh Qardhawi Akui Kesalahan Fatwanya


Syekh Dr Yusuf Qardhawi adalah ulama besar Sunni. Ia merupakan ketua Persatuan Ulama Dunia. Doktor fikih dari Universitas Al Azhar, Kairo, kelahiran 9 September 1926 di desa kecil bernama Shafth di tengah Delta Nil, Mesir, ini telah menulis puluhan buku dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Pandangannya selalu menjadi fatwa dan rujukan umat Islam dunia. Fatwa-fatwanya bukan hanya seputar ibadah dan muamalah, tapi juga mencakup berbagai masalah, dari politik, demonstrasi hingga revolusi rakyat melawan rezim penguasa yang zalim.

Qardhawi bahkan tidak hanya berfatwa, tapi juga ikut aktif dalam kegiatan politik. Itulah sebabnya, ketika pecah revolusi rakyat Mesir untuk menjatuhkan rezim Presiden Husni Mubarak pada awal 2011, ia pun terbang dari Qatar (tempatnya bermukim) ke Kairo. Ia bergabung dengan rakyat Mesir ikut berdemonstrasi. Selain memberi orasi di depan para demonstran, ulama berusia 87 tahun itu juga memimpin shalat Jumat di lapangan Tahrir. “Mubarak harus mundur dari kursi presiden,” katanya dalam khotbah Jumat, ketika itu. Alasannya, rakyat telah mencabut mandatnya kepada sang pemimpin Mesir itu.

Terhadap konflik di Suriah, Qardhawi juga mengeluarkan fatwa mengenai boleh dan tidaknya unjuk rasa melawan rezim penguasa. Menurutnya, menjatuhkan sebuah rezim dibolehkan alias halal manakala ada kezaliman dan penghilangan terhadap hak asasi manusia. Atas dasar itu, Qardhawi yang hafal Alquran pada usia 10 tahun ini memperbolehkan aksi unjuk rasa, bahkan revolusi melawan penguasa yang dianggap zalim, terutama mereka yang menyengsarakan rakyat, seperti rezim Presiden Bashar Assad.

Barangkali, karena fatwanya yang memperbolehkan menjatuhkan rezim Assad itulah Syekh Qardhawi kemudian mengakui kesalahan fatwa sebelumnya yang pernah ia ucapkan. Pada 2006, Qardhawi menyatakan wajib hukumnya mendukung Hizbullah dan pemimpinnya, Syekh Hasan Nasrullah dalam menghadapi serangan Israel ke Lebanon. “Saya pernah membela-selama bertahun-tahun-Hasan Nasrullah yang menamai partainya Partai Allah (Hizbullah), padahal partai itu adalah partai tirani (thoghut) dan partai setan. Mereka membela Bashar Assad,” katanya dalam sebuah pidato di Qatar, beberapa hari lalu.

“Saya (waktu itu) harus berlawanan dengan para ulama dan syekh besar di Arab Saudi untuk membela Hizbullah. Namun, ternyata para syekh (ulama) Saudi lebih dewasa daripada saya. Mereka berpandangan lebih jauh ke depan. Mereka (ulama Saudi) terbukti mengetahui siapa sebenarnya Hizbullah itu,” lanjut Qardhawi mengoreksi fatwanya yang pernah mendukung Hizbullah dan Hasan Nasrullah.

Dalam konflik di Suriah sekarang ini, Hasan Nasrullah secara terang-terangan menyatakan mendukung rezim Bashar Assad yang dinilai Qardhawi sebagai penguasa zalim. Tentara Hizbullah dan Bashar Assad saling membantu merebut Kota Qusair dari tangan para pejuang revolusi Suriah. Qusair adalah kota strategis bagi Assad untuk mempertahankan kekuasaannya. Pasukan Assad menyerang dari udara, sementara tentara Hizbullah dari darat. Puluhan orang tewas dalam pertempuran ini. Sebagian besar adalah para pejuang revolusi Suriah.

Syekh Qardhawi bukan hanya mencabut fatwa dukungannya terhadap Hasan Nasrullah dan Hizbullah, melainkan juga terhadap Iran. Katanya, dalam sebuah pidato di Qatar, “Selama ini dan sudah berlangsung bertahun-tahun saya menyerukan pendekatan antarmazhab (taqrib bainal madzahib). Untuk itu, saya terbang ke Iran saat dipimpin Presiden Mohammad Khatami. Mereka telah menertawakan saya dan banyak orang seperti saya. Mereka sebenarnya berpura-pura ketika menginginkan pendekatan antarmazhab.”

Pengakuan Syekh Qardhawi mengenai kesalahan fatwanya tadi kontan saja menjadi berita besar di berbagai media Arab, baik cetak, online, maupun televisi. Bukan hanya menjadi berita, mereka juga menurunkan berbagai ulasan dari sudut pandang yang berbeda-beda. Tapi, intinya hanya satu bahwa para ulama dan pemimpin Arab, terutama dari negara-negara Teluk, kini dihantui kekhawatiran mengenai semakin meluasnya pengaruh Syiah di kawasan Timur Tengah. Mereka munuduh Iran ingin menciptakan poros Syiah Teheran-Damaskus-Beirut. Apalagi, Iran selama ini secara terang-terangan juga membela rezim Presiden Bashar Assad.

Menurut pengamat Timur Tengah Abdul Rahman Al-Rasyid, Syekh Qardhawi tidak salah ketika melemparkan keinginannya untuk mendekatkan mazhab-mazhab dalam Islam. Ia juga tidak salah ketika menyerukan perlunya saling bahu-membahu antarpemimpin Muslim. Ide Syekh Qardhawi, lanjut Al-Rasyid, adalah sangat baik dan terpuji. Yang salah adalah ia (Qardhawi) kurang memahami strategi politik yang dimainkan oleh para pemimpin negara-negara di Timur Tengah, terutama para pemimpin Iran.

Yang jelas, pernyataan Syekh Qardhawi yang mencabut fatwa dukungannya terhadap Hizbullah di Lebanon Selatan dan Syekh Hasan Nasrullah serta keraguannya terhadap pendekatan antarmazhab dengan para ulama Iran akan berpengaruh luas terhadap perkembangan di kawasan Timur Tengah. Kawasan panas ini akan terus bergolak. Bukan hanya menghadapi penjajahan dan pendudukan oleh Zionis Israel, tapi juga kekhawatiran terjadinya gesekan antara penganut Sunni dan Syiah, seperti yang kini sedang berlangsung di Irak, Suriah, Lebanon, dan Bahrain. Wallahu a'lam.[]

Penulis : Ikhwanul Kiram Mashuri
Sumber : Resonansi Republika

8 Orang Terkaya di Dunia


Bloomberg Billionaire Index merilis daftar orang-orang terkaya dunia, Jum'at (17/5) lalu. Namun, dalam daftar itu ada satu orang paling kaya yang terlewatkan.

Inilah 8 orang terkaya di dunia; peringkat 8 hingga peringkat 2 sama dengan 7 orang terkaya versi Bloomberg:






Orang terkaya nomor 8:

David Koch
Kekayaan: US$ 45,2 miliar (Rp 429,4 triliun)




Orang terkaya nomor 7:

Charles Koch
Kekayaan: US$ 45,2 miliar (Rp 429,4 triliun)




Orang terkaya nomor 6:

Ingvar Kamprad
Kekayaan: US$ 55,5 miliar (Rp 527,25 triliun)




Orang terkaya nomor 5:

Amancio Ortega (Rp 577,4 triliun)
Kekayaan: US$ 56 miliar




Orang terkaya nomor 4:

Warren Buffett
Kekayaan: US$ 59,6 miliar (Rp 566,2 triliun)




Orang terkaya nomor 3:

Carlos Slim
Kekayaan: US$ 72,1 miliar (Rp 684,9 triliun)




Orang terkaya nomor 2:

Bill Gates
Kekayaan: US$ 72,7 miliar (Rp 690,6 triliun)




Orang terkaya nomor 1:
Anda, jika menunaikan shalat Fajar
Kekayaan: Lebih dari dunia seisinya

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

رَكْعَتَا الْفَجْرِ خَيْرٌ مِنَ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَا
“Dua raka’at shalat Fajar lebih baik dari pada dunia dan seisinya” (HR. Muslim, Tirmidzi, An-Nasa'i dan Ahmad)

Curhat atau Ghibah?


Saya masih ingat kata-kata ustadzah saya sewaktu mentoring di SMA dulu. “Mau apapun yang diomongkan tentang seseorang, baik itu keburukan atau kebaikannya sekalipun, kalau orang tersebut tidak ridha, maka itu bisa menjadi ghibah, dek”.

Saya yang waktu itu masih duduk dikelas satu SMA hanya manggut-manggut mendengar kata-kata ustadzah, seolah paham dengan apa yang beliau katakan. Tapi pada akhirnya saya terjerumus juga. Dengan dalih curhat, saya seolah melegalkan ghibah saya terhadap seseorang. Mungkin awalnya hanya membicarakan kebaikan, tapi lama-lama menjerumus kesemua celah orang tersebut.

Contohnya begini. “Eh, si Fulan itu shalih, rajin, pinter, tapi kok yaa... bla... bla....” dan akhirnya kata “tapi” nya lebih banyak.

Atau seperti ini: “Aku kemaren di-sms si Fulanah. Dia mengatakan aku begini dan begini” sambil menunjukkan sms, sementara yang di “curhatin” penasaran melihat hpnya.
“Iya, aku kesel sama Fulanah. Masak ngatain aku seperti itu”

Tuh, ujung-ujungnya ghibah kan???

Ghibah, ya ghibah. Dalam bahasa lainnya ada yang menyebut dengan kata nggosip, nggunjing, atau bahasa gresiknya ngerasani. Membicarakan orang lain tanpa sepengetahuannya.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: ‘Apakah kalian mengetahui apakah ghibah itu?’ para sahabat menjawab ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.’ Kemudian beliau bersabda ‘Kamu menceritakan tentang saudaramu sedang ia tidak senang (jika hal itu diceritakan).’ Ditanyakan kepada beliau : ‘Bagaimana jika yang aku katakan ini benar adanya?’ Beliau bersabda: ‘Apabila engkau mengatakan sesuatu (yang buruk) kemudian itu benar, maka kamu telah ghibah, dan apabila yang kamu katakan itu tidak benar maka kamu telah menuduhnya (memfitnahnya).’ (HR. Muslim)

Kalau dalam hadits di atas dikatakan “kamu menceritakan saudaramu sedang ia tidak senang jika hal itu diceritakan”. Itu artinya entah itu berupa kebaikan atau keburukan orang tersebut selama orang itu tidak ridha hal itu diceritakan maka akan menjadi ghibah.

Saudaraku, saking tercelanya ghibah, Allah mengumpamakan seorang yang ghibah, seperti memakan bangkai saudaranya. Seperti yang tertera dalam al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 12 yang artinya “.... dan janganlah menggunjing satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka makan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah maha penerima taubat lagi maha penyayang”

Dalam ayat tersebut dijelaskan bagaimana seorang yang menggunjing saudaranya seperti seorang yang makan bangkai saudaranya yang kita pun merasa jijik dengan hal itu. Hayoo apa kita mau memakan bangkai saudara kita sendiri? Bangkai ayam saja kita ndak mau apalagi ini bangkai saudara kita sendiri?

Saudaraku, sungguh sangat beda tipis antara ghibah dan curhat. Kalau curhat, tujuan kita adalah untuk mencari akar permasalahan dan solusi terhadap orang tersebut, sedang ghibah hanya untuk mencari aib dan kekurangan sudara kita. Namun kalau kita tidak hati-hati kita bisa terjerumus kedalam jurang ghibah yang siksanya sangat pedih.

Mungkin kita awalnya berniat curhat, tapi kalau curhatnya terus menerus tentang si Fulan atau Fulanah atau kalau kita tidak hati-hati maka lama-lama tanpa kita sadari akan menjadi ghibah.

Akhwati fillah, di dalam kitab Riyadush Shalihin dijelaskan, ada beberapa ghibah yang diperbolehkan dengan tujuan yang sah menurut ketentuan syar’i, hal ini dikarenakan enam sebab :

Yang pertama pengaduan, yakni pengaduan orang yang terdzalimi kepada hakim atau penguasa. Misalkan si fulanah mengadukan si fulan kepada orang tuanya karena telah didzolimi olehnya. Dengan harapan akan ada solusi dari orang tua.

Yang kedua meminta bantuan agar dapat mengubah kemungkaran atau agar dapat mengembalikan orang yang bermaksiat kepada kebenaran. Misalkan “si fulan telah melakukan begini, maka cegahlah”

Yang ketiga meminta fatwa. Misalkan “si dia mempunyai masalah seperti ini, bagaimana menurut pendapatmu?”

Yang keempat memperingatkan kaum muslimin dari keburukan atau memberikan nasehat kepada mereka. Yaitu dengan beberapa cara, antara lain:
- Menetapkan cela terhadap perawi hadits yang memang memiliki cela.
- Bermusyawarah tentang kekeluargaan melalui perkawinan seseorang, penitipan seseorang, interaksi atau kehidupan bertetangga lainnya.
- Apabila orang yang mengerti agama berinteraksi dengan orang yang suka berbuat bid’ah atau dengan orang yang fasik sehingga dikhawatirkan ada akses buruk bagi orang yang mengerti agama tersebut.
- Seorang yang tidak menjalankan tanggung jawab atau amanah kekuasaan, baik karena memang tidak layak atau memang karena pemegang jabatan tersebut memang fasik atau lalai.

Yang kelima seorang fasik yang menampakkan kefasikan atau bid’ah seperti membanggakan diri dengan meminum-minuman keras, menyandera orang, memungut pajak liar, merampas harta orang, senang berbuat aniaya dan sebagainya.

Dan yang keenam, identitas. Apabila seeseorang sudah dikenal dengan ciri-ciri tertentu sehingga menjadi identitas, seperti si bisu, si mata juling, dan sebagainya.

Itulah enam faktor yang menjadikan ghibah diperbolehkan oleh kesepakatan oleh para ulama. Selain dari itu tidak diperbolehkan. Meskipun niatnya curhat mengenai seseorang. Karena curhat yang tidak hati-hati dan tidak membawa mashlahat atau kebaikan apapun bagi yang curhat, pendengar curhatan atau orang yang menjadi objek curhat akan menjadi ghibah juga.

Semoga ini dapat menjadi bahan renungan kita bersama. Agar lebih hati-hati lagi dalam menjaga lisan, berkata-kata, walau cuman hal yang sepele. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa dia mendengar Rasulullah bersabda “Kadangkala seorang mengatakan hal yang sepele, tetapi bisa mengakibatkan ia terjeremus kedalam neraka yang lebih jauh jaraknya daripada jarak antara timur dan barat.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Waallahu a’lam bish shawab. [Ukhtu Emil]

Birrul Walidain


Dikisahkan bahwa Abdullah bin Umar melihat seorang pemuda yang thowaf sambil menggendong ibunya. Setelah selesai thowaf pemuda tersebut mencari Abdullah bin Umar. “Hai Abdullah bin Umar, apakah yang aku lakukan ini bisa membalas kebaikan ibuku?” tanya pemuda itu ketika berhasil menemui Abdullah bin Umar.

Abdullah bin umar lalu diam sejenak, lalu berkata “Hai pemuda, seandainya engkau sa'i antara shafa dan marwah, engkau mabit di muzdalifah, wuquf di arafah dan itu engkau lakukan sambil menggendong ibumu, maka sedikitpun tak akan bisa menggantikan satu nafas ibumu saat melahirkan”

Sungguh perjuangan yang luar biasa dari seorang ibu hingga tak dapat terbalaskan dengan apapun. Oleh karena itulah mengapa Rasulullah menyebut kata ibu sebanyak 3 kali dalam haditsnya. Meskipun perjuangan seorang ayah juga besar. Seorang ayah berjuang mati-matian bekerja demi menghidupi keluarga.

Maka tak sepatutnyalah kita menyakiti perasaan ibu dengan mendurhakainya. Seperti yang terjadi di zaman sekarang. Banyak anak yang tega membentak ibunya, malu karena profesi ibunya, bahkan sampai tega membunuhnya. Dalam Al Qur’an ditegaskan bahwa berkata “ah” saja tidak boleh, apalagi sampai membentaknya, menyakiti perasaanya.

“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.” (QS. Al Isra' : 23)

Saudaraku... ridha Allah tergantung pada ridha orang tua. Apapun yang kita lakukan kalau orang tua ridha, insya Allah, Allah pun akan ridha selagi itu masih dalam hal kebaikan. Begitu pula dengan murkanya. Maka jangan sekali-kali kita menyakiti perasannya dan membuatnya murka.

Saudaraku, sungguh tak ada satu amalpun yang dapat menggantikan jasa dan jerih payah mereka. Bahkan kisah seorang pemuda di atas. Maka setidaknya, kita jadikan diri kita sebagai jalan bagi kedua orang tua kita masuk surga. Diantaranya adalah dengan menjadi anak yang shalih. Seperti yang disebutkan Rasulullah dalam haditsnya, “Jika seorang manusia mati, terputus darinya amalnya kecuali dari 3 (perkara) : shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfa’at dan anak shalih yang berdo’a baginya”. (HR. Muslim).

Dalam hadits tersebut disebutkan bahwah salah satu amal yang pahalanya terus mengalir adalah anak shalih yang mendoakan kedua orang tuanya. Maka jika kita merenungi hadits tersebut, tak sepantasnya kita mendurhakai kedua orang tua kita dengan menjadi anak yang tidak shalih.

Yang kedua adalah menjadi penghafal Qur’an. Dengan menjadi penghafal Qur’an, maka kita akan menghadiahkan kepada orangtua mahkota kemuliaan yang cahayanya lebih terang daripada cahaya matahari di dunia.

“Penghafal Al Qur’an akan datang pada hari kiamat, kemudian Al Qur’an akan berkata: Wahai Tuhanku, bebaskanlah dia, kemudian orang itu dipakaikan mahkota karamah (kehormatan), Al Quran kembali meminta: Wahai Tuhanku tambahkanlah, maka orang itu diapakaikan jubah karamah. Kemudian Al Quran memohon lagi: Wahai Tuhanku ridhailah dia, maka Allah meridhainya. Dan diperintahkan kepada orang itu, bacalah dan teruslah naiki (derajat-derajat surga), dan Allah menambahkan dari setiap ayat yang dibacanya tambahan nikmat dan kebaikan” (HR. Tirmidzi)

Wallahu a'lam bish shawab. [Ukhtu Emil]

Terapi Galau dari Al Qur'an


Masa muda adalah masa-masa mengukir prestasi. Namun, masa muda juga identik dengan kelabilan emosi sehingga kita sering menjumpai remaja dan pemuda yang dilanda galau. Bahkan mereka mendemonstrasikan kegalauannya melalui media sosial, terlihat dari status-status mereka di facebook, misalnya.

Tapi sepertinya bukan hanya kaum remaja yang kelabilan emosinya menonjol, orang dewasa yang harusnya menjadi panutan pun sering kali mengalami desperate yang bukan hanya merugikan dirinya tapi juga orang lain. Tuntutan hidup seringkali membuat orang semakin bejibun dengan problematika yang penuh konflik dan tantangan.

Ketika aku masih duduk di bangku SMP dulu, aku juga mengalami masa yang sangat desperate. Saat itu lingkungan super duper tidak mendukung perjalananku beranjak gede hingga hal yang sering kita dengar bagi remaja yang frustasi –'suicide'– menghinggapi.

Untunglah aku kemudian mendapatkan obat untuk galau yang menimpaku. Di saat itu Allah menunjukkan hal lain yang kini aku teringat dan ingin kubagi pada siapapun, khususnya mereka yang mengalami "galau" sedang ada pada ranking teratas perasaan hati.

Jawaban galau itu tidak lain adalah Al-Qur'an. Waktu itu kutemukan artikel pada sebuah web, yang saat ini sudah tidak ada lagi. Syukurlah aku telah menulisnya dan simaklah kawan...

Kenapa Aku Diuji ?
QS. Al Ankabut : 2-3

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?”

وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ
“Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.”

Kenapa Aku Tidak Mendapatkan Apa Yang Aku Idam-idamkan?
QS. Al Baqarah : 216)

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ ۗ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ
“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”

Kenapa Ujian Seberat Ini ?
QS. Al Baqarah : 286

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ ۗ رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا ۚ رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ ۖ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا ۚ أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdoa): "Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir".

Bagaimana Menyikapi Rasa Frustasi ?
QS. Ali Imran : 139

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِي

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.”

Sungguh, Aku Tak Dapat Bertahan Lagi …. !!!
QS. Yusuf : 87

يَا بَنِيَّ اذْهَبُوا فَتَحَسَّسُوا مِنْ يُوسُفَ وَأَخِيهِ وَلَا تَيْأَسُوا مِنْ رَوْحِ اللَّهِ ۖ إِنَّهُ لَا يَيْأَسُ مِنْ رَوْحِ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْكَافِرُونَ

“Hai anak-anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan jangan kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya tiada berputus asa dari rahmat Allah, melainkan kaum yang kafir".

Bagaimana Aku Harus Menghadapi Persoalan Hidup ?
QS. Ali Imran : 200

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ
“Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.”

Apa Solusinya ?
QS. Al Baqarah : 45-46

وَاسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ وَإِنَّهَا لَكَبِيرَةٌ إِلَّا عَلَى الْخَاشِعِينَ
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu´,”

الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلَاقُو رَبِّهِمْ وَأَنَّهُمْ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ
“(yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.”

Siapa Yang Menolong Dan Melindungiku?
QS. Ali Imran : 173

الَّذِينَ قَالَ لَهُمُ النَّاسُ إِنَّ النَّاسَ قَدْ جَمَعُوا لَكُمْ فَاخْشَوْهُمْ فَزَادَهُمْ إِيمَانًا وَقَالُوا حَسْبُنَا اللَّهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ
“(Yaitu) orang-orang (yang mentaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: "Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka", maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: "Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung".

Kepada Siapa Aku Berharap?
QS. At Taubah : 129

فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِيَ اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۖ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ ۖ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظِيمِ
“Jika mereka berpaling (dari keimanan), maka katakanlah: "Cukuplah Allah bagiku; tidak ada Tuhan selain Dia. Hanya kepada-Nya aku bertawakkal dan Dia adalah Tuhan yang memiliki ´Arsy yang agung".

Apa Balasan Atau Hikmah Dari Semua Ini?
QS. At Taubah : 111

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَىٰ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ ۚ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ ۖ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ ۚ وَمَنْ أَوْفَىٰ بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ ۚ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ ۚ وَذَٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”

Kawan... kapanpun galau mendatangimu, kembalilah kepada Al-Qur'an. Dan temukan jawaban serta solusinya di sana. [Gresia Divi]

Jujur dalam Berbisnis


Kalau kita memulai pembicaraan tentang jujur dalam berbisnis, maka kita mulai dengan mendefinisikan apa itu sesungguhnya jujur. Kalau kita lihat arti kata jujur dalam bahasa Arab, ash-shidqu berarti al-ikhbaru, memberikan informasi, menyampaikan tentang sesuatu dimana apa yang disampaikan itu sesuai dengan kenyataan.

Dalam dunia bisnis juga seperti itu, kita harus berbuat jujur, misalnya dalam menjual produk makanan atau minuman. Kemasan yang dijual harus sama dengan isinya, sesuai hasil laboratorium hasilnya baik maka dicantumkan baik berarti dia jujur. Sementara itu jika berbeda maka itu maka penjual itu sedang berbohong

Di dunia marketing kalau dia mengatakan sesuatu untuk mempromosikan produk nyata maka sesungguhnya dia lakukan haruslah sesuai. Jika berbeda saat itu maka dia berbohong.

Bagaimana kita bisa jujur dalam berbisnis
Ada satu hal yang harus kita fahami bahwa sebagai seorang muslim itu ada proses dan tujuan.

Bisnis adalah bagian dari ibadah yaitu untuk mencari nafkah menghidupi dirinya, keluarga , anak anaknya dan orang orang yang ditanggungnya sehingga terhindar dari meminta minta, dan menggantungkan orang lain.

Dilihat dari tujuan baik, maka prosesnya harus juga baik. Kalau yang kita lakukan berbohong bisa jadi akan menghasilkan yang haram atau bisa jadi tidak berkah.

Jangan pernah merasa rugi dalam berbuat jujur
"Berbisnis dengan bohong saja rugi bagaimana dengan jujur?" itu adalah mitos yang harus kita buang jauh jauh dari dalam pikiran kita. Dengan berbohong maka dunia akhirat kita sudah rugi

Seperti dalam al Quran surat Mutaffifin: “Celakalah bagi orang orang yang curang dalam menakar dan menimbang”

Sementara dalam hadist disebutkan betapa mulianya pedagang yang jujur.

"Pedagang yang jujur itu nanti pada hari kiamat ia mendapatkan naungan, di saat orang lain kepanasan" []


Disarikan dari ceramah Ust. Farid Dhofir, Lc, MSi
pada acara Lazuardi Suara Surabaya dengan tema "Jujur dalam Berbisnis"


Pengennya Sih Nikah Sama Ikhwan, Tapi...


Banyak sekali, bahkan hampir semua akhwat ingin juga mendapat suami seorang ikhwan. Tidak terkecuali diriku. Tapi apakah semudah itu? Ternyata tidak, setelah itu kualami sendiri. Maka bersyukurlah bagi saudari-saudariku yang telah mendapatkan seorang ikhwan.

Di awal-awal mengikuti taklim pekanan, persepsi yang ada di otak bahwa pernikahan adalah pemetaan dakwah. Wow, aku setuju sekali. Siapapun deh, asal ikhwan dan itu bisa memperkuat dakwah ini. Begitu lama maindset itu bersemayam, hingga... giliranku tiba. Keinginan untuk memperluas dan memperkokoh dakwah ini dengan membentuk keluarga dakwah. Hmmmm... apakah terlalu idealis?

Setelah sekian lama ternyata banyak hal yang mengagetkan maindset ku yang ketiduran itu. Teringat kisah shahabiyah yang dituturkan dari lisan murabbiyahku saat itu. Shahabiyah yang maharnya begitu agung, keislaman suaminya. Hingga Tsabit –seorang perawi hadits- meriwayatkan dari Anas, "Sama sekali aku belum pernah mendengar seorang wanita yang maharnya lebih mulia dari Ummu Sulaim, yaitu keislaman suaminya." Selanjutnya mereka menjalani kehidupan rumah tangga yang damai dan sejahtera dalam naungan cahaya Islam. Kesekian kali kisah Ummu Sulaim itu kudengar dan baru kali itu kufikirkan, bisakah aku sepertinya? Allah... sulit sekali.

Umumnya seorang akhwat juga akan mencari pendamping hidup yang juga bisa menguatkannya dalam jalan dakwah sekaligus yang bisa membimbingnya dan merengkuh perjuangan bersama. Apakah dia rela jika dia pun harus berjuang lebih untuk merengkuh suaminya agar bersama di jalan dakwah yang ia jalani hingga satu frekuensi dengannya? Serasa memulai lagi dari nol. Tapi pun bukan suatu kemustahilan jika dakwah mereka juga bisa jauh lebih melejit dibandingkan perjuangan pasangan ikhwan akhwat. Laksana kisah suami Ummu Sulaim – Abu Thalhah yang begitu luar biasa dalam dakwahnya.

Tapi lagi-lagi kukatakan itu sulit, bagi seorang aku yang mungkin amalannya jauh sekali dibandingkan Ummu Sulaim. Realita hidup tak sesederhana itu. Tapi kisah Ummu Sulaim patut dijadikan penguat. Mungkin di saat-saat seperti itu seorang akhwat sedang diuji keimanannya -percaya dan yakin– akan janji-janji Allah.

الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ ۖ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ ۚ أُولَٰئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ ۖ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ
“Wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). Mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). Bagi mereka ampunan dan rezeki yang mulia (surga).” (QS. An Nur:26)

Tapi apa pun itu, tulisan ini kuakhiri dengan mengingat kembali kekuatan “mimpi”. Karena mimpi hidupku sudah setengah jalan kulalui dan tak ada kata penyesalan karena setiap hal dengan maksimal (all out). Kini tinggal setengah jalan lagi hidupku dan tak akan kusiakan. Dengan siapa pun itu, harus mempunyai berjuta planning. Agar jika sekali terjatuh, kau punya kemungkinan-kemungkinan lain yang bisa kau rengkuh. Maka, bermimpilah tentang keluarga, masyarakat, dan negara yang ingin kau bentuk karena mimpimu itu bukan hal yang keliru. [Gresia Divi]

Kematangan Tarbiyah Menyikapi Keputusan Jamaah


“Perbedaaan adalah sumber kekayaan dalam kehidupan berjamaah. Mereka yang tidak bisa menikmati perbedaan itu dengan cara yang benar akan kehilangan sumber kekayaan. Dalam ketidaksetujuan itu sebuah kepribadian akan tampak ke permukaaan: apakah kita matang secara tarbawi atau tidak."
(Anis Matta)

Dengan opening seperti di atas, apa yang Anda fikirkan setelah membacanya. Wah... sepertinya bakal serius dan terasa berat tulisan saya kali ini. Mungkin asumsi itu benar. Tapi semoga tidak mengurungkan niat untuk membaca hingga akhir, tentu saja.

Mengapa tiba-tiba terbesit ide untuk menuliskan ini? Bermula dari cerita salah satu kawan duduk saya dalam majelis iman, liqo'at pekanan. Jum’at sore, ketika pertemuan kami kali itu hampir berakhir, kawan saya tersebut mengurai sebuah cerita. Dia punya seorang teman yang berdomisili di kota yang cukup jauh dari tempat kami tinggal. Sebab jarak, hubunganpun lebih sering dilakukan via telepon. Tak jarang mereka berdua saling berbincang, bertukar fikiran dan sesekali berargumentasi. Berdebat, lebih sering orang menyebutnya. Hal yang lumrah, meski mereka berdua satu harakah, satu jamaah. Jamaah Tarbiyah.

Hingga suatu ketika, kata-kata tercetus tanpa diduga. “Apa kubilang, Pak Raden (Presiden terkini Republik Mimpi) itu antek Yahudi. Apa orang-orang jamaah kita tidak bisa melihat itu? Bagaimana mungkin jadi referensi pilihan “wajib” saat Pilpres kemarin..?? Lha coba sekarang, kita lihat kondisi jamaah kita..”babak belur” dihajar dari segala arah. Untunglah, tak kucoblos foto Pak Raden saat di bilik suara ketika itu!” Dan kawan saya hanya terbengong di ujung telepon. Tanpa sadar hatinya bimbang. Sudah salah pilih juga kah ia saat pilpres waktu itu?

Begitulah... cerita tentang teman jauh kawan saya itu sepertinya sering kita dengar atau bahkan mungkin kita terlebih saya pribadi, pernah terbesit untuk menjadi “calon” pelaku ketidak taatan pada hasil syuro para qiyadah. Pada keputusan jamaah. Sebab tak jarang kenyataaan seperti ini terjadi dalam perjalanan pergerakan dakwah kita. Sebab kenyataan seperti ini lumrah terjadi sebagai implikasi dari fakta yang lebih besar yakni adanya perbedaan pendapat yang menjadi ciri kehidupan majemuk. Demikian Anis Matta menyebutnya dalam bukunya Menikmati Demokrasi. Dan jamaah tarbiyah ini termasuk dalam kategori tersebut. Betapa tidak, para penumpang dalam gerbong kereta pergerakan dakwah ini begitu bervariasi. Semua yang hadir dan berpartisipasi dalam dakwah ini berasal dari latar belakang keluarga, sosial, dan tingkat pengetahuan yang berbeda. Dan tentu saja, tingkat kematangan tarbawi yang berbeda. Meski, proses tarbawi berusaha menyamakan sudut pandang berfikir kita sebagai kader dengan merumuskan konsep manhaj dakwah yang jelas. Namun dinamika personal tiap kader, pola menejerial organisasi, dan local culture wilayah dakwah masing–masing masih akan tetap memberi ruang bagi adanya kemungkinan munculnya perbedaan. Begitu ulasan Anis Matta dalam buku tersebut, mengenai fenomena ini.

Anis Matta juga menambahkan, ada empat hal yang mesti kita lakukan seandainya suatu ketika fenomena seperti ini “menggoda” ketsiqohan kita atas keputusan jamaah.

Pertama, merenungi dan bertanya secara jujur pada nurani kita apakah pendapat yang kita anggap lebih baik dari keputusan jamaah adalah berasal dari sebuah upaya “ilmiah” seperti kajian, pengalaman dan pembuktian lapangan yang bisa kita jadikan landasan yang kuat sehingga layak bagi kita untuk “ngotot” mempertahankannya. Dan semoga bukan hanya sekedar “lintasan fikiran sesaat” saat syuro berlangsung atau saat sebuah keputusan diumumkan. Alangkah tak pantas sebagai kader yang berilmu ngotot mempertahankan pendapat tanpa landasan yang kuat. Bahkan bila pendapat kita berasal dari proses ilmiah yang intens dan sistematis maka selayaknya yang dicontohkan para ulama, ketawadhu’an. Dengan berpegang pada kaidah “Pendapat kita memang benar, tapi mungkin salah. Dan pendapat mereka memang salah, tapi mungkin benar."

Kedua, bertanya kembali dengan lebih jujur pada diri kita. Apakah pendapat yang kita bela tersebut adalah sebuah “kebenaran objektif” murni atau malah telah terkontaminasi “obsesi jiwa” yang kadang sadar atau tidak sadar mendorong kita untuk terus “ngotot” mempertahankan pendapat kita sebagai bentuk pembelaan terhadap eksistensi diri pribadi.

Ketiga, seandainya kita tetap yakin bahwa pendapat kita lebih benar dari apa yang sudah menjadi keputusan jamaah, maka kita mesti tetap percaya bahwa mempertahankan kesatuan dan keutuhan shaff jamaah sangat jauh lebih penting dan utama jika dibandingkan sekedar memenangkan satu pendapat yang boleh jadi sejatinya memang benar. Sebab perlu kita ingat kembali bahwa berkah dan pertolongan Allah hanya turun pada jamaah yang bersatu padu bukan yang bercerai berai. Yang bahkan jika terbukti keputusan syuro tersebut keliru, maka dengan keutuhan dan keutuhan shaff jamaah yang kita jaga akan mudah bagi jamaah untuk mengurangi dampak negatif dari kekhilafan tersebut. Baik dengan mengurangi tingkat resiko yang timbul atau menciptakan kesadaran baru dalam jamaah yang bisa jadi tak akan pernah tercapai jika tanpa pengalaman “jatuh” seperti itu. Hingga hati tiap kader akan lapang menanti rahasia hikmah yang telah disiapkan Allah atas apa yang terjadi.

Keempat, sesungguhnya dalam mengelola ketidaksetujuan syuro itu kita telah dipaksa belajar banyak hal tentang makna iman, tentang makna ikhlas yang tiada batas, tentang makna tajarrud melawan hawa nafsu, tentang menjaga keutuhan ukhuwah, tentang kerendahan hati, tentang cara menempatkan diri secara tepat dalam kehdupan berjamaah, tentang tradisi ilmiah yang harus dilestarikandan kelapangan hati yang tak terbatas, hingga tentang betapa ilmu yang kita miliki terbatas jika dihadapkan pada ilmu Allah, dan tentu saja tentang makna tsiqoh pada keputusan jamaah

Dalam tulisannya tersebut ustadz Anis Matta pun mengingatkan, jangan pernah merasa lebih besar dari jamaah atau merasa lebih cerdas dari kebanyakan orang. Sebaliknya, yang mesti kita lakukan adalah memperkokoh tradisi ilmiah kita. Memperkokoh tradisi pemikiran dan perenungan mendalam. Begitupun di saat yang sama, kita makin melapangkan hati kita untuk menampung segala bentuk perbedaan yang mungkin timbul. Dan tak lupa pula dengan segala kerendahan hati kita yakin ada begitu banyak ilmu, rahasia serta hikmah dari Allah Subhanahu wa Ta'ala yang mungkin belum tampak saat ini dan justru akan datang saat hari-hari mendatang.

Dan pada akhirnya pilihan sikap kita dalam mengelola ketidak-sepakatan kita atas keputusan jamaah benar-benar akan menyingkap tabir diri kita sebagai mana telah saya kutip di awal, semua bakal nampak: apakah sejatinya, kita telah matang secara tarbawi atau tidak? [Kembang Pelangi]

“Curhat” Syeikh Buty yang Membuat Air Mata Berderai


Tidak seperti biasanya, tahun-tahun lalu pada awal bulan Desember hujan sudah mengguyur kota Damaskus, musim dingin sudah sangat terasa, puncak-puncak gunung sudah terlihat putih dengan salju, jalan-jalan lembab, basah, suasana taman begitu indah, meskipun terasa dingin menusuk sampai ke sum-sum. Namun tahun ini (2012, red) tidak demikian, berbeda. Sudah beberapa hari memasuki bulan Desember, tapi matahari masih melotot panas, tidak ada hujan, bahkan awan-awan hitam pembawa hujan yang datang dari arah Turki serta-merta bubar ketika sampai di atas langit Damaskus.

Fenomena menyakitkan itu merambas ke semua lini kehidupan, sampai sayur-sayuran yang ditanam di daerah subur Ghutah terpaksa diairi dengan air laut. Dua minggu lalu Kementrian Auqaf yang membawahi seluruh masjid di Syria menganjurkan semua masyarakat untuk melaksanakan shalat Istisqa di masjid masing-masing, dan insya Allah Jumat ini serentak diseluruh Syria melakukan salat Istisqa.

Negeri Syam (Sebutan untuk Syria, Palestina,Lebanon dan Jordan zaman dulu, tapi sekarang sebutan ini hanya khusus untuk Damaskus), sebuah negeri yang didoakan oleh Rasulullah ,”Allahumma bariklana fi Syamina haza,(Ya Allah berkahilah negeri Syam kami ini)” tiga kali beliau mengatakan itu, dan terakhir beliau mengatakan,”Wafi Yamanina (dan Negeri Yaman kami juga)”, sejak dahulu Syam banyak sekali memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki negeri manapun di muka bumi, dan semoga kebaikan ini akan selalu terlimpahkan kepada negeri ini sampai akhir zaman. Ulama dan pemimpinnya yang bisa membuat hati kita terasa “dingin”, semoga selalu tercurahkan kepada negeri akhir zaman ini.

Tidak ada hujan sudah memasuki bulan Desember merupakan musibah besar, yang membuat para pemimpin negeri itu berpikir keras, mulai dari presiden sampai ke ustad-ustad di musalla kecil di kampung-kampung. Prof.Dr.Muhammad Saed Ramadhan Buty, salah satu ulama kharismatik yang juga ketua ulama Syria, beliau adalah diantara ulama yang menjadi penyetir kehidupan sosial masyarakat di Syira. Siapa yang tidak kenal kepribadian yang begitu mempesonakan itu, kalau waktu ta’ziah wafatnya syeikh Abul Hasan al Kurdy di masjid besar Bani Umayyah syeikh Naiem Araksusy mengatakan, “Ustad saya ini, adalah gambaran tabi’in yang berjalan di abad dua satu,” mungkin kata-kata itu juga sangat tepat disematkan kepada syeikh kita ini, syeikh Al Buty.

Senin malam, beberapa hari yang lalu, seperti biasa kami menghadiri pengajian “Tarikh Tasyri Islamy” di jami Al Iman bersama syeikh Buty yang dihadiri ratusan jamaah dari semua kalangan. Tapi hari ini pelajaran tidak seperti biasa, beliau menceritakan sedikit tentang ujian yang dialami Imam Ahmad bin Hambal demi mempertahankan kebenaran yang diyakininya, bahwa Qur'an itu kalam Allah, dan kalam itu sifatNya, jadi bukan makhluk, gara-gara keyakinan itu beliau harus mengalami penyiksaan luar biasa. Setelah itu syeikh Buty mengatakan, “Cukup di sini dulu pelajarannya, malam ini saya ingin “curhat” sama kalian, saya sudah beristikharah untuk ini, dan saya akan mengatakannya kepada kalian semua, demi Allah saya mengatakan ini semua bukan karena saya dengki atau iri kepada siapapun, tetapi semua ini saya katakan karena rasa cinta saya kepada negeri ini, kepada pemimpin negeri ini, dan kepada kalian semua rakyat di negeri ini, demi Allah dalam hidup ini saya tidak pernah dengki kepada siapapun Alhamdulillah, setiap saya melihat ada seorang muslim yang tidak berjalan pada jalan yang digariskan agama, batin saya menangis dan saya selalu mendoakan dia, dan kalau saya melihat sebaliknya hati saya senang dan saya juga mendoakan dia semoga selalu istiqamah, demi Allah saya tidak rela kalau ada diantara umat Islam itu yang dibakar api neraka!!” kata-kata itu terucap dengan terbata-bata, air mata menetes jelas di pipi beliau yang lahir setahun setelah sumpah pemuda Indonesia dideklarasikan, diiringi isak tangis jamaah.

Ada beberapa hal yang menjadi stressing-point “curhat” beliau malam itu, dan menurut beliau itulah sebab kenapa Allah “mengobrak-abrik” awan hujan dari langit Turki ketika tiba di atas kota Damascus.

Pertama: Pemerintah mengeluarkan Kepres bahwa mahasiswi dan guru-guru dilarang memakai cadar di kelas pada saat terjadinya proses belajar mengajar dan di ruang ujian, dan Kepres ini tidak dipermasalahkan oleh ulama-ulama, bahkan syeikh Buty mendukung hal ini, karena belajar adalah salah satu dispensasi yang membolehkan wanita membuka wajahnya di depan laki-laki, menurut pendapat ulama yang mewajibkan wanita menutup wajah. Tetapi Kepres ini disalahgunakan oleh Kementrian Pendidikan Syria yang diisi oleh orang-orang sekuler, dengan memecat seribu lebih pegawai di wilayah departemennya dan guru-guru dari sekolah-sekolah, dengan alasan mereka memakai cadar. Beliau mengatakan, “Tidak mungkin ada guru yang memakai cadar waktu mengajar, apalagi yang diajar itu cewek semua, kalau ada itu orang “gila”!. Ini adalah sebuah kezaliman, wanita-wanita yang kehilangan pekerjaannya itu terzalimi, doa orang terzalimi tidak akan ditolak oleh Allah, bayangkan kalau seribu wanita shalihah itu bangun tengah malam dan berdoa, apa yang akan terjadi!!!Takutlah kalian kepada Allah wahai manusia!! Kembalikan wanita-wanita itu ke pekerjaan mereka!”.

Kedua: Ada sebuah sinetron serial di televisi yang menentang Qur'an, ada adegan dalam percakapan dalam sinetron lokal itu yang mengatakan Qur'an itu buku lama, tidak pantas lagi dipakai hari ini. Beliau mengatakan, “Wallahi, sinetron ini mengajak perang sama Allah, kitab Allah dihina seperti itu, saya menganjurkan kepada semua artis, sutradara, produser serta semua pihak yang berkaitan dengan itu agar bertaubat, dan menarik kembali statemen yang diucapkannya itu. Demi Allah mereka itu semua saudara-saudara kita, saya mencintai mereka semua, makanya saya katakan ini, bukan karena saya dengki atau iri, tidak sama sekali, tapi ini semua bukti cinta saya kepada mereka semua”.

Ketiga: Seruan Kementrian Awqaf (Kementrian Agama) untuk salat Istisqa di masjid masing-masing. Kemudian beliau membacakan bab salat Istisqa dari kitab “Umdat Salik”, bagaimana tata cara melakukan salat Istisqa. Salat Istisqa adalah salat minta hujan, salat dua rakaat dan dua khutbah seperti khutbah jumat, hanya saja ada beberapa hal lain yang harus dilakukan sebelumnya, yaitu seluruh masyarakat berpuasa selama tiga hari sebelum salat itu dilaksanakan, dalam tempo tiga hari itu semua masyarakat dari presiden sampai anak-anak yang baru baligh agar bertaubat dan mengembalikan hak-hak orang lain yang diambilnya. Tepat pada hari ketiga, semua masyarakat keluar ke tanah lapang atau tempat lain yang bisa untuk berkumpul semua orang, semua berpakain yang tidak mewah, anak-anak kecil, orang-orang tua, wanita-wanita berhaid sekalipun agar hadir, dan hewan-hewan ternak juga dibawa, bahkan masyarakat non-muslim juga boleh ikut, karena semuanya adalah korban karena tidak ada hujan, begitulah tata cara salat Istisqa. Tindakan Kementrian Auqaf sangat tepat, tetapi salah kalau mewajibkan setiap masjid selepas jumatan untuk salat Istisqa, beliau mengatakan, “Tindakan Kementrian Auqaf benar, tetapi caranya salah, yang hadir jumatan mah orang-orang yang ingat Tuhan, sedangkan orang-orang yang kita harap mereka bertaubat dan mengembalikan hak-hak orang mana pernah ke masjid! Kalau mau melakukan salat Istisqa, lakukan yang benar, sesuai ketentuan dan tuntunan agama, jangan suka hati kita. Ok saja kalau tidak mau melakukan seperti mazhab Syafii yang saya bacakan barusan, silahkan anda lakukan berdasarkan mazhab Hanafi, yang tidak mewajibkan salat dua raakaat, tetapi cukup khutbah saja dan kemudian berdoa sama-sama, tetapi tata cara lain sama semua seperti pendapat ulama mazhab Syafii. Kalau begini caranya hanya akan manjadi bahan olok-olokan “mereka”, karena sudah salat Istisqa tetapi tidak turun hujan, “mereka” akan mengatakan “Alah, sudah ku bilang nggak ada hujan karena lapisan ozon menipis, karena ini lah, karena itu.., lihat saja itu ulama-ulama sudah pada salat Istisqa, tapi tetap saja hujan tidak turun!”. Dulu pada masa pemerintahan Presiden Hafez Asad pernah terjadi hal ini, dia menyerukan untuk salat Istisqa, dan berdasarkan tuntunan Rasul, kalian ingatkan itu, semua masyarakat berkumpul di masjid Bani Umayyah, lebih satu juta orang berkumpul, saat itu wali besar syeikh kita syeikh Hibal berdoa, dan kalian lihat kan, tiga hari kemudian hujan turun dengan deras dan bahkan turun salju beberapa hari kemudian! Pada malam duapuluh tujuh ramadhan Presiden Hafez Asad menyerukan kepada Menteri Penerangan untuk memutar kembali video salat Istisqa itu di stasiun televisi Syria, dan televisi menyiarkan video itu pada malam tersebut pada waktu salat Isya, langsung Presiden menelpon Mentri penerangan agar menyiarkannya setelah taraweh biar semua rakyat melihat, dan Alhamdulillah beberapa hari kemudia hujan mengguyur Damaskus! kalian ingat kan semua itu!”

Beliau menjelaskan tiga hal tersebut dalam “curhat”nya, tiga hal yang mengganjal hati beliau, kritikan kepada pemerintah yang tidak seharusnya diutarakan di depan umum, tapi tak tertahankan lagi, tidak semua orang berani berbuat demikian, bisa-bisa setelah bicara begitu pindah tempat tidur, dari rumah ke penjara bawah tanah, tapi beliau sudah pasrah, yang penting kebenaran sudah disampaikan, dan beliau mengatakan kalimat terakhir sebelum menutup pengajian dengan doa, “Saya menjamin, dan saya bukan orang yang tahu apa yang akan terjadi satu detik ke depan, tapi saya menjamin kalau hal yang saya katakan tadi kita laksanakan, hujan akan mengguyur Damaskus, Insya Allah”. Salah satu petikan doa beliau malam itu, “ Ya Allah, janganlah Engkau menyiksa bayi-bayi dalam susuan ibunya karena kesalahan kami, janganlah Engkau biarkan hewan-hewan ternak mati karena perbuatan kami….”.

Dalam Qur'an surat Nuh Allah berfirman melewati lisan nabi Nuh, “Minta ampun lah kalian kepada Tuhan kalian, sesungguhnya Dia Maha Pengampun, maka dia akan mencurahkan kepada kalian hujan dari langit dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untuk kamu kebun-kebun dan mengadakan untuk kamu pula (di dalamnya) sungai-sungai”. Ayat ini menjelaskan bahwa siapa yang ingin hujan, ingin kaya dan ingin punya anak agar dia banyak-banyak minta ampun kepada Allah (istighfar).

Maksiat kapada Allah adalah sumber musibah dan mala petaka, dan Taubat serta kembali kepada Allah adalah solusinya. Beberapa hal yang disebut syeikh Buty yang merupakan sumber musibah tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan “maksiat” yang dilakukan penduduk negeri kita, maka jangan heran kalau seakan-akan bumi dan langit memusuhi kita, gempa, gunung meletus, banjir dan seterusnya adalah buktinya. Wakil-wakil rakyat yang menjadi pemimpin “mengkhianati” rakyat dengan sengaja dan “tidak” sengaja, masyarakat yang “membudidayakan” lokalisasi dan perzinaan, pelajar yang mentuhankan akal, pembunuhan, kecurangan, dan seabrek maksiat yang disebutkan Imam Ibnu Hajar Haitami dalam buku beliau “Al Zawajir” sudah dikerjakan, just wait and see, janji Tuhan akan segera terjadi.

Dari “curhatan” syeikh Buty, ada dua hal yang ingin kami sampaikan, pertama kepada generasi muda, khususnya yang belajar di negeri-negeri para nabi,

- Agar “meng-indonesiakan” dulu ilmu yang dibawa dari Arab, sebelum ditransferkan kepada masyarakat Indonesia.

- Ajaran, dan akhlak yang diajarkan ulama-ulama di Arab jangan dipisah-pisah, jangan hanya mengambil ajaran dan ilmunya saja, tetapi akhlaknya ditinggal. Karena dengan cara itu misi “penyelamatan” tidak akan sukses.

- Ingat, diantara duaratus juta penduduk Indonesia, kamu yang terpilih menjadi wakil untuk memperbaiki yang harus diperbaiki di negeri ini.

- Dunia memang penting, tapi akhirat juga bukan hal yang boleh dicueki, mengumpulkan harta di tangan memang “wajib” dalam Islam, sehingga kita bisa mengelurakan zakat dan bisa naik haji, tetapi mengumpulkan harta dalam hati “haram” hukumnya.

- Sejak awal Negara Islam Madinah berdiri, Rasulullah menjadikan masjid dengan segala kekurangannya sebagai Islamic Centre, itu tugas utama hari ini, mengembalikan peran masjid sebagai Islamic Centre, bukan hanya sekedar tempat salat Jumat dan salat Jenazah.

Kedua, untuk para masyarakat, yang meliputi pemimpin sampai anak yang baru baligh, hanya ada satu jalan keluar dari semua krisis yang kita alami saat ini, yaitu taubat dan minta ampun kepada Allah, “mushalahah maállah wa shidqul ubudiyyah lahu...”. Wallahu a’lam. []

Penulis : Saief Alemdar
Copyright © 2012-2099 SEKILAS DAKWAH - Dami Tripel Template Level 2 by Ardi Bloggerstranger. All rights reserved.
Valid HTML5 by Ardi Bloggerstranger