lazada ID
Showing posts with label Parenting. Show all posts

Mengapa Anakku Tak Peduli Saat Kupanggil?

Anak lari - foto uungferi.com
Apakah Anda pernah mendapati anak seusia 10-16 tahun (menginjak kelas 4-6 Sekolah Dasar) memiliki ‘cuek’ yang tinggi terhadap hal-hal di sekitarnya, seperti tak menoleh atau menyahut saat dipanggil, dimintai tolong, atau bahkan tak peduli ketika ada hal-hal di sekitarnya yang tak beres? Apakah anak itu yang seratus persen bersalah atau justru kita atau bahkan mungkin para orang tua sendiri yang telah melakukan ‘proses budekisasi’ (dalam bahasa Jawa budek berarti tuli)?

Seringkali orang-orang di sekitar anak menyepelekan hal-hal yang sebenarnya mendasar bagi mereka. Kita sering lupa bahwa mereka adalah imitate (peniru) yang handal terhadap hal-hal di sekitarnya. Ketika kita dalam kedaan payah sepulang kerja atau saat penat dengan bejibun aktivitas dan masalah, celoteh-celoteh ringan anak menjadi hal yang sambil lalu kita tanggapi. Bagaimana tidak, saat anak iseng menanyakan ini itu kepada orang dewasa, dengan ‘enteng’ kita jawab “ah ndak tahu lah”, “kapan-kapan saja ya jawabnya”, “jangan tanya terus”, “sudah diam”, dan berbagai kata-kata senada untuk membungkam celoteh si anak agar tak menambah lelah dan penat. Apakah Anda pernah melakukannya? Sepertinya masing-masing dari kita perlu mengoreksi diri karena hal-hal tersebut secara tidak sadar dapat membuat anak tumbuh menjadi anak yang terjangkit ‘proses budekisasi’ yang kita lakukan secara tidak sadar pada anak.

Seperti yang diungkap Dra. Sumarti Thohir dalam sebuah acara parenting, bahwa anak akan merasa percuma saja bertanya atau berbicara dengan orang dewasa, mereka juga tidak akan menjawab atau bahkan mereka akan berfikir bahwa diri mereka hanya pengganggu bagi orang dewasa. Sejak itu pun, anak tidak akan peduli pula dengan panggilan-panggilan yang datang padanya. Persis seperti yang telah dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya. Lalu, jika sudah begini apakah salah si anak atau kah justru kita yang telah mendzoliminya?

Bagi hati-hati yang lembut dan masih putih itu, perhatian kecil untuk mereka merupakan suatu momen tersendiri yang akan menjadi pijakan mereka hingga dewasa kelak. Jika kita melihat anak yang baik atau pun buruk, itu pula lah gambaran kita, kita lah yang membuat mereka serupa itu. Jangan salahkan si anak, salah kan diri kita yang kurang siap dengan ilmu-ilmu untuk menumbuhkan mereka. Karena laksana mendidik anak seperti menanam pohon, anak-anak tumbuh sesuai kebutuhan dan pengalaman mereka.

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit,” (QS. Ibrahim : 24)

Wallahu a’lam bish showab. [Gresia Divi]

Memahami Remaja Lebih Dekat

“Menjadi seorang musyrifah (pembina asrama), guru atau ustadzah bukan hanya sekedar mengelola manusia (murid atau santri). Tapi ia mengelola hati dan perasaan (jiwa) seseorang” kata ustadz Sholihun dalam perjalanan terakhir saya ke Srunen awal Juli lalu. Maksudnya adalah kita tidak sekedar mengatur adik-adik binaan kita, santri atau murid kita. Yang dalam perjalanannya kita minta mereka begini dan begitu sesuai dengan berbagai program yang telah kita buat sedemikian rupa. Ada hati di sana, ada perasaan di sana, yang sewaktu-waktu berubah sesuai dengan mood dan pikiran.

Karena pada dasarnya menjadi seorang musyrifah, guru, ustadzah atau apalah sebutannya bukan hanya sekedar memberi materi-materi yang telah disesuaikan dengan kurikulum yang telah dibuat. Tanpa mempertimbangkan bagaimana perasaan murid atau santri kita.

Kadang kala ketika kita menyusun berbagai program dan kurikulum kita lupa bahwa ada jiwa-jiwa yang perlu kita perhatikan perasaannya, perlu kita dekati secara khusus, dan perlu kita berikan bimbingan agar menjadi pribadi yang baik karakter dan kepribadiannya.

Terutama mengelola siswa MTs atau setingkat SMP. Di mana pada masa itu adalah masa pertengahan antara anak-anak dan dewasa. Masa yang kepribadiannya bisa berubah-ubah sewaktu-waktu , masa yang membutuhkan inspirasi dalam kehidupannya. Emosinya labil dan sangat peka terhadap cara pandang orang lain terhadap diri mereka. Dan pada masa ini pengaruh teman sebaya sangat kuat terhadapnya. Maka tak heran apabila di rumah kita menjumpai adik kita yang pendiam namun setelah sering bergaul dengan teman sebayanya yang rame adik kita berubah.

Contohnya dulu sewaktu saya menjadi musyrifah di SMPIT Abu Bakar Yogya. Dulu saya kelompokkan adik-adik yang kurang rapi atau akhlaknya kurang dengan mereka yang baik dan penurut. Dalam beberapa bulan si adik yang agak ngeyelan dan kalau sholat selalu di baris belakang perlahan berubah. Sholatnya mulai rajin, karakternya juga mulai membaik.

Saudaraku, memahami remaja tidak seperti memahami anak-anak atau orang dewasa. Jikalau anak-anak, mungkin mereka cukup dibilangin lalu nurut atau sekedar bertanya “buat apa ustadzah?” atau kalau orang dewasa mereka akan mengerti atau sesekali mereka protes dengan bahasa yang sudah mereka pilih. Tapi kalau remaja, mereka bukan sekedar bertanya atau protes, ngeyel, manyun atau bahkan ketika emosi mereka tidak terkendali, mereka akan membentak dan melakukan hal-hal yang kasar adalah hal yang sering terjadi.

Maka di sinilah perasaan atau jiwa itu harus kita kelola, mengingat tipe anak-anak sangat beragam. Ada mereka yang cuek, ada mereka yang penurut, ada mereka yang manyun dan suka membantah, ada yang lugu, ada yang polos dan berbagai karakter mereka sesuai dengan latar belakang dan background mereka.

Dalam dauroh murobbi pesatren beberapa waktu yang lalu, kak wahyu salah seorang pembicaranya menjelaskan tentang keterampilan memahami remaja. Yang pertama yakni, memahami penyebabnya. Maksudnya kita cari tahu penyebab dari prilaku remaja tersebut. Misalnya, dulu salah seorang santri saya di Abu Bakar ada yang tiba-tiba menjadi pendiam dan sekali ngomong nyelekit bahasa Gresiknya, padahal biasanya si adik selalu ceria. Ternyata setelah kami telisik, dia merasa malu karena akan punya adik lagi. Atau ada salah seorang santri yang emosinya labil, sedikit-sedikit manyun, eh ternyata keluarganya broken home, ayah dan ibunya pisah saat dia masih TK.

Yang kedua adalah memberikan empati, yakni dengan memberikan perhatian pada hal-hal kecil. Misalnya dengan mengetahui kebiasaan makannya, di mana letak sepatunya, atau warna atau kesukaannya dll. Mungkin terkesan sepeleh tapi itu akan menjadi kesan tersendiri buat adik-adik. Karena kalau hal-hal kecil saja diperhatikan apalagi yang besar?

Yang ketiga yakni berbicara dari hati kehati. Yakni apabila terjadi sebuah prilaku yang kurang maka kita ajak bicara pelan-pelan. Kita minta dia menceritakan atau curcol sama kita dengan cara yang baik dan kalau bisa kita luluhkan hatinya.

Dan yang terakhir dengan melakukan konseling. Konseling ini bisa dilakukan dengan memanggil satu persatu, atau dengan melakukan pendekatan spiritual vision atau memberikan pemahaman pada anak-anak bahwa apa yang mereka lakukan adalah tidak sesuai syariat misalnya.

Contohnya ketika terjadi kasus pencurian dalam sebuah asrama, kita buat renungan, kita pahamkan pada anak-anak bahwa mencuri adalah akhlak tercela, dan hukumnya adalah haram. Kalau tidak ada yang mengaku maka kita panggil satu persatu, dan kita tanyakan baik-baik.

Kemudian dalam dauroh tersebut beliau juga menjelaskan hal-hal yang harus dihindari oleh seorang guru, ustadzah, atau teacher bahasa Inggrisnya. Yang pertama adalah membandingkan. Setiap anak atau remaja adalah unik, dia punya karakter yang khas. Dia juga ingin dihargai dan diapresiasi sekecil apapun prestasinya, dia ingin diakui eksistensi dirinya. Karena pada masa ini adalah masa pencarian jati diri mereka dan masa yang labil. Sekali mereka tidak dihargai mereka akan jatuh dan tidak akan mau berusaha lagi.

Misalnya saja, adik kita mendapat rangking 16 di kelasnya, sementara tetangga mendapat rangking 3 besar. Maka jangan sekali-kali membandingkan dia dengan tetangga kita tersebut. Kita hargai adik kita yang sudah berusaha keras untuk mendapatkan yang terbaik dan kita motivasi agar ke depannya dia berusaha lebih giat lagi hingga dapat meningkatkan prestasinya. Atau misalnya si A punya prestasi di bidang sastra tapi nilai matematikanya jeblok. Maka jangan sekali-kali menjust bahwa anak ini bodoh, tidak bisa, dan membandingkan dengan temannya yang nilainya bagus. Dia akan ngedrop dan meninggalkan hobinya menulis cerpen misalnya. Padahal di situlah bakatnya. Maka hendaklah kita bisa memotivasinya agar dia terus mengasah bakatnya hingga suatu saat dia bisa menjadi penulis besar.

Yang kedua yakni pilih kasih. Saudaraku, janganlah sekali-kali kita pilih kasih pada salah satu murid atau santri kita. Karena hal ini akan menimbulkan kesenjangan sosial diantara anak-anak. Tidak ada bedanya mau santri yang rajin, mau santri yang penurut, mau santri yang ngeyelan. Semuanya sama. Mereka punya karakter yang unik dan perlu penyikapan yang berbeda-beda.

Dan yang terakhir yakni, cuek, pasif, masa bodoh. Setiap anak selalu ingin diperhatikan, baik itu orang tua, teman, atau gurunya. Apalagi mereka yang punya prilaku “spesial” yang memerlukan perhatian khusus. Maka sikap cuek, pasif, dan masa bodoh terhadap mereka sudah selayaknya kita hindari sebagai seorang guru. Kalau kata ustadz Musyafa’, sikap ini merupakan ciri guru yang tidak bertanggung jawab. Karena seorang guru adalah pendidik, pejuang, seorang yang banyak berkorban dan seorang kader yang terus mengembangkan diri yang terus melakukan perbaikan diri.

Saudaraku, semoga yang sedikit ini menjadi pelajaran buat kita dalam memahami adik-adik, murid atau santri kita yang masih remaja. Karena mereka adalah pribadi yang unik, pibadi yang khas yang memerlukan penyikapan yang berbeda-beda.

Maka sikap pertama yang harus kita miliki dan selalu kita memiliki adalah sabar. Karena di balik kesabaran ada keikhlasan dan ketulusan, yakni ikhlas ketika sikap labil mereka membuat mereka bersikap kasar terhadap kita, dan tulus dalam memberikan setiap bimbingan dan arahan kepada mereka. Karena di balik kesabaran ada sikap qona’ah, yakni menerima mereka dengan segala keunikan sikap mereka, menerima mereka satu paket kelebihan dan kekurangan mereka. Dan di balik kesabaran itu pula ada ketegaran, yakni tegar dalam menghadapi segala bentuk tingkah laku mereka.

Waallahu a’lam bish shawab.... [Ukhtu Emil]

Ingin Sukses Parenting, Keharmonisan Suami Istri Faktor Penting


Penelitian yang dilakukan oleh para psikolog dan guru BK menunjukkan, anak-anak yang bermasalah ternyata mayoritas berasal dari keluarga yang bermasalah. Demikian dipaparkan Ustadz Suhadi Fadjaray dalam Parenting Education 2013 yang diselenggarakan oleh Komite Sekolah Al Ummah di Gedung PPS Semen Indonesia, Ahad (19/5).

"Jika ayah bunda mau sukses dalam pengasuhan anak, menjadi harmonis adalah kuncinya," tegas konsultan pendidikan itu, "Ayah harus mencintai bunda, dan bunda harus mencintai ayah."

Lebih jauh, pembicara nasional itu menjelaskan, jika suami istri tidak cinta, tidak harmonis, umumnya mereka akan sering terlibat pertengkaran, bahkan ada kekerasan dalam rumah tangga. Parahnya, anak-anak kerap menjadi korban ketika orangtua bertengkar. Ia dimarahi, dihardik, bahkan disakiti. Kalaupun tidak, karakter anak yang suci laksana kertas putih pun telah terkotori dengan melihat orangtuanya saling memarahi.

Data lain yang diungkap Suhadi menunjukkan, ada pemuda yang tega membunuh orang tuanya sendiri dan kejahatan keji serupa. Setelah diselidiki, ternyata masa kecil mereka kurang ASI. Para pakar menjelaskan bahwa kurangnya ASI bukan sekedar bermakna kurang gizi. Yang lebih penting adalah pelukan dan kasih sayang yang didapatkan bayi saat ia berada dalam dekapan ibu. Senada dengan itu, pelukan dan gendongan ayah kepada anak usia 0-7 tahun juga berpengaruh positif pada pembentukan karakter mereka. Karenanya, motivator yang sering tampil di televisi itu mengajak seluruh orang tua untuk mencurahkan cinta dan kasih sayang kepada putra-putrinya, terutama di usia 0-7 tahun.

Kunci berikutnya dalam parenting adalah keteladanan. Anak akan lebih mengikuti contoh apa yang ia saksikan daripada perintah atau nasehat yang ia dengar. Jika orangtua mengajak anaknya untuk sabar, tetapi mereka suka marah di rumah, maka yang ditiru anak adalah sifat marah, bukan sabar yang disampaikan secara verbal.

Untuk membuktikan efektiknya keteladanan daripada perintah, Suhadi mengajak peserta melakukan sebuah game. Peserta disuruh mengikuti instruksi pemateri. Dalam beberapa instruksi pertama, di mana pemateri melakukan hal yang sama dengan apa yang ia instruksikan, peserta pun melakukan instruksi tersebut dengan tepat. Namun ketika pemateri menginstruksikan "Pegang dagu!" ternyata banyak peserta yang salah dengan memegang dahi, seperti yang dilakukan oleh pemateri.

Selain mengajak orangtua menjadi teladan bagi anak-anaknya, Suhadi juga merekomendasikan kepada orangtua untuk menghadirkan keteladanan Rasulullah Muhammad dalam keluarga. Diantaranya dengan cara mengenalkan Rasulullah, membacakan kisah hidup Rasulullah, dan memberikan buku Sirah Nabawiyah untuk anak, tentu saja yang kemasannya menarik dan sesuai dengan usia mereka.
Suhadi baca surat tuk ananda, peserta berurai air mata

Kunci yang tak kalah penting dalam parenting adalah doa. Penulis sejumlah buku itu menceritakan betapa sering ia mendapatkan "keajabaiban" dalam parenting setelah mendoakan anak-anaknya dengan tulus.

Dua jam lebih bersama Suhadi dalam topik "Character Building at Home: Anak Cerdas dan Mulia"itu seakan sangat singkat bagi 250 peserta yang memenuhi Gedung PPS, PT Semen Indonesia (Persero) Tbk, Gresik. Ketika peserta ditanya apakah perlu dilanjutkan sesi parenting education berikutnya, hampir semua peserta angkat tangan. Sepanjang training, beragam suasana tampak mewarnai ruangan. Saat-saat tertentu, misalnya saat Suhadi membaca surat dan puisi untuk anak, tidak sedikit orangtua yang menangis. Sebaliknya, saat Suhadi menceritakan kisah-kisah kocak maupun menyampaikan materinya dengan gayanya yang humoris, seisi ruangan pun tertawa terpingkal-pingkal. [AM/Lgs]

Cinta dan Doa Untuk Anak Kita


Hari itu musim liburan sekolah dan pesantren. Tiba-tiba banyak gadis kece bertamu ke rumah seorang konsultan pendidikan, untuk bertemu dengan anaknya yang sedang berlibur.

Tahu yang datang gadis-gadis, sang ayah dan ibunda yang juga muballighah nasional menemani putranya menemui tamu-tamu itu.

“Diantara gadis-gadis itu, siapa yang kamu ada hati padanya, Nak?” tanya sang ayah kepada anaknya yang masih menimba ilmu di pesantren itu, selepas tamu-tamu tersebut pulang.
“Ah, enggak kok, Yah” jawab sang putra, dengan wajah tersipu.
“Hayoo.. siapa?” sang ayah masih mengulang pertanyaan senada, dengan nada yang lebih halus, “apakah yang berjilbab merah?”
“Enggak, Yah...”
“Jujur saja, ayah juga pernah muda kok” lanjut sang ayah sambil memeluk putranya, “Tapi ayah dan bunda sudah berdoa: ‘Ya Allah... jadikanlah anakku menjadi anak yang shalih, yang kokoh aqidahnya dan kokoh akhlaknya. Dan kelak ketika waktunya tiba, berikanlah ia jodoh wanita yang shalihah, yang kokoh aqidahnya dan kokoh akhlaknya. Sehingga ia tidak sampai menodai masa mudanya dengan pacaran.”
Mata sang anak berkaca-kaca mendengar doa sang ayah. Doa tersebut juga dituliskan oleh ayah di laman facebook anak.

“Teman-temanmu cewek kok tidak ada yang main lagi kesini?” tanya sang ayah pada musim liburan berikutnya, ketika tak ada lagi tamu-tamu cewek yang datang ke rumah itu.
“Berarti doa ayah sudah makbul” jawab sang anak. Keduanya pun tertawa akrab.

Tahukan engkau siapa orang tua tersebut? Mereka Ustadz Suhadi Fadjaray dan istrinya.

“Doa yang kita panjatkan untuk anak-anak kita adalah kunci kesuksesan parenting,” kata Ustadz Suhadi setelah menceritakan kisah tersebut dalam Parenting Education 2013 yang diselenggarakan Sekolah Al Ummah, di Gedung PPS Semen Indonesia, Gresik, Ahad (19/5).

Memiliki anak yang shalih merupakan dambaan setiap muslim. Terlebih, setelah kita meninggal, segala amal akan terputus kecuali tiga hal. Salah satunya adalah anak shalih yang mendoakan kedua orangtuanya. Menjadikan anak shalih bukanlah hal yang mudah. Seringkali anak-anak yang diibaratkan sebagai kertas putih, justru menjadi kusam dan ternoda akibat kesalahan orang tua di masa tujuh tahun pertama, terutama setelah tahun ketiga.

Orangtua pada tahun pertama “mirip” malaikat penjaga surga, selalu tersenyum dan bertindak cekatan untuk anaknya karena cinta. Meski hanya dengan tangisan, sang anak akan mendapatkan segala yang ia inginkan dari kedua orangtuanya. Sayangnya, ketika usianya telah mencapai tiga tahun, orangtua mulai suka memarahi. Masih ngompol dimarahi, menangis dimarahi, mencoba sesuatu yang baru juga dimarahi dengan alasan ‘bahaya’, ‘kotor’, dan sebagainya. Ia mulai dituntut agar bisa membaca di usia 5-6 tahun, dan dimarahi lagi ketika belum juga bisa membaca. Mulailah label “bodoh”, “nakal” dan sejenisnya dilontarkan terus menerus kepada anak.

Anak kemudian tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri, di samping kecerdasan otaknya menurun. Terbiasa dibentak dan dimarahi, ia pun belajar menyelesaikan sesuatu dengan kekerasan.

Sebaliknya, jika orangtua mampu menjaga cinta pada anaknya, dekat dengan buah hatinya, dan terus membangun komunikasi dengannya, sang anak pun tumbuh percaya diri dan dekat dengan orang tua. Bukan hanya kecerdasan intelektualnya yang terjaga, karakternya pun menjadi mulia. Kedekatan dan kasih sayang ini menjadikan sang anak, kelak ketika remaja atau menjadi pemuda, ia lebih mudah menerima nasehat dari orangtuanya.

Dan tentu saja, karena yang menguasai hati adalah Allah, maka berdoalah kepada Allah. Berdoalah kepada Allah agar hati anak kita dijaga; tetap besih, menjadi anak yang shalih.

Seusai training, dalam sesi ramah tamah bersama Pengurus Yayasan dan Komite Sekolah, Ustadz Suhadi menjelaskan mengapa orang tua zaman dulu yang tidak mengenyam pendidikan formal dengan baik, secara intelektual sangat sederhana, bahkan tidak mengikuti seminar parenting, tetapi anak-anaknya menjadi shalih dan berhasil seperti Anda? Sebab mereka memiliki doa. Mereka berdoa dengan sepenuh hati untuk kebaikan anak-anaknya. Mereka berdoa sepenuh jiwa agar Allah menjadikan keturunannya shalih dan shalihah. Mereka berdoa dengan ikhlas dan dengan khusyu’ kepadaNya. Wallahu a’lam bish shawab. []

Kristenisasi Merambah Anak TK


Hampir setiap hari selalu ada berita tentang mualaf. Sebaliknya, kita juga sering mendengar berita tentang kristenisasi yang semakin marak dengan berbagai macam model. Bahkan, kristenisasi sekarang sudah mengincar anak-anak TK. Seperti yang kudapati pada seorang anak didikku...

Hari itu, di tengah keasyikannya bermain dengan teman-temannya, aku terkaget-kaget melihat stiker yang tiba-tiba dikeluarkan dan dengan bangga ditunjukkan padaku dan teman-temannya. Betapa kagetnya diriku, seluruh sticker yang ia bawa adalah gambar-gambar Kristiani seperti salib, gereja, bunda Maria, dan sejenisnya. Tempat didik kami yang notabene adalah berbasis keislaman jelas sangat bertentangan dengan hal itu.

Sekonyong-konyong aku langsung memutar otak di saat yang mendesak itu untuk mencari cara menjelaskan pada anak-anak dengan cara yang sebijak mungkin karena teman-temannya yang lain sudah antusias dengan stiker tersebut. Alhamdulillah, dengan penjelasan dan diskusi ringan dengan mereka, akhirnya mereka bisa mengerti dan stiker itu pun mereka serahkan padaku. Sebagai gantinya, aku kemudian membelikan mereka stiker yang bernuansa Islam. Pyuhfffff... anak-anakku...

Selidik punya selidik, ternyata stiker tersebut ia dapat dari neneknya. Agar lebih jelas, aku segera mengklarifikasi orang tuanya. Dari mereka, aku mendapatkan penjelasan bahwa saat ia jalan-jalan bersama neneknya suatu waktu, anak didikku itu meminta dibelikan stiker tersebut. Si nenek tanpa pikir panjang membelikannya tanpa melihat apakah itu sesuai atau tidak untuk cucunya.

Banyak pelajaran yang bisa diambil dari kejadian tersebut baik oleh pihak orang tua maupun aku sendiri sebagai seorang pendidik. Bagi orang tua, tidak terkecuali nenek kakek atau saudara, hendaklah benar-benar selektif dalam memberikan mainan ataupun permainan (game) pada anak karena anak-anak adalah 'imitate' yang handal dan sangat mudah untuk didoktrin. Jadi apa mereka kelak, itu pun sangat tergantung pada pembentukan kita terhadap mereka sejak dini, di masa usia dini yang merupakan 'golden age' mereka.

Untuk para pendidik, pemberian informasi yang ringan dan logis bagi anak tentang adanya bermacam-macam agama, ciri-ciri, kebiasaan, dan alasan mengapa ada banyak agama juga sangat penting bagi mereka. Jika kita hanya menanamkan pada mereka untuk cinta Islam tapi tidak memberikan gambaran yang lain bahwa ada agama lain selain Islam hanya akan membuat mereka tidak tahu dan iya-iya saja saat menerima hal baru apalagi menarik bagi mereka. Bahkan, yang dikhawatirkan jika kita memaksa anak untuk cinta Islam dengan mencekoki mereka dengan apa itu syahadat, rukun Islam, rukun iman, shalat, dan lain-lain tanpa mereka tahu mengapa harus melakukannya, bahkan yang lebih parah jika mereka tidak mengerti apa sih Islam itu.

Tanpa kita sadar seringkali kita (para guru dan orang tua) mengajari mereka tentang Islam dan seabrek yang lainnya dan kita sudah puas jika mereka mau melakukannya. Tapi bisa jadi mereka mau melakukannya karena 'imitate' yang tinggi pada mereka atau “takut”. Mereka belum tentu tahu alasan mengapa harus melakukan semua itu.

Tapi, apapun itu bentuknya yang paling penting adalah jangan panik, karena kepanikan kita terkadang justru membuat kita terlalu keras pada mereka hingga memberikan putusan yang mereka tidak mengerti, 'nurut' begitu saja. Semua perubahan dan perkembangan yang terjadi pada anak itu wajar dan itulah proses. Tergantung bagaimana kita –guru, orang tua, dan orang-orang di sekitar mereka– menyikapi setiap perkembangan mereka. [Gresia Divi]

Bunda, Beginilah Tahapan Bermain Anak Kita


Bermain adalah hal yang sangat menyenangkan bagi anak-anak. Tapi seringkali para orang tua tidak tahu bermain seperti apa yang sesuai tahap perkembangan anak-anak, sekaligus disenangi oleh mereka.

Ada empat tahapan bermain anak yaitu sensori, bermain dengan alat, bermain peran, dan bermain kerjasama. Pada bermain sensori anak diajak bermain pada hal-hal yang dapat menstimulus sensori mereka, seperti bermain air, pasir, dan sejenisnya. Tetapi, fakta berkata lain. Banyak orang tua yang tidak mengetahui akan pentingnya tahap bermain ini sehingga mereka melarang anak-anak untuk bermain pasir atau air dengan alasan kotor. Padahal di situlah waktu mereka distimulus sensori tangan, kaki, dan organ sensori lainnya untuk lebih peka. Jika tahap ini tidak dituntaskan dengan baik, kelak ketika dewasa akan membawa kerugian bagi dirinya dan orang lain.

Mengapa? Karena anak yang sensori motoriknya belum tuntas di usia 2 tahun akan cenderung tidak mudah mengolah emosi dan agresif sekalipun mereka pintar. Bagaimana cara mengetahui tingkat ketuntasan anak dalam tahap bermain sensori ini? Hal ini bisa dideteksi saat anak bermain pasir. Jika mereka bermainnya dengan berguling-guling atau pasirnya hanya “dicuil-cuil”, itu menandakan bahwa sensori motoriknya belum tuntas. Sedangkan anak yang sensori motoriknya sudah tuntas, biasanya akan membuat bangunan dari pasir itu atau sesuatu yang kreatif.

Kemudian untuk bermain dengan alat, kenapa hal ini dirasa perlu tidak lain agar anak belajar untuk menggunakan bermacam-macam peralatan sebagai persiapan hidup mereka kelak saat dewasa (Life Ready). Sebagai contoh, saat bermain mereka harus mengambil dan meletakkan alat pada tempatnya. Misalkan dalam sebuah nampan. Kenapa? Hal ini sebagai pembelajaran mereka jika kelak mereka harus bekerja sebagai dokter, perawat, atau yang lainnya yang membutuhkan ketelitian dan kerapian meletakkan alat. Bagaimana jadinya seorang perawat yang meracik obat jika obatnya saja tercampur atau tertukar tempatnya?

Tahap selanjutnya yaitu bermain peran. Nah, tahap ini juga tidak kalah penting. Anak bisa diajak untuk menjadi dokter-dokteran, keluarga-keluargaan, tamu-tamuan dan bermain peran sejenisnya. Namun pada dasarnya, secara alamiah ketika bertemu dengan teman-teman sebaya, anak secara otomatis melakukan permainan peran ini. Dengan bermain peran, anak-anak bisa diajak menjelaskan perasaan, sikap, tingkah laku dan nilai, dengan tujuan untuk menghayati perasaan, sudut pandang dan cara berfikir orang lain.

Dari situ anak akan belajar bagaimana seharusnya berbuat ketika berada pada posisi tertentu. Bagaimana menjamu tamu, misalnya. Bagaimana sulitnya menjadi seorang ibu, bagaimana harus berbelanja yang benar dan lain sebagainya.Memang penting? Penting sekali. Jangan sampai hal penting seperti ini baru mereka pelajari saat mereka sudah dewasa. Hal itu tidak akan menjadi suatu kebiasaan. Ingat kan pepatah: Bisa karena biasa.

Tahapan yang terakhir yaitu bermain kerjasama. Tahap ini juga sangat penting agar kalau sudah besar mereka bisa bekerja dalam kelompok dengan segala bentuk aturan yang mengikat dalam sebuah kerjasama. Mereka perlu tahu, bahkan perlu bisa, sejak dini.

Nah bunda, semoga kita bisa membersamai ananda bermain sesuai dengan tahapan bermain anak. Sehingga selain mereka enjoy, perkembangan emosi mereka juga terjaga.[Gresia Divi]

Jika Orang Tua Menginginkan Anak Penghafal Al Qur’an



إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ

”Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya..”
(QS. Al Hijr : 9)

Sudah merupakan janji Allah, bahwa Al Qur'an akan dipelihara Allah, diantaranya, di dada orang-orang muslim. Begitu banyak bukti, begitu banyak kisah tentang para penghafal Al Qur'an dari mulai zaman Rasulullah hingga kini. Dari berbagai macam warna kulit, ras, dan bangsa, semuanya ada yang menjadi penghafal Al Qur'an.

Begitu pun saat ini, di mana menghafal Al Qur'an menjadi trend. Banyak orang mau menghafal Al Qur’an. Banyak pula para orang tua yang berlomba-lomba memasukkan anaknya di sekolah-sekolah penghafal Al Qur'an. Tapi tidak sedikit juga orang yang mengatakan, “Apakah aku bisa menghafal Al Qur'an? Apakah aku bisa membuat anak-anakku menjadi penghafal Al Qur'an?” Kalau semua orang berazzam mau menghafal Al qur'an, pertanyaannya apakah semua orang mau menjalani prosesnya, proses sebagai orang tua bagi anak-anak penghafal Al Qur'an.

“Semua itu ada prosesnya, dan proses bagi orang tua yang anaknya penghafal Al Qur'an itu prosesnya luar biasa. Allah tidak akan memberi pahala yang besar kecuali liku-likunya juga luar biasa”, tutur Dr. Sarmini, pendiri Pesantren Utrujah, dalam sharing bersamanya di TK Islam Terpadu Al'Ibrah (28/3).

Bagaimana liku-likunya orang menjadi syahid tidak serta merta tanpa bantuan Allah pula. Seperti sahabat Khalid bin Walid yang mengharap syahid tapi meninggal di tempat tidur walau insya Allah mendapat pahalanya. Allah sudah menjanjikan 70 syafaat yang diberikan untuk keluarganya bagi mereka yang mati syahid. Sedangkan, bagi mereka yang penghafal Al Qura'an 40 syafaat.

Jika para orang tua memasrahkan begitu saja anak-anak mereka pada sekolah tanpa mendampinginya di rumah dengan menjaga muroja'ah dan mengkondisikan lingkungan anak dengan Al Qur'an serta bagaimana visi misi keluarga tersebut, tentu sangat bertentangan. Apakah mau jika hanya sekolah yang mendapat pahala. Hal ini dapat dilakukan dengan mengaitkan segala aktivitas dengan Al Qur'an. Sebagai contoh, anak-anak diajak untuk melihat wisudawan-wisudawati yang ada di Gaza agar mereka tahu bahwa yang mereka lakukan juga dilakukan oleh banyak anak di berbagai belahan dunia.

Kita punya tujuan lebih jauh yaitu menjayakan Al Qur'an. Jaya di atas generasi anak-anak kita. Jika generasi kita tidak layak, tidak loyal, maka Allah akan menggantikan dengan umat yang lebih loyal, lebih baik. “Tentu kita tidak ingin hal ini terjadi. Kita ingin memantaskan di hadapan Allah, ‘Ya Allah, ini anakku siap’. Tentu kita harus memadankan, melayakkan, memantaskan di hadapan Allah”, imbuh beliau. Oleh karena itu, kita harus menyiapkan keluarga-keluarga Qur'ani.

Bagaimana kita membangun kampung kita agar seperti yang ada di Gaza, kampung 0% buta huruf Al Qur'an. Ini harus menjadi agenda utama kita daripada 0% buta huruf bahasa Indonesia. Barangsiapa yang berkonsentrasi dan disibukkan oleh urusan Allah tanpa meminta urusan dunia, Allah akan memberikan urusan dunia itu tanpa diminta. Barangsiapa yang hanya mengurusi dunia, akan disulitkan. Contohnya, sholat Dhuha. Sering kali kita lupa bahwa yang menjadikan lancar bukan shalatnya tetapi Allah. Begitu pula dengan menghafal Al Qur'an, harus jelas kita sampaikan kepada anak-anak, mengapa harus menghafal Al Qur'an agar mereka bangga menghafal Al Qur'an. Kita harus mau membayar harganya. Jika anak berhasil sekian juz apa kita mau mendampinginya di rumah karena menjadi keluarga penghafal Al Qur'an luar biasa tantangannya tapi luar biasa berkahnya, banyak indahnya. Betapa waktu sangat berkah karena tidak sempat melakukan hal yang remeh temeh tidak ada gunanya.

Saat Dr. Sumarni bertanya ke salah seorang anak yang menghafal Al Qur'an apa ada kesulitan memahami pelajaran lain, ternyata tidak. Bahkan justru itu yang membuat anak konsentrasi, stabil, dan beradab. Anak lebih mudah diberi tahu. Dengan menghafal Al Qur'an, luar biasa kestabilan emosi anak. Beberapa anak yang masih terpaksa tidak perlu dipaksa. Biarlah berjalan alami saja karena biasanya jika sudah menambah hafalan, mereka akan merasa cinta dengan sendirinya. Anak dengan mental seperti itu sangat mudah untuk diberi pengertian.

Bukan hanya tentang metode yang menyenangkan yang mana yang kita pilihkaan untuk anak-anak, akan tetapi lebih pada bagaimana menanamkan ke mereka bahwa menghafal Al Qur'an itu yang mereka perlukan dalam hidup mereka. Mengapa hal ini dilakukan, tidak lain agar anak memiliki kemandirian, rasa ingin menghafal dan itu yang harus dicanangkan. Jadi, jika para orang tua menginginkan anak-anaknya menjadi luar biasa sebagai penghafal Al Qur'an, mereka harus mau menjalani proses yang luar biasa pula. [Gresia Divi]

Bunda, Beginilah Tahapan Berbahasa Anak Kita


“Didiklah anak-anakmu, sesungguhnya mereka itu dijadikan untuk menghadapi zaman yang berbeda dari zamanmu kini”
(Ali bin Abi Thalib)

Menyadari apa yang dinasehatkan Ali bin Abi Thalib tersebut, banyak ulama dan psikolog Muslim yang menulis buku parenting untuk anak-anak di zaman modern ini. Salah satunya, Dr. Hassan Syamsi Basya dengan bukunya: Kaifa Turabbi Abna’aka fi Hadza az Zaman (Mendidik Anak Zaman Kita). Semangatnya adalah, bagaimana orangtua memperhatikan pendekatan yang lebih tepat; tanpa mengabaikan kondisi zaman yang akan dihadapi anak dan tantangannya.

Salah satu hal penting yang perlu diperhatikan orang tua dalam mendidik putra-putrinya adalah tahapan berbahasa, khususnya bagi anak usia dini. Kita tak bisa lagi memakai cara ala kadarnya untuk menjamin anak-anak kita bisa berbahasa dengan baik. Padahal kecerdasan linguistik adalah kecerdasan yang sangat penting. Dengan kemampuan berbahasa yang benar, anak-anak bisa berkomunikasi dengan baik, berinteraksi, menyampaikan perasaan dan pendapatnya, serta mengembangkan kecerdasan lainnya. Bahkan, hampir seluruh ulama adalah orang yang cerdas dalam berbahasa.

Usia 0 – 1 tahun

Anak usia 3 bulan biasanya mereka bisa berceloteh seputar huruf “a”. Anak usia 3-6 bulan biasanya berceloteh seputar huruf “i”, “u”,dan “o”.

Anak usia 8 bulan celotehan mereka bertambah huruf “m” dan “b”. Biasanya mereka mengatakan “mamamamamama.....” atau “bbbbbbaaaabaaaa”.

Jika dalam usia tersebut anak belum bisa, tenang dulu jangan panik karena hal tersebut bisa diantisipasi dengan terus menstimulus mereka. Caranya bisa dengan mengajak mereka mengobrol (walau mereka belum bisa menjawab), membunyikan bunyi-bunyian, dan perlu diingat untuk tidak mengajak mereka berbicara dengan cepat. Hal ini tidak hanya berlaku bagi anak usia 0-1 tahun tapi sampai usia 5-6 tahun juga. Jika tidak percaya coba saja meminta tolong anak yang sudah faham untuk mengambil sesuatu dengan berbicara cepat dan bandingkan jika dengan berbicara perlahan dan teratur. Manakah yang lebih direspon anak?

Biasanya para orang tua yang anaknya belum bisa berbicara dengan fasih padahal sudah menginjak tahapannya itu dikarenakan orang tua yang tidak pernah mengajak anak berkomunikasi atau melakukannya tapi dengan intonasi cepat.

Usia 1-1,5 tahun
Usia ini merupakan masa holofrasis di mana anak umumnya menunjuk sambil mengucapkan apa yang dia mau.

Usia 2-3 tahun
Merupakan masa todler. Di usia ini yang ditekankan pada anak sebaiknya adalah mengenai bahasa lisan dan kemandirian serta belajar logika. Selain itu, di usia ini, anak dapat mengucapkan kalimat yang berfrase, seperti “minum susu” dan kalimat berfrase, seperti “Tono main bola” bukan seperti kalimat yang benar “Tono bermain bola”.

Usia 3 tahun ke atas
Di usia ini harusnya anak sudah dapat mengucapkan kalimat dengan morfologi yang lengkap, seperti “Aku mau pergi ke sekolah”. Selain itu, biasanya di usia ini terjadi efek trill dan efek mirror pada anak dan diharapkan para pendidik tidak panik jika hal ini terjadi. Pada efek trill, biasanya anak mengucapkan kata dari yang seharusnya diucapkan “surga” menjadi “sruga”, “terserah” menjadi “seterah”, “karpet” menjadi “kapret”. Sedangkan efek mirror biasanya terjadi pertukaran kata saat diucapkan, seperti kata yang seharusnya “kucing” menjadi “kicung”. Jika hal ini terjadi pada anak diharapkan para orang tua atau pendidik tidak malah membiarkannya atau bahkan membenarkan itu karena dianggap lucu atau wajarnya anak tapi hendaknya memberikan contoh bagaimana cara mengucapkan yang benar. Tentunya dengan telaten dan berulang-ulang.

Hal tak kalah penting yang harus dibiasakan pada anak adalah penggunaan bahasa dalam komunikasi sosial. Bagaimana menanamkan karakter dalam berbahasa sejak usia dini. Secara pragmatik, anak-anak idealnya sudah tuntas masalah aspek kebahasaan dalam komunikasi sosial ini pada usia 4 tahun dan paling lambat 5 tahun. Misalkan; salam, menyela (dengan mengatakan “permisi” atau “maaf”), meminta sesuatu (dengan mengatakan “tolong”), berterima kasih, dan meminta ijin.

Sering kita dapati orang tua yang permisif. Membiarkan anak dalam kekeliruan dengan alasan “masih kecil”, “wajar”, “biasanya begitu.” Padahal kalau kita berpikir “biasanya” hasilnya juga biasa-biasa saja. Pun dalam mendidik anak. Akhirnya tercetaklah anak-anak yang kurang “berbudi”, kurang “berkarakter.” Maka pembiasaan adalah hal yang sangat efektif dalam mendidik anak. Di samping pendekatan utama lainnya berupa keteladanan. Di mana orang tua menjadi teladan dengan selalu mencontohkan mengucapkan terima kasih ketika ditolong, meminta maaf ketika salah, salam ketika bertemu, berdoa sebelum dan sesudah melakukan sesuatu, dan seterusnya.

Semoga bahasan singkat tentang Tahapan Berbahasa Anak Usia Dini ini bermanfaat bagi para orang tua, khususnya bunda. [Gresia Divi]
Copyright © 2012-2099 SEKILAS DAKWAH - Dami Tripel Template Level 2 by Ardi Bloggerstranger. All rights reserved.
Valid HTML5 by Ardi Bloggerstranger